Amalan Sunnah di Bulan Ramadhan

“Wahai manusia, bulan agung yang penuh barakah telah datang kepada kalian, bulan yang di dalamnya ada lailatul qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan shaum sebagai faridhah dan shalat malam sebagai tathawwu’ . Barangsiapa yang mendekatkan diri kepada Allah dengan kebaikan (yang sunnah) bernilai sebagaimana menunaikan yang fardhu dan barangsiapa yang menunaikan faridhah nilainya sebagaimana menunaikan tujuh puluh faridhah. Ia adalah bulan kesabaran, sedangkan pahala kesabaran adalah jannah, bulan ditambahnya rezki. Barangsiapa yang memberi buka kepada orang yang shaum maka dosa-dosanya diampuni dan dibebaskan dari neraka, dan dia mendapatkan pahala sebagaimana orang yang shaum tanpa mengurangi pahala darinya sedikitpun.” Demikianlah makna sebuah hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Al-Baihaqi.

Para salaf mengerti benar keutamaan bulan Ramadhan ini. Untuk itu, tidak ada seorang pun di antara mereka yang melewatkan Ramadhan dengan bersantai-santai, duduk ongkang-ongkang kaki. Mereka berusaha supaya setiap detik dari bulan ini penuh dengan makna. Selain dengan melaksanakan ibadah shiyam dengan sebaik-baiknya, para salaf juga banyak mengerjakan amalan-amalan sunnah di bulan ini melebihi bulan-bulan yang lain. Dari sekian amalan sunnah itu, ada amalan-amalan yang hampir-hampir tidak mereka tinggalkan. Amalan-amalan itu adalah qiyam Ramadhan, shadaqah, memperbanyak tilawah, dan i’tikaf.

Qiyam Ramadhan (shalat tarawih)

Rasulullah saw memperpanjang bacaan Al Qur’an (surat) ketika shalat tarawih melebihi dari hari-hari biasa. Pernah Hudzaifah shalat bersama beliau, ketika itu beliau membaca surat Al Baqarah kemudian dilanjutkan dengan Ali Imran dan An-Nisa’ dalam satu rekat.

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang shalat malam di bulan ramadhan dengan iman dan mengharap pahalaNya, maka diampuni dosanya yang telah lampau.” (HR Al Bukhari)

Beliau bersabda pula:

“ Shiyam dan qiyam (shalat malam), keduanya akan memberi syafa’at bagi seorang hamba pada hari kiamat, Shaum akan berkata, “wahai Rabbku aku telah mencegahnya dari makan dan minum di siang hari untuk (mengerjakan)ku.” Sedangkan Al Qur’an akan berkata, “Aku telah mencegahnya tidur malam,” maka keduanya memberikan syafa’at untuknya.” (HR Ahmad dan Nasa’i)

Aisyah berkata, “Janganlah kalian tinggalkan sahalat malam, kerena sesungguhnya Nabi tidak pernah meninggalkannya dan apabila beliau sakit atau letih, beliau shalat dengan duduk.”

As Saaqib bin Sa’id berkata, “Seorang imam shalat membaca beratus-ratus ayat hingga kami bersandar pada tongkat di waktu shalat, dan hal itu be belumlah usai melainkanmenjelang fajar (waktu sahur).”

Jumlah rakaat yang bisa dilaksanakan oleh Rasulullah adalah 11 atau 13 rakaat, dihitung 11 rakaat jika tanpa shalat iftitah sebanyak dua rakaat. Berdasarkan riwayat dari Aisyah Radhiyallahu’anha beliau berkata:

مَا كَانَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّم يَزِيْدُ فِيْ رَمَضَانَ وَلاَ غَيْرُهُ عَلَى إِحْدَى عَشَرَ رَكَعَة

Tidaklah Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam shalat malam di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan lebih dari 11 rakaat”. ( HR. Bukhari, Muslim, Nasa’i dan Turmudzi ).

Dari Aisyah beliau berkata:

كان النبي صلى الله عليه و سلم يصلي من الليل ثلاث عشرة ركعة منها ركعتا الفجر

Nabi Shalallahu’alaihi wasalllam shalat malam di bulan Ramadhan sebanyak 13 rakaat sudah termasuk witir dan dua rakaat shalat sunnah fajar”. ( Bukhari, Muslim ).

Namun boleh juga shalat tarawih lebih dari sebelas rakaat. Demikianlah pendapat para Ulama’. Mereka beralasan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi.

Secara ringkas pendapat para ulama’ dalam masalah ini sebagai berikut:

a) 20 rakaat tarawih belum termasuk witir, dengan lima kali tarwihat (Istirahat sejenak tiap empat rakaat ), tiap dua rakaat salam. ini adalah pendapat Imam Syafi’i, Ahmad, Abu Hanifah, dan Daud Adh Dhohiri. Al Qodli Iyadl meriwayatkan ini dari jumhur Ulama’.

b) 40 rakaat tarawih, ditambah 7 rakaat witir. Ini adalah pendapat Imam Aswad Bin Yazid.

c) 36 rakaat tarawih belum termasuk wiitir, dikerjakan dalam sembilan kali tarwihat, ini adalah pendapat Imam Malik. Dasarnya adalah shalat penduduk Madinah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Nafi’ maula Ibnu Umar “Saya mendapati kaum muslimin di Madinah shalat tarawih 39 rakaat, yang tiga rakaat adalah witir. [1]

Bolehnya shalat tarawih lebih dari 11 rakaat menjadi pendapat jumhur Ulama’, sebagaimana yang tegaskan oleh para ulama’. Syekh Abdul Aziz Muhammad Salman menyatakan, “ Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa shalat tarawih adalah 20 rakaat secara berjama’ah. Ini juga menjadi pendapat Imam Malik. Imam Ibnu Abdil Barr memilih pendapat ini, namun beliau mengatakan riwayat dari Imam Malik adalah 11 rakaat”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan “… boleh shalat 20 rakaat dengan berjama’ah sebagiamana pendapat yang masyhur dalam madzhab Syafi’i dan Ahmad. Boleh juga shalat 36 rakaat sebagaimana pendapat Imam Malik dan ia juga oleh shalat 11 dan 13 rakaat, semuanya baik, banyak dan sedikitnya rakaat tergantung panjang dan pendeknya berdiri ( lama tidaknya shalat ).

Beliau juga mengatakan “Yang lebih utama adalah berbeda dengan keadaan makmum, kalau mereka sanggup berdiri lama, maka yang lebih utama adalah 10 rakaat, tarawih dan 3 witir, sebagaimana yang dikerjakan oleh Rasulullah saat shalat sendirian di bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya. Kalau makmum tidak kuat, maka yang lebih utama adalah 20 rakaat dan ini merupakan pendapat sebagian besar (ulama’) kaum Muslimin, sebagai pertengahan antara 10 dan 40 ( 11 dan 36 ), shalat 40 rakaat atau lebih juga boleh dan tidak dibenci. Barang siapa yang mengira bahwa jumlah rakaatnya sudah ditentukan sehingga tidak boleh lebih atau kurang, berarti dia telah salah. Karena seseorang kadang-kadang rajin sehingga yang lebih utama adalah memanjangkan ibadah, namun kadang-kadang juga malas sehingga yang lebih utama adalah meringankannya”. [2]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:

“Nabi Shalallahu’alaihi wasallam shalat malam di bulan Ramadhan dan bulan-bulan yang lainnya sebanyak 11 atau 13 rakaat, tetapi shalat beliau sangat panjang ( lama ). Ketika kaum muslimin merasa berat, pada masa Umar Ibnu Khathab, Ubay bin Ka’ab mengimami mereka sebanyak 20 rakaat, kemudian shalat witir. Beliau meringankan berdirinya sehingga jumlah rakaat yang lebih banyak ini menjadi pengganti dari lamanya berdiri. Sebagaimana Salaf Ash Shalih shalat tarawih 40 rakaat dengan meringankan berdirinya, lalu witir 3 rakaat, sebagian Ulama’ salaf lainnya shalat 36 rakaat, kemudian shalat witir”. [3]

Setelah menerangkan pendapat Ulama’ Salaf dalam masalah jumlah rakaat tarawih Imam Asy Syaukani menyimpulkan: “Kesimpulan yang ditunjukkan oleh hadits-hadits dalam masalah ini dan hadits-hadits yang semisal adalah disyari’atkannya shalat malam pada bulan Ramadhan yang dikenal dengan nama tarawih, baik secara berjama’ah maupun sendiri-sendiri. Membatasi jumlah rakaat atau bacaan tertentu tidak ada dasarnya dari As Sunnah”. [4]

Shadaqah

Rasulullah saw adalah orang yang paling dermawan, dan paling dermawannya beliau adalah di bulan Ramadhan. Beliau bersabda, “Sebaik-baik sedekah adalah sedekah di bulan Ramadhan.” (HR Tirmidzi)

Suatu hari Thalhah bin Ubaidillah dalam keadaan gundah, maka istriny berkata,”Ada apa dengan diri anda? adakah yang dapat saya bantu?” Kemudian beliau menjawab, “Hartaku terlampau banyak sehingga menyusahkanku.” Istrinya memberikan saran, ”Mengapa anda tidak menyedekahkannya?” maka thalhahpun membagi-bagikannya tanpa tersisa sedikitpun, padahal hartanya mencapai 400.000 dirham.

Sedekah pada bulan Ramadhan dapat dikerjakan dengan cara memberi makanan untuk berbuka bagi orang yang shaum

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang memberi buka kepada orang yang shaum maka dia mendapatkan pahala sebagaimana orang yang shaum tanpa mengurangi pahala orang yang shaum tersebut sedikitpun.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)

Abdullah bin Umar tidak berbuka melainkan bersama seorang yatim. Al Hasan Al Bashri dan Ibnul Mubarak memberi makan untuk berbuka dan duduk seraya melayani dan mengipasi orang yang diberi buka olehnya. Abu Shiwar Al ‘Adawy berkata,” Orang-orang Bani ‘Ady, ketika ramadhan mereka shalat di masjid dan tidak pernah berbuka sendirian. Jika dijumpai seseorang maka dia makan bersamanya, jika tidak dia bawa makanannya ke masjid dan berbuka bersama-sama.”

Tilawah Al Qur’an

Adalah Jibril mengajarkan Al Qur’an kepada Nabi pada bulan Ramadhan. Diantara salaf ada yang mengkhatamkan Al Qur’an setiap sepuluh hari, ada yang setiap sepekan sekali dan ada pula yang mengkhatamkan setiap tiga hari sekali. Bahkan Qatadah mengkhatamkannya setiap tujuh hari sekali pada pertigaan awal, 3 hari sekali pada pertigaan kedua dan setiap hari sekali pada pertigaan terakhir. Utsman bin Affan mengkhatamkan AL Qur’an setiap hari pada bulan Ramadhan dan Imam Syafi’i mengkhatamkannya sebanyak 60 kali dalam waktu sebulan.

Ibnu Rajab Al Hambali berkata, “Larangan Rasulullah mengkhatamkan kurang dari tiga hari hanyalah dalam kondisi biasa. Adapun pada waktu-waktu utama seperti bulan Ramadhan khususnya malam hari, atau di tempat-tempat yang utama seperti di Mekah bagi yang bepergian ke Mekah maka memperbanyak membaca Al Qur’an adalah lebih utama.”

I’tikaf

I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dengan berdzikir kepada-Nya.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari bahwa Nabi melakukan i’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan. Disunnahkan bagi mu’takif untuk menyibukkan diri dengan shalat, tilawah Qur’an, berdzikir dan ibadah-ibadah mahdhah lainnya. Termasuk di dalamnya adalah bertasbih, membaca tahlil, takbir, istighfar, membaca LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH, bershalawat atas Nabi Muhammad, membaca do’a, bertafakkur ( berpikir akan ) ayat-ayat Allah, dan melaksanakan thawaf, apabila I’tikafnya dilaksanakan di Masjid Al-Haram Makkah.

Juga dianjurkan bagi mu’takif untuk menghafal dan mempelajari hadits, ilmu-ilmu syar’i, siroh para nabi dan orang-orang sholih, menulis hukum-hukum syar’i, dam amalan lainnya yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Demikian menurut madzhab Hanafi, Syafi’i dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad.[5]

(Wallahul musta’an)


[1] ( Al Majmu’ Syarhul Muhadzzab IV/ 38, Al Mughni II/ 604).

[2] ( Al Asilah wal Ajwibah Al Fiqhiyah II/ 186, Mawardlu Adz Dham’an I/ 406-412 ).

[3] Al Fatawa Al Kubra I/ 255 .

[4] Nailul Authar III/ 64 .

[5] Ad-Dien Al-Khalish, 8/543-544.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s