Perkembangan Dakwah dan Tantangannya

Oleh :

H. Syuhada’ Bahri, Lc.

(Ketua Dewan Dakwah Islam Pusat Jakarta)

Kita wajib menanamkan di dalam hati kita satu keyakinan, bahwa kehidupan yang tenang dan tenteram baru akan terwujud manakala syari’ah Islamiyah sudah tegak dalam hidup dan kehidupan kita.

Syari’ah Islamiyah yang harus tegak di dalam hidup dan kehidupan adalah syari’ah Islamiyah yang bersumber kepada al-Qur’an dan as-Sunnah.

Firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 38 :

Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, Maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

Jalan yang harus ditempuh untuk tegaknya syari’ah Islamiyah hanya bisa lewat jalan da’wah. Karena itu da’wah merupakan kewajiban yang terpikul di atas pundak setiap orang yang mengaku dirinya Islam.

Dalam catatan perjalanan sejarah da’wah, kita bisa membaca adanya pasang naik dan pasang surut gerakan da’wah. Hal itu terjadi karena di pentas realitas ada dua da’wah ( ajakan ) yang terus bertarung. Da’wah ilallah dan da’wah ilathogut.

Firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 257 :

257. Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Da’wah yang mengajak kepada kegelapan, yang diimami oleh thogut ( syetan ), target akhirnya adalah mengajak ummat Islam untuk pindah agama. Ketika ajakan untuk pindah agama menghadapi kesulitan, maka yang mereka lakukan adalah menjauhkan ummat Islam dari agamanya dan atau menanamkan keraguan terhadap Islam sebagai solusi kehidupan yang memberi rahmat bagi kehidupan ummat manusia. Sehingga lahirlah orang-orang yang mengaku Islam, tapi hidup dan kehidupannya bertentangan dengan ajaran Islam.

Subyek pelaku yang bisa dilihat oleh mata dari gerakan anti Islam, yaitu : Yahudi, Nasrani dan orang-orang yang terpengaruh oleh Yahudi dan Nasrani.

Firman Allah dalam surah al-An’am ayat 112 dan 113

112. Dan Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

113. Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan.

Selain upaya optimal yang dilakukan oleh gerakan “anti Islam”, dengan berbagai cara dan model pendekatannya, di sisi lain ada kelemahan internal ummat Islam yang nyaris belum terselesaikan dengan baik. Yaitu, kekurang fahaman ummat Islam terhadap makna hakiki dari “la ilaha illallah”, belum adanya da’wah yang berkesinambungan, kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan, yang juga sering diekploitasi oleh gerakan anti Islam. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal lain yang merupakan persoalan internal ummat Islam adalah perpecahan di kalangan ummat Islam.

Yang lain lagi, yang juga ikut menghambat gerakan da’wah ilallah, adalah pengaturan secara ketat (pembatasan da’wah) yang dilakukan oleh para penguasa Negara. Kita bisa menjadi saksi hidup terhadap betapa sulitnya da’wah di masa Orde Lama dan Orde Baru di Indonesia. Hal itu juga terjadi di Negara-negara Islam yang lain.

Pertarungan antara yang haq dengan yang bathil itulah, yang menjadi penyebab sehingga perjalanan da’wah di pentas sejarah, kadang pasang naik dan kadang pasang surut. Wallahu a’lam.

oOo

Alhamdulilllah di Era Reformasi, aktivitas da’wah tidak lagi dibatasi oleh Pemerintah. Bahkan diberi kebebasan seluas-luasnya. Di masa sekarang, nyaris tidak ada satu sisi kehidupan yang tidak ada da’wahnya. Ini satu peluang yang terbuka bagi da’wah Islam, da’wah ilallah.

Tapi, …….

Gebyarnya da’wah yang menyentuh hampir seluruh sisi kehidupan, belum mampu menghilangkan kemungkaran dan kemaksiatan. Di era da’wah yang bebas, kemungkaran dan kemaksiatan semakin merajalela, baik kwalitas maupun kwantitas. Di era da’wah yang semakin meriah, orang-orang yang menolak syari’ah Islamiyah nampak semakin berani. Bahkan sepertinya kemungkaran dan kemaksiatan itu, sedang tampil mempermalukan da’wah Islam.

Realitas ini patut kita renungkan bersama. Kenapa semua ini bisa terjadi ? Padahal Allah sudah dengan tegas mengatakan dalam firmannya,

“Katakanlah, apabila yang haq telah datang, maka yang bathil akan hancur, karena kebatilan itu harus hancur”.

Bila antara mestinya dengan kenyataannya berbeda, pasti ada penyebab. Apa yang menyebabkan da’wah tidak mampu menghilangkan kemungkaran dan kemaksiatan ?

Kita bisa berdiskusi panjang untuk menjawab pertanyaan itu. Semakin detil analisa kita terhadap factor penyebab, akan semakin mudah bagi kita untuk merancang penyelesaian persoalan-persoalan da’wah kita ke depan.

Dalam makalah ini akan disampaikan secara umum beberapa penyebab yang menyebabkan da’wah Islam menjadi tidak efektip.

  1. Salah pandang terhadap ujian dan cobaan.

Ujian dan cobaan, kesulitan dan kesusahan di jalan da’wah adalah sunatullah. Sesuatu yang tidak mungkin bisa kita hindari. Dia merupakan alat evaluasi terhadap iman kita dan keseriusan kita di dalam berda’wah. Karena itu ujian dan cobaan, kesulitan dan kesusahan tidak boleh kita jadikan sebagai penghalang. Kita harus menjadikannya sebagai vitamin yang bisa memicu dan memacu semangat da’wah kita. Kita harus yakin terhadap firman Allah “di balik kesulitan ada kemudahan”, “jika kalian membela dan menolong agama Allah, maka Allah pun akan membela dan meberi pertolongan kepada kalian”. Itulah yang harus kita tanamkan ketika kita berhadapan dengan ujian dan cobaan di jalam da’wah.

Jika kita memandang ujian dan cobaan, kesulitan dan kesusahan sebagai halangan, bisa jadi akal, fikiran dan tenaga kita akan terkuras, mencari solusi untuk menghindari ujian itu. Akhirnya kita pun tidak jadi melangkah untuk berda’wah.

  1. Pudarnya komitmen da’wah.

Da’wah adalah kewajiban yang terpikul di atas pundak setiap orang yang mengaku dirinya Islam. Karena itu menjadi da’i, hukumnya wajib ‘ain. Sementara profesi, hukumnya wajib kifayah. Da’wah yang kita lakukan, hendaknya dilandasi dengan keikhlasan, hanya mencari keridloan Allah. Dengan itu, da’wah yang kita lakukan akan bernilai ibadah di sisi Allah dan akan mengundang pertolongan Allah.

Jika da’wah sudah dijadikan sebagai pekerjaan, sebagai sumber penghasilan untuk mencari kekayaan, maka da’wah itu tidak lagi bernilai di sisi Allah dan pertolongan Allah pun akan hilang dari da’wah kita. Kalaupun ada jama’ah yang mengikutinya, dia bukan ummat, dia hanya sebatas penggemar. Pak Natsir pernah mengatakan, da’wah yang seperti itu, tak ubahnya seperti kita melempar pasir di rumpun bambu. Suaranya terdengar, tapi tidak satu pun pasir itu yang nempel di bambu. Naudz billah.

  1. Melemahnya keseriusan dalam da’wah.

Jika kita telah mampu menanamkan keyakinan, bahwa da’wah itu adalah wajib ‘ain untuk mencari keridloan Allah, yang dengan itu Allah akan memberikan pertolongan dan kemenangan kepada kita, maka pasti kita akan serius dalam berda’wah. Keseriusan dalam berda’wah, akan berwujud dalam dua bentuk. Kerja keras dan kerja cerdas. Kerja keras diwujudkan dalam bentuk mengerahkan seluruh kemampuan yang Allah berikan kepada kita dan memanfaatkan setiap momentum yang kita temui untuk berda’wah. Kerja cerdas diwujudkan dalam bentuk adanya perencanaan da’wah yang komprehensif yang bisa melahirkan ummat yang cerdas dan membentengi ummat dari segala godaan yang akan merusak nilai-nilai keimanan ummat. Termasuk serius dalam berda’wah, jika materi da’wah yang diberikan hanya yang bersumber kepada al-Qur’an dan as-Sunnah.

Jika da’wah yang kita lakukan hanya sebatas kerja keras tapi tidak dibarengi dengan kerja cerdas. Da’wah kita hanya bersifat reaksi terhadap kondisi, tapi tidak direncanakan dengan rapi. Da’wah kita hanya bersumber kepada pengalaman pribadi, tapi tidak bersumber kepada al-Qur’an dan Hadist nabi, jangan-jangan kita hanya akan kelelahan di tengah jalan, sementara tujuan baru ada dalam tulisan dan angan-angan, tapi belum nampak dalam pandangan dan kenyataan. Naudzu billah.

  1. Hilangnya kebersamaan dalam da’wah.

Da’wah menuju tegak dan terlaksananya syari’ah Islamiyah dalam hidup dan kehidupan, tidak mungkin bisa selesai jika dikerjakan sendiri atau satu lembaga. Da’wah memerlukan banyak orang yang dirakit dan direkat dalam kafilah da’wah. Landasan yang harus kita pegang dalam kebersamaan itu adalah, “wa ta’awanu ‘alal birri wa taqwa” dan landasan operasionalnya kita berpegang dengan firman Allah, “i’maluu ‘ala makanatikum inni ‘aamil”. Kita harus selalu ingat terhadap firman Allah, “berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah dan janganlah kalian bercerai berai”. Begitu juga kita harus ingat terhadap satu pepatah, “kebenaran yang tidak terorganisir bisa dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir”.

Jika da’wah yang begitu luas dikerjakan sendiri, baik dalam kontek perorangan atau lembaga, kemudian yang satu dengan yang lain tidak saling berkordinasi, maka sulit akan sampai kepada terjadinya perubahan dalam kehidupan. Selain itu, tidak adanya kebersamaan di antara para pendukung da’wah, akan dengan mudah diadu domba oleh pihak yang tidak senang kepada Islam. Akhirnya, kita hanya besar dalam jumlah, tetapi kecil dan kekuatan. Naudzu billah.

Itulah empat persoalan yang bisa saya sampaikan dalam tulisan ini. Tentu selain empat persoalan itu, masih banyak yang bisa kita sebut sebagai penyebab lemahnya da’wah Islam dewasa ini.

Apa langkah yang harus kita lakukan ke depan dalam mengembangkan da’wah yang bisa melahirkan ummat yang cerdas dan beraqidah yang istiqomah ?

Disampaikan pada pelantikan Pengurus Dewan Dakwah Daerah Jawa Tengah, 4 Pebruari 2008 M.

oOo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s