Bila Emansipasi Berbuah Eksploitasi (Trik Kaum Kuffar Untuk Menjajah Wanita)

Prolog

Di Negara-negara Eropa ataupun Amerika derajat wanita seolah-olah atau bisa dikatakan secara mutlak adalah sama dengan laki-laki, sehingga banyak sekali terjadi berbagai kerusakan, pembunuhan ataupun kejahatan lainnya dikarenakan saling berebut dalam lintas sosial maupun politik.Sementara di negeri Timur sebagaimana digambarkan oleh syaikh Muhammad Quthub, adanya tuntutan hak-hak wanita (emansipasi) dan tuntutan persamaan secara menyeluruh dengan kaum laki-laki sehingga dengan enteng diantara mereka ada yang mengatakan, “Sesungguhnya Islam telah menyamakan antara dua jenis dalam segala perkara.” Sementara yang lain (karena kebodohan dan kelalaian)nya mengatakan, “Sesungguhnya Islam adalah musuh bagi kaum wanita, mengurangi kehormatan dan menghinakan kemuliaannya.” (Syubhat Haulal Islam, hal. 106)

Syaikh Muhammad Al-Ghazali menyebutkan, bahwa diantara kaum wanita ada yang mengatakan, “Sesungguhnya Islam menganiaya wanita dengan memberikan hak kekuasaan sepenuhnya bagi kaum laki-laki atas penceraian istrinya kapan saja dia kehendaki sehingga bagi wanita kekuasaan ini bagaikan pedang yang akan menebas lehernya, mengancam dan menghinakannya.” (Qadhaya Al-Mar’ah, hal. 58)

Menanggapi hal tersebut beliau mengatakan, “Mungkin di masa yang akan datang seorang laki-laki akan mengira bahwa Islam memanjakan kaum wanita dan memudahkan baginya segala perkara, sehingga dia akan berbuat semaunya sendiri, merasa congkak dan cerai darinya lalu meninggalkan rumah begitu saja.”

Syaikh Ali Ath-Thanthawi menyatakan, “Mereka yang menggembor-gemborkan emansipasi dan pergaulan bebas atas nama kemajuan adalah pembohong, dilihat dari dua sebab:

Pertama, karena semua itu mereka lakukan untuk memberikan kepuasan (syahwat) kepada diri mereka sendiri, memberikan kenikmatan melihat anggota badan yang terbuka dan kenikmatan-kenikmatan lain yang mereka bayangkan. 0leh karena itu mereka bertopeng dengan kalimat yang mengagumkan, yang sama sekali tidak ada artinya; kemajuan, modernisasi, kehidupan kampus, jiwa olah raga dan ungkapan-ungkapan lain yang kosong tanpa makna, bagaikan gendang (air beriak tanda tak dalam, pen.).

Kedua, mereka berbohong karena bermakmum kepada Eropa sebagai suluh, dan mereka tidak dapat memahami kecuali berdasarkan Eropa. (Putriku, Kembalilah ke Jalan Tuhanmu, hal. 16)

Pengertian Emansipasi

Emansipasi berasal dari bahasa latin “emancipatio” yang artinya pembebasan dari tangan kekuasaan. Di zaman Romawi dulu, membebaskan seorang anak yang belum dewasa dari kekuasaan orang tua, sama halnya dengan mengangkat hak dan derajatnya.

Adapun makna emansipasi wanita adalah perjuangan sejak abad ke-14 M, dalam rangka memperoleh persamaan hak dan kebebasan seperti hak kaum laki-laki (Lihat kamus ilmiyah populer hal. 74-75)

Jadi para penyeru emansipasi wanita menginginkan agar para wanita disejajarkan dengan kaum pria di segala bidang kehidupan, baik dalam pendidikan, pekerjaan, perekonomian maupun dalam pemerintahan.

Sejarah Emansipasi Wanita di Dalam Islam

Dr. Syamsudin Arif dalam tulisannya di Majalah Hidayatullah menyatakan, “Di dunia Islam, wacana emansipasi pertama kali digulirkan oleh Syaikh Muhammad Abduh (1849-1905 M). Tokoh reformis Mesir ini menekankan pentingnya anak-anak perempuan dan kaum wanita mendapatkan pendidikan formal di sekolah dan perguruan tinggi, supaya mereka mengerti hak-hak dan tanggung-jawabnya sebagai seorang Muslimah dalam pembangunan Umat.

Pandangan yang sama dinyatakan juga oleh Hasan At-Turabi dari Sudan. Menurutnya, Islam mengakui hak-hak perempuan di ranah publik, seperti kebebasan mengemukakan pendapat dan memilih, berdagang, menghadiri shalat berjama’ah, ikut ke medan perang dan lain-lain.

Ulama lain yang berpandangan kurang lebih sama adalah Syaikh Mahmud Syaltut, Sayyid Quthb, Syaikh Yusuf Al-Qardhawi dan Jamal A. Badawi. Sudah barang tentu para tokoh ini mendasari pendapatnya pada ayat-ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Namun ada juga yang menggunakan pendekatan sekular, yaitu Qasim Amin. Intelektual satu ini disebut-sebut sebagai ‘bapak feminis Arab’. Dalam bukunya yang kontroversial, Tahriru l-Mar’ah (Kairo, 1899) dan al-Mar’ah al-Jadidah (Kairo, 1900), ia menyeru emansipasi wanita ala Barat. Untuk itu, kalau perlu, buanglah jauh-jauh doktrin-doktrin agama yang konon menindas dan membelenggu perempuan, seperti perintah berjilbab, poligami, dan lain sebagainya.

Gagasan-gagasan Qasim Amin telah banyak disanggah dan ditolak. Syekh Mahmud Abu Syuqqah dalam karya monumentalnya, Tahrirul Mar’ah fi ‘AshrirRisalah (Kuwait, 1991), membuktikan bahwa tidak seperti yang sering dituduhkan, agama Islam ternyata sangat emansipatoris. Setelah melakukan studi intensif atas literatur Islam klasik, beliau mendapati bahwa ternyata kedatangan Islam telah menyebabkan terjadinya revolusi gender pada abad ke-7 Masehi.

Agama samawi terakhir ini datang memerdekakan perempuan dari dominasi kultur Jahiliyah yang dikenal sangat zalim dan biadab itu. Abu Syuqqah juga menemukan bahwa pasca datangnya Islam kaum wanita mulai diakui hak-haknya sebagai layaknya manusia dan warganegara (bukan sebagai komoditi), terjun dan berperan aktif dalam berbagai sektor, termasuk politik dan militer.

Kesimpulan senada juga dicapai oleh para peniliti Barat (Lihat misalnya: Dorothy van Ess, Fatima and Her Sisters (New York, 1961); Magali Morsy, Les Femmes du Prophete (Paris, 1989); D.A. Spellberg, Politics, Gender, and the Islamic Past: the Legacy of ‘A’isha bint Abi Bakr (New York, 1994).

Dengan kata lain, gerakan emansipasi perempuan dalam sejarah peradaban manusia sebenarnya dipelopori oleh risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Islam datang mengeliminasi adat-istiadat Jahiliyah yang berlaku pada masa itu, seperti mengubur hidup-hidup setiap bayi perempuan dilahirkan, mengawini perempuan sebanyak yang disukai dan menceraikan mereka sesuka hati, sampai pernah ada kepala suku yang mempunyai tujuh puluh hingga sembilan puluh istri. Nah, semua ini dikecam dan dihapuskan untuk selama-lamanya.

Sebagaimana dimaklumi, masyarakat Arab zaman Jahiliyyah mempraktekkan bermacam-macam pola perkawinan. Ada yang disebut nikah ad-dayzan, dimana anak sulung laki-laki dibolehkan menikahi janda (istri) mendiang ayahnya.

Caranya sederhana, cukup dengan melemparkan sehelai kain kepada wanita itu, maka saat itu juga dia sudah mewarisi ibu tirinya itu sebagai isteri. Kadangkala dua orang bapak saling menyerahkan putrinya masing-masing kepada satu sama lain untuk dinikahinya.

Praktek ini mereka namakan nikah as-syighār. Ada juga yang saling bertukar isteri hanya dengan kesepakatan kedua suami tanpa perlu membayar mahar, yaitu nikah al-badal.

Selain itu ada pula yang dinamakan zawaj al istibdhā‘, dimana seorang suami boleh dengan paksa menyuruh isterinya untuk tidur dengan lelaki lain sampai hamil dan setelah hamil sang isteri dipaksa untuk kembali kepada suaminya semula, semata-mata karena mereka ingin mendapatkan bibit unggul dari orang lain yang dipandang mempunyai keistimewaan tertentu.

Bentuk-bentuk pernikahan semacam ini jelas sangat merugikan dan menindas perempuan. (Lihat: W.R. Smith, Kinship and Marriage in Early Arabia (London, 1907).

Gerakan feminis radikal rupanya berpengaruh juga di kalangan Muslim. Kita mengenal nama-nama Fatima Mernissi dari Marokko (penulis buku Beyond the Veil), Nawal al-Saadawi dari Mesir (penulis buku The Hidden Face of Eve), Riffat Hasan (pendiri yayasan perlindungan perempuan The International Network for the Rights of Female Victims of Violence di Pakistan), Taslima Nasreen dari Bangladesh (penulis buku Amar Meyebela), Amina Wadud dari Amerika Serikat yang sempat membuat heboh beberapa waktu lalu, Zainah Anwar dari Sisters In Islam Malaysia, Siti Musdah Mulia dari Indonesia dan masih banyak lagi.

Faktor Munculnya Feminisme Radikal Sekular

Sedikitnya ada tiga faktor yang melatarbelakangi munculnya gerakan feminisme radikal ini. Pertama, imbas dari apa yang telah terjadi di negara-negara Barat. Kedua, kondisi masyarakat di negara-negara Islam saat ini yang masih terbelakang dan memprihatinkan, terutama nasib kaum wanitanya. Ketiga, dangkalnya pemahaman kaum feminis radikal tersebut terhadap sumber-sumber Islam. Semua ini tentu sangat kita sesalkan.

Kalau tokoh-tokoh seperti Muhammad Abduh dan Yusuf al-Qaradhawi menyeru orang untuk kembali kepada ajaran al-Qur’an dan Sunnah dalam soal gender, maka kaum feminis radikal malah mengajak orang untuk mengabaikannya.

Bagi para ulama, ketimpangan dan penindasan yang masih sering terjadi di kalangan Umat Islam lebih disebabkan oleh praktek dan tradisi masyarakat setempat, ketimbang oleh ajaran Islam. Namun bagi feminis radikal, yang salah dan harus dikoreksi itu adalah ajaran Islam itu sendiri, yang dikatakan mencerminkan budaya patriarkis. Di sinilah nampak kedangkalan pemahaman mereka.

Berbuah Eksploitasi dan Pelecehan

Setelah kaum wanita lulus dalam pendidikan formal, maka tibalah gilirannya tuntutan untuk bekerja. Tidak mau kalah dengan kaum laki-laki. Maka merekapun memasuki sektor-sektor pekerjaan kaum laki-laki, bercampur baur dengan mereka, yang sudah pasti hal ini akan menimbulkan berbagai dampak negatif, antara lain :

1. Timbulnya pengangguran bagi kaum pria. Sebab lapangan pekerjaan telah dibanjiri oleh kebanyakan kaum wanita.

2. Pecahnya keharmonisan rumah tangga. Sebab sang ibu lalai dengan tugas-tugas utamanya dalam rumah, seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah, melayani suami dan anggota keluarga. Akibatnya, rumah tangga-pun berantakan tak terurus.

3. Keadaan perkembangan anak kurang terkontrol. Lantaran ayah dan ibu sibuk bekerja di luar rumah. Dari celah inilah, akhirnya muncul dengan subur kenakalan anak-anak dan remaja.

4. Terjadinya percekcokkan dan perseteruan antara suami istri dikarenakan ketika suami menuntut pelayanan dari sang istri dengan sebaik-baiknya, si istri merasa capek dan lelah, lantaran seharian kerja di luar rumah.

5. Terjadinya perselingkuhan. Karena di tempat kerja, tidak ada lagi larangan bercampur antara lain jenis, dandanan yang menggoda lawan jenisnya dan selainnya dari malapetaka yang hanya Allohlah Maha mengetahuinya. Semoga Alloh memberi petunjuk kepada kita semua. Semestinya, kaum wanita menjadikan rumahnya seperti istananya, karena memang itulah (rumah) medan kerja mereka. Alloh berfirman :

“Dan hendaklah kamun tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. (Al-Ahzab : 33)

Jadi, seorang istri merupakan tanggungan suami, begitu juga seorang putri, tanggungan orang tua. Karenanya, apabila seorang wanita memaksakan dirinya untuk bekerja menjadi wanita karir –misalnya-, maka pada hakikatnya dia telah merusak citra dirinya sendiri, karena bagaimanapun juga, wanita tidak bakalan sanggup menandingi kaum pria dalam sega pekerjaan lantaran beberapa kelemahan yang ada pada diri wanita, seperti, kekuatan fisik yang lemah, mengalami haidh, hamil, melahirkan, nifas, menyusui, mengasuh anak, sehingga mereka tidak punya waktu penuh dan tenaga ekstra kuat yang mampu mengimbangi kaum laki-laki. (lihat Mas’uliyatul Mar’atil Muslimah hal. 78)

Dan tentunya masih banyak yang lainnya. Wallahu A’lam.

Oleh: Tengku Azhar, Lc.

Reference

1. Buletin Dakwah Al-Furqon edisi 2 Th I 1422 H.

2. www.hidayatullah.com

3. Wanita Karir Dalam Tinjauan Syar’i, oleh Nurrohim.

4. Dan lainnya.

4 responses to “Bila Emansipasi Berbuah Eksploitasi (Trik Kaum Kuffar Untuk Menjajah Wanita)

  1. Tulisannya bagus banget….membuat satu pencerahan kepada kita bahwa emansipasi sudah ada sejak Islam lahir dan berkembang…..dan emansipasi Islam bukan seperti emansipasi yang dikumandangkan sekarang yaitu emansipasi ala barat dan kebablasan.

    salam hangat.

    saktinasution.wordpress.com | Blopini

  2. Salam hangat juga. Ibu saya juga berasal dari Padang Sidempuan marga Daulai. Makasih dah mau mampir di link saya.

  3. Sama-sama. Salam ya buat ibunya…dan posting kayak ginian terus biar dakwah Islam terdengar kemana-mana.

  4. ana setuju…………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s