Indahnya Dakwah Para Rasul

Oleh
Syaikh DR. Muhammad bin Musa Alu Nashr

Saya jelaskan beberapa point penting diantaranya.

[1]. Diantara Tanda Manhaj Dakwah Para Nabi Yang Jelas Adalah Ikhlas

Mereka ikhlas berdakwah dengan hanya mencari wajah Allah. Ikhlas merupakan ruh amal shalih, sedangkan dakwah kepada Allah merupakan amal shalih dan ketaatan yang paling utama yang bisa mendekatkan seorang da’i kepada Allah. Demikian Allah memerintahkan kita berbuat ikhlas.

Ikhlas merupakan syarat diterima dan selamatnya suatu amalan. Allah tidak akan menerima satu perbuatanpun kecuali dengan keikhlasan mencari wajah Allah.

Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi :

“Artinya : Saya adalah dzat yang paling tidak butuh kepada sekutu (teman). Barangsiapa melakukan satu perbuatan, dia sekutukan aku dengan yang lain pada amal itu, maka aku tinggalkan (biarkan) ia dengan sekutunya”.

Allah tidak akan menerima satu amalanpun, kecuali dengan ikhlas dan sesuai petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah maksud dari firman Allah.

“Artinya : Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya” [Al-Kahfi : 110]

Oleh karena itu para ulama berkata : Syarat diterima sebuah amal shalih ada dua :

Pertama, amal perbuatan tersebut diikhlaskan untuk mencari wajah Allah, dan syarat Kedua, amal tersebut harus sesuai petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang membuat sesuatu yang baru (yang tidak ada petunjuk dari Rasul) dalam agama kita ini, maka ia tertolak”.

“Artinya : Barangsiapa yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintah kami, maka amalan itu tertolak”.

Wahai saudara-saudaraku ….

Perhatikanlah ! Bagaimana tanpa keikhlasan bisa menyebabkan sebuah amal tertolak dan kebinasaan si pelaku. Na.udzubillah.

Dalam sebuah hadits shahih, yang maknanya :

“Tiga orang yang pertama menjadi bahan bakar neraka adalah : orang berilmu, orang yang mati syahid dan orang yang dermawan. Orang alim yang Allah berikan ilmu dan hikmat. Dia dibawa dihadapan Allah. Allah menyebutkan nikmat-nikmat lalu dia mengakuinya. Allah berkata kepada orang itu “Hai hambaku, Aku telah memberikan ilmu kepadamu. Apa yang dilakukan dengannya ? Orang itu menjawab : “Wahai Rabbku, aku telah mempelajari dan mengajarkan!”. Lalu Allah berfirman : “Engkau bohong ! Engkau belajar dan mengajarkannya agar engkau disebut orang berilmu dan ucapan tersebut sudah terucap”. Lalu Allah mengambil wajah orang tersebut dan mencampakkannya di neraka Jahannam. Demikian juga yang Allah lakukan kepada orang yang mati syahid berjuang bukan untuk mencari wajah Allah dan tidak untuk meninggikan kalimat Allah. Dia berjuang supaya disebut pemberani. Demikian juga Allah memperlakukan orang yang dermawan namun dia dermawan bukan karena Allah, dia berbuat demikian supaya disebut dermawan”.

Wahai saudaraku …

Keikhlasan itu harus ada pada diri seorang da’i. Jika seorang da’i tidak jujur dan tidak ikhlas, maka dia tidak mendapat taufik dari Allah dalam dakwahnya dan tidak mendapatkan pertolongan, pemeliharaan serta Allah tidak akan memperdulikannya. Bertolak dari ini Allah berfirman tentang hak Yusuf ‘Alaihis Salam seorang pemuda yang mempunyai kleikhlasan.

“Artinya : Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih” [Yusuf : 24]

Dalam sebuah qira’ah yang mutawatir “mukhlis” adalah orang yang ikhlas beramal. Sedangkan mukhlas adalah orang yang Allah berikan keikhlasan dalam beribadah, ketaatan dan pembuktian penghambaannya di muka bumi.

Perhatikanlah tiga orang yang terpaksa menginap di gua. Lalu batu pegunungan jatuh menutupi pintu gua. Apa yang telah menyelamatkan mereka dari musibah tersebut ? Tiada lain adalah kejujuran dan keikhlasan mereka.

Masing-masing mereka berdo’a kepada Allah dengan perantara amalan mereka yang diikhlaskan kepada Allah. Salah seorang diantara mereka berkata : “Tidak ada yang bisa menyelamatkan kalian dari batu besar ini, kecuali pemohonan kalian kepada Allah dengan perantara amal shalih kalian”. Maksudnya amalan yang paling ikhlas. Inilah satu jenis tawassul yang diperbolehkan, dengan menjadikan amal shalih sebagai perantara kepada Allah. Kemudian masing-masing berdo’a kepada Allah dengan amal shalihnya.

Orang pertama berdo’a kepada Allah dengan perantara bakti kepada kedua orang tuanya. Orang kedua berdo’a dengan perantara kemampuan menjaga kesuciannya dan meninggalkan zina pada saat dia mampu. Orang ketiga berdo’a dengan sifat amanahnya. Kemudian batu besar tersebut bergerak dan bergeser. Akhirnya mereka bisa keluar. Inilah balasan ikhlas bagi pelakunya.

Seorang da’i harus ikhlas supaya mendapatkan taufik dalam berdakwah dan diterima masyarakat. Orang ikhlas dicintai Allah dan dicintai manusia. Jika Allah suka kepada seorang hamba, dia akan memanggil Malaikat Jibril : ‘Ya Jibril saya suka kepada si fulan, hendaklah kalian mencintainya!” kemudian Jibril memanggil para malaikat :

“Sesungguhnya Allah suka kepada si fulan, maka cintailah dia !” Kemudian ia diterima di muka bumi. Orang ikhlas diterima hati banyak orang. Dengan sebab mereka dan dakwah mereka ini, Allah berkenan membuka hati yang tertutup, telinga yang tuli dan mata yang buta.

[2]. Ilmu Dan Bashirah

Allah berfirman : “Katakanlah, ‘Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” [Yusuf : 108]

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan jalan dakwah kepada Allah merupakan jalannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru dengan bashirah dari Allah dan mengajak dengan ilmu dan kepada ilmu, karena ilmu adalah pondasi perbaikan agama.

Ketika penduduk Makkah berada dalam kerusakan (aqidah dan akhlaq) mereka memakan bangkai, mengubur anak perempuan hidup-hidup, meminum khamer, melakukan perbuatan yang membinasakan dan membuat patung-patung dari kurma dan lainnya. Jika lapar mereka memakan patung tersebut.

Ayat-ayat yang turun mengajak kepada ilmu, mengajak membaca dan menyuruh dengan perintah yang banyak, karena ilmu merupakan asas perbaikan. Lima ayat yang pertama kali turun, mengajak membaca, belajar dan mengajar. Allah berfirman.

“Artinya : Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantraan kalam. Apa yang tidak diketahuinya” [Al-‘Alaq : 1 -5]

Ayat-ayat permulaan ini tidak mengajak nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memecahkan wadah khamer, menghancurkan patung, ataupun yang lain. Akan tetapi mengajak kepada ilmu. Allah telah mengajar manusia apa yang belum ia ketahui. Mengeluarkan manusia dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apapun. Lalu memberikan kalian pendengaran, penglihatan dan hati. Setiap kali manusia itu belajar dan memahami agamanya, dia akan semakin dekat kepada Rabbnya. Setiap kali mereka mengetahui tipu daya syaithan, manusia dan jin, maka semakin mengenal kebenaran dan mengikutinya, mengenal keburukan dan menjauhinya.

Demikianlah seharusnya, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim para da’i dan tenaga pengajar, beliau mengirim Mush’ab bin Umair ke Madinah. Mengutusnya dalam keadaan mengerti tugas sebagai pengajar dan mengerti materi yang diserukan. Demikian juga Rasulullah mengirim Abu Musa Al-Asy’ari dan Mu’adz bin Jabal ke Yaman. Mereka itu mengerti apa yang akan didakwahkan. Ketika Rasulullah mengutus Muadz ke Yaman, beliau berkata :

“Sesungguhnya Engkau akan mendatangi satu kaum dari ahli kitab, maka hendaklah yang pertama kali kau dakwahkan adalah ‘Syahadatu an Laailaha Ila Allah wa anna Muhammadan Rasulullah’ –persaksian bahwa tiada tuhan yang berhak di sembah kecuali Allah dan persaksian bahwa Muhammad Rasulullahj- jika mereka mentaatimu maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu…”

Rasul tidak pernah mengirim orang awam atau orang bodoh untuk mengajak manusia kepada agama ini. Akan tetapi mengutus para da’i dan ulama. Dari sini kita dapat mengetahui bahaya dan mudlaratnya sebagian jama’ah-jama’ah dakwah yang mengumpulkan orang dari pasar, lalu mengarahkan mereka dan mengutus mereka sebagai khatib dan pemberi peringatan. Mereka menasehati dan mengingatkan manusia, sementara mereka tidak memiliki ilmu. Sehingga mereka mengangap jelek sesuatu yang baik dan menganggap benar sesuatu yang salah.

Mereka menyebarkan hadits-hadits palsu dan cerita-cerita bohong mengenai Rasulullah. Mereka menyangka telah berbuat baik padahal tidak. Oleh karena itu, seorang da’i harus mengetahui keadaan obyek dakwah, subyek dan materi dakwahnya serta memiliki kemampuan mematahkan hujjah dengan hujjah, dalil dengan dalil. Demikian juga mampu mengalahkan kebathilan dengan kebenaran. Sebagaimana firman Allah.

“Artinya : Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang bathil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang bathil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tak layak bagiNya)” [Al-Anbiyaa : 18]

Oleh karena itu berdakwah kepada Allah harus berdasarkan ilmu, bukan berdasarkan kebodohan ataupun kebutaan. Seorang da’i harus mempersenjatai diri dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Dia mesti menumpahkan perhatian kepada ilmu dan membuat program pengajaran untuk semua orang dan juga membuat program praktek lapangan dakwah kepada Allah. Adapun dakwah yang tegak diatas kebodohan dan taqlid (ikut-ikutan), memusuhi ilmu dan ulama, maka itu bukan dakwah para Nabi dan tidak berada diatas manhaj para Nabi sedikitpun.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun VI/1423H/2002M Rubrik Liputan Khusus yang diangkat dari ceramah Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr Tanggal 3-6 Muharram 1423H di Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya]

One response to “Indahnya Dakwah Para Rasul

  1. senantiasa luruskan niat2 Qt

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s