Kita dan Al-Qur’an

KITA DAN AL-QUR’AN

Oleh : Tengku Azhar, Lc.

Prolog

Akhir-akhir ini penomena menghina dan menghujat Al-Qur’an sudah menjadi biasa. Entah siapa yang memulai, yang jelas makhluk pertama yang mengkritisi hukum dan perintah Allah adalah Iblis. Maka bisa dipastikan mereka yang hari ini mengkritisi dan menghujat Al-Qur’an tidak lain adalah kakitangan dan penyambung lisan Iblis dalam rangka memalingkan manusia dari jalan yang haq yang diridhai Allah SWT.

Petunjuk, Kesenangan dan Keindahan. Bagi seorang seorang mukmin Kitab Suci Al-Qur’an akan melebihi segalanya: denyut keimanan, kenangan di saat mengalami kegembiraan dan penderitaan, sumber realitas ilmiah yang tepat, gaya lirik yang indah, khazanah kebijaksanaan serta munajat. Ayat-ayatnya menghiasi mulai dinding toko buku hingga ruang tamu, terukir dalam ingatan tua dan muda, serta gaungya terdengar di keheningan malam dari atas menara masjid di seluruh dunia.

Namun sungguh naif, bila orang-orang yang mengaku dirinya intelektual muslim, cendekiawan Islam, pembaharu, atau pun apa namanya mulai mempertanyakan keautentikan dan kebenaran Al-Qur’an. Mengkritisi dan mendiskusikan hukum-hukumnya, yang akhirnya mereka katakan, “Tidak ada yang benar di dalam Al-Qur’an semuanya relative, bisa benar dan salah.”

Dalam kajian kali ini, kita akan membahas bagaimana sebenarnya sikap seorang muslim terhadap Al-Qur’an, bagaimana adabnya terhadap Al-Qur’an, dan apa yang seharusnya dia lakukan terhadap Al-Qur’an? Selamat membaca.

Sikap Muslim Terhadap Al-Qur’an

Apabila kita mau memperhatikan keadaan kita saat ini, maka akan di dapati bahwa masih banyak di antara kita yang amat jauh dari Al-Qur’an, bahkan ada yang begitu amat jauh dari petunjuk dan pengajaran yang ada di dalamnya.

Masih amat banyak di antara mereka yang tidak mau membaca Al-Qur’an seluruhnya, sebagian lagi ada yang membacanya hanya ketika waktu shalat saja, ada pula yang membacanya hanya ketika dalam kondisi kepepet atau kesulitan. Tak jarang pula di anta-ranya ada yang membaca, namun tidak mau mentadaburi dan memperhatikan isinya, atau membacanya tapi tidak mau mangamalkannya.

Bahkan yang paling parah adalah ada di antaranya yang mendustakan sebagian ayat-ayatnya dan selalu mempermasalahkannya. Ia katakan bahwa ayat-ayat tersebut sudah tidak relevan lagi dengan kehidupan masa kini, ketinggalan zaman dan tidak cocok untuk diterapkan. Tidak diragukan lagi bahwa sikap semacam ini adalah kekufuran yang nyata, dan bukan merupakan jalannya orang-orang Mukmin.

Ada beberapa bentuk sikap menjauhi Al-Qur’an, di antaranya sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnul Qayim adalah sebagai berikut:

· Tidak mau mendengarkan, meng-imani dan perhatian terhadapnya.

· Tidak mau mengamalkannya, dan tidak menerima apa yang dihalalkan dan apa yang diharamkan, meskipun ia membaca dan percaya kepada-nya.

· Tidak mau berhukum dan memu-tuskan perkara dengannya, baik dalam masalah ushul (pokok) agama maupun cabang-cabangnya.

· Tidak mau mentadaburi, memahami serta mempelajari apa yang dike-hendaki oleh Allah dalam firman tersebut.

· Tidak mau mempergunakannya sebagai penyembuh dan obat bagi berbagi penyakit hati.

Keseluruhan yang telah tersebut di atas, masuk pada kategori firman Allah,
“Berkatalah Rasul, “Ya Rabbku, sesung-guhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuh-kan”. (QS. 25:30)

Dan bentuk-bentuk hajr (ketidakpe-dulian) tersebut antara satu dengan yang lain berbeda-beda tingkatannya.

Untuk Apa Al-Qur’an Diturunkan

Sesungguhnya merupakan nikmat Allah yang terbesar adalah diutusnya Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam dan diturunkan nya al-Qur’an kepadanya untuk memberi petunjuk kepada manusia, mengajari dan mengingatkan mereka tentang segala yang bermanfaat bagi mereka di dunia dan di akhirat. Atas dasar inilah Allah memuliakan ummat ini.

Al-Qur’an merupakan kitab yang universal untuk seluruh manusia, bahkan untuk bangsa jin, untuk memberikan kabar gembira dan peringatan kepada mereka. (lihat: QS. Al-Jin:2)

Al-Qur’an diturunkan kepada manusia dengan memiliki fungsi yang amat banyak. Di antara fungsi diturunkannya Al-Qur’an adalah sebagai berikut :

1. Al-Qur’an sebagai petunjuk (al-huda)

Petunjuk bagi manusia, artinya Al-Qur’an memberi penjelasan bagi mereka mana jalan yang lurus terbimbing, jika mereka menghendaki jalan lurus tersebut bagi diri mereka.

Jadi Al-Qur’an merupakan petunjuk dilalah dan irsyad (penjelasan dan bimbingan) bagi seluruh manusia, dan petunjuk taufiq bagi orang yang bertakwa, khususnya mereka yang memenuhi panggilan Al-Qur’an.

Jadi hidayah itu ada dua macam, yaitu hidayah taufiq wal ‘amal (respon dan aksi). Ini khusus bagi orang yang beriman, dan hidayah dilalah wal irsyad (bimbingan dan penjelasan) yang bersifat informatif untuk seluruh umat manusia. Allah SWT juga berfirman menyifati Al-Qur’an, artinya,

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar, dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhirat, Kami sediakan bagi mereka azab yang pedih.” (QS. Al Israa’ : 9-10) .

2. Al-Qur’an sebagai ruh

Di dalam ayat yang lain Allah menyebut Al-Qur’an dengan ruh, dan salah satu makna ruh di sini adalah segala yang menjadikan hati hidup penuh dengan makna. Sebagaimana halnya tubuh, jika di dalamnya ada ruh maka dia akan hidup dan jika ruh keluar dari badan maka dia akan mati. Allah SWT berfirman, artinya,

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura : 52).

Al-Qur’an adalah ruh bagi hati, dan ruh hati lebih khusus daripada ruh badan. Allah menamainya dengan ruh karena dengan Al-Qur’an itu hati menjadi hidup. Maka apabila Al-Qur’an telah bertemu dengan hati pasti dia akan hidup dan bercahaya. Dia akan mengenal Rabbnya, menyembah Allah di atas dasar bashirah (ilmu), takut kepada-Nya, bertakwa, mencintai-Nya, meninggikan serta mengagungkan-Nya. Ini dikarenakan Al-Qur’an merupakan ruh yang menggerakkkan hati sebagaimana ruh (nyawa) yang menggerakkan badan.

Jika nyawa masuk ke dalam badan maka dia akan menggerakkan badan itu serta menjadikannya hidup. Demikian pula Al-Qur’an, jika masuk ke dalam hati maka akan menghidupkan serta menggerakkan hati untuk takut kepada Allah serta mencintai-Nya. Sebaliknya jika hati tidak dimasuki Al-Qur’an maka akan mati, sebagaimana badan yang tidak punya ruh.

Maka di sini ada dua kehidupan dan dua kematian. Dua kematian adalah matinya jasmani dan matinya hati sedang dua kehiduan adalah hidupnya jasmani dan hidupnya hati. Hidupnya badan berlaku bagi mukmin dan kafir, orang takwa dan orang fasik, bahkan seluruh manusia dan hewan tidak ada bedanya. Yang membedakan adalah hidupnya hati, dan ini tidak didapati kecuali pada hamba Allah yang mukmin dan muttaqin. Adapun orang kafir dan binatang ternak maka mereka kehilangan hidupnya hati, meskipun badan dan jasmani mereka hidup.

3. Al-Qur’an sebagai cahaya

Allah menamai Al-Qur’an dengan Nur (cahaya), yaitu sesuatu yang menerangai jalan yang terbentang di hadapan manusia sehingga tampak segala yang ada di hadapannya. Apakah ada lobang, ataukah duri lalu menghindarinya, dan kelihatan pula jalan yang selamat sehingga dia manempuh jalan itu.

Orang yang tidak mempunyai cahaya maka dia berada di dalam kegelapan, tidak bisa melihat lobang serta duri, tidak mengetahui adanya bahaya karena memang tidak mampu untuk melihat.

Kita semua tahu adanya cahaya yang mampu kita lihat, seperti cahaya matahari, lampu,lentera dan cahaya yang lain. Dengan adanya cahaya inilah kita tahu bagaimana sebaiknya berjalan di jalanan, di pasar, di rumah dan kita tahu dengan cahaya itu apa yang perlu untuk kita jauhi dan waspadai.

Akan tetapi cahaya Al-Qur’an adalah cahaya maknawi yang memperlihatkan kepada anda apa yang bermanfaat bagi anda dalam urusan agama maupun dunia, menjelaskan kepada anda yang hak dan yang batil, menunjukkan jalan menuju surga sehingga anda menempuhnya berdasarkan cahaya dan bimbingan Allah SWT.

4. Al-Qur’an sebagai pembeda

Allah SWT juga menyifati Al-Qur’an sebagai Furqaan (pembeda) sebagai mana firman-Nya, artinya,

“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (yaitu Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqaan:1).

Artinya Al-Qur’an membedakan antara yang haq dengan yang batil, antara yang lurus dengan yang sesat, yang bermanfaaat dan yang berbahaya. Dia menyuruh kita semua mengerjakan kebaikan dan melarang kita dari perbuatan buruk dan dia memperlihatkan segala apa yang kita perlukan untuk urusan dunia dan akhirat, maka dia adalah furqan dalam arti membedakan antara yang hak dengan yang batil.

5. Al-Qur’an sebagai obat penawar

Allah SWT juga menyebut Al-Qur’an ini sebagai syifa’ (obat penawar), Dia berfirman, artinya,

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57).

Dia merupakan obat bagi penyakit yang bersifat hakiki (yang menimpa badan) dan penyakit yang sifatnya maknawi (yang menimpa hati). Merupakan obat bagi penyakit badan, dengan cara membacakannya untuk orang yang sakit atau terkena ain (hipnotis), kesurupan jin dan semisalnya.

Dengan izin Allah SWT orang yang sakit akan menjadi sembuh jika bacaan tersebut berasal dari hati seorang mukmin yang yakin kepada-Nya. Apabila keyakinan yang kuat berkumpul antara orang yang membacakannya dengan yang dibacakan untuknya maka Allah akan memberikan kesembuhan bagi si sakit.

Al-Qur’an juga merupakan obat bagi penyakit maknawi, seperti penyakit ragu-ragu (syak), syubhat (kerancuan), kufur dan nifak. Penyakit-penyakit ini jauh lebih berbahaya daripada penyakit badan.

Penyakit hati lebih berbahaya daripada penyakit badan karena penyakit badan ujung penghabisannya adalah mati sedangkan mati itu pasti terjadi dan tidak mungkin dapat ditolak. Penyakit hati jika dibiarkan terus menerus maka akan menyebabkan matinya hati , rusak secara total sehingga si empunya hati menjadi seorang kafir, condong kepada kaburukan, fasik. Dan tidak ada obat baginya selain daripada Al-Qur’an yang telah diturunkan oleh Allah sebagai obat.

Terakhir marilah kita renungkan firman Allah SWT berikut ini,

“Hai orang-orang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah : 8).

Reference :

1. The History Of The Qur’anic Text, Prof. DR. M. M. Al-A’zami.

2. www.alsofwa.or.id

3. www.almanhaj.or.id

One response to “Kita dan Al-Qur’an

  1. Mantabbbbb….Thank’s atas makalahnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s