Teks Khutbah Idul Fitri 1429 H

Oleh : Tengku Azhar, Lc.

(Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta)

إنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِاللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ….فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٌ ضَلاَلَةٌ

Maasyiral muslimin rahimakumullah

Di pagi hari yang cerah dan penuh barokah ini, kita wajib bersyukur sebesar-besarnya ke hadirat Alloh Swt. karena berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya kita dapat menunaikan kewajiban puasa Romadhon, lalu menyempurnakannya dengan Sholat Idul fitri dalam suasana ceria dan gembira. Nikmat yang telah kita terima adalah ni’mat yang tiada dua, barang siapa yang mensyukurinya, maka Alloh Swt. berjanji akan menambah nikmat tersebut, baik dalam bentuk materi maupun dalam bentuk barokah. sedang siapa yang mengingkarinya, maka ia berada di bawah ancaman Sang Maha Perkasa. Sebagaimana firman-Nya:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan(ingatlah) ketika Tuhan kalian mengumumkan: jikalau kalian bersyukur, niscaya Ku tambah (nikmat-Ku), namun jikalau kalian ingkar (terhadap nikmat,) ketahuilah bahwa adzab-Ku adalah adzab yang amat pedih.”[1]

Oleh sebab itu, pada pagi hari yang mulia ini, kita memohon dan berharap kepada Alloh Swt empat hal;

Pertama, semoga Alloh Swt. berkenan mengampuni dosa-dosa kita dan memaafkan kesalahan-kesalahan kita. Rosululloh Saw bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ مَا تَقَدَّمَ بِذَنْبِهِ

“Barangsiapa puasa pada bulan Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala Alloh Swt, niscaya diampuni segala dosanya yang telah lalu.”[2]

Dan amat rugi orang yang bertemu dengan bulan Ramadhan, namun dosa-dosanya tidak diampuni oleh Alloh Swt.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa malaikat Jibril As pernah datang kepada Rosululloh Saw seraya berkata, “Wahai Muhammad, barangsiapa yang berjumpa dengan bulan Ramadhan namun tidak diampuni dosa-dosanya, maka akan dijauhkan Alloh Swt (dari rahmat-Nya(.” Maka Rosululloh Saw mengaminkan doa tersebut.[3]

Kedua, kita berharap kepada Alloh Swt kiranya Dia menerima amal ibadah puasa kita satu bulan yang lalu.

Rosululloh Saw bersabda, “Alloh `Azza wa Jalla berfirman:

الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَأَكْلَهُ وَشُرْبَهُ مِنْ أَجْلِي وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ حِينَ يُفْطِرُ وَفَرْحَةٌ حِينَ يَلْقَى رَبَّهُ وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Puasa adalah milik-Ku, dan Akulah yang akan memberikan ganjarannya. Tatkala puasa seorang hamba meninggalkan syahwat, makan, dan minumnya karena-Ku. Puasa adalah perisai(dari perbuatan maksiat). Dan bagi orang yang berpuasa dua kebahagiaan; kebahagiaan di saat berbuka dan kebahagiaan di saat bersua dengan Robbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Alloh Swt daripada kasturi.” [4]

Ketiga, kita berharap kepada Alloh Swt agar kiranya Dia mengkaruniakan pada kita kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadhan pada tahun-tahun mendatang. Karena romadlon adalah kesempatan emas bagi seorang mu’min untuk mempersiapkan dirinya sebagai insan yang bertaqwa.

Keempat, kita berharap kepada Alloh Swt, kiranya Alloh Swt menjadikan kita semua tergolong dari golongan hamba-hambaNya yang bertaqwa, serta mengilhamkan pada kita istiqamah dan konsisten dalam bertaqwa selama kita berada didunia. Amiin.

Pengertian taqwa secara syar`i ialah: “Menjalankan perintah Alloh Swt dan menjauhi seluruh larangan-Nya”. Hal ini mustahil akan wujud, kecuali dengan menjalankan seluruh syari’at dan undang-undang hidup yang telah diturunkan oleh-Nya. Jadi Al-Muttaqin adalah orang-orang yang menegakkan dan menjalankan syari`at serta undang-undang Alloh Swt. Inilah hakikat ketaqwaan yang sebenarnya. Karenanya tidak mungkin kita menjadi seorang bertaqwa yang hakiki dan diridhai oleh Alloh Swt, jika kita tidak menjalakan syari`at Alloh Swt. dan amat naïf bila ada seseorang yang mengaku dirinya bertaqwa kepada Alloh Swt, sedang ia tidak menjalankan bahkan menolak syari`at Alloh Swt.

Karena hanya Alloh-lah satu-satunya Robb yang berhak untuk disembah, hanya Dia-lah yang berhak ditaati, dan hanya Dia pula yang memiliki wewenang mutlak untuk mengatur kehidupan seluruh makhluk. Tidak halal memberikan segala bentuk ketaatan kepada makhluq, jika ia memerintah kepada kemaksiatan. Juga tidak dibenarkan seseorang memberlakukan peraturan di muka bumi, kecuali yang sesuai dengan peraturan Alloh Swt. Kita adalah hambaNya, dan diciptakan hanya untuk tujuan beribadah kepada-Nya.

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”[5]

Barangsiapa enggan menjalankan tujuan keberadaannya di muka bumi ini yaitu ibadah kepada Alloh Swt, maka hakikatnya ia sama sekali tidak berhak memijakkan kaki di bumi Alloh Swt.

الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Maasyiral muslimin rahimakumullah

Idul Fitri merupakah sebuah wadah majelis ilmu jama`i dalam rangka memahami kewajiban seorang hamba berupa ibadah berdasarkan Dienullah atau Dienul Islam. Karenanya, kita harus memanfaatkan momen penting ini untuk memahami hal yang prinsip dalam kehidupan, yaitu beribadah dengan dasar tauhid dan petunjuk nabi Saw. sebab seorang hamba yang beribadah tidak berdasarkan Dienullah maka ibadah tersebut sia-sia dan bathil.

Alloh Swt berfirman:

وَقَدِمْنَآ إِلَى مَاعَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَآءً مَّنثُورًا

“Dan Kami paparkan segala amal yang telah mereka kerjakan, lalu Kami jadikan sia-sia bagai debu yang berterbangan.”[6]

Sabda Nabi saw:

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barangsiapa melaksanakan suatu amalan ibadah tiada dasar petunjuk dari kami, maka amalan tersebut tertolak(dihadapan Alloh)”Muslim.

Sedangkan ibadah, dalam persepsi syar’i, tidak hanya terbatas pada ritual. Namun ibadah lebih luas cakupannya dari batasan itu, hingga mencakup masalah hukum,mu’amalat dan yang lain.

Bahkan termasuk masalah yang paling vital dalam urusan peribadatan seorang mu’min, adalah masalah hukum. Karena hukum dan peraturan berfungsi sebagai barometer pengarah tindak-tanduk seluruh manusia, jika hukum positif dalam sebuah masyarakat tidak berbasis islam, otomatis masyarakat tersebut akan bermasalah dalam menjalankan peribadatan kepada Alloh secara syar’i. sebab islam dan peraturannya tidak boleh dikuasai oleh peraturan apapun, bahkan hukum-hukum samawi setelah datangnya islam terhapus. Sebagaimana firman Alloh :

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ

“Dan telah Kami turunkan kitab(al qur’an) kepadamu dengan kebenaran, ia membenarkan adanya kitab-kitab sebelumnya dan menguasai(menasakh) seluruh hukum-hukumnya. Maka, terapkan antara mereka hukum yang telah diturunkan Alloh, dan jangan kau turuti kehendak mereka untuk meninggalkan kebenaran yang telah datang padamu”[7]

Untuk itu, seorang hamba yang menerapkan undang-undang ataupun hukum dan peraturan yang tidak berdasarkan Dienullah, maka hukum dan undang-undang tersebut adalah bathil, hingga haram hukumnya untuk ditaati dan dijalankan.

Alloh Swt berfirman,

أَمْ لَهُمْ شُرَكَآؤُاْ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَالَمْ يَأْذَن بِهِ اللهُ وَلَوْلاَ كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِىَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمُُ

Apakah mereka mempunyai sembahan selain Alloh yang menetapkan bagi mereka peraturan yang tidak diizinkan Alloh?? Kiranya tiada ketetapan ajal dariNya tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang zhalim akan memperoleh azab yang amat pedih.”[8]

Sabda rosululloh.saw dalam riwayat Bukhari dan Muslim:

لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

“Tidak ada ketaatan dalam maksiat, ketaatan(hanya boleh) dalam hal yang makruf.”

Dan dalam riwayat imam Ahmad:

لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam (rangka) bermaksiat kepada Alloh ”.[9]

الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Maasyiral muslimin rahimakumullah

Di antara makna Ad-Dien adalah Nizhamul Hayah (aturan dan undang-undang kehidupan), maka Ad-Dien terbagi menjadi dua; Dienullah (Dienul Islam) dan Dienunnaas (undang-undang dan ideologi manusia).

Dienullah sifatnya benar mutlak, tidak mungkin ada kesalahan dan kekurangannya, relevan bagi ummat Muhammad Saw. setiap masa, dan tidak membutuhkan bentuk-bentuk amandemen apapun juga.

Sementara Dienunnaas yang merupakan buah otak-otak manusia, seperti demokrasi, nasionalisme, liberalisme, sekulerisme, sosialisme, kapitalisme, dan yang lain, sifatnya adalah bathil karena tidak selaras dengan Dienullah.

Dalam surat Ali Imran ayat 85 Alloh menjelaskan, bahwa orang yang mencari ad-dien(aturan hidup) selain Islam, maka tidak mungkin diterima darinya, dan di akhirat, ia tergolong dari orang-orang yang rugi. sedangkan kita telah mengetahui bahwa di antara makna Ad-Dien adalah hukum atau undang-undang, maka orang-orang memilih demokrasi sebagai ideologi dan aturan hidup mereka, berarti telah mencari Ad-dien selain Islam meskipun mereka mengaku muslim. orang yang ridla dengan sistem demokrasi adalah orang yang telah ridla dengan selain Dienul Islam, sebagaimana orang yang mengaku Islam akan tetapi dia ngajukan sesajen dan tumbal, atau memohon ke kuburan, maka dia dengan kelakuannya benar-benar telah memilih ad-dien selain Islam, hingga menyeret pelakunya untuk keluar dari garis ke-Islaman.

Jadi ibadah bukalah hanya terbatas pada ritual yang sudah kita ketahui, namun penentuan hukumpun merupakan bentuk dari peribadatan yang harus disesuaikan dengan petunjuk Alloh dan rosulNya, sebagaimana yang dienyatakan oleh Alloh Rabul `Izzati:“Tiada keputusan hukum kecuali keputusan Alloh, Dia memerintahkan agar kalian tidak menyembah selainNya, itulah agama yang lurus.”[10]

Jadi hakikat Dienul Islam adalah mentauhidkan Alloh dan beribadah kepadaNya semata, iman kepada Alloh dan Rasul-Nya, serta mengikuti ajaran-ajarannya. Inilah makna kalimat: “Asyhadu allaa ilaaha illalloh wa asyhadu anna muhammadarrosuululloh” maka bila seorang hamba tidak melakukan hal ini, berarti dia mirip orang muslim. Saat itu, bila ia bukan dari orang kafir mu’ aanid(membangkang), maka dia adalah orang kafir yang jahil. Ibnul qoyim berkomentar: “Kebanyakan status orang yang sedemikian halnya, adalah kafir yang jahil, dan kejahilan mereka saat itu tidak mengeluarkan mereka dari status sebagai seorang muslim”[11], kecuali bila mereka telah mendapat argumentasi dan penjelasan yang nyata.

الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Maasyiral muslimin rahimakumullah

Ketaqwaan yang intinya adalah “mengamalkan syari’at Alloh Swt” merupakan jalan satu-satunya untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. taqwa adalah solusi bagi seluruh problematika kehidupan. Dengan taqwa kita mampu memecahkan berbagai problematika pribadi maupun masyarakat, baik di bidang ekonomi, politik, budaya, maupun hukum. Betapa banyak undang-undang produk manusia yang telah lumpuh dan gagal mengatasi sebagian problematika tersebut. Bahkan, tidak sedikit di antara undang-undang itu yang justru menambah keruh permasalahan, sehingga harus direvisi dan diamandemen, atau terkadang berlaku surut. Tidakkah para pemuja hukum produk manusia sadar akan kelemahan diri mereka dan produk akal-akal mereka yang terbatas? pantaskah mereka mendudukkan diri pada “derajat ketuhanan” dengan mengaku sebagai pemilik hak untuk membuat hukum meski bertentangan dengan hukum Robbul `Alamin? Yakinkah mereka bahwa mereka memiliki alasan kuat hingga mereka merasa layak dengan predikat ketuhanan? Adakah mereka lupa sosok fir’aun yang mengklaim ketuhanan telah dihancurkan oleh Alloh, hingga binasa dengan cara yang begitu hina? Ataukah mereka bercita-cita untuk menjadi fir’aun berikutnya?

Betapa dungu seorang manusia ketika mengalami krisis taqwa dan jauh dari dienulloh. Bukankah ia makhluk yang diciptakan dari mani yang menjijikkan? Bukankah ia makhluk yang memboyong tahi yang menjijikkan? Bukankah ia calon bangkai yang menjijikkan pula? Bagaimana makhluk yang seperti ini, berani membangkang dan menolak syari’at dengan merebut hak Alloh dalam mengatur hamba?

Sungguh celaka mereka kelak ketika datang menghadap Alloh. Apa alasan mereka untuk menyelamatkan diri dihadapanNya? Mampukah mereka menebus diri dengan kecerdasan akal mereka? Atau dengan harta kekayaan mereka? Atau dengan anak keturunan yang menjadi kebanggaan mereka? Ataukah dengan pangkat, kedudukan dan titel-titel semu yang mereka sandang?.. Demi Alloh, tidak! Penyelamat mereka di hari itu hanyalah taqwa dan ridlo Alloh Swt, jika mereka mengetahuinya.

Alloh Swt berfirman:

وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ (90) وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِلْغَاوِينَ (91) وَقِيلَ لَهُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ (92) مِنْ دُونِ اللَّهِ هَلْ يَنْصُرُونَكُمْ أَوْ يَنْتَصِرُونَ (93) فَكُبْكِبُوا فِيهَا هُمْ وَالْغَاوُونَ (94) وَجُنُودُ إِبْلِيسَ أَجْمَعُونَ (95) قَالُوا وَهُمْ فِيهَا يَخْتَصِمُونَ (96) تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ (97) إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ (98) وَمَا أَضَلَّنَا إِلا الْمُجْرِمُونَ (99) فَمَا لَنَا مِنْ شَافِعِينَ (100) وَلا صَدِيقٍ حَمِيمٍ (101) فَلَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (102) إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ (103)

” Pada hari itu surga didekatkan kepada orang-orang yang bertaqwa, dan neraka Jahim dipaparkan terhadap orang- orang sesat. lalu dikatakan kepada mereka: mana sesembahan kalian selain Allah? mampukah mereka menolong kalian? atau bahkan menolong diri mereka sendiri? Lalu tuhan-tuhan mereka dijungkirkan dalam neraka bersama pemujanya dari orang-orang yang sesat, dan segenap bala tentara iblis pula. Mereka berkata sambil bertengkar dalam neraka: demi Allah, sungguh kita di dunia dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kalian dengan Tuhan semesta alam. Dan tiada menyesatkan kami, kecuali orang-orang yang berdosa. hingga kami tak mempunyai seorangpun pemberi syafa’at, tidak pula teman yang setia. sekiranya kami dapat kembali ke dunia, niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat peringatan nyata, namun kebanyakan mereka enggan beriman.[12]

Dalam ayat yang lain:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَأُولَئِكَ هُمْ وَقُودُ النَّارِ (10) كَدَأْبِ آَلِ فِرْعَوْنَ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ (11) آل عمران

” Sesungguhnya tiada bermanfaat sedikitpun bagi orang-orang kafir, harta benda dan anak-anak mereka dari siksa Allah, Dan mereka adalah bahan bakar api neraka. sebagaimana keadaan kaum Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; sebab itu Allah menyiksa mereka dengan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras siksa-Nya”[13].

Tidakkah para pengemban amanat kepemimpinan dari ummat ini sadar akan hal tersebut, hingga mereka kembali pada jalan keridloan Alloh?? berbagai peringatan telah datang menyapa, agar mereka sadar dan berkenan taubat serta inabat kepadaNya. musibah dan berbagai bencana yang terus-menerus mendera negeri kaum muslimin, adalah sentilan peringatan dari sang maha kuasa:

وَلَقَدْ أَرْسَلنَآ إلى أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بالبأسآء والضرآء لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ فلولا إِذْ جَآءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُواْ ولكن قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشيطان مَا كَانُواّ يَعْمَلُونَ

“Dan Kami telah mengutus kesetiap umat terdahulu para utusan, lalu Kami ingatkan mereka dengan berbagai kesulitan dan bencana agar mereka berkenan tunduk. Jikalau saat tertimpa cobaan mereka tunduk(niscaya mereka selamat), namun mereka keras kepala, lalu syaitan mengelabuhi dengan sebagian kelebihan mereka (hingga Kami binasakan mereka)”[14].

Jika peringatan-peringatan tersebut tidak lagi bermanfaat bagi ummat ini, maka mereka hakekatnya terancam dengan bentuk adzab yang lebih berat, yaitu: kematian hati. yang berakibat pada seseorang kekaburan dan kebutaan dalam menilai suatu perkara. Mereka akan menilai haq sebagai bathil dan yang bathil berbalik pula menjadi haq. Hingga, semakin lama ia hidup, semakin menggunung pula tabungan dosanya. Na’uudzubillaahi min dzaalik.

الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Maasyiral muslimin rahimakumullah

Menerima Dienullah sebagai satu-satunya dasar hukum pengatur kehidupan individu dan masyarakat, adalah merupakan kunci kemakmuran dan kesejahteraan. Mustahil akan terjadi kemakmuran dan keadilan pada komunitas islam dengan dasar undang-undang kufur. maka, telah menjadi konsekwensi iman, agar kaum muslimin berupaya menjadikan tanah airnya sebagai negeri yang terbentang lebar diatas pundaknya dienulloh.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُون

“Andaikata penduduk negeri itu beriman dan bertaqwa, niscaya Kami bentangkan bagi mereka seluruh berkah langit dan bumi, namun (sebaliknya) mereka justru mendustakan, maka Kami siksa mereka lantaran perbuatan (maksiat) mereka sendiri”[15].

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آَيَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ (15) فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ (16) ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ (17)

“Sesungguhnya ada tanda kekuasaan Robb di tempat kediaman kaum Saba. berupa kebun di sebelah kanan dan di kiri jalan.(kepada mereka dikatakan):”Makanlah rezki yang dianugerahkan Robb-mu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya.(Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Robb-mu) adalah Robb Yang Maha Pengampun. namun mereka berpaling, maka Kami kirim kepada mereka banjir bandang dari bendungan ” ‘Arim“, lalu Kami ganti kedua kebun mereka dengan kebun yang ditumbuhi pohon-pohon yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon bidara. Demikianlah Kami balas mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menimpakan azab melainkan kepada orang-orang yang sangat kafir”.[16]

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (النور55)

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara kalian, bahwa Dia akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya, serta Dia akan menukar bagi mereka perasaan takut menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku tanpa mempersekutukan sesuatu apapun. maka barangsiapa kufur setelah adanya(janji) tersebut, mereka itulah orang-orang yang fasik”[17].

Oleh sebab itu, telah menjadi kewajiban bagi kita segenap umat Islam untuk berjuang dengan sepenuh kemampuan, dalam rangka menjadikan negara karunia Alloh Swt ini sebagai negara yang diatur oleh SYARI`AT ISLAM SECARA KAAFFAH, sebagai alasan kita dihadapan Alloh Swt kelak, setelah syaitan menyelimuti kita dengan dengan selimut kelalaian, dan membungkam kita dengan sumpal maksiat, serta membutakan kita dengan giuran dunia.

الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Maasyiral muslimin rahimakumullah

Salah satu tanda kiamat adalah munculnya pimpinan-pimpinan munafik yang bodoh dan membenci syari’at Islam. Mereka memimpin dan memaksa kaum muslimin untuk lepas dari kontrol syariat yang berarti lepas dari dien Islam, dengan seribu satu alasan. sikap demikian, semata karena bermakmum kepada musuh-musuh Islam yang memerangi Islam secara sembunyi maupun terang-terangan. Target terbesar mereka di negeri ini adalah menggusur Islam, sebagaimana telah terjadi dinegeri Spanyol maupun negeri islami yang lain. sehingga tiada tersisa seorangpun beragama Islam atau bangga dengan Islamnya, padahal Indonesia adalah negara yang berpenduduk mayoritas muslim. Maka, hendaknya kita waspada terhadap mara bahaya besar yang sedang menerjang. Hendaknya kaum muslimin kembali memahami Islam yang murni dan merapatkan diri dengan para ulama amilin; yaitu para ulama yang telah nyata tegar memperjuangkan Islam sekalipun berhadapan dengan gempuran ombak dalam samudera cobaan dan fitnah didunia, serta tidak menjual agama ini dengan rupiah maupun dolar; cita-cita mereka hanyalah kemakmuran kaum muslimin dan negeri mereka melalui jalan yang diridhoi Alloh swt. Merekalah pelita dalam kegelapan dan mercusuar kebenaran, karena mereka adalah ahlut taqwa yang patut menjadi tauladan.

Sekali lagi, bahwa seruan kepada dienulloh dan syari’atNya berarti seruan kepada kemakmuran dan keselamatan dunia. Mustahil suatu komunitas muslim mampu untuk mendatangkan kemakmuran dan keselamatan dunia, kecuali dengan jalan syari’at. Jangan gadaikan karunia islam dengan selainnya, dan hendaknya kita sabar dalam memperjuangkannya.

Sungguh banyak kisah bangsa terdahulu yang menjadi ‘ibroh dan pelajaran bagi kita. Mereka adalah bangsa yang telah mendapatkan karunia Islam, lantas menggadaikannya dengan secuil kesenangan dunia. Mereka bosan dengan dien dan aturan-aturan Alloh, lalu melirik hukum-hukum produk manusia sembari mengatakan “kita perlu mengikuti perkembangan zaman dan menjaga kesatuan bangsa serta pluralitas ”. Mereka menganggap hukum Alloh kuno, tidak sesuai dengan tuntutan zaman. hingga mereka pun merasa malu menjalankan syari’at, bahkan mereka rasakan dien ini sebagai belenggu yang mengekang hidup mereka. Akibatnya, mereka dirundung kesusahan, dihantam segudang problematika, serta diamuk gelombang bencana yang datang silih berganti. Disamping itu, mereka harus hidup bermesra dengan keganasan para pembesar masyarakat yang zalim, dan penjajah asing maupun lokal yang datang bak gurita dan lintah darat. kedatangan mereka seolah menguntungkan, namun nyatanya justru menambah keterpurukan. berkulit domba, namun hakekatnya adalah serigala sang pembinasa.

Tragedi itu telah terjadi pada kaum muslimin sebelum kita sebagaimana dikabarkan Alloh dan rosul-Nya. sudikah kita mengikuti jejak kebinasaan suatu komunitas yang menanggalkan karunia islam, hingga kita harus meneguk laknat yang telah membinasakan mereka? Relakah kita membebek kepada kaum terlaknat penolak syari’at yang telah diharamkan atas mereka rahmat? Sekali-kali tidak! Kita tentu akan memilih jalan kemakmuran dan keselamatan, yang tidak lain ada pada dienulloh dan menjalankan syari’at. Ini harga mati yang tidak bisa ditawar dengan apa pun juga. Menolak hal ini berarti siap celaka dunia akhirat.

Pada penutupan khutbah ied ini, saya menghimbau segenap kaum muslimin agar sudi untuk perhatian dengan urusan dien dan syari’at secara menyeluruh dan bukan hanya secuil-cuil saja, agar kita mempunyai udzur dihadapan Alloh bahwa kita telah berupaya untuk menjalankan tujuan keberadaan kita didunia, yaitu beribadah kepadaNya secara murni dan kaaffah. Semoga Alloh berkenan menggolongkan kita dari golongan orang yang mau menerima nasehat dan pandai memilih darinya perkara terbaik. Amiin.

لا إله إلا الله الحليم الكريم . لا إله إلا الله العلي العظيم. لا إله إلا الله رب السماوات السبع ورب العرش الكريم.

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحيآء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات فيا قاضي الحاجات

اللهم إنا نعوذ بك أن نشرك بك ونحن نعلم ، ونستغفرك لما لا نعلم (ثلاث مرات).

اللهم ربنا اغفر لنا خطايانا وجهلنا وإسرافنا في أمرنا، وما أنت أعلم به منا، اللهم اغفر لنا جدنا وهزلنا، وخطأنا وعمدنا، وكل ذلك عندنا، اللهم اغفر لنا ما قدمنا، وما أخرنا، وما أسررنا، وما أعلنا، وما أنت أعلم به منا، أنت المقدم وأنت المؤخر وأنت على كل شيء قدير.

اللهم أعنا على شكرك، وذكرك ، وحسن عبادتك. اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عنا (ثلاثا)

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب

ربنا أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه، وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه ربنا عليك توكلنا وإليك أنبنا وإليك المصير

ربنا لاتزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب

ربنا إننا سمعنا مناديا ينادي للإيمان أن آمنوا بربكم فآمنا، ربنا فاغفر لنا ذنوبنا وكفر عنا سيآتنا وتوفنا مع الأبرار

اللهم أبرم لهذا الأمة أمر رشد يعزّ فيه أهل الطاعة ويذل فيه أهل المعصية ويؤمر فيه بالمعروف وينهى فيه عن المنكر.

اللهم انصر إخواننا المجاهدين والدعاة المخلصين من شر كيد أعدآئنا أجمعين، واجعلنا منهم ياكريم ياحليم، اللهم سدد رأيهم ورميهم واجمع كلماتهم على الحق والهدى، وعجل لمأسوريهم ومبتلاهم ومكروبيهم بالتفريج ياأرحم الراحمين

اللهم آت نفوسنا تقواها وزكها أنت خير من زكاها أنت مليكها ومولاها

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار، وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين…


[1] (QS. Ibrahim: 7)

[2] (HR. Al-Bukhari, no. 1901)

[3] (Shahih At-Targhib wat Tarhib, no. 996)

[4] (HR. Al-Bukhari, no. 6938).

[5] (QS. Adz-Dzariyaat: 56)

[6] (QS. Al-Furqaan: 23)

[7] Qs. Al ma’idah:48

[8] (QS. Asy-Syuraa: 21)

[9] (HR. Imam Ahmad).

[10] (QS. Yusuf: 40)

[11] (Thariqul Hijratain Wa Baabus Sa `aadatain, hal. 542).

[12] Qs. Assyu’aroo’.

[13] Qs. Ali imron: 10-11.

[14] Qs. Al qur’an an’am:42-43.

[15] Qs. Al-A’rof:96

[16] (QS. Sabaa’: 17-20)

[17] Qs. Annur: 55.

About these ads

7 responses to “Teks Khutbah Idul Fitri 1429 H

  1. Good… ya akhi…

  2. Assalamu ‘alaikum War Wab
    Luar biasa, HADZAA NASHUSHULKHUTBAH JAYYID JIDDAN,jazaakumullahkhoiron katsiiron.
    kataballahlakum an najaah fi kulli hayatin
    wassalam

  3. Subhanalloh…. Ma roaitu khutbatal ‘aid mitsla hadza….
    sahlah lilfahmi, bilkalimatil ma’ruufat…
    A’azzakumullah ust, Asta’dzin bittashwir …

  4. bolehkan ane copy teks khuthbahnya ?

  5. asta’dzin bittashwiir yal ust….jazaakukmulloh.

  6. syukron,,ya Ustadz.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s