Belanja Rokok Orang Indonesia Rp 50,48 T per Tahun: Sungguh Pantas Kalau Rokok Haram Hukumnya

Hasil simulasi Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LDFEUI) menyatakan bahwa rata-rata pengeluaran rumah tangga perokok per bulan untuk membeli rokok tahun 2005 adalah Rp 113.089. Jumlah rumah tangga yang memiliki pengeluaran rokok adalah 37.460.582, sehingga pengeluaran untuk membeli rokok secara nasional tahun 2005 mencapai 37.460.582×113. 089×12 = Rp 50.48 triliun. Hal ini berarti bila dilakukan hitung-hitungan jumlah BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang diberikan untuk kelaurga miskin masih dibawah dari keperluan konsumsi membeli rokok. Rata-rata belanja rumah tangga miskin untuk rokok sebesar 12,43 persen dari total pengeluaran atau setara dengan 15 kali untuk membeli daging, 8 kali untuk pengeluaran pendidikan, 6 kali untuk kesehatan. Pengeluaran perokok miskin untuk rokok 12,6 persen lebih tinggi dibandingkan rumah tangga perokok kaya yang hanya 8,3 persen.

Ditinjau dari sudut apapun rokok lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaat. Memang di satu sisi industri rokok bukan saja tambang pendapatan pemerintah menggiurkan, tapi juga menyerap jutaan tenaga kerja, mulai karyawan, distributor, agen/sales bahkan petani cengkih dan tembakau. Bahkan industri rokok mampu menjadi penyandang dana kegiatan yang semestinya antirokok seperti even olahraga, pentas kreativitas siswa, dan beasiswa. Dan dari rokok terlahirkan orang-orang terkaya di Indonesia dan Asia. Misalnya Budi Hartono (pemilik Djarum) sebagai orang terkaya kedua di Indonesia setelah Aburizal Bakrie. Lainnya, Putera Sampoerna (Sampoerna Capital) di urutan kelima dan disusul (Alm) Rachman Halim (Gudang Garam) posisi enam sebagai orang terkaya Indonesia. Namun kalau melihat dampaknya terhadap kehidupan masyarakat miskin yang bodoh, yang membelanjakan hasil jerih payahnya untuk membeli rokok, bukan untuk belanja keperluan yang lebih bermanfaat, pemerintah seharusnya tidak bersifat ambivalent, mendua, alias tidak puguh.

Kalau pemerintah tidak pasti, bagaimana peran ulama. Kapankah ulama akan bersepakat bahwa rokok itu haram?

3 responses to “Belanja Rokok Orang Indonesia Rp 50,48 T per Tahun: Sungguh Pantas Kalau Rokok Haram Hukumnya

  1. ulama?fatwa rokok haram? ulama dari hongkong???!!! ulama aja banyak yang ngrokok bung!

    rokok tidak bisa dilarang,tapi bisa dibatasi, dengan cara kenaikan tarif cukai, pengetatan aturan terhadap rokok non cukai (home industry), kampanye bahaya merokok,dll

  2. Sudah saatnya rokok jadi haram

  3. dimulai dari sekarang..
    dimulai dari yang kecil..
    dimulai dari diri sendiri..
    dimulai dari niat yang tulus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s