BERBAGI DI BULAN RAMADHAN

Ulurkan Tangan Anda Raihlah Keuntungan Yang Amat Mulia

Oleh : Tengku Azhar, Lc.

Tafsir firman Allah Ta`alah:

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّاْئَةُ حَبَّةٍ وَاللهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَآءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Tafsir Ayat

Imam Ibnu Katsir –rahimahullah- berkata, “Ayat ini merupakan permisalan dari Allah SWT tentang keutamaan orang yang berinfak di jalan-Nya dan mengharapkan keridhaan-Nya, dan sesungguhnya satu kebaikan akan dilipatgandakan ganjarannya sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat, Allah SWT berfirman, ‘Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah.’

Sa`id bin Jubair –radhiyallahu `anhu- berkata, “Yakni berinfak di jalan ketaatan kepada Allah SWT.”

Imam Makhul –rahimahullah- berkata, “Yakni berinfak di atas jalan jihad berupa kuda-kuda yang tertambat dan berbagaimacam jenis persenjataan.”

Syabib bin Bisyr berkata, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas –radhiyallahu `anhu- beliau berkata, “Satu dirham yang diinfakkan di atas jalan jihad dan haji akan dilipatgandakan tujuh ratus kali lipat.”

Kemudian Allah SWT berfirman, “Adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji.”

Ibnu Katsir –rahimahullah- berkata, “Ayat ini memberikan isyarat kepada orang-orang mukmin bahwa amal shalih akan dipelihara (dikembangbiakkan) oleh Allah SWT untuk pemiliknya, sebagaimana seseorang yang menanam satu bulir benih di tanah yang baik lagi subur. Dan telah sampai kepada kita sunnah yang menjelaskan bahwa satu kebaikan akan dilipatgandakan oleh Allah SWT ganjarannya hingga tujuh ratus kali lipat.”

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menginfakkan satu infak yang baik di jalan Allah SWT (jihad) maka akan dilipatgandakan menjadi tujuh ratus kali lipat. Barangsiapa berinfak untuk menghidupi diri dan keluarganya, atau mengunjungi orang sakit, atau bersabar atas celaan, maka setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang semisal dengannya, shaum adalah sebuah tameng jika ia tidak merusaknya, barangsiapa yang Allah SWT berikan ujian pada anggota tubuhnya, maka baginya pengampunan dosa dari Allah SWT.” (HR. An-Nasa’i)

Ibnu Mas`ud –radhiyallahu `anhu- menyebutkan bahwa ada seorang laki-laki menginfakkan kepada Rasulullah SAW seekor unta yang (memiliki) tanda pada hidungnya di jalan Allah SWT, maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Sungguh akan datang kepadamu tujuh ratus ekor unta yang semisal dengannya pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)

Dari Ibnu Umar –radhiyallahu `anhu- ia berkata, tatkala ayat ini turun (Al-Baqarah: 261) Rasulullah SAW berkata, “Wahai Rabbku tambahkanlah (untuk) umatku.’ Maka turunlah surat Al-Bagarah ayat 245, ‘Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan memperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.’ Lalu Rasulullah SAW berkata kembali, ‘Wahai Rabbku tambahkan untukku.’ Maka turunlah surat Az-Zumar ayat 10, ‘Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertaqwalah kepada Rabbmu.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas.’ (QS. Az-Zumar: 10)

Kemudian Allah SWT berfirman, “Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.”

Ibnu Katsir –rahimahullah- berkata, “Yakni sesuai dengan kadar keikhlasannya dalam beramal.”

Imam Ath-Thabari –rahimahullah- menyebutkan, “Yakni Allah SWT akan melipatkangandakan orang yang berinfak di jalan-Nya dari tujuh ratus kali lipat hingga satu juta kali lipat.” (Pendapat Ibnu Abbas dengan sanad yang tidak jelas).

Kemudian Allah SWT berfirman, “Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Ibnu Katsir –rahimahullah- berkata, “Yakni karunia Allah SWT sangat luas dan sangat banyak, melebihi jumlah para makhluk-Nya, dan Dia Mahatahu siapa yang berhak untuk mendapatkan karunia-Nya dan siapa yang tidak berhak.”

Ibnu Zaid –rahimahullah- berkata, “Yakni Allah Mahaluas untuk menambah siapa saja yang hendak Dia luaskan, dan Mahatahu siapa saja yang hendak Dia tambah.”

Yang lain berkata, “Yakni Allah SWT Mahaluas untuk melipatgandakan ganjaran tersebut, dan Mahatahu siapa saja yang meninfakkan hartanya di atas jalan ketaatan.”

Imam Al-Qurthubi –rahimahullah- berkata, “Ayat ini merupakan anjuran Allah SWT untuk berjihad di jalan-Nya, dan siapa saja yang berjihad di jalan-Nya maka ia akan mendapatkan ganjaran yang sangat agung.”

ANTARA ZAKAT, INFAK DAN SHODAQOH

Dalam penjelasan tentang makna terminologis dari zakat, kita telah mengetahui bahwa zakat adalah kewajiban harta yang spesifik, memiliki syarat tertentu, alokasi tertentu dan waktu tertentu. Adapun infak yaitu mengeluarkan harta yang mencakup zakat dan non zakat.

Infak ada yang wajib ada yang sunnah. Infak wajib diantaranya kafarat, nadzar, zakat dll. Infak sunnah diantaranya infak kepada fakir miskin sesama muslim, infak bencana alam dll.

Adapun shodaqoh maknanya lebih luas dari zakat dan infak. Shodaqoh dapat bermakna infak, zakat dan kebaikan non materi. Dalam hadist riwayat Muslim, Rasulullah saw memberi jawaban kepada orang-orang miskin yang cemburu terhadap orang kaya yang banyak bershodaqoh dengan hartanya, beliau bersabda:

“Setiap tasbih adalah shodaqoh, setiap takbir shodaqoh, setiap tahmid shodaqoh, setiap tahlil shodaqoh, amar ma’ruf shodaqoh, nahi munkar shodaqoh dan menyalurkan syahwatnya pada istri juga shodaqoh.”

Shadaqah adalah ungkapan kejujuran (shidq) iman seseorang. Oleh karena itu Allah SWT menggabungkan antara orang yang memberi harta dijalan Allah dengan orang yang membenarkan adanya pahala yang terbaik. Antara yang bakhil dengan orang yang mendustakan. Disebutkan dalam surat Al-Lail ayat 5-10:

“Adapun orang yang memberikan (hartanya dijalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya (jalan) yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.”

MULTIFUNGSI ZAKAT

  1. Manfaat Zakat Sebagai Tatanan Kehidupan Sosial

Dalam berbagai kesempatan seringkali dibicarakan tentang beberapa kisah yang terjadi pada masa Rasulullah. Boleh jadi sebagian dari kita sudah hafal isi kisah tersebut namun kesibukan sehari-hari membuat kita sejenak terlupa, boleh jadi sebagian dari kita sudah paham betul esensi dari kisah yang akan disampaikan di bawah ini, namun tak ada salahnya untuk sedikit merenungi kembali kisah-kisah ini dan berkaca ke lubuk hati kita. Di bagian lain kita akan lihat sejumlah ayat Qur’an yang berkenaan dengan tema utama kita kali ini.

Kita terbang lima belas abad kebelakang. Di suatu tempat terlihat Rasulullah saw berkumpul bersama para sahabatnya yang kebanyakan orang miskin. Sekedar menyebut beberapa nama sahabat yang hampir semuanya bekas budak, yaitu Salman al-Farisi, Ammar bin Yasir, Bilal, Suhayb Khabab bin Al-Arat. Pakaian mereka lusuh, berupa jubah bulu yang kasar. Tetapi mereka adalah sahabat senior Nabi, para perintis perjuangan Islam.

Serombongan bangsawan yang baru masuk islam datang ke majelis Nabi. Ketika melihat orang-orang di sekitar Nabi, mereka mencibir dan menunjukkan kebenciannya. Mereka berkata kepada Nabi, “Kami mengusulkan kepada Anda agar Anda menyediakan majelis khusus bagi kami. Orang-orang Arab akan mengenal kemuliaan kita. Para utusan dari berbagai kabilah arab akan datang menemuimu. Kami malu kalau mereka melihat kami duduk dengan budak-budak ini. Apabila kami datang menemui Anda, jauhkanlah mereka dari kami. Apabila urusan kami sudah selesai, bolehlah anda duduk bersama mereka sesuka Anda.”

Uyainah bin Hishn menegaskan lagi, “Bau Salman al-Farisi mengangguku (Ia menyindir bau jubah bulu yang dipakai sahabat nabi yang miskin). Buatlah majelis khusus bagi kami sehingga kami tidak berkumpulbersama mereka. Buat juga majelis bagi mereka sehingga mereka tidak berkumpul bersama kami.”

Tiba-tiba turunlah malaikat jibril menyampaikan surat al-An’am [6] ayat 52: “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka. Begitu pula mereka tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu,yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasukorang-orang yang zalim.”

Nabi saw segera menyuruh kaum fukara duduk lebih dekat lagi sehingga lutut-lutut mereka merapat dengan lutut Rasulullah saw. “Salam ‘Alaikum,” kata Nabi dengan keras, seakan-akan memberikan jawaban kepada usul para pembesar Quraisy.

2. Zakat Sebagai Landasan Sistem Perekonomian Islam

Zakat adalah landasan sistem perekonomian Islam dan menjadi tulang punggungnya. Karena sistem perekonomian Islam berdasarkan pengakuan bahwa Allah adalah pemilik asal, maka hanya Dia yang berhak mengatur masalah pemilikan, hak-hak dan penyaluran serta pendistribusian harta. Zakat adalah pencerminan dari semua itu. Karena ia merupakan salah satu hak terpenting yang dijadikan Allah di dalam pemilikan.

Disamping itu, dalam harta yang kita miliki, masih ada hak-hak lain diluar zakat. Dalam sebuah hadits dikatakan : “Sesungguhnya di dalam harta itu ada hak selain zakat”. Tetapi zakat merupakan hak terpenting di dalam harta. Karena itu ia menjadi penyerahan total kepada Allah dalam persoalan harta. Sabda Nabi Muhammad SAW: “Zakat adalah bukti (penyerahan)”.

Selama infaq di jalan Allah ditunaikan, atau sekurang-kurangnya dengan membayar zakat, maka penimbunan harta benda itu tidak akan pernah terjadi. Rasulullah SAW bersabda: “Selama kamu tunaikan zakatnya, maka ia bukan timbunan”.

Wallahu A`lam

Reference:

1. Tafsir Ath-Thabari

2. Tafsir Ibnu Katsir

3. Tafsir Al-Qurthubi

4. www.alsofwah.or.id

5. Dll.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s