Mujtahid Lesbian Menafsirkan Al-Qur’an, Ironis!

Tujuh Puluh Perawan?

“…Al-Quran menasihati umat Yahudi dan Nasrani untuk tetap tenang. Tidak ada yang perlu mereka ‘takutkan atau sesalkan’ selama mereka tetap setia pada kitab suci mereka. Tetapi di sisi lain, Al-Quran secara terang-terangan menegaskan bahwa Islamlah satu-satunya ‘keyakinan yang benar’. Aneh, bukan…?”

(Irshad Manji)

SEJAK MENJADI korban institusi madrasah, aku berjuang menghadapi satu pertanyaan yang menyita pikiranku: Haruskah aku berucap selamat tinggal kepada Islam? Demi menjawab pertanyaan itu, aku harus menjawab sebuah pertanyaan: Adakah sesuatu yang pokok, yang tak dapat dilepaskan di dalam Islam, yang membuatnya lebih kaku di masa kini daripada saudara-saudara spiritualnya, Kristianisme dan Yudaisme? Tantangan bosku bagai menggerakkan tubuhku untuk terjun ke rawa-rawa.

Yang menggangguku bukan cuma cerita tentang perempuan Nigeria korban perkosaan tersebut. Pilih satu negara muslim, negara muslim mana saja, dan penghinaan paling brutal akan segera menyentak kesadaranmu. Di Pakistan, rata-rata dua perempuan mati setiap hari akibat “pembunuhan demi kehormatan”, sering kali atas nama Allah yang diucapkan oleh mulut para pembunuh. Di Malaysia, seorang perempuan muslim tidak bisa melakukan perjalanan tanpa izin dari seorang lelaki. Di Mali dan Mauritania, anak-anak lelaki dirayu masuk perbudakan oleh para pemaksa muslim. Di Sudan, perbudakan terjadi di tangan para milisi muslim. Di Yaman dan Yordania, pekerja kemanusiaan Kristen ditembak begitu saja. Di Bangladesh, seniman yang mengadvokasi hak-hak religius kelompok minoritas dipenjarakan atau diusir ke luar negeri. Semua itu terdokumentasi dengan baik.

Oh ya, aku mencampuradukkan antara budaya dan agama lagi. Tapi, benarkah demikian? Bahkan di Toronto, Kanada, yang budayanya sangat berbeda dari budaya Bangladesh, Islam yang kasar dan kejam berkembang pesat. Mendekatlah padaku karena aku akan bilang kepada Anda, bagaimana aku dapat mengetahui hal itu.

Tak lama setelah menerima amplop Moses, aku mendedikasikan satu episode QueerTelevision untuk menyajikan realitas kehidupan gay dan lesbian muslim. Ceritanya menayangkan seorang laki-laki gay yang telah meninggalkan Pakistan untuk tinggal di London, dan seorang lesbian yang kabur dari Iran, tanah airnya, untuk menetap di Vancouver.

Miriam, si lesbian, telah dicap sebagai “perusak dunia” oleh polisi agama di kampung halamannya. Aku menayangkan rekaman liputan langsung yang diselundupkan dari Iran untuk membuktikan apa yang akan terjadi pada Miriam jika dia tetap tinggal dan tertangkap. Rekaman menunjukkan, dua perempuan dibungkus menjadi satu dengan kain putih, diturunkan ke dalam tanah yang baru saja digali. Sekelompok lelaki dewasa dan anak lelaki mengelilingi dua perempuan itu dan mulai melemparkan batu-batu sekepalan tangan ke kepala mereka. Kebanyakan batu-batu itu mengenai tonjolan di kain dan mental, meninggalkan muncratan berwarna merah darah. Miriam menjelaskan bahwa sesuai hukum, setiap pelempar batu seharusnya memeluk Al-Quran di tangannya untuk mengurangi tenaga lemparan mereka. Ketentuan itu tidak selalu dilaksanakan. Masih dengan perasaan takut akan keselamatan hidupnya, Miriam membeberkan kisahnya dalam sebuah siluet.

Adnan, si gay muslim, setuju untuk tampil di depan kamera. Dia percaya bahwa Al-Quran melarang homoseksualitas, tapi dia telah berdamai dengan hukum itu. Lagi pula, Adnan tidak berniat membawa pulang kekasihnya ke semua kaum muslim. Ia hanya membawanya pulang ke ibunya saja di Pakistan. Validasi agama, meskipun terasa indah ketika dipegang teguh, sesungguhnya dari segi apa pun tidaklah diperlukan di London yang liberal, tempat dia dan kekasihnya tinggal. Episode tersebut berakhir dengan munculnya seorang penasihat pada Pusat Kebudayaan Islam London yang berkomentar tentang pentingnya kerendahhatian dalam menyikapi para gay dan lesbian. Walaupun tampaknya Islam tidak menoleransi homoseksualitas, namun dia berkata, “segala sesuatu mungkin saja terjadi” dengan kuasa Allah.

Anda tahu apa yang terjadi setelah acara itu ditayangkan? Dari semua komplain yang kudapat dari kaum muslim di Toronto, yang paling banyak adalah pernyataan: “babi” dan “anjing” homoseks yang kau tayangkan ini pasti orang Yahudi! Lupakanlah tayangan keji tentang praktik rajam di Iran, atau kemauan Adnan untuk menerima kecaman teologis terhadap seksualitasnya, atau seruan si penasihat agama akan perlunya sikap rendah hati terhadap kehidupan setiap orang. Tidak satu pun dari itu semua yang diperhatikan oleh kaum muslim yang terbakar amarah lalu menulis surat atau menelepon QueerTelevision. Hanya satu kesimpulan: Bahwa gay dan lesbian tidak mungkin menjadi bagian dari “kami”. Kaum homoseks sungguh menjadi aib bagi “mereka”. Pandangan ini terjadi di kota kosmopolitan abad ke-21.

Aku merasa mual. Apa pun budaya di tempat kaum muslim hidup, baik budaya pedesaan maupun budaya digital, dan apa pun generasinya, apakah disimbolkan oleh sebuah masjid tahun 1970-an untuk para imigran atau oleh sebuah kota yang sadar-informasi di milenium baru, Islam muncul sebagai sebuah agama tribal yang mengkhawatirkan. Kita memang memerlukan reformasi. Sungguh!

Tetapi, apa makna “reformasi”? Sejujurnya, aku hanya memiliki gambaran yang samar-samar. Apa yang kuketahui adalah: Para pemeluk yang hidup dalam agama-agama yang “tereformasi” secara historis tidak beroperasi di tingkat mentalitas-kawanan ( herd mentality) sebagaimana halnya kaum muslim. Para pemimpin Kristen sadar akan perbedaan intelektual di dalam hierarki kepemimpinan mereka. Sementara masing-masing pemimpin dapat menolak validitas interpretasi pemimpin lain—dan banyak yang melakukan hal ini—tidak ada satu pun yang dapat menolak begitu banyaknya interpretasi yang eksis di luar sana. Sementara itu, Yahudi sudah jauh lebih maju. Orang Yahudi sesungguhnya mempublikasikan ketidaksepakatan dengan cara melingkari kitab-kitab suci mereka dengan beragam tafsir, dan memasukkan perdebatan-perdebatan internal ke dalam Talmud itu sendiri. Sebaliknya, sebagian besar kaum muslim memperlakukan Al-Quran sebagai dokumen yang harus ditiru (diimitasi) ketimbang harus diinterpretasikan. Dan hal itu membunuh kemampuan kita untuk berpikir bagi diri kita sendiri.

Bahkan di Barat, kaum muslim secara rutin diajari bahwa Al-Quran adalah manifesto final dari kehendak Tuhan, yang menggantikan Injil dan Taurat. Sebagai manifesto final, Al-Quran adalah kitab yang “sempurna”—bukan untuk dipertanyakan, dianalisis, atau bahkan diinterpretasikan, tapi hanya untuk diyakini begitu saja. Sungguh, firman pertama yang didengar Nabi Muhammad dari Malaikat Jibril, yang berkata atas nama Allah, adalah kata “Ulangi! ( Recite!)”. Terjemahan lain menyebutkan kata “Bacalah! ( Read!)”. Terlepas dari hal itu, menyuarakan kata-kata lewat mulut dalam rangka meniru adalah yang paling sering dipraktikkan oleh mayoritas muslim. Dan itu berbeda dengan interpretasi (penafsiran).

Hal yang sama terjadi pada sumber kedua hukum Islam: hadis. Hadis adalah laporan-laporan “otoritatif” tentang apa saja yang telah diucapkan dan dilakukan oleh Nabi Muhammad sepanjang hidupnya. Pertanyaan apa pun yang tidak ada jawaban langsung di dalam Al-Quran—garis bawahi kata “langsung”—maka hadislah yang selayaknya menjawab. Selama berabad-abad, hadis telah dikumpulkan dan dibukukan oleh para ulama terkenal untuk konsumsi kita. Yang harus kita lakukan hanyalah pasrah kepada hadis-hadis tersebut (atau, lebih tepatnya, kepada hadis-hadis yang telah dipilihkan oleh para pemimpin agama kita). Oh ya, bagaimana dengan pernyataan bahwa Nabi Muhammad adalah manusia terpilih yang bisa saja mengalami kesalahan? Ssst…! Karena hadis mencerminkan kehidupan penyampai wahyu-Tuhan-yang-terakhir untuk umat manusia, maka meragukan hadis adalah sikap yang tak bisa dimaafkan.

Apakah Anda tahu, ke mana sebetulnya “kereta ekspres kebaikan” ini membawa kita? Ke tempat tujuan yang bernama Kematian-Otak. Ketika kesalahan terjadi di bawah payung Islam, mayoritas muslim tidak tahu bagaimana berargumen, menilai kembali, atau mereformasi. Kita didoktrin bahwa kesalahan tidak akan terjadi selama kita mematuhi teks yang sempurna itu. Ah! Betul-betul logika yang gila! Pengkondisian pikiran seperti itu sudah cukup untuk membuat bola lampu yang paling terang sekalipun menjadi suram dan membahayakan.

Tentu saja, setiap keyakinan memiliki pemeluk yang melakukan peniruan. Bedanya adalah, hanya pada Islam kontemporerlah, peniruan menjadi arus-utama. Bruce Feiler adalah penulis Amerika yang memahami perbedaan itu saat melakukan penelitian untuk bukunya, Ibrahim: Perjalanan menuju Jantung Tiga Agama. Di Yerusalem, Feiler bertemu Imam Masjidil Aqsa, Syekh Abu Sneina. Sang Imam menegaskan kesempurnaan Islam. Dengan bahasa Inggris logat London, dia mengatakan kepada Feiler bahwa “Anda harus mengikuti Nabi terakhir” yang telah dikirim oleh Allah. Jika tidak, “Anda akan mati” diazab oleh Allah, seperti halnya jutaan kaum Yahudi telah “dipanggang hidup-hidup” oleh hukuman ilahi melalui tangan Hitler.

Feiler mengakhiri wawancaranya dengan perasaan muak, dan kemudian mengisahkan insiden tersebut kepada seorang wartawan yang mengkhususkan diri pada masalah agama. Wartawan itu berkomentar, “Kenyataan yang patut disayangkan adalah, Syekh Sneina mewakili arus-utama Islam pada masa kini. Anda bisa mendapati kesombongan orang Yahudi terhadap rasnya, tapi tidak banyak. Anda bisa menemukan orang Kristen apokaliptik yang merasa benar sendiri dengan pendapatnya tentang akhir zaman, tapi tetap saja dalam jumlah terbatas. Imam Anda menjadi representasi dari sebagian besar kaum muslim, setidaknya di sekitar sini.”

Sneina menggambarkan pola pikir kebanyakan kaum muslim, bukan hanya yang berada di Yerusalem, tapi juga yang terusir. Aku kutipkan dari laporan tahun 2002 yang dikeluarkan oleh Academy for Learning Islam, yang berbasis di kotaku, Richmond. Akademi ini menyatakan bahwa dua sekte mayoritas Islam, Sunni dan Syiah, memiliki banyak persamaan. Bagaimana bisa? “Keduanya percaya tentang akurasi dan kesempurnaan Al-Quran. Kedua sekte itu mengakui Muhammad sebagai nabi terakhir dan berjuang untuk meniru segala ucapan dan tindakannya.” Saat peniruan menjadi arus-utama, kebanyakan dari kita gagal mengeksplorasi prasangka-prasangka kita—atau mengakui bahwa kita memiliki prasangka. Kita mempercayai apa yang seharusnya kita percaya, dan hanya itu.

Surat keberatan yang kuterima sebagai pemandu QueerTelevision, mengilustrasikan apa yang kumaksudkan. Setiap kali aku menayangkan komentar anti-gay dari orang Kristen dengan mengutip Injil, orang Kristen lain pasti akan segera menanggapi dengan memberikan interpretasi lain terhadap Injil yang menoleransi para gay. Hal senada tidak pernah terjadi saat orang Islam mendampratku. Tidak diragukan lagi, tampaknya kaum muslim senantiasa berbicara atas nama Islam. Semuanya. Walaupun tidak berarti bahwa setiap muslim keberatan terhadap kaum homoseks. Al-Fatiha (berarti “pembuka”, yang menyiratkan makna sebagai golongan pelopor) adalah kelompok homoseks muslim yang mempunyai cabang di kota-kota besar lintas Amerika Utara dan Eropa. Di Toronto, setidaknya, sebuah acara makan malam tahunannya bisa menghadirkan para orangtua muslim. Namun demikian, sekalipun banyak kaum muslim yang tidak setuju dengan prasangka-prasangka dalam Islam arus-utama, tapi tidak banyak juga dari kita yang mau melakukan dialog dengan mereka. Penjelasan apa lagi yang bisa menunjukkan mengapa tidak ada satu muslim pun yang menulis atau menelepon QueerTelevision dan menyampaikan tafsir terhadap Al-Quran yang bersifat alternatif—yang memberikan simpati.

Berlatar belakang seperti ini, aku merasa siap tidak hanya untuk mengkonfrontir tantangan Moses, tapi juga untuk mengembangkan tantangan itu. Untuk memulai memberikan gambaran, apakah kekakuan Islam memang tidak dapat diperbaiki lagi, aku harus menyimak pertanyaan tentang “kelompok lain” dalam Islam. Perempuan? Ya, tapi juga orang Yahudi. Dan orang Kristen. Dan para budak. Dan siapa saja yang mengalami nasib buruk di dunia Islam saat ini. Apa kata Al-Quran tentang makhluk-makhluk Tuhan ini? Apakah Al-Quran secara tegas, dan bahkan secara masuk akal, mendukung hukum cambuk terhadap seorang perempuan yang diperkosa walaupun ada banyak saksi atas kejahatan yang menimpanya tersebut? Saat kita shalat berjamaah, apakah Al-Quran memang melarang perempuan menjadi imamnya?

Selama beberapa bulan berikutnya, kubaca ulang kitab suci Islam dengan mata yang terbuka lebih lebar dan pembelaan diri yang lebih jauh ketimbang sebelumnya selama hidupku.

Pada awalnya adalah pertanyaan tentang perempuan. Siapa yang Allah ciptakan pertama kali? Adam atau Hawa? Al-Quran tidak berkata apa-apa tentang hal ini. Tuhan meniupkan hidup ke dalam sebuah “jiwa tunggal”, dan dari jiwa itu Dia “menciptakan pasangannya”. Siapa si jiwa dan siapa si pasangannya? Itu tidak relevan.

Terlebih lagi, tidak disebutkan tentang tulang rusuk Adam, yang menurut Injil, itulah bahan baku penciptaan Hawa. Al-Quran pun tidak menyatakan bahwa Hawa menggoda Adam untuk mencicipi buah terlarang. Intinya: Di dalam Al-Quran Anda tidak akan menemukan pembenaran tentang superioritas laki-laki atas perempuan. Justru sebaliknya, Al-Quran memperingatkan kaum muslim untuk ingat bahwa mereka bukan Tuhan, jadi laki-laki dan perempuan lebih baik bersikap adil dalam menuntut hak-hak mereka atas satu sama lain. Dan, sebagai puncak yang menjelaskan tentang masalah ini adalah sebuah ungkapan yang tampak bersahabat dengan perempuan: “Hormatilah para ibu yang mengandungmu. Allah selalu mengawasimu.”

Anehnya, pada bagian yang sama—hanya beberapa baris kemudian—Al-Quran betul-betul berbalik arah. Kalimatnya: “Laki-laki itu memiliki kekuasaan atas perempuan, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat… Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan ketidaktaatannya, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkan mereka di tempat tidur, dan pukullah mereka.”

Biarkan aku menguraikannya: Agar patut menerima pukulan, seorang perempuan tidak perlu harus melawan lelaki. Lelaki “hanya perlu khawatir” atas ketidaktaatan perempuan supaya bisa memukulinya. Perasaan tidak aman si lelaki menjadi problem bagi si perempuan. Aku tahu, aku sangat menyederhanakan permasalahan. Tapi, penyederhanaan yang keterlaluan sering terjadi dalam perkembangan hukum-hukum Tuhan yang menakutkan. Aku akan memberikan contoh nyata. Satu kalimat dalam Al-Quran—bahwa laki-laki dapat berkuasa atas perempuan karena mereka “memberikan nafkah dari hartanya”—telah mempengaruhi Deklarasi Kairo tentang hak asasi manusia yang didukung oleh negara-negara muslim pada tahun 1990.

Tentu saja, ada satu klausul dalam deklarasi itu yang menegaskan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki harkat dan martabat yang setara. Tapi, klausul berikutnya menetapkan laki-laki sebagai penyedia kebutuhan keluarga. Klausul itu tidak menyebutkan preferensi laki-laki sebagai penyedia kebutuhan keluarga. Klausul itu membuat pernyataan bahwa “suami bertanggung jawab atas kebutuhan dan kesejahteraan keluarganya”. Dan karena Al-Quran menyatakan bahwa suami boleh mengklaim “berkuasa atas perempuan” melalui peran sebagai penyedia kebutuhan keluarga, maka Anda bisa mengira-ngira sendiri akhir ceritanya.

Sehubungan dengan perempuan yang diperkosa di Nigeria itu, ada satu lagi bagian dalam Al-Quran yang membuatku sedih. “Istri-istrimu adalah ladang bagimu,” kata Al-Quran. “Maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kau sukai. Lakukanlah kebaikan dan takutlah pada Allah.” Hah? Datangilah perempuan-perempuanmu kapan saja dengan cara yang kau sukai, namun melakukan kebaikan? Apakah posisi perempuan sebagai pasangan atau harta benda? Jawabnya: pasangan, kata Jamal Badawi, seorang ilmuwan Al-Quran. Dia meyakinkanku bahwa ayat yang “tercerahkan secara seksual” ini mengandung maksud, foreplay (pemanasan sebelum bersetubuh) dianjurkan dalam Islam. Sebagaimana ladang, perempuan membutuhkan sentuhan kasih sayang agar dapat mengubah sperma menjadi manusia. “Benih si penanam tidak ada gunanya kecuali jika Anda memiliki lahan yang subur untuk menumbuhkannya,” kata Badawi. Ia tampak puas dengan penjelasan progresifnya.

Tetapi, dia baru memperhatikan kalimat “Datangilah ladangmu”. Bagaimana dengan kata-kata “kapan saja dengan cara yang kau sukai”? Bukankah keterangan itu memberikan kekuasaan tak terbatas kepada laki-laki? Pertanyaannya masih tetap sama: Paradigma mana yang diadvokasi Allah—Adam dan Hawa setara, atau perempuan sebagai lahan yang harus dibajak (maaf: dipukuli) kapan saja diinginkan?

Sebenarnya, aku tahu interpretasi mana yang kuinginkan, tapi aku tidak yakin (dan masih tidak yakin) yang mana yang diinginkan Tuhan. Karena begitu banyak kontradiksi, maka tak seorang pun tahu. Mereka yang ingin mencambuki perempuan, atas tuduhan yang paling ringan sekalipun, bisa mendapatkan pembenaran yang dibutuhkannya dari Al-Quran. Begitu juga mereka yang tidak ingin perempuan menjadi imam shalat. Dan, lagi-lagi, mereka yang mencari kesetaraan juga dapat memperoleh dukungan dari Al-Quran.

Dalam usahaku mencari jawaban bagaimana aku mendamaikan iman Islamku dengan pencambukan ala barbar terhadap si korban perkosaan, aku menyimpulkan bahwa aku tidak dapat mendamaikan kedua hal itu dengan kepercayaan diri yang cukup. Aku tidak dapat dengan fasih mengatakan, sebagaimana aku mendengar banyak feminis muslim mengatakan, bahwa Al-Quran sendiri memberikan jaminan keadilan. Aku tidak bisa mengabaikan fakta bahwa para hakim Nigeria yang menerapkan hukum Syariah telah memperkosa agamaku yang secara transparan bersifat egaliter. Al-Quran tidak secara transparan bersifat egaliter terhadap perempuan. Al-Quran tidak secara transparan bersifat apa pun selain menimbulkan banyak teka-teki. Dengan meminta maaf kepada Noam Chomsky, kaum muslimlah yang memproduksi banyak keputusan dengan mengatasnamakan Allah. Keputusan-keputusan yang kita buat berdasarkan Al-Quran tidak didiktekan oleh Tuhan: Kita membuatnya melalui kehendak bebas kita sebagai manusia.

Hal di atas adalah sesuatu yang sudah tampak jelas bagi seorang Kristen atau Yahudi arus-utama, tapi tidak bagi seorang muslim yang dibesarkan untuk percaya—sebagaimana halnya dengan kebanyakan dari kita—bahwa Al-Quran memerincikan segala hal bagi kita dalam bentuk “jalan yang lurus”, dan bahwa tugas dan hak kita satu-satunya hanyalah melakukan peniruan. Tak lebih dari itu. Ini adalah suatu kebohongan besar. Anda mendengar kata-kataku? Kebohongan besar dari seseorang yang berjenggot.

Karena jauh dari sempurna, Al-Quran sebenarnya berperang melawan dirinya sendiri. Oleh sebab itu, kaum muslim yang “hidup sesuai dengan kitab itu” tak punya pilihan lain kecuali harus memilih bagian mana yang harus dipilih dan bagian mana yang diabaikan. Mungkin itulah cara yang paling mudah dilakukan—siapa saja dari kita dapat merasionalisasi bias-bias kita dengan cara meninggikan derajat satu ayat dan mengabaikan ayat lainnya. Itulah cara yang dilakukan oleh kelompok liberal, sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok militan. Kita bisa memoles kesan negatif dari Al-Quran, setidaknya sebanyak musuh-musuh kita menghapus pernyataan-pernyataan positif Al-Quran. Kita semua punya agenda, beberapa di antaranya lebih egaliter ketimbang lainnya.

Tetapi, selama kita masih terperangkap dalam permainan pembuktian bahwa dogma “kita” mengungguli dogma “mereka”, maka kita tidak akan mampu melihat tantangan yang lebih besar. Yaitu, secara terbuka mempertanyakan kesempurnaan Al-Quran, sehingga mampu mencapai kesimpulan yang benar bahwa apa yang “sesungguhnya” dikatakan Al-Quran akan surut dan, seiring waktu, akan menjadi sekadar wacana, bukan pencerdasan. Pada tahap ini, reformasi bukanlah memberi tahu kaum muslim awam tentang apa yang tidak boleh dipikirkan. Tetapi, reformasi adalah menggugah satu juta pemeluk Islam yang cerdas untuk berpikir. Karena Al-Quran merupakan sekumpulan kontradiksi, setidaknya yang menyangkut perempuan, maka kita memiliki semua alasan untuk berpikir.

Untuk mendorong gagasan ini lebih jauh, aku harus melihat apakah ada pola-pola inkonsistensi Al-Quran yang bisa diklasifikasi. Ambillah pertanyaan sederhana, apakah kitab suci kita hanya samar-samar atau secara jelas bertentangan dengan isu-isu hak asasi manusia lainnya, seperti perbudakan, misalnya? Kalau ya, apakah kaum muslim memiliki ruang untuk membuat pilihan-pilihan pada abad ke-21? Aku teringat kasus Sudan. Aku juga membaca meluasnya perdagangan budak di sana. Di Khartoum, “rezim muslim yang mirip-Taliban sedang melancarkan jihad” terhadap kaum Kristen, penganut Animisme, dan muslim non-Arab. Itu menurut Charles Jacobs, presiden American Anti-Slavery Group dan direktur Sudan Campaign.

Pengamatan Jacobs menunjukkan, “serangan gencar di Khartoum menyalakan lagi perdagangan budak kulit hitam, yang (sebagian besar) telah dihapuskan seabad lalu oleh kelompok abolisionis Inggris…. Setelah para lelaki dibantai, kaum perempuan, anak perempuan, dan anak lelaki diperkosa beramai-ramai—leher mereka dipenggal jika melawan. Orang-orang yang berhasil lolos dari horor ini terus mengalami teror, lalu digiring ke utara dan dibagi-bagikan kepada para Tuan Arab: yang perempuan dijadikan gundik, anak perempuan menjadi pelayan, sedangkan anak laki-laki menjadi penggembala kambing.”

Pikiranku beralih ke Nigeria utara, satu tempat lain di mana pemerintahan Islam mendorong adanya perbudakan terhadap orang Kristen. Oke, aku menerima bahwa perang sipil di Nigeria-lah yang lebih banyak menjadi penyebab ketimbang agama. Namun, tetap saja semua politik primitif ini tidak akan berubah menjadi perang tanpa legitimasi dari Al-Quran. Seberapa besar kadar pengaruh Al-Quran, adalah pertanyaanku berikutnya. Aku membuka lembaran Al-Quran berikutnya dan menemukan ayat ini: “Dan bagi budak-budakmu yang ingin membeli kemerdekaan mereka, bebaskan mereka jika engkau melihat pada diri mereka hal yang cukup menjanjikan…”

Tunggu dulu. Aku harus berhenti di sini dan menguraikan dulu bagian ini. Bacalah baik-baik, dan Anda akan mendapati bahwa Al-Quran tidak secara langsung mengarahkan kita untuk membebaskan semua budak. Hanya mereka yang menurut pemiliknya memiliki potensi mencapai keadaan yang lebih baiklah yang bisa dibebaskan. Bukankah itu merupakan seruan kepada kepekaan subjektif kita, kemandirian etika kita, dan kebebasan memilih kita? Dengan kata lain, kaum muslim di masa kini bisa melakukan manuver atas keputusan-keputusan dari abad ke-7, namun tetap dengan persetujuan Al-Quran—kalau memang kita memilih untuk melakukan manuver. Al-Quran memberikan kepada para legislator Nigeria pilihan untuk memperbaharui—yang artinya menghapuskan—bencana perbudakan. Seperti halnya perempuan, demikian pula dengan budak: Keputusan-keputusan yang dibuat kaum muslim adalah kita sendiri yang melakukan. Keputusan-keputusan itu tidak bisa dinyatakan sebagai tanggung jawab Tuhan.

Mungkinkah Islam bukan hanya menoleransi individu muslim dalam menginterpretasi Al-Quran bagi diri mereka sendiri, tetapi bahkan eksplorasi terhadap Al-Quran merupakan satu-satunya jalan untuk “Memahami Islam Anda”?

Dengan bersemangat, kulanjutkan pencarianku ke satu tumpukan besar kasus-kasus hak asasi manusia: perlakuan terhadap kaum non-muslim. Karena Islam muncul dari tradisi Yahudi-Kristen, Al-Quran menyatakan banyak hal tentang kaum Yahudi dan Kristen. Al-Quran menggambarkan begitu luasnya kasih sayang Ibrahim, bapak tiga agama monoteisme. Al-Quran sangat memuji Yesus sebagai “Mesiah” lebih dari satu kali. Ibunda Yesus, Maryam, beberapa kali diceritakan secara positif dalam Al-Quran. Di samping itu, Al-Quran mengingatkan kita tentang kebangsaan kaum Yahudi yang “dimuliakan”! Dimuliakan? Kaum Yahudi? Aku mengecek beberapa terjemahan Al-Quran dalam bahasa Inggris agar yakin. Dengan segala puji terhadap para nenek moyang spiritual kita tersebut, tak heran jika Al-Quran kemudian menasihati umat Yahudi dan Nasrani untuk tetap tenang. Tidak ada yang perlu mereka “takutkan atau sesalkan” selama mereka tetap setia pada kitab suci mereka. Tetapi di sisi lain, Al-Quran secara terang-terangan menegaskan bahwa Islamlah satu-satunya “keyakinan yang benar”. Aneh, bukan…? Ada gagasan yang mahapenting dalam hal ini—tidak ada alasan untuk berbeda karena alasan perbedaan waktu—dan gagasan itu berhubungan dengan alasan mengapa Islam datang.

Segala hal yang harus dipercaya kaum muslim diwahyukan ribuan tahun sebelum zaman kita, kepada kaum Yahudi. Ketika sebagian kaum Yahudi menyimpang dari Kebenaran yang diwahyukan, dengan menyembah patung seperti anak sapi emas, maka mereka mendatangkan murka Tuhan. (Aku tahu: Pencipta seperti apa yang cemburu terhadap anak sapi? Itulah Pencipta yang terus berjuang keras mempersatukan suku-suku yang saling berperang melalui iman yang sama.) Mari kita kembali kepada sapi. Kemunculan kembali penyembahan berhala mengharuskan seorang anak Ibrahim dikirim lagi untuk mengingatkan kaum Semit tentang Kebenaran Tuhan. Itulah kedatangan Yesus. Juga saat kedatangan Injil yang memasukkan juga Kitab Yahudi milik Musa (dikenal oleh kaum Kristen sebagai Perjanjian Lama). Namun demikian, akhirnya beberapa orang Kristen mulai mengklaim Yesus sebagai Tuhan sekaligus sebagai Anak Tuhan, bukan tidak lebih daripada wakil yang dipilih oleh Tuhan. Ancaman pemujaan berhala muncul kembali.

Hingga, sekitar tahun 610, Tuhan mendatangi lagi “gudang para nabi” dan memilih Muhammad, seorang keturunan Ibrahim yang lain lagi, untuk membereskan kekacauan yang telah dilakukan kaum Yahudi dan Kristen terhadap wahyu-Nya. Itulah sebabnya Islam kembali kepada ajaran Yahudi yang asli sebagai inspirasi dan integritasnya. Di bagian mana pun aku membuka Al-Quran, aku tidak akan pernah jauh dari pesan yang sering diulang-ulang, yaitu, bahwa kitab-kitab yang sebelumnya patut dijadikan referensi.

Selamat datang di gagasan mahapenting yang telah kusinggung di muka: kesombongan kesukuan tidak mungkin menjadi Kebenaran. Ketika kubaca ulang Al-Quran untuk mencari pengertian tentang “kaum lain”, aku sampai pada pengertian bahwa bukan semua kaum Yahudi yang harus dihindari oleh kaum muslim, tapi hanya kaum Yahudi yang mengolok-olok Islam sebagai agama yang palsu. Dan kaum muslim seharusnya tidak mengingkari validitas Yudaisme, karena itu berarti kita tengah mendiskreditkan keyakinan kita sendiri.

Tapi, jika Yudaisme dan Islam adalah keyakinan yang satu, apa tujuannya membuat keduanya menjadi entitas yang terpisah? Pertanyaan yang sama bisa diajukan: Apa gunanya mempertahankan Kristianisme? Atau Hinduisme, Buddhisme, dan Sikhisme? Kenapa kita tak mampu melepaskan diri dari ego regional dan memandang kaum lain di luar sana juga sebagai hasil karya Pencipta yang sama? Al-Quran tidak menjauhkan diri dari pertanyaan-pertanyaan paling menjengkelkan seperti itu. Agama yang berbeda harus tetap eksis, kata Al-Quran, supaya manusia bisa berlomba-lomba dalam “kebaikan”. Al-Quran mengakui bahwa kebaikan tidak dapat dilakukan dengan melibatkan diri kita dalam perselisihan tentang siapakah yang “benar-benar” melaksanakan kehendak Tuhan. Anda dan aku tidak dapat mengetahuinya, dan kita harus melepaskan diri dari jeratan semacam itu. Al-Quran menyatakan pada kita bahwa Tuhan akan menyelesaikan pertikaian doktrinal kita pada saat kita kembali kepada-Nya. Sementara itu, perintah untuk berlomba-lomba dalam kebaikan merupakan seruan untuk menyempurnakan tindakan kita, apa pun kitab suci yang kita anut. Senantiasa berlomba dalam kebaikan adalah tujuan Tuhan yang lain untuk menciptakan beragam manusia: agar kita termotivasi untuk saling mengenal satu sama lain. Seolah-olah Sang Pencipta menginginkan kita menggunakan berbagai perbedaan tersebut sebagai pemecah kebekuan ketimbang sebagai alasan untuk menarik diri ke sudut-sudut yang saling berseberangan.

Kuakui, hal semacam itulah yang kuinginkan sebagai arti dari keberadaan berbagai agama di dunia. Tetapi, semuanya bergantung pada interpretasi, karena Al-Quran juga tidak mendorong kaum muslim untuk memposisikan kaum Yahudi dan Kristen sebagai teman. Bahkan kita tidak diperkenankan untuk menjadi “salah satu dari mereka”. Al-Quran mengatakan “mereka” sebagai “orang yang tidak adil” yang “tidak diberi petunjuk oleh Tuhan”. Ada pembahasan mengenai penaklukan, pembantaian, dan pemberian pajak khusus kepada kaum non-muslim sebagai upeti kepada para penakluk muslim mereka. Itu semua sungguh merupakan tema yang membuat darah mendidih. Hal-hal semacam itulah yang memberikan pembenaran kepada beberapa kaum muslim yang melecehkan dialog antar-iman untuk merangkul pemeluk agama lain. Bagi mereka yang berpaham demikian, non-muslim boleh eksis, tapi tidak boleh eksis pada tingkatan yang sama seperti kaum muslim. Bahkan, sama sekali tidak mungkin mencapai tingkatan kaum muslim, karena Islam bukanlah salah satu keyakinan dari sekian banyak keyakinan lain. Islam jauh lebih superior di atas yang lain. Karena Islam membawa wahyu yang sempurna dan nabi yang terakhir. Bukankah membaca Al-Quran dengan cara seperti ini adalah suatu pilihan juga? Tapi, kita tidak sadar jika kita sedang memilih cara yang ini.

“Tenang,” Anda mungkin memprotesku, “Aku sama sekali tidak memilih interpretasi yang ini. Aku tidak akan menampar tetanggaku karena merayakan Hanukkah (upacara keagamaan Yahudi). Jadi, jangan samakan aku dengan mereka yang suka menghajar kaum Yahudi. Aku orang baik-baik.” Ya, Anda mungkin orang baik-baik. Dari fakta itu, tanyalah diri Anda sendiri: Sudahkah aku memilih untuk menantang kepercayaan muslim arus-utama yang meyakini bahwa Islam lebih unggul ketimbang agama Kristen dan Yahudi? Sebegitu larutnya kita dalam narsisme spiritual, sehingga kebanyakan kaum muslim tidak berpikir dua kali, atau satu kali saja, tentang kerusakan yang terjadi pada dunia karena sikap semacam ini. Kita secara instingtif menerima sikap itu, dan sering kali mengeluarkan kepala kita dari dalam pasir untuk melihat para “ekstremis”. Kadang bahkan kita tidak dapat melihatnya.

Apakah aku terlalu membesar-besarkan masalah? Beri tahu aku setelah Anda membaca cerita berikut ini. Beberapa minggu sebelum peristiwa 11 September, aku bergabung dalam sebuah panel kaum muslim di TV nasional untuk “membicarakan citra dunia Islam”. Menganggap undangan berbahasa sopan ini sebagai eufemisme dari “ayo kita komplain tentang Barat”, teman-teman panelisku memanjakan diri dengan, seperti biasa, mencerca budaya pop Amerika Utara: Hollywood menggambarkan kita semua sebagai kaum fanatik, kaum fanatik selalu terlihat berkulit gelap dan hal-hal standar lain yang biasa diucapkan oleh korban. Merasa bosan dengan argumen yang begitu-begitu saja, aku menawarkan ide lain: Bahwa kita kaum muslim tidak banyak memberikan motivasi kepada orang lain untuk melihat kita bukan sebagai monolitik. Di manakah, tanyaku, kaum muslim di Toronto, Vancouver, atau Montreal ketika Taliban menjatuhkan patung Buddha pra-Islam di Lembah Bamiyan di Afghanistan? “Tidak ada paksaan dalam agama,” kata Al-Quran. Kita tidak bisa berharap Taliban menyatakan firman itu, tapi mengapa kaum muslim di Barat tidak menyatakannya dan terus saja membisu? Mengapa tidak ada protes massal dari kaum muslim di jalan-jalan kita sendiri?

Aku menunggu tanggapan.

Satu-satunya tanggapan datang dari seorang muslim perempuan—dari seorang feminis aktif, tidak dari yang lain. “Manji,” katanya, “tahukah engkau apa yang terjadi pada kaum muslim di Palestina?” Hmmm…. Tidak bisakah kita membedakan antara keadilan ( justice) dan pembenaran ( justification). Aku akan memberi dia jawaban ini: Jelas ada hubungan antara meningkatnya totalitarianisme Islam dan politik di Timur Tengah yang tak terkendalikan. Tetapi, bagaimana hubungan yang rumit tersebut membenarkan kebisuan kaum muslim di Barat terhadap para penguasa yang mendasarkan diri pada kitab suci, pengeboman patung Buddha, pembonsaian terhadap kaum perempuan, larangan bermain layang-layang, kesewenangan Taliban?

Hubungan yang rumit itu tidak membenarkan kebisuan itu. Tanggapan “saudara perempuanku” itu merupakan penolakan untuk berbicara melawan kesewenang-wenangan yang terjadi di negeri muslim. Saat mencela Barat, sebetulnya dia sedang memakai Islam-yang-tak-menghendaki-berpikir, sebagaimana memakai burqa dari ujung rambut sampai ujung kaki. Jika itu adalah hal terbaik yang bisa dilakukan oleh seseorang yang mengaku feminis, aku merasa ngeri membayangkan ke arah mana kita semua menuju.

Setiap orang terfokus pada peristiwa 11 September. Aku ingin memfokuskan diri pada hari-hari setelahnya. Apa yang bisa diberikan kaum muslim kepada media, para politisi, dan diri kita sendiri agar mereka tidak berprasangka buruk kepada Islam? Dengan muka yang muram, kita berkata bahwa keyakinan kita telah “dibajak”. Betul, Amerika memang membajak kita. Kita bersamamu, Jerman. Kita mencintai kebebasan kita juga, Australia. Demikian pula denganmu, Kanada. Kita, bersama, telah dibajak.

Aku tidak kuat dengan metafora ini. Metafora ini menyiratkan bahwa Islam sendiri adalah sebuah pesawat yang menuju kawasan-aman bagi hak asasi manusia; dan bahwa, kalau saja peristiwa 11 September tidak terjadi, para penumpang pesawat AirQuranistan pasti telah sampai di alamat yang menakjubkan tanpa guncangan, terima kasih banyak. Dibajak. Seolah-olah, agama kita adalah penonton tanpa dosa dalam pertunjukan kekerasan yang dilakukan oleh kaum muslim. Dibajak. Sebuah kata sarat emosi yang membebaskan kaum muslim arus-utama dari tanggung jawab untuk bersikap kritis terhadap diri sendiri. Yang pertama dan yang paling penting, menjadi kritis terhadap diri sendiri bermakna bersikap jujur terhadap bagian dalam Al-Quran yang sangat tidak mengenakkan, dan bagaimana bagian tersebut menginformasikan terorisme.

Pasca-11 September, berulang kali aku mendengar mantra ini dari kaum muslim: Al-Quran sudah menerangkan dengan sangat jelas kapan jihad bisa dilakukan dan kapan tidak. Dan para teroris, tak usah dipertanyakan lagi, telah melanggar aturan ini. Salah seorang pakar Islam berkata: “Allah berfirman (dengan tegas) bahwa membunuh satu orang yang tidak bersalah adalah seperti membunuh seluruh umat manusia.” Suatu generalisasi yang penuh impian, kataku. Tahukah Anda surah dan ayat yang dikutip olehnya? Ayat tersebut sebetulnya memberikan sedikit ruang untuk menggeliat. Seperti inilah bunyi aslinya: “Kami tetapkan kepada Bani Israel bahwa siapa pun yang membunuh seorang manusia, kecuali sebagai suatu hukuman atas pembunuhan atau kejahatan lain di tanah mereka, akan dianggap sebagai telah membunuh seluruh manusia di bumi.” Celakanya, klausul yang diawali dengan kata “kecuali” dapat dipakai oleh kaum muslim militan sebagai bahan bakar jihad mereka.

Osama bin Laden, misalnya, mendeklarasikan jihad terhadap Amerika Serikat di akhir tahun 1990-an. Al-Quran membantunya. Kembali ke penggalan ayat, “kecuali sebagai suatu hukuman atas pembunuhan atau kejahatan lain di tanah mereka, akan dianggap sebagai telah membunuh seluruh manusia di bumi”. Apakah sanksi ekonomi terhadap Irak—yang dilakukan oleh PBB tapi atas kehendak Washington—menyebabkan “pembunuhan” terhadap setengah juta anak-anak bisa dikenai dengan ayat tersebut? Bin Laden percaya hal itu. Apakah jejak sepatu tentara Amerika di tanah Saudi memenuhi syarat “kejahatan lain di muka bumi”? Pertanyaan itu tak usah ditanyakan lagi kepada bin Laden. Sedangkan penduduk sipil Amerika sendiri, bisakah mereka tidak bersalah atas “pembunuhan” atau “kejahatan lainnya” jika uang pajak mereka membantu Israel membeli tank untuk meratakan rumah-rumah orang Palestina? Itu pun hal bodoh yang tak usah dipertanyakan lagi kepada bin Laden. Sebagaimana yang dia katakan kepada CNN pada tahun 1997, “Pemerintahan AS telah melakukan tindakan yang sangat tidak adil, mengerikan, dan jahat, melalui dukungannya kepada pendudukan Israel atas Palestina. Disebabkan oleh kepatuhan mereka kepada Yahudi, kesombongan Amerika Serikat telah mencapai titik di mana mereka telah menduduki Arabia, tempat paling suci kaum muslim. Untuk tindakan ini dan tindakan-tindakan tidak adil lainnya, kami mengumumkan jihad kepada Amerika Serikat.”

Anda dan aku bisa saja setuju bahwa Osama bin Laden secara moral adalah makhluk kuno karena melakukan jihad aliran ini. Tetapi, bisakah kita sama-sama setuju bahwa dia dan pasukannya didukung oleh ayat-ayat dalam kitab sucinya? Yang kuminta hanyalah kejujuran kita semua.

Apakah itu? Seharusnya aku memahami konteks ayat-ayat Al-Quran yang bersifat penuh kekerasan? Biarkan aku meyakinkan diri Anda: Aku telah membaca karya ilmiah yang menjelaskan ayat-ayat ini “dalam konteks turunnya ayat-ayat tersebut”, dan kurasa ada sebuah upaya yang sungguh cantik untuk menghindari sesuatu di dalam karya-karya tersebut. Upaya tersebut tidak digerakkan oleh konspirasi, hanya oleh asumsi yang tertanam dalam-dalam bahwa Al-Quran bersifat sempurna, dengan demikian pasti ada alasan-alasan yang sempurna validnya untuk kebencian yang sering kali diajarkannya.

Cermatilah sebuah argumen canggih yang membela Islam “otentik” sebagai agama damai. Menurut argumen ini, karena Tuhan mengajarkan kepada Nabi Muhammad di masa baik dan di masa buruk, ayat-ayat Al-Quran yang buruk hanyalah mencerminkan masa-masa buruk yang dihadapi Muhammad dalam dua puluh lima tahun usahanya menyebarkan Islam. Muhammad mengawalinya dengan menarik umat masuk Islam di Makkah, di mana para budak, janda, yatim piatu, dan orang-orang miskin terpikat oleh pesannya yang tidak lazim tentang kasih sayang. Tuhan tahu, orang-orang yang terbuang ini membutuhkan kasih sayang karena di dalam masyarakat Arab telah terjadi stratifikasi sosial yang tidak adil sehingga terjadi dekadensi moral. Maka, pada awalnya wahyu-wahyu Al-Quran menekankan kasih sayang.

Tetapi, dalam waktu singkat, kemapanan bisnis Makkah tumbuh menjadi ancaman—dan mengancam. Muhammad dan para pengikutnya mengumpulkan kekayaan dan pindah ke Madinah untuk melindungi diri mereka. Pada dasarnya, itulah saat ketika pesan-pesan kasih sayang dalam Al-Quran berubah menjadi pembalasan. Di Madinah, sebagian penduduk menerima gelombang kedatangan kaum muslim dan beberapa yang lain memutuskan tidak menerima mereka. Di antara yang tidak menerima tersebut adalah suku-suku Yahudi yang cukup berpengaruh, yang bekerja sama dengan kaum pagan Makkah untuk membunuh Muhammad dan memusnahkan orang-orang yang masuk Islam. Alasan mereka gagal membunuh Muhammad adalah karena Tuhan menyuruh Muhammad untuk menyerang terlebih dulu (sebagai usaha mencegah diserang). Menurut argumen tersebut, inilah sumber dari semua kekerasan yang terdapat di dalam Al-Quran. Akan tetapi, lanjut argumen ini, pembalasan bukanlah spirit yang mendorong tindakan awal kaum muslim. Mereka terpaksa mengambil spirit itu demi tujuan mempertahankan keberadaan diri, dan hanya untuk sementara saja. Pesan “otentik” Islam yang lebih tua adalah pesan-pesan yang digunakan oleh Muhammad untuk mendakwahkan agamanya. Pesan itu adalah keadilan, kesetaraan, dan kesatuan—perdamaian.

Betapa damainya pesan itu. Pada saat aku mempercayai penjelasan ini, semakin banyak aku membaca dan berefleksi, semakin aku menganggapnya tidak masuk akal. Bagi para pemula, tidak jelas periodisasi ayat yang turun kepada Muhammad. Al-Quran terlihat diatur menurut panjang surahnya—dari panjang ke pendek—bukan menurut kronologi wahyu. Bagaimana bisa seseorang mengisolasi ayat-ayat “pada masa permulaan” dan mendapatkan pesan “otentik” Al-Quran? Kita harus mengakui kenyataan bahwa pesan-pesan Al-Quran ada di setiap bagiannya. Lihatlah posisi Al-Quran dalam hal-hal yang menyangkut perempuan. Kasih sayang dan penghinaan tampak berdampingan. Ayat-ayat penuh pengharapan dan kebencian terletak berdekatan. Demikian pula dengan keberagaman agama. Tidak ada yang bisa dipercaya dalam teks yang disebut-sebut sebagai sempurna, tidak diragukan, dan terus terang. Kesempurnaan Al-Quran, pada akhirnya, mencurigakan.

Apakah aku telah melampaui batas? Pelanggaranku ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pelanggaran para teroris Al-Qaeda. Tidak seperti diriku, mereka ini mempersiapkan pembunuhan. Jika kita tulus memerangi despotisme yang mereka tunjukkan, maka kita tidak akan takut untuk bertanya: Bagaimana kalau Al-Quran ternyata tidak sempurna? Bagaimana jika Al-Quran bukanlah kitab yang secara keseluruhan ditulis oleh Tuhan? Bagaimana jika Al-Quran penuh dengan bias-bias manusia?

Mari kita mengkaji kemungkinan tersebut untuk sesaat. Mohamed Atta, pemimpin “kamikaze” 11 September, menulis pesan bunuh diri atas nama kelompoknya. Dalam pesan itu dia berkata, “Cukuplah bagi kami bahwa (ayat-ayat Al-Quran) adalah firman Sang Pencipta Langit dan Bumi dan planet-planet lainnya…” Bukan cuma sekali, tapi tiga kali, Atta merujuk untuk menghibur diri dengan “semua yang telah dijanjikan oleh Tuhan kepada para pejuang syahid”. Lebih khusus lagi, “Ketahuilah bahwa taman-taman di surga menunggumu dengan segala keindahannya, dan para perempuan di surga menunggu, memanggil, ‘Kemarilah, wahai para sahabat Tuhan.’”

Izinkan aku memecahkan kode bahasa murahan ini untuk Anda: Atta dan pengikutnya mengharapkan lusinan perawan di surga. Mereka bukan satu-satunya yang berharap begitu. Satu bulan sebelum 11 September, seorang perekrut untuk gerakan perlawanan rakyat Palestina, Hamas, memberi pernyataan kepada televisi CBS bahwa dia melihat bayangan tujuh puluh perawan di hadapan para calon penghuni surga. Hal itu sama seperti izin kekal untuk bisa ejakulasi sebagai bayaran atas kesediaan untuk melakukan pengeboman, dan sudah lama sekali terdapat klaim bahwa Al-Quran menjanjikan ganjaran ini bagi para martir muslim.

Tetapi, kita punya alasan untuk percaya bahwa ada masalah dengan penjelasan tentang surga, sebuah human error yang masuk ke dalam Al-Quran. Menurut riset yang baru, yang dapat diperoleh oleh para martir atas pengorbanan mereka bukanlah perawan, melainkan kismis! Kata yang selama berabad-abad oleh para ilmuwan Al-Quran diartikan sebagai “perawan-perawan bermata hitam”— hur—lebih tepatnya bermakna sebagai “kismis putih”. (Jangan tertawa. Jangan sampai terbahak-bahak. Kismis bisa saja merupakan makanan mewah di Arabia pada abad ketujuh, sehingga kemudian dianggap sebagai ganjaran yang dahsyat.) Tapi tetap saja bermakna kismis, bukan perawan? Nah. Bagaimana bisa Al-Quran begitu tidak akurat?

Sejarawan yang menyatakan hal ini, Christoph Luxemberg, adalah seorang ahli bahasa-bahasa Timur Tengah. Dia melacak deskripsi Al-Quran tentang surga hingga kepada sebuah karya Kristen yang ditulis tiga abad sebelum Islam, dalam bentuk bahasa Aramaik, bahasa yang digunakan oleh Yesus. Jika Al-Quran dipengaruhi budaya Yahudi-Kristen—yang sejalan dengan klaim bahwa Al-Quran meneruskan wahyu-wahyu sebelumnya—maka bahasa Aramaik mungkin telah diterjemahkan oleh manusia ke dalam bahasa Arab. Atau salah diterjemahkan dalam kasus hur, dan tak ada yang tahu berapa banyak lagi kata yang diterjemahkan secara kurang tepat.

Bagaimana jika semua ayat salah dipahami? Sebagai seorang pedagang buta huruf, Muhammad bergantung pada para pencatat untuk mencatat kata-kata yang didengarnya dari Allah. Kadang-kadang, Nabi sendiri mengalami penderitaan yang luar biasa untuk menguraikan apa yang ia dengar. Itulah bagaimana “ayat-ayat setan”—ayat-ayat yang memuja berhala—dilaporkan pernah diterima oleh Muhammad dan dicatat sebagai ayat otentik untuk Al-Quran. Nabi kemudian mencoret ayat-ayat tersebut, menyalahkan tipu daya Setan sebagai penyebab kesalahan catat tersebut. Namun, kenyataan bahwa para filosof muslim selama berabad-abad telah mengisahkan cerita ini sungguh telah memperlihatkan keraguan yang sudah lama ada terhadap kesempurnaan Al-Quran.

Bagaimana jika Mohamed Atta dibesarkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang meresahkan jiwanya ketimbang oleh kepastian yang sederhana? Setidaknya, bagaimana jika Atta mengetahui bahwa asal-usul dari kata-kata terpilih tersebut—kata-kata yang sangat penting mengenai kehidupan setelah mati—dapat digugat? Bahwa kata-kata tersebut mungkin bukan semuanya “kata-kata dari Sang Pencipta langit dan bumi dan planet-planet lainnya”? Bahwa ganjaran untuk pengorbanan diri itu, tanpa menyebut-nyebut pembunuhan massal, sesungguhnya patut diragukan? Bahwa janji tentang surga adalah rekaan, bukan sebuah kepastian? Barangkali dia akan mengurungkan aksi jihadnya. Mungkin. Kemungkinan-kemungkinan yang ada harus diperhatikan.

Tindakan mempertanyakan validitas Al-Quran adalah bagian utama dari puzzle reformasi, karena ia memberi sinyal adanya kegagalan kita dalam memahami Al-Quran. Itu berarti, Anda tidak akan menerima bahwa semua jawaban sudah tersedia, atau bahwa jawabannya akan diberikan kepada Anda.

Pada bulan-bulan pasca-11 September, pertanyaan di atas sangat merundungku: Karena Al-Quran memberi ruang kepada manusia untuk menggunakan kehendak bebasnya, kenapa para genius penguasa Islam tampak lalai sehingga tetap terkungkung dalam kepicikan? Kenapa hanya sedikit yang memilih jalan menuju keterbukaan? Aku harus sampai pada sesuatu di balik Al-Quran. Aku harus menemukan pemicu prasangka-prasangka muslim kuno.

Untuk melakukan hal itu, aku harus mengupas lebih banyak lagi lapisan kebohongan yang kita ucapkan pada diri kita sendiri.

One response to “Mujtahid Lesbian Menafsirkan Al-Qur’an, Ironis!

  1. Sejumlah orang yang akan berdialog dengan kaum liberal saya beri saran agar jangan pakai dalil ayat-ayat Al-Quran. Sebab, banyak kaum liberal yang sudah tidak percaya lagi pada keotentikan Al-Quran, sehingga tidak ada gunanya dalil Al-Quran untuk mereka. Memang ada diantara mereka yang masih percaya Al-Quran sebagai wahyu Allah, tetapi banyak pula diantara mereka yang memiliki pandangan dan penafsiran yang berbeda.

    Jika tafsirnya kita kritik, mereka pun tak segan-segan menyatakan, ”Itu kan penafsiran anda! Penafsiran saya tidak begitu!” Mereka banyak yang sudah berpandangan bahwa hanya Tuhan saja yang tahu penafsiran yang sebenarnya. Manusia boleh menafsirkan Al-Quran semaunya, dan semuanya tidak dapat disalahkan. Karena itu, ada yang menyatakan, bahwa perbedaan antara Islam dan Ahmadiyah, hanyalah soal perbedaan tafsir saja, karena itu jangan saling menyalahkan, karena semua penafsiran adalah relatif. Yang tahu kebenaran yang mutlak, hanya Allah saja.

    Memang, soal utama antara Islam dan Ahmadiyah, adalah masalah tafsir. Tapi, ada tafsir yang salah dan ada tafsir yang benar. Semua manusia yang masih berakal (tidak gila), bisa saja menafsiran Al-Quran. Tapi, tidak semua tafsir itu benar, sebagaimana klaim kaum liberal. Ada tafsir yang salah. Misalnya, kalau ada yang menafsirkan ayat ”Wa-aqimish shalaata lidzikri”, bahwa tujuan salat adalah mengingat Allah. Maka, jika sudah ingat Allah, berarti tujuan sudah tercapai, dan tidak perlu salat lagi. Tafsir semacam ini tentu saja tafsir yang salah.

    Contoh lain, dalam buku Eik Ghalthi ka Izalah (Memperbaiki Suatu Kesalahan) karya Mirza Ghulam Ahmad (terbitan Ahmadiyah Cabang Bandung tahun 1993), hal. 5, tertulis pengakuan Ghulam Ahmad yang mendapat wahyu berbunyi: ”Muhammadur Rasulullah wal-ladziina ma’ahu asyiddaa’u ’alal kuffaari ruhamaa’u baynahum.” Lalu, dia komentari ayat tersebut: ”Dalam wahyu ini Allah swt menyebutkan namaku ”Muhammad” dan ”Rasul”.”

    Ayat tersebut jelas terdapat dalam Al-Quran (QS 48:29). Kaum Miuslim yakin seyakin-yakinnya, bahwa ”Muhammadur Rasulullah” di situ menunjuk kepada Nabi Muhammad saw yang lahir di Mekah; bukan merujuk kepada Mirza Ghulam Ahmad yang lahir di India. Jika Ghulam Ahmad membuat tafsir bahwa dia adalah juga Muhammad sebagaimana ditunjuk dalam ayat tersebut, maka tafsir Ghulam Ahmad semacam itu jelas tafsir yang salah.

    Akan tetapi, kaum liberal akan menyatakan, bahwa Ghulam Ahmad juga berhak membuat tafsir sendiri, dan tidak boleh disalahkan atau disesatkan. Anehnya, kalau umat Islam punya pandangan dan sikap yang berbeda dengan kaum liberal, maka akan disalah-salahkan, dicap fundamentalis, radikal, tidak toleran, dan sebagainya. Jadi, kita dilarang menyalahkan yang salah, tetapi kaum liberal boleh menyalahkan pendapat yang tidak sesuai dengan mereka.

    Sebagaimana pernah kita bahas dalam beberapa CAP, aksi kaum liberal dalam menyerang Al-Quran dari waktu ke waktu semakin brutal. Berlindung di balik wacana kebebasan, mereka tidak segan-segan lagi menyerang dan menistakan Al-Quran secara terbuka. Apa yang pernah terjadi di IAIN Surabaya tahun 2006, ketika seorang dosen menginjak-injak lazadz Allah yang ditulisnya sendiri, tampaknya hanyalah fenomena gunung es belaka. Sejumlah buku, jurnal, dan artikel terbitan kaum liberal di Indonesia sudah secara terbuka menyerang Al-Quran. Kita masih ingat, bagaimana jurnal Justisia Fakultas Syariah IAIN Semarang secara semena-mena menyerang Al-Quran, dengan menyatakan:

    ”Karenanya, wajar jika muncul asumsi bahwa pembukuan Qur’an hanya siasat bangsa Quraisy, melalui Usman, untuk mempertahankan hegemoninya atas masyarakat Arab [dan Islam]. Hegemoni itu tampak jelas terpusat pada ranah kekuasaan, agama dan budaya. Dan hanya orang yang mensakralkan Qur’anlah yang berhasil terperangkap siasat bangsa Quraisy tersebut.”

    Yang kita heran, orang-orang ini adalah bagian dari kalangan akademisi yang seharusnya menjunjung tinggi tradisi intelektual yang sehat. Tapi, faktanya, mereka sering mengungkapkan pendapat tanpa didukung oleh data-data yang memadai. Belakangan ini, kaum liberal di Indonesia sedang gandrung-gandrungnya pada seorang wanita lesbian bernama Irshad Manji. Kedatangannya di Indonesia pada bulan April 2008 disambut meriah. Dia dipuji-puji sebagai wanita Miuslimah yang hebat. Seorang wanita alumnus UIN Jakarta bernama Nong Darol Mahmada menulis sebuah artikel di Jurnal Perempuan (edisi khusus Lesbian, 2008) berjudul: Irshad Manji, Muslimah Lesbian yang Gigih Menyerukan Ijtihad. Kata si Nong: ”Manji sangat layak menjadi inspirasi kalangan Islam khususnya perempuan di Indonesia.”

    Hari Kamis (14/8/2008), saya menghadiri satu acara bedah buku tentang FPI di kantor Majalah Gatra. Tanpa saya tahu, penerbit buku tentang FPI tersebut (Nun Publisher) adalah juga penerbit buku Irshad Manji yang edisi Indonesianya diberi judul Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini. Di sampul depan buku ini, Manji ditulis sebagai ”Satu dari Tiga Miuslimah Dunia yang Menciptakan Perubahan Positif dalam Islam.” Disebutlah buku ini sebagai sebagai ”International Best Seller, New York Times Bestseller, dan telah diterbitkan di 30 negara.” Pokoknya, membaca promosi di sampulnya, sepertinya, buku ini sangat hebat.

    Tapi, sebenarnya, isinya kurang memenuhi standar ilmiah. Banyak celotehan Irshad Manji, ke sana kemari, hantam sana, hantam sini, tanpa ada rujukan yang bisa dilacak kebenarannya. Maka, saya heran, bagaimana kaum liberal sampai membangga-banggakan buku karya Irshad Manji ini? Seperti inikah sosok idola kaum liberal, sampai dijuluki ”lesbian mujathidah”? Apa karena Manji sangat liberal dan secara terbuka menyatakan diri sebagai lesbi, maka sosok ini dijadikan idola?

    Buku Manji ini menggugat sejumlah ajaran pokok dalam Islam, termasuk keimanan kepada keotentikan Al-Quran dan kema’shuman Nabi Muhammad saw. Manji secara terbuka menggugat ini. Ia katakan:

    ”Sebagai seorang pedagang buta huruf, Muhammad bergantung pada para pencatat untuk mencatat kata-kata yang didengarnya dari Allah. Kadang-kadang Nabi sendiri mengalami penderitaan yang luar biasa untuk menguraikan apa yang ia dengar. Itulah bagaimana ”ayat-ayat setan” – ayat-ayat yang memuja berhala – dilaporkan pernah diterima oleh Muhammad dan dicatat sebagai ayat otentik untuk Al-Quran. Nabi kemudian mencoret ayat-ayat tersebut, menyalahkan tipu daya setan sebagai penyebab kesalahan catat tersebut. Namun, kenyataan bahwa para filosof Miuslim selama berabad-abad telah mengisahkan cerita ini sungguh telah memperlihatkan keraguan yang sudah lama ada terhadap kesempurnaan Al-Quran.” (hal. 96-97).

    Cerita yang diungkap oleh Manji itu memang favorit kaum orientalis untuk menyerang Al-Quran dan Nabi Muhammad saw. Cerita itu populer dikenal sebagai kisah gharanik. Riwayat cerita ini sangat lemah dan palsu. Haekal, dalam buku biografi Nabi Muhammad saw, menyebut cerita tersebut tidak punya dasar, dan merupakan bukinan satu kelompok yang melakukan tipu muslihat terhadap Islam. Karen Armstrong, dalam bukunya, Muhammad: A Biography of the Prophet juga membahas masalah ini dalam satu bab khusus.

    Kisah ”ayat-ayat setan” itu kemudian diangkat juga oleh Salma Rushdie menjadi judul novelnya: The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan). Novel yang terbit pertama tahun 1988 ini memang sangat biadab dalam menghina Nabi Muhammad saw, para sahabat, dan istri-istri beliau. Menurut Armstrong, cerita dalam novel Salman Rushdi ini mengulang semua mitos Barat tentang Nabi Muhammad saw sebagai sosok penipu, ambisius, yang menggunakan wahyu-wahyunya untuk mendapatkan sebanyak-banyak perempuan yang dia inginkan. Para sahabat nabi juga digambarkan dalam novel ini sebagai manusia-manusia tidak berguna dan tidak manusiawi. Tentu saja, judul Novel itu sendiri sudah bertendensi melecehkan Al-Quran.

    Karen Armstrong mencatat: ‘’It repeats all the old Western myths about the Prophet and makes him out to be an impostor, with purely political ambitions, a lecher who used his revelations as a lisence to take as many women as he wanted, and indicates that his first companions were worthless, inhuman people.”

    Armstrong tidaklah keliru! Dan Umat Islam yang sangat menghormati Nabi Muhammad saw, tentu saja sangat tersinggung dengan penerbitan Novel Salman Rushdie yang sangat tidak beradab ini. Novel ini pun – dalam edisi bahasa Inggrisnya — sudah dijual di Jakarta. Rushdie diantaranya menggambarkan istri-istri Nabi Muhammad saw sebagai penghuni rumah pelacuran bernama ”Hijab”. Rushdie juga menyebut Nabi Muhammad – yang dinamainya ”Mahound” — sebagai “the most pragmatic of prophets.”

    Penulis novel yang menghina Nabi Muhammad saw seperti Salman Rushdie inilah yang dijadikan rujukan oleh Irshad Manji dalam memunculkan isu tentang “ayat-ayat setan”. Memang, dalam bukunya ini pun Manji mengungkapkan , bahwa Salman Rushdie-lah yang mendorongnya untuk menulis buku ini. Manji menceritakan hal ini:

    “Apa yang dikatakan Salman Rushdie padaku ketika aku mulai menulis buku ini teringat lagi saat aku berefleksi terhadap hidupku sejak penerbitan buku ini. Aku ingat ketika bertanya kepadanya kenapa dia memberikan semangat kepada seorang Miuslim muda sepertiku, untuk menulis sesuatu yang bisa mengundang malapetaka ke dalam kehidupannya, seperti yang telah menimpa dirinya. Tanpa ragu sedikit pun, dia menjawab, “Karena sebuah buku lebih penting ketimbang hidup.” (hal. 322).

    Dalam bukunya ini pun Irshad Manji menjadikan pendapat Christoph Luxenberg sebagai rujukan untuk menyatakan bahwa selama ini umat Islam salah memahami Al-Quran, yang seharusnya dipahami dalam bahasa Syriac. Tentang surga, dengan nada sinis ia menyatakan, bahwa ada human error yang masuk ke dalam Al-Quran. Menurut riset yang baru, tulis Manji, yang diperoleh para martir atas pengorbanan mereka adalah kismis, dan bukan perawan. “Nah, bagaimana bisa Al-Quran begitu tidak akurat?” tulisnya.

    Pendapat Luxenberg bahwa bahasa Al-Quran harus dipahami dalam bahasa Aramaik ditulisnya dalam buku “Die syro-aramaeische Lesart des Koran: Ein Beitrag zur Entschluesselung der Koransprache”. Pendapat ini pun sangat lemah dan sudah banyak artikel ilmiah yang menanggapinya. Dr. Syamsuddin Arif telah mengupas masalah ini secara tajam dalam bukunya, Orientalis dan Diabolisme Intelektual.

    Menurut Syamsuddin, Professor Hans Daiber, misalnya, memberikan seminar terbuka tentang karya polemis itu selama satu semester penuh di departemen Orientalistik Universitas Frankfurt, dimana ia ungkapkan sejumlah kelemahan-kelemahan buku itu secara metodologi dan filologi. Salah satu kelemahan Luxenberg, misalnya, untuk mendukung analisis dan argumen-argumennya, mestinya Luxenberg merujuk pada kamus bahasa Syriac atau Aramaic yang ditulis pada abad ke-7 atau 8 Masehi (zaman Islam), dan bukan menggunakan kamus bahasa Chaldean abad ke-20 karangan Jacques E. Manna terbitan tahun 1.900!

    Namun, meskipun sudah dijelaskan secara ilmiah, orang-orang yang memang berniat jahat terhadap Islam, tetap tidak mau tahu dan mendengar semua argumentasi ilmiah tersebut. Irshad Manji, dalam bukunya ini, malah menyandarkan keraguannya terhadap Al-Quran pada pendapat Luxenberg (seorang pendeta Kristen asal Lebanon yang menyembunyikan nama aslinya). Kata Manji:

    ”Jika Al-Quran dipengaruhi budaya Yahudi-Kristen – yang sejalan dengan klaim bahwa Al-Quran meneruskan wahyu-wahyu sebelumnya – maka bahasa Aramaik mungkin telah diterjemahkan oleh manusia ke dalam bahasa Arab. Atau, salah diterjemahkan dalam kasus hur, dan tak ada yang tahu berapa banyak lagi kata yang diterjemahkan secara kurang tepat. Bagaimana jika semua ayat salah dipahami?” (hal. 96).

    Tampaknya, penerbit buku Irshad Manji dan kaum liberal di Indonesia pun sudah tidak peduli dengan perasaan umat Islam dan kehormatan Nabi Muhammad saw. Mereka begitu mudahnya menokohkan wanita lesbian seperti Irshad Manji, yang dengan entengnya melecehkan Nabi Muhammad saw dan Al-Quran. Mereka mungkin sudah tahu bahwa umat Islam akan marah jika Nabi Muhammad saw dihina. Mereka akan senang melihat umat Islam bangkit rasa marahnya. Jika umat Islam marah, mereka akan tertawa sambil menuding, bahwa umat Islam belum dewasa; umat Islam emosional, dan sebagainya!

    Kasus Irshad Manji ini semakin memahamkan kita siapa sebenarnya kaum liberal dan apa maunya mereka. Kita kasihan sekali pada manusia-manusia seperti ini. Apa mereka tidak khawatir, jika anak-anak mereka nanti ditanya oleh gurunya, siapa wanita idola mereka? Maka anak-anak mereka tidak menjawab lagi, ”Idola kami adalah Khadijah, Aisyah, Kartini, Cut Nya Dien, dan sebagainya” tetapi akan menjawab: ”Idola kami Irsyad Manji, sang Miuslimah Lesbian teman baik Salman Rushdie sang penghujat Nabi.” Na’udzubillahi min dzalika.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s