Daily Archives: 8 Oktober, 2008

Waspadalah dengan : www.kebohongandariislam.com

Kepada seluruh kaum muslimin…

Di mana pun anda berada…dan di bumi manapun anda berpijak…

Waspada dan berhati-hatilah dengan : www.kebohongandariislam.wordpress.com. Blog ini adalah komunitas orang-orang munafik, kafir, dan zindik. Bagi kaum muslimin untuk senantiasa waspada kepada musuh-musuhnya yang terus-menerus menghujat, dan memerangi mereka, baik dengan lisan, pena, dan senjata. Hendaknya kaum muslimin tidak berdiam diri ketika Rabb mereka, Nabi mereka, dan agama mereka dihina, dan diinjak-injak. Berhati-hatilah dan senantiasa waspadalah, karena musuh-musuh kalian tidak henti-hentinya memerangi kalian, kapanpun dan dimanapun.

Mantan Komandan Mujahidin Checnya Al-Khattab pernah berkata, “Merasa aman ketika aman adalah tindakan bodoh dan tolol, dan yang lebih bodoh dan tolol lagi adalah merasa aman ketika dalam keadaan tidak aman.”

Kemunduran Pendidikan Islam

Kemunduran Pendidikan Islam :

Masinis Keruntuhan Peradaban Islam???

Oleh: Mahasiswa Ma`had `Aly An-Nuur

Pengantar

Banyak —kalau bukan mayoritas— aktifis Islam kontemporer yang mengaitkan kelemahan dan kemunduran umat Islam saat ini dengan keruntuhan khilafah Utsmaniyah tahun 1924 M. Dan tentu saja, gerakan zionisme internasional, salibis internasional serta sekulerisme Kamal Pasha dianggap sebagai sutradara dan aktor utama yang paling bertanggung jawab di belakang tragedi sejarah tersebut. Oleh karena itu, menurut mereka jalan untuk mengembalikan kejayaan Islam adalah dengan menegakkan kembali khilafah Islamiyah. Tidak heran bila akhirnya isu penegakkan khilafah menjadi tema sentral kajian dan wacana pemikiran di banyak kalangan aktifis Islam.

Wacana pemikiran seperti ini sebenarnya tidak seratus persen salah, meskipun juga juga tidak seratus persen benar. Yang jelas, tegaknya kembali kekhilafahan Islam –terutama dalam kondisi umat Islam seperti saat ini —, tidak akan otomatis membalik nasib umat Islam seratus delapan puluh derajat, dari kemunduran dan keterbelakangan menjadi kejayaan dan kemajuan.

Jauh sebelum daulah ‘Utsmaniyah runtuh pada tahun 1342 H (1924 M), umat Islam telah lama tengelam dalam kubangan lumpur kemunduran. Bahkan saat daulah ‘Utsmaniyah masih tegak dengan kokoh, umat Islam telah mengalamai kemunduran dan keterbelakangan yang parah. Hal ini bisa dilihat dari beberapa kerusakan dan penyelewengan dari bimbingan syariah Islam, di hampir seluruh aspek kehidupan umat Islam.

Realita Umat Islam Abad XII dan XIII Hijriyah

Perjalanan sejarah umat Islam selama beberapa abad sebelum runtuhnya daulah ‘Utsmaniyah, terutama sekali abad XII dan XIII Hijriyah, diwarnai dengan penyimpangan aspek aqidah dan ilmiah (al-ihirafat al-‘aqdiyah wa al-‘ilmiyyah) yang sangat parah. Secara global, penyimpangan aqidah tersebut bisa disebutkan sebagai berikut[1] :

A. Penyimpangan Akidah

[1]- Membatasi konsep ibadah hanya dalam ritual peribadahan (al-sya’a’ir al-ta’abudiyah) yang sempit.

Ibadah hanya dimaknai dalam bentuk sholat, zakat, shaum, haji, membaca Al-Qur’an, dzikir dan seterusnya. Aktivitas-aktivitas ibadah yang berdimensi sosial —amar ma’ruf nahi munkar, jihad fi sabilillah, pendidikan, pertahanan dan militer— atau aktivitas-aktivitas ibadah yang lebih kental nuansa duniawinya —seperti aktivitas ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan penelitian, sosial budaya dan seterusnya — tidak dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari konsep ibadah. Walhasil, pelan namun pasti, secara tidak sadar syarat ikhlas dan mutaba’ah mulai lepas dari sebagian besar aktifitas hidup umat Islam. Pelan dan pasti, kerusakan merembet ke berbagai bidang kehidupan. Fenomena yang telah mewabah ini menimbulkan dampak buruk :

Pertama. Ritual-ritual ibadah dilaksanakan dengan cara taqlid, tidak mempunyai pengaruh dan faedah karena dipisahkan dari ajaran-ajaran Islam yang lain.

Kedua. Kaum muslimin meremehkan aktivitas-aktivitas ibadah yang lain, karena menganggapnya bukan ibadah.

Ketiga. Memusatkan perhatian kepada aspek personal (kesalehan pribadi) dan mengabaikan aspek sosial (kesalehan masyarakat).

Keempat. Membuat ibadah-ibadah yang bid’ah.

Kelima. Ibadah (dalam artian ritual-ritual peribadahan) telah menggantikan kedudukan amal. Ritual membaca Al-Qur’an dan Al-hadits sudah menggantikan posisi mengamalkan isi Al-Qur’an, membaca sejarah ketinggian akhlak salaf sholih sudah menggantikan posisi beramal dengan akhlak yang mulia. Dan seterusnya.[2]


[1] – Ali bin Bakhit al-Zahrani, Al-Inhiraafat al-‘Aqdiyah wa al-‘Ilmiyyah fi al-Qarnaini al-Tsalitsi ‘Asyar wa al-Rabi’i al-‘Asyar al-Hijriyaini, Makah, Daru al-Risalah, 1415 H, hal 79-619.

[2] – Untuk memahami dengan baik hubungan ritual ibadah dan berbagai aktifitas kehidupan manusia dalam konsep ibadah, silahkan membaca Muhammad Qutub, Mafahimu Yanbaghi an Tushahahu, Kairo, Daru al-Syuruq, dan Sayid Qutub, Khashaishu al-Tashawur al-Islami wa Muqawwimatuhu, Kairo, Daru al-Syuruq.

Inna Lillaahi wa Inna Ilaihi Raji’un

Kepada Seluruh Kaum Muslimin Di Belahan Bumi Manapun Kalian Berada…

Hari ini kita telah ditinggal oleh seorang ulama besar Iskandariyah. Telah meninggal dunia (wafat) Syaikh Syarif Al-Hawari pada hari Jum’at 3 Syawal 1429 H yang bertepatan dengan tanggal 3 Oktober 2008 M.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, rahmatilah dia, maafkanlah kesalahan-kesalahannya, dan masukkalah dia ke dalam jannah-Mu. Amiin.

Info selengkafnya bias dilihat di : http://www.anasalafy.com

Kita dan Al-Qur’an

KITA DAN AL-QUR’AN

Oleh : Tengku Azhar, Lc.

Prolog

Akhir-akhir ini penomena menghina dan menghujat Al-Qur’an sudah menjadi biasa. Entah siapa yang memulai, yang jelas makhluk pertama yang mengkritisi hukum dan perintah Allah adalah Iblis. Maka bisa dipastikan mereka yang hari ini mengkritisi dan menghujat Al-Qur’an tidak lain adalah kakitangan dan penyambung lisan Iblis dalam rangka memalingkan manusia dari jalan yang haq yang diridhai Allah SWT.

Petunjuk, Kesenangan dan Keindahan. Bagi seorang seorang mukmin Kitab Suci Al-Qur’an akan melebihi segalanya: denyut keimanan, kenangan di saat mengalami kegembiraan dan penderitaan, sumber realitas ilmiah yang tepat, gaya lirik yang indah, khazanah kebijaksanaan serta munajat. Ayat-ayatnya menghiasi mulai dinding toko buku hingga ruang tamu, terukir dalam ingatan tua dan muda, serta gaungya terdengar di keheningan malam dari atas menara masjid di seluruh dunia.

Namun sungguh naif, bila orang-orang yang mengaku dirinya intelektual muslim, cendekiawan Islam, pembaharu, atau pun apa namanya mulai mempertanyakan keautentikan dan kebenaran Al-Qur’an. Mengkritisi dan mendiskusikan hukum-hukumnya, yang akhirnya mereka katakan, “Tidak ada yang benar di dalam Al-Qur’an semuanya relative, bisa benar dan salah.”

Dalam kajian kali ini, kita akan membahas bagaimana sebenarnya sikap seorang muslim terhadap Al-Qur’an, bagaimana adabnya terhadap Al-Qur’an, dan apa yang seharusnya dia lakukan terhadap Al-Qur’an? Selamat membaca. Baca lebih lanjut