Marhaban Ya Ramadhan

Jika seseorang yang ‘spesial’ bertandang ke rumah kita; apa yang akan kita lakukan? Masing-masing kita pasti memiliki jawaban yang sama; mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangannya. Dan persiapan itu tentunya akan lebih dilipatgandakan lagi jika kita tahu bahwa itu adalah kesempatan terakhir yang kita miliki.

Dan Ramadhan adalah tamu yang sangat spesial. Para sahabat Nabi senantiasa menunggu-nunggu kehadirannya. Bukan dengan berpangku tangan, namun dengan segudang amalan. Apatah lagi jika sudah memasuki bulan Sya’ban. Sebagaimana yang diteladankan oleh Rasulullah.

Di antara persiapan yang bisa kita lakukan adalah:

  1. mengkaji ulang fiqih shiyam

Ini adalah persiapan yang paling utama. Sebab sebelum beramal seorang muslim mestilah berilmu terlebih dahulu. Meski pernah mempelajarinya, mengulangnya kembali tentu tidak ada salahnya. Bahkan, sangat bermanfaat. Biasanya kita mendapati akan mendapati hal-hal baru atau hal-hal yang sudah pernah kita baca, namun baru kali ini kita mengerti dan memahami maksud sebenarnya.

Setelah mengkaji fiqih shiyam yang meliputi syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, pembatal-pembatalnya, hal-hal yang disunnahkan, dan perkara-perkara yang dimakruhkan. Juga, berbagai perbedaan pendapat di anatara para ulama sehubungan dengan semua itu.

Bagus juga jika kita mengkaji hikmah-hikmah shiyam supaya kita dapat menunaikannya dengan sebaik-baiknya.

Terakhir, jika Ramadhan sudah di depan mata, kita tadabburi hadits berikut:

مَنْ صَامَ رَمَضَضانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melaksanakan shiyam Ramadhan dengan sepenuh keimanan dan hanya mengharapkan balasan dari Allah, niscaya dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. (Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhariy dan Imam Muslim)

  1. mempertebal keimanan, terutama keimanan kepada hari akhir.

Kuat dan tebalnya keimanan kita, khususnya keimanan kepada hari akhir memiliki andil yang besar terhadap keseriusan kita dalam beramal. Jika kita yakin bahwa kehidupan di akherat adalah kehidupan yang abadi, bahwa kenikmatan dan kesengsaraan di sana adalah rasa yang sebenarnya -karena dirasakan oleh jasad dan ruh sekaligus-, sedangkan kehidupan dunia adalah kehidupan yang sebentar atau sementara saja, pastilah kita -yang cerdas dan berakal- akan mendahulukan semua yang diperlukan demi kesuksesan di sana. Tentang nilai dunia Rasulullah bersabda,

ما الدنيا في الآخرة إلا مثل ما يجعل أحدكم إصبعه هذه وأشار يحيى بالسبابة في اليم فلينظر بم ترجع

“Dibandingkan akherat, dunia itu hanya seperti air yang menempel di jari salah seorang dari kalian -lalu Yahya (seorang perawi hadits) mengisyaratkan telunjuknya- di lautan. Lihatlah, seberapa banyak (air) yang dibawanya! (Diriwayatkan oleh Imam Muslim)

Kajian tentang apa yang terjadi setelah kita mati di alam barzakh kelak dan bahwa seseorang itu bisa meninggalkan dunia yang fana ini kapan saja tentunya akan menyadarkan kita untuk bersiap-siap menghadapinya, kapan saja. Allah berfirman,

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, ‘Duhai Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih.’” (al-Munafiqun: 10)

Kajian tentang nikmatnya jannah dan pedih-perihnya neraka akan menyadarkan kita dan membuat kita sangat-sangat merindukan kehidupan akherat. Terlebih jika selama di dunia ini beban berat senantiasa kita pikul dari waktu ke waktu.

Keimanan kepada hari akhir yang kokoh akan mengurangi sikap berlebihan kita dalam mencintai dan mengurus dunia. Kita tidak bakalan rela membiarkan dunia menyita waktu-waktu kita.

  1. berazam untuk tidak menyia-nyiakan Ramadhan dan mengisinya dengan amalan-amalan sunnah.

Amalan sunnah yang paling dianjurkan untuk dilaksanakan di bulan Ramadhan adalah qiyam Ramadhan atau lebih dikenal dengan shalat Tarawih.

Selain itu ~kalau kita hendak meneladani mereka~ para sahabat mempunyai kebiasaan memperbanyak tilawah al-Qur`an. Ada bahkan di antara mereka yang setiap harinya khatam sekali.

  1. Shadaqah sunnah juga sayang kalau ditinggalkan.
  2. Dan terakhir, i’tikaf di 10 hari terakhir, merupakan sunnah Nabi dan diteladani oleh para pendahulu kita yang shalih.

Demikian mestinya kita sambut tamu yang sangat spesial ini. Tamu yang merupakan karunia agung dari Allah. Sebab di bulan ini Allah akan memberikan ganjaran dan melipatkan pahalanya tanpa batas kepada orang yang mengerjakan shiyam. Lalu, doa orang yang shiyam tidak akan ditolak, orang yang shiyam akan mendapat dua kegembiraan, shiyam akan memberikan syafa’at kepada orang yang mengerjakannya pada hari kiamat, bau mulut orang yang shiyam lebih wangi dari misk di sisi Allah, shiyam adalah perisai, benteng yang menghalangi dari api neraka, dan barangsiapa shiyam fii sabilillah maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh tujuh puluh musim rontok, di jannah ada sebuah pintu yang disebut Ar Royyan yang akan dimasuki oleh orang-orang yang shiyam dan tidak akan dimasuki oleh selain mereka. Semoga kita mendapatkan semuanya. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s