Isra’ Mi’raj Sebuah Mukjizat Bagi Rasulullah

Allah SWT berfirman :

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Al-Isra’: 1)

Muqadimah

Isra’ ialah perjalanan Nabi SAW dari Masjid Al-Haram di Makkah ke Masjid Al-Aqsha di Al-Quds, Palestina. Sedangkan Mi’raj ialah naiknya Rasulullah SAW menembus beberapa lapisan langit tertinggi sampai batas yang tidak dapat dijangkau oleh ilmu semua makhluk, malaikat, manusia dan jin. Semua itu ditempuh dalam sehari semalam.

Terjadi silang pendapat tentang sejarah terjadinya mu’jizat ini. Apakah pada tahun kesepuluh ke-nabian ataukah sesudahnya? Menurut riwayat Ibnu Sa’ad di dalam Thabaqatnya peristiwa ini terjadi delapan belas bulan sebelum hijrah.

Jumhur kaum Muslim sepakat bahwa perjalanan ini dilakukan Rasulullah SAW dengan jasad dan ruh. Karena itu, ia merupakan salah satu mu’jizatnya yang mengagumkan yang dikaruniakan Allah SWT kepadanya.

Kisah perjalanan ini disebutkan oleh Al-Bukhari dan Muslim secara lengkap di dalam Shahihnya. Disebutkan bahwa dalam perjalanan ini, Rasulullah SAW menunggang Buraq yakni satu jenis binatang yang lebih besar sedikit dari keledai dan lebih kecil sedikit dari unta. Binatang ini berjalan dengan langkah sejauh mata memandang. Disebutkan pula bahwa Nabi SAW memasuki Masjid Al-Aqsha lalu shalat dua raka’at di dalamnya. Kemudian Jibril datang kepadanya seraya membawa segelas khamr dan segelas susu. Lalu Nabi SAW memilih susu. Setelah itu Jibril berkomentar ,“Engkau telah memilih fitrah.” Dalam perjalanan ini Rasulullah SAW naik ke langit pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya sampai ke Sidratul-Muntaha. Di sinilah kemudian Allah SWT mewahyukan kepadanya apa yang telah diwahyukan di antaranya kewajiban shalat lima waktu atas kaum muslimin, dimana pada awalnya sebanyak lima puluh kali sehari semalam.

Keesokan harinya Rasulullah SAW menyampaikan apa yang disaksikannya kepada penduduk Makkah. Tetapi oleh kaum musyrikin Makkah berita ini didustakan dan ditertawakan. Sehingga sebagian mereka menantang Rasulullah SAW untuk menggambarkan Baitul Maqdis, jika benar ia telah pergi dan melakukan shalat di dalamnya. Padahal ketika menziarahinya, tidak pernah terlintas dalam pikiran Rasulullah SAW untuk menghafal bentuknya dan menghitung tiang-tiangnya. Kemudian Allah SWT memperlihatkan bentuk dan gambar Baitul Maqdis di hadapan Rasulullah SAW sehingga dengan mudah beliau menjelaskannya secara rinci.

Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ketika kaum Quraisy mendustakan aku, aku berdiri di Hijr (Isma’il), lalu Allah memperlihatkan Baitul Maqdis kepadaku. Kemudian aku kabarkan kepada mereka tentang tiang-tiangnya dari apa yang aku lihat.”

Berita ini oleh sebagian kaum musyrikin disampaikan kepada Abu Bakar dengan harapan dia akan menolaknya. Tetapi ternyata Abu Bakar menjawab, “Jika memang benar Muhammad yang mengatakannya, maka dia telah berkata benar dan sungguh aku membenarkan lebih dari itu.”

Pada pagi harinya di malam Isra’ itu Jibril datang kepada Rasulullah SAW mengajarkan cara shalat dan menjelaskan waktu-waktunya. Sebelum disyariatkannya shalat lima waktu, Rasulullah SAW telah melakukan shalat dua raka’at di pagi hari dan dua raka’at di sore hari sebagaimana dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam.

Isra’ dan Mi’raj adalah mukjizat Rasulullah sebagai bukti kebenaran kenabiannya.

Banyak penulis yang begitu gemar menggambarkan kehidupan Rasulullah SAW sebagai kehidupan manusia biasa, jauh dari hal-hal yang luar biasa dan mu’jizat. Bahkan tidak memperhatikan sama sekali adanya kemu’jizatan dalam kehidupan Nabi SAW dengan berdalil kepada ayat: “Katakanlah, ‘Sesungguhnya mu’jizat itu hanya berada di sisi Allah ‘.” (QS al-An’am: 109)

Gambaran seperti ini akan memberikan kesan kepada para pembaca bahwa Sirah Rasulullah SAW sama sekali jauh dari mu’jizat dan bukti-bukti yang biasanya digunakan Allah SWT untuk mendukung para Nabi-Nya yang jujur dan benar.

Jika kita telusuri sumber “teori“ tentang Rasulullah SAW ini ternyata kita dapati berasal dari pemikiran sebagian orientalis dan peneliti asing, seperti Gustav Lobon, August Comte dan Goldzieher dan teman-temannya. Timbulnya teori ini disebabkan  oleh tidak adanya keimanan kepada Pencipta mu’jizat. Sebab jika keimanan kepada Allah telah menghujam di dalam hati, maka akan mudah untuk meyakini segala sesuatu. Bahkan tidak akan ada lagi di dunia ini sesuatu yang berhak disebut mu’jizat.

Tragisnya teori ini telah disambut baik oleh sebagian pemikir muda Muslim, seperti Syaikh Muhammad Abduh, Muhammad Farid Wajdi dan Husain Haikal. Mereka menyebarkan pemikiran-pemikiran asing  ini hanya karena tertipu oleh kelicikan tipu daya musuh dan fenomena kemajuan ilmu pengetahuan di Eropa dan Barat.

Kemudian pemikiran-pemikiran asing yang dikemukakan oleh sebagian pemikir muda Muslim ini oleh para musuh Islam, khususnya orientalis, dijadikan alat untuk membuka medan-medan dan ladang-ladang baru untuk melakuan ghazwul fikri dan menimbulkan keraguan kaum Muslim terhadap agamanya. Senjata bagi serbuan langsung terhadap Aqidah Islam dan penanaman pemikiran-pemikiran sekuler di benak kaum Muslimin.

Demikianlah mereka mulai memberikan sifat-sifat tertentu kepada Rasulullah SAW, seperti heroik, jenius, pahlawan, dan pemimpin dalam arti kata yang serba menakjubkan. Pada waktu ynag sama mereka menggambarkan kehidupan umum Rasulullah SAW jauh dari mu’jizat dan hal-hal yang luar biasa yang tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran, sehingga dengan demikian akan tercipta suatu gambaran baru tentang diri Nabi SAW, di dalam benak kaum Muslim. Kadang mereka menamakan Rasulullah SAW sebagai seorang jenius, atau seorang komandan, atau seorang pahlawan. Tetapi sesuatu yang tidak boleh muncul sama sekali adalah gambaran bahwa Muhammad SAW sebagai seorang Nabi dan Rasul. Sebab semua hakekat kenabian dan segala hal yang berkaitan dengannya seperti wahyu, mu’jizat dan hal-hal yang luar biasa lainnya telah dibuang melalui penonjolan istilah-istilah tertentu, seperti jenius dan pahlawan yang jauh dari mu’jizat ke dalam keranjang mitologi atau dongeng-dongeng yang sudah usang. Ini karena mereka menyadari bahwa fenomena wahyu dan kenabian merupakan puncak kemu’jizatan.

Pada saat itulah akan muncul anggapan bahwa sebab kemajuan dakwah Rasulullah SAW dan banyaknya pengikut yang setia kepadanya, adalah karena faktor kejeniusan dan kepahlawanannya. Perhatikanlah! Sesungguhnya sasaran yang ingin mereka capai ini tampak jelas ketika mereka memasarkan istilah “Muhammadaniest” sebagai ganti dari Muslimin.

Tetapi sejauh manakah kebenaran gambaran tentang diri Muhammad SAW ini dalam kacamata kajian yang objektif dan logis?

Pertama : jika kita perhatikan kembali fenomena wahyu yang nampak dengan jelas pada kehidupan Rasulullah SAW, nyatalah bagi kita bahwa sifat-sifat yang paling menonjol dalam kehidupannya ialah sifat ke-nabian. Ke-nabian adalah termasuk nilai-nilai keghaiban yang tidak mengikuti kriteria-kriteria kita yang bersifat empirik. Dengan demikian arti mu’jizat yang terjadi diluar kebiasaan itu tetap ada pada pangkal keberadaan Nabi SAW. Tidak mungkin kita menolak mu’jizat dan hal-hal yang luar biasa dari kehidupan Nabi SAW, kecuali dengan menghancurkan makna ke-nabian itu sendiri dari kehidupannya. Ini berarti juga penolakan terhadap agama itu sendiri, kendatipun kesimpulan ini tidak disebutkan secara eksplisit oleh sebagian orientalis dan cukup dengan menjelaskan kejeniusan dan keberanian Rasulullah SAW. Mereka tidak perlu lagi menjelaskan kesimpulan karena telah cukup dengan muqadimah. Kesimpulan akan terbentuk secara otomatis setelah diterima muqadimahnya.

Namun banyak pula di antara mereka yang secara terus terang menyebutkan “kesimpulan“ karena kebencian yang tak tertahankan lagi. Seperti Syibli Syamil ketika menamakan keimanan kepada agama dengan “keimanan kepada mu’jizat yang mustahil”. Dengan demikian tidak ada gunanya lagi membahas keingkaran atau keimanan mereka terhadap mu’jizat, karena sejak awal mereka sudah meragukan atau menolak dasar agama itu sendiri.

Kedua : jika kita perhatikan Sirah kehidupan Rasulullah SAW, maka akan kita dapati bahwa Allah telah memberikan banyak mu’jizat kepada Nabi SAW. Keberadaan dan kebenaran mu’jizat-mu’jizat ini tidak dapat kita tolak begitu saja, karena peristiwa-peristiwa mu’jizat itu disampaikan kepada kita dengan sanad-sanad yang shahih dan mutawatir yang mencapai tingkatan pasti dan yakin.

Di antara peristiwa memancarnya air dari jari-jari Rasulullah SAW yang mulia. Peristiwa ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam bab Wudhu’, Muslim di dalam bab Al-Faha-il (keutamaan), Malik di dalam Al-Muqaththa’, dan imam-imam hadits lainya dengan beberapa jalan yang berlainan. Sehingga Az-Zarqani meriwayatkan perkataaan Al-Qurthubi: “Sesungguhnya peristiwa memancarnya air dari jari-jari Rasulullah SAW berulang-ulang di beberapa tempat. Peristiwa ini juga diriwayatkan dari jalan yang banyak, yang semuanya mencapai tingkatan pasti, bahkan dapat dikatakan mutawatir ma’nawi.”

Mu’jizat Rasulullah SAW lainnya ialah peristiwa terbelahnya bulan pada masa Nabi SAW ketika orang-orang musyrik memintanya. Perisitwa ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam bab Ahaditsul-Anbiya’, Muslim di dalam bab Shifatul Qiyamah dan imam -imam hadits lainnya. Berkata Ibnu Katsir: “Peristiwa ini diriwayatkan oleh hadits-hadits yang mutawatir dengan sanad-sanad yang shahih.” Para ulama telah sepakat bahwa peristiwa ini terjadi pada masa Nabi SAW dan merupakan salah satu mu’jizat yang mengagumkan.

Dan peristiwa Isra’ Mi’raj yang sedang kita bahas ini juga merupakan salah satu mu’jizat Nabi SAW, bahkan sebagian besar kaum muslimin telah sepakat bahwa Isra’ dan Mi’raj ini termasuk mu’jizat Nabi SAW yang terbesar.

Tetapi anehnya orang-orang yang memberikan sifat jenius kepada Rasulullah SAW dan menolak apa yang disebut mu’jizat dari kehidupannya, berpura-pura tidak mengetahui hadits-hadits mutawatir yang mencapai tingkat derajat qath’i (pasti) ini. Mereka tidak pernah mau menyinggungnya sama sekali, baik dalam konteks positif ataupun negatif, seolah-olah kitab-kitab hadits tidak pernah memuatnya. Padahal masing-masingnya diriwayatkan lebih dari sepuluh jalan (sanad).

Penyebab utama dari sikap tidak mau tahu ini ialah karena mereka ingin menghindari kemusykilan (kesulitan) yang akan mereka hadapi manakala membaca hadits-hadits tentang mu’jizat ini. Sebab hadits-hadits ini bertentangan diametral dengan teori yang ada di kepala mereka.

Ketiga : mu’jizat ialah sebuah kata yang jika direnungkan tidak memiliki definisi yang berdiri sendiri. Ia hanya suatu makna yang nisbi. Menurut istilah yang sudah berkembang, mu’jizat ialah setiap perkara yang luar biasa. Sedangkan  setiap kebiasaan pasti akan berkembang mengikuti perkembangan zaman dan berlainan sesuai dengan perbedaan kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Mungkin sesuatu pada masa tertentu, dianggap sebagai mu’jizat pada masa sekarang sudah menjadi hal biasa. Atau mungkin sesuatu yang biasa di lingkungan orang-orang yang sudah maju, masih menjadi mu’jizat di kalangan orang-orang primitif.

Tetapi yang benar, bahwa sesuatu yang biasa dan yang luar biasa itu pada dasarnya adalah mu’jizat.

Galaksi adalah mu’jizat, planet adalah mu’jizat, hukum gaya tarik adalah mu’jizat, peredaran darah adalah mu’jizat, ruh adalah mu’jizat dan manusia itu sendiri adalah mu’jizat. Sungguh tepat ketika seorang ilmuwan Perancis, Chatubriant menamakan manusia ini dengan makhluk metafisk, yakni makhluk ghaib yang misterius.

Hanya saja, manusia telah melupakan karena terlalu lama dan sering menghadapi dan merasakannya segi mu’jizat dan nilainya. Kemudian mengira, karena kebodohannya, bahwa mu’jizat ialah sesuatu yang mengejutkan dan di luar kebiasaan ini dijadikan ukuran keimanan atau penolakan terhadap sesuatu. Ini adalah kebodohan manusia yang aneh pada abad ilmu pengetahuan dan teknologi.

Seandainya manusia mau berpikir lebih jauh sedikit, niscaya akan tampak baginya bahwa Allah yang menciptakan mu’jizat seluruh alam semesta ini tidak pernah kesulitan untuk menambahkan mu’jizat lain, atau mengganti sebagian sistem yang telah berjalan di dalam semesta ini. Seorang orientalis, William Johns pernah sampai kepada pemikiran seperi ini ketika mengatakan: “Kekuatan yang telah menciptakan alam semesta ini tidak pernah kesulitan untuk membuang atau menambahkan sesuatu kepadanya. Adakah mudah untuk dikatakan bahwa masalah ini tidak dapat digambarkan oleh akal. Tetapi yang harus dikatakan bahwa masalah ini tidak tergambarkan, bukan tidak dapat digambarkan sampai ke tingkat adanya alam.”

Maksudnya seandainya alam ini tidak ada, kemudian dikatakan kepada seseorang yang mengingkari mu’jizat dan hal-hal yang luar biasa, dan tidak dapat menggambarkan keberadaannya. Akan adanya alam. Niscaya dia akan langsung menjawab, “Ini tidak mungkin dapat digambarkan.” Penolakannya terhadap gambaran seperti ini akan lebih keras ketimbang penolakannya terhadap gambaran adanya mu’jizat.

Inilah yang harus dipahami oleh setiap Muslim, baik mengenai Rasulullah SAW ataupun mu’jizat-mu’jizat yang dikaruniakan Allah kepadanya.

Wallahu A’lam bish Shawab

Oleh : Tengku Azhar, Lc.

Reference :

1. Tafsir Ibnu Katsir, Imam Ibnu Katsir.

2. Sirah Nabawiyyah, Dr. Muhammad Sa’id Ramadhani Al-Buthy.

3. www.myquran.org.

4. Dan lain-lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s