Pendukung Ahmadiyah Lebih Berbahaya

AHMADIYYAH

Sejarah, Aqidah Dan Bukti Kesesatannya

Oleh: Tiem Kajian Ilmiyyah Mahasiswa Ma`had An Nuur

Definisi

Qadiyanisme adalah sebuah gerakan yang muncul pada tahun 1889 M/ 1306 H, yang dibidani oleh penjajah Inggris di benua India dengan tujuan merusak dan menjatuhkan ummat Islam dari segi ajarannya, khususnya dari segi jihad, sehingga mereka tidak menghadapi penjajah dengan mengatas namakan Islam. Corong gerakan ini adalah majalah “Religion” yang diterbitkan dalam bahasa Inggris.

Pendirinya

Mirza Ghulam Ahmad al-Qadiyani (1839-1908 M), adalah pelaksana utama bagi terwujudnya Qadiyanisme. Tokoh ini mempunyai kaitan erat dengan sebuah keluarga yang terkenal sebagai “Penghianat” terhadap agama dan negara.

Tokoh ini dikenal di kalangan pengikutnya dengan perawakan kerempeng, sering sakit-sakitan, dan pecandu narkotik. Mirza Ghulam Ahmad menulis buku lebih dari 50 judul, brosur-brosur dan makalah-makalah. Diantara bukunya yang terpenting adalah: “Izzatul Auham” (Menghilangkan Prasangka), “I`jaz Ahmadiy” (Mu`jizat Ahmadiyah), “Barahin Ahmadiyah” (Bukti-bukti Ahmadiyah), “Anwarul Islam” (Cahaya Islam), “I`jazul Masih” (Mu’jizat al-Masih), “at-Tabligh” (Tabligh), dan “Tajaliyat Ilahiyah” (Bukti-bukti Ketuhanan).

Para Khalifah Dan Tokoh Qadiyanisme

Nuruddin; orang-orang Inggris meletakkan mahkota khilafah di atas kepalanya kemudian diikuti oleh para pendukungnya. Diantara karya tulisnya adalah “Fashlul Khitab”. Dialah khalifah pertama.

Muhammad Ali; amir Qadiyanisme Lahore. Tokoh ini menjadi otak Qadiyanisme dan mata-mata penjajah, yang bekerja pada sebuah majalah propaganda pada sebuah “Qadiyanisme”. Ia telah mengeluarkan terjemahan al-Qur’an yang diselewengkan dalam bahasa Inggris. Diantara karya tulisnya adalah: “Haqiqatul Ikhtilaf” (Hakikat Perselisihan) dan “an-Nubuwah fil Islam” (Kenabian dalam Islam).

Muhammad Shadiq; mufti Qadiyanisme. Diantara karya tulisnya adalah: “Khadimu Khatimin Nabiyyin” (Khadam Nabi Terakhir).

Basyir Ahmad bin Ghulam. Diantara karya tulisnya adalah: “Siratul Mahdi” (Sejarah hidup al-Mahdi) dan “Kalimatul Fashl” (Kata Pemisah).

Muhammad Ahmad bin Ghulam; sebagai khalifah kedua. Diantara karya tulisnya adalah: “Anwarul Khilafah” (Cahaya Khilafah), “Tuhfatul Muluk” (Persembahan para Raja) dan “Haqiqatun Nubuwwah” (Hakikat Kenabian).

Pemikiran Dan Doktrin Ahmadiyah

1. Ahmadiyah meyakini bahwa Allah memiliki sifat sebagaimana sifat-sifat manusia; Dia shaum, shalat, tidur, terkadang berbuat salah dan benar. Dalam Tadzkirah disebutkan, “Engkau dariku dan aku dari-Mu. Punggungku adalah punggung-Mu.” (Tadzkirah, hal. 700)

2. Diantara penganut Qadiyanisme berkeyakinan bahwa Rabbnya adalah orang Inggris, sebab mereka telah mengajaknya berbahasa Inggris.

3. Sesungguhnya para Nabi dan Rasul senantiasa dibangkitkan dan diutus hingga hari Kiamat.

4. Ahmadiyah Qadiyan mempercayai dan meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang Nabi dan Rasul setelah Nabi Muhammad, maka barangsiapa tidak mempercayainya berarti ia kafir. Mirza juga mengaku diangkat sebagai al-Masih al-Mau’ud (al-Masih yang dijanjikan di akhir zaman) dan imam Mahdi.

5. Mirza Ghulam Ahmad adalah orang yang paling mulia diantara seluruh Nabi dan Rasul, termasuk Nabi Muhammad.

6. Ahmadiyah mempunyai kitab suci Tadzkirah yang dianggap sebagai wahyu suci, berisi dua puluh juz. Kitab ini berisi kumpulan wahyu yang diturunkan Tuhan kepada Mirza Ghulam Ahmad. Kitab ini dipercayai sebagai kitab samawi selain al-Quran, Injil, Taurat dan Zabur.

7. Allah menurunkan wahyu kepada Mirza Ghulam Ahmad.

8. Malaikat yang membawa wahyu kepada Mirza Ghulam Ahmad adalah Jibril.

9. Ahmadiyah mempunyai tempat suci sendiri untuk melaksanakan ibadah haji, yaitu di Rabwah dan Qadiyan di India. Diyakininya bahwa kota Qadiyan adalah seperti Makkah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah, bahkan lebih mulia daripada kedua kota tersebut.

10. Ahmadiyah mempunyai keyakinan bahwa di luar golongan mereka adalah kafir.

11. Ahmadiyah mempunyai keyakinan, haram menikah dengan non Ahmadi. Menurut mereka, setiap orang Islam adalah kafir sampai mereka masuk kepada ajaran Qadiyanisme. Mereka juga menganggap jika ada diantara mereka yang nikah dengan selain orang Qadiyanisme adalah kafir.

12. Ahmadiyah telah membajak dan mengacak-acak ayat-ayat al-Quran, diantaranya seperti, ”Sesungguhnya telah aku turunkan al-Quran dekat dengan Qadiyan.”(Tadzkirah, hal. 519) Ini adalah bajakan dari ayat, “Sesungguhnya telah Aku turunkan al-Quran pada malam kemuliaan.”(QS. Al-Qadr: 1)

13. Ahmadiyah mempunyai tanggal, bulan dan tahun sendiri, yaitu: Suluh, Tabligh, Aman, Syahadah, Hijrah, Ikhsan, Wafa’, Zuhur, Tabuk, Ikha, Nubuwwah dan Fatah. Adapun nama tahun mereka adalah Hijri Syamsi (HS).

14. Ahmadiyah mempunyai Jannah sendiri yang letaknya di Qadiyan dan Rabwah.

15. Diyakininya bahwa mereka adalah penganut agama baru, independent, dengan syari`at yang spesifik pula.

16. Diyakini pula bahwa rekan-rekan Mirza Ghulam Ahmad adalah seperti para sahabat Rasulullah.

Dihapuskannya aqidah jihad dan mereka taat tanpa reserve atau pasrah bongkokan kepada pemerintah Inggris. Sebab, menurut mereka pemerintah Inggris itu adalah yang berkuasa berdasarkan nash al-Qur’an.

Akar Pemikiran Dan Sifat Idiologinya

Gerakan Westernisasi Sir Sayyid Ahmad Khan telah turut terlibat dalam proses lahirnya Qadiyanisme, akibat dari pemikiran-pemikiran menyeleweng yang dilontarkan.

Untuk mengeksploitasi kondisi tersebut, maka Inggris membuat sebuah gerakan Qadiyanisme. Untuk memimpin gerakan tersebut, dipilihlah seorang laki-laki dari keturunan yang berpengaruh diantara kaki tangan Inggris.

Qadiyanisme mempunyai hubungan yang kuat dengan Israel. Negeri ini telah membuka jalan bagi pengikut Qadianisme untuk mendirikan markas-markas dan sekolah-sekolah, mendorong mereka agar mampu membuat majalah yang menjadi corong Qadiyanisme, mencetak buku-buku dan brosur-brosur untuk didistribusikan ke seluruh dunia.

Mereka terpengaruh oleh agama Masehi/Nashrani, Yahudi dan aliran-aliran kebatinan. Tampak jelas sekali dalam aqidah dan prilaku mereka, meskipun secara lahiriyah mereka tetap mengaku orang Islam.

Tempat Tersiar Dan Kawasan Pengaruhnya

Para penganut ajaran Qadiyanisme saat ini sebagian besar hidup di India dan Pakistan, sedang sebagian kecil dari mereka ada yang hidup di Israel dan dunia Arab. Dengan bantuan penjajah mereka berupaya menduduki pusat-pusat yang sensitif di setiap negeri dimana saja mereka menetap. (Al Mausu`ah Al Muyassarah, WAMY, 416-417).

Fakta Kesesatan Ahmadiyah

Fakta-fakta Hukum

Di Dunia Internasional

1. Fatwa Rabithah Alam Islami (Liga Muslim Dunia) tahun 1974 M/1394 H menyatakan bahwa Ahmadiyah sesat menyesatkan. Hal ini juga disampaikan oleh Dewan Tetap untuk Kajian Ilmiyah dan Fatwa Arab Saudi, lihat Fatawa Lajnah Daimah: II/312.

2. Keputusan Raja-Raja Malaysia tahun 1975 M melarang ajaran Ahmadiyah di seluruh Malaysia.

3. Republik Islam Pakistan melarang ajaran Ahmdiyah Qadiyan dan Lahore dalam UUD sementara pemerintah perubahan tahun 1981 M.

4. Kedutaan Arab Saudi di Jakarta meminta Menteri Agama RI untuk melarang Ahmadiyah dan menjelaskan kesesatan serta kekafirannya, tahun 1981 M. Pemerintah Arab Saudi juga mengeluarkan larangan bagi Ahmadiyah untuk berhaji ke Makkah. (lihat. (Al Mausu`ah Al Muyassarah, WAMY: I/418)

Di Indonesia

1. Fatwa MUI dalam Munas II tahun 1980 M, menetapkan Ahmadiyah sebagai jamaah di luar Islam, sesat dan menyesatkan. Fatwa ditandatangani ketua umum MUI, Buya Hamka.

2. Surat edaran Direktur Bimbingan Masyarakan Islam dan Urusan Haji Depag RI tahun 1984 M, berisi agar kegiatan Ahmadiyah agar tidak menyebarkan paham tersebut di luar pemeluknya, tidak menimbulkan keresahan masyaralat beragama dan tidak mengganggu kerukunan hidup beragama.

3. Keputusan Syuriah Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (NU) tahun 1995 M, menyatakan Ahmadiyah sebagai aliran menyimpang dari ajaran Islam. NU mengusulkan agar Ahmadiyah dilarang.

4. SK larangan terhadap Ahmadiyah oleh Kejari Subang, Jawa Barat, tahun 1976 M.

5. SK larangan terhadap Ahmadiyah oleh Kejari Lombok Timur, tahun 1983 M.

6. SK larangan terhadap Ahmadiyah oleh Kejari Sidenreng, Rapang, Sul-Sel, tahun 1986 M.

7. SK larangan terhadap Ahmadiyah oleh Kejari Kerinci, Jambi, tahun 1989 M.

8. SK larangan terhadap Ahmadiyah oleh Kejati Sumatera Utara tahun 1994 M.

9. SK larangan terhadap Ahmadiyah oleh Kejati Sulawesi Selatan tahun 1997 M.

10. SK larangan terhadap Ahmadiyah oleh Kejari Tarakan, Kaltim tahun 1989 M.

11. SK larangan terhadap Ahmadiyah oleh Kejari Meulaboh, Aceh Barat tahun 1990 M.

12. Keputusan Bersama Muspida, DPRD, MUI, Ormas Islam di Kuningan, Jawa Barat soal pelarangan Ahmadiyah tahun 2003 M.

13. Keputusan Bersama Muspida, DPRD, MUI, Kepolisian dan Ormas Islam tentang pelarangan Ahmadiyah di Kabupaten Bogor tahun 2005 M.

14. Rapat Koordinasi Tim Pakem Pusat Kejaksaan Agung pada 18 Januari 2005 M yang mengusilkan kepada pemerintah/Presiden RI untuk melarang kegiatan penyebaran ajaran Ahmadiyah.

Fakta-fakta tersebut menunjukkan betapa Ahmadiyah tidak mengindahkan larangan pemerintah dan fatwa MUI. Pemerintah dan aparat hokum juga bersikap lamban dalam menangani kasus Ahmadiyah. (Dinukil dari Majalah Islam Sabili, no.2 Th. XIII, 11 Agustus 2005/6 Rajab 1426 H. hal. 28)

Beberapa Bantahan Terhadap Ahmadiyyah

1. Pernyataan

Mirza Ghulam Ahmad dan para pengikutnya mensifati Allah Ta`ala dengan sifat manusia, yaitu mereka meyakini bahwa Allah shiyam, shalat, tidur, lupa, menulis, melakukan kesalahan dan kebenaran. (Al Mausu`ah Al Muyassarah, WAMY, I/417, Ahammiyatul Jihad, DR. Nufai` Al Ulyani, hal. 505).

Bantahan

Diantara tauhid yang wajib diyakini oleh kaum muslimin selain tauhid Rububiyyah dan Uluhiyyah adalah tauhid Asma` wa Shifat, yaitu beriman kepada nama-nama Allah yang baik (al husna) dan shifat-shifat-Nya yang mulia, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur`an dan Sunnah Rasul-Nya, tanpa tahrif (merubah maknanya), ta`thil (menghilangkan makna atau shifat Allah), takyif (mempersoalkan hakikat asma` dan shifat Allah dengan bertanya “bagaimana”) dan tamstil/tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Allah berfirman:

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Kemudian ucapan yang menyeluruh dalam semua bab ini adalah hendaknya Allah itu dishifati dengan apa yang Dia shifatkan untuk diri-Nya atau yang dishifatkan oleh Rasul-Nya, dan dengan apa yang dishifatkan oleh As Sabiqun Al Awwalun, serta tidak melampaui Al Qur`an dan Al Hadits.”

Imam Ahmad berkata: “Allah tidak boleh dishifati kecuali dengan apa yang dishifati oleh-Nya untuk diri-Nya di dalam kitab-Nya atau apa yang dishifatkan oleh Rasul-Nya, serta tidak boleh melampaui Al Qur`an dan Al Hadits. Manhaj salaf mensifati Allah dengan apa yang Dia shifatkan untuk diri-Nya dan dengan apa yang dishifatkan oleh Rasul-Nya, tanpa tahrif dan ta`thil, takyif dan tamtsil. (Majmu` Fatawa, Ibnu Taimiyyah: V/26 dan Syarh Aqidah Al Wasithiyyah, DR. Shalih Fauzan bin Abdullah Al Fauzan, hal. 15).

Kaum muslimin juga tidak memberikan apalagi menetapkan sifat-sifat naqs yang Allah telah mensucikan diri-Nya dari sifat-sifat tersebut dan juga tidak disifati oleh Rasul-Nya dalam hadits-haditsnya (Maha Suci Allah atas apa yang mereka sifatkan).

Demikianlah keadaaan kaum muslimin dalam beriman dan menetapkan Asma` Allah dan sifat-sifat-Nya yang `ulya. Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Muflih: “Seseorang sekali-kali tidak akan beradab baik kepada Allah kecuali dengan tiga hal: 1) Mengenal Allah Ta`ala dengan mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya, 2) Mengenal agama dan syari`at-Nya, apa yang Dia cintai dan apa yang Dia benci, 3) dan jiwa yang tunduk, patuh, menerima Al Haq, baik itu dalam bentuk ilmu maupun amalan.” (Al Adab Asy Syar`iyyah, Ibnu Muflih: I/6).

2. Pernyataan

Mirza Ghulam Ahmad dan para pengikutnya meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad mendapatkan wahyu, dan yang menyampaikannya adalah dianggap Jibril `Alaihis Salam. Salah satu karangan Mirza Ghulam Ahmad yang paling suci dan yang paling penting yaitu kitab “Tadzkiroh”, yang berisi kumpulan wahyu yang disucikan dan ru’yah (mimpi) juga kasyaf Mirza Ghulam Ahmad. Sebagian orang-orang Ahmadi membantah dan berkata: Sesungguhnya Tadzkirah bukanlah kitab wahyu sesudah Al Qur`an, tetapi apa yang ditulis disampul Tadzkiroh tersebut menguatkan yang sebaliknya:

تذكرة مجموعة إلهامات حضرت مسيح موعود عليه الصلاة والسلام

“At Tadzkirah-kumpulan Ilham-ilham hadlrat Masih Mau`ud a.s.”

Dan didalam jilid yang pertama dari Tadzkirah, sangat jelas sekali tertulis:

تذكرة يعني وحي مقدس ورؤيا وكشوف حضرت مسيح موعود عليه الصلاة والسلام

“Tadzkirah adalah wahyu yang disucikan dan mimpi serta kasyaf Masih Mau`ud a.s.”

Ahmadiyah tidak hanya melaporkan “Wahyu yang disucikan dan mimpi juga kasyaf Mirza Ghulam”, akan tetapi -sebagaimana yang tertulis pada halaman pertama dari Tadzkirah- telah menjadikannya sebagai kitab wahyu yang disusun menurut sebab turunnya, dan disana disebutkan tanggal turunnya, dan didepannya (ditulis), “Wahyu yang disucikan yang turun kepada Mirza.” (Ahmadiyyah, Kepercayaan-kepercayaan dan Pengalaman-pengalaman, Hasan bin Mahmud Audah -Mantan Mubaligh dan Direktur Umum Seksi Bahasa Arab Jema`at Ahmadiyah Pusat London- LPPI, Jakarta).

Bantahan

Kaum muslimin telah sepakat bahwa Al Qur`an adalah kitab (wahyu) Allah Ta`ala yang terakhir turun kepada nabi dan rasul yang terakhir Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Salam. Ia datang dengan membawa syari`at yang universal, umum, berlaku untuk setiap zaman dan tempat, menghapus syari`at-syari`at sebelumnya, dan ia wajib diikuti oleh setiap orang yang mendengar khabarnya sampai hari kiamat. Allah Ta`ala tidak menerima agama dari selainnya setelah ia diturunkan, dan Allah Ta`ala senantiasa menjaganya dari tahrif (perubahan), ziyadah wan naqsh (penambahan dan pengurangan).

Allah Ta`ala berfirman: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al Hijr: 9).

Rasulullah Shalallahu `alaihi wa Salam bersabda: “Demi Allah Ta`ala yang jiwa Muhammad berada ditangan-Nya, tidak seorang pun dari umat ini yang mendengar tentang aku, tidak Yahudi maupun Nashrani, kemudian ia mati dan tidak beriman kepada ajaran yang aku bawa, melainkan ia adalah termasuk penghuni Neraka.” (HR. Muslim).

Al Qur`an yang ada ditangan kita sekarang adalah Al Qur`an yang diturunkan kepada Rasul kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Salam dengan keseluruhan dan rinciannya, tidak dinodai oleh tangan-tangan jahil dan tidak akan tersentuh olehnya, bahkan akan tetap tidak berubah sebagaimana saat diturunkan sampai diakhir zaman nanti. (Kitab Al Aqidah Al Islamiyyah, Syaikh Hasan Habanakah, hal. 470, Kitab Tauhid, Darul Haq, hal. 74-76).

Meyakini adanya wahyu yang turun setalah wafatnya Rasulullah Shalallahu `alaihi wa Salam kepada seseorang yang mengaku-ngaku sebagai seorang nabi atau mau`ud (yang dijanjikan) adalah bentuk kekufuran kepada Allah Ta`ala, Rasul-Nya dan pembangkangan terhadap Al Qur`an.

Allah Ta`ala berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari al-Qur’an ketika al-Qur’an itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (al-Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari (Rabb) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Fushshilat: 41-42)

3. Pernyataan

Mirza Ghulam Ahmad dan pengikutnya mengingkari jihad fi sabilillah, sebaliknya mereka pasrah bongko-an kepada pemerintah kolonial Inggris, dan membelannya mati-matian.

Bantahan

Sesungguhnya jihad fi sabilillah merupakan kewajiban prinsip dalam Islam yang berlaku sampai hari kiamat. Kewajiban ini tidak akan dapat dihilangkan, dengan alasan apapun. Penjajah Inggris di India mengalami pukulan berat karena serangan para mujahidin. Para ulama Islam dibawah pimpinan Abdul Aziz Ad Dahlawi bangkit mengajak kaum muslimin melakukan jihad fi sabilillah melawan kolonial Inggris.

Mereka berhasil membentuk angkatan bersenjata dibawah pimpinan Isma`il. Terjadilah pertempuran antara kolonial Inggris dengan kaum muslimin. Inggris berhasil dikalahkan di beberapa kota, dan kaum muslimin berhasil mengibarkan bendera di kota-kota yang dikuasainya.

Namun bukanlah namanya Al Masih Al Mau`ud Al Kazzab (Mirza Ghulam) bila tidak membela musuh-musuhnya dan memerangi kaum muslimin, ia pun menyerukan kepada kaum muslimin bahwa wajib hukumnya orang Islam mengorbankan jiwa dan raganya untuk membantu Inggris. Mirza menyatakan:

“Jihad dengan pedang, pada hari ini telah dihapuskan atas perintah Allah Ta`ala. Siapa saja yang tidak meletakkan senjata sejak hari ini dan seterusnya guna melawan orang-orang kafir, tetapi dia mengaku dirinya sebagai mujahid, maka sesungguhnya ia telah berbuat dosa.”

Selanjutnya ia berkata:

“Aku percaya, bila pengikutku bertambah, maka orang-orang Islam yang mau berjihad akan semakin berkurang. Karena termasuk pengertian beriman yang sebenarnya adalah mempercayai bahwa Al Masih atau Al Mahdi menolak adanya jihad.”

Inilah bukti Al Mahdi gadungan, Al Mahdi yang bertolak belakang dengan sifat-sifat Al Mahdi yang dikhabarkan oleh Rasulullah[1], ia mengungkapkan jati dirinya dengan sebenarnya, yaitu dengan menolak jihad, memerangi kaum muslimin dan setia bongko-an kepada musuh-musuh Allah Ta`ala. Inilah agama hakiki yang dipropagandakan oleh Mirza Ghulam Ahmad dan para pengikutnya. (Jaringan Konspirasi Menentang Islam, DR. Sa`duddin As Sayyid Shalih, Wihdah Press, hal. 193-194).

Cukuplah bagi orang-orang beriman, firman Allah Ta`ala:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. (QS. Al Maidah: 51)

Demikianlah diantara pokok-pokok ajaran Ahmadiah (Qadiyaniyah) dan beberapa sanggahannya, yang aqidah sesatnya ini telah disebarluaskan oleh musuh-musuh Islam keseluruh dunia; Eropa, Afrika, Asia dan lainnya. Lalu masihkah kita ragu dengan kesesatan mereka, dan mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang mendakwahkan Islam dan memperjuangkan Islam?. Hanya orang-orang yang dungulah yang tidak dapat memetik hikmah dan kesempurnaan diin ini.

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Maidah: 3)

4. Pernyataan

Mirza Ghulam Ahmad dan pengikutnya menyatakan bahwasannya Nabi Muhammad adalah Khataman-Nabiyyin dalam artian “Stempel/cincin Para Nabi” (salah satu arti Khatam menurut menurut mereka adalah stempel dan cincin). Maka makna dan maksud yang terkandung dalam artian “Stempel atau Cincin Para Nabi” adalah tidak tertutup kemungkinan adanya Nabi Baru, namun dengan membawa Syari’at Nabi Muhammad bukan dengan Syari’at yang baru, atau dengan kata lain para Nabi setelah Nabi Muhammad adalah Para Nabi dengan Stempel Nabi Muhammad atau dengan mengenakan Cincin Nabi Muhammad Khataman-Nabiyyin, mereka disebut Nabi Ummati, Nabi Ghairi Tasyri’ (Nabi Yang tidak membawa Syari’at) atau Nabi Ghairi Mustaqil (Nabi Non Idenpeden).

Bantahan

Aneh tapi nyata. Inilah yang dibuktikan oleh Mirza Ghulam Ahmad dan pengikutnya, mereka mengartikan kalimat Khataman-Nabiyyin menurut akal dan nafsu mereka, demi membela dan melegalkan nabi palsu mereka.

Arti Khataman-Nabiyyin menurut Kamus-kamus Bahasa Arab:

1. Taj al-Arus [Imam Muhib al-Din Abu-i-Fiaz Murtaza]:

Khataman-Nabiyyin berarti yang terakhir dari mereka (Para Nabi). 2. Lisan al-Arab [Allamah Abu-i-Fazl Jamal-ud-Din Muhammad ibn Mukarram]:

Khataman-Nabiyyin baerarti yang terakhri dari mereka (Para Nabi) dan khatam juga dipelbagai tempat diartikan dengan khatim (penitup).

3. Al-Mufradat fi-Gharib al-Quran [Sheikh Abu-i-Qasim al-Hussain al-Raghib al-Isfahani.]:

Khataman-Nabiyyin maksud alasan bahwa dia membawa kenabian telah berakhir, maksudnya adalah, (kenabian) telah dilengkapi dengan kehadirannya.

4. Majma Bihar al-Anwar [Dictionary of Hadith by Al-Sheikh Muhammad Tahir.]:

Khataman-Nabiyyin dengan huruf fatha adalah kata benda dan bermakna Yang Terakhir dari Para Nabi.

5. Lane’s Arabic-English Lexicon [Edward William Lane.]:

Baik Khataman-Nabiyyin dan Khatimin-Nabiyyin dalam Al Qur`an berarti Yang Terakhir dari Para Nabi.

Khatam berarti Yang Paling Akhir

6. Taj al-Arus: wal khatamnu min kulli shay-in aqibatuhu wa akhiratuhu ka-khatima-tihi wal khatamu akhiril qaum;

Terjemahan bebasnya lebih kurang: Dan khatam adalah yang paling akhir dari segala-galanya dan yang paling akhir dari yang terakhir dan khatam adalah orang yang terakhir dari suatu kaum.

7. Muntaha al-Arab: ketika menjelaskan tentang Khatim mengatakan:

Maksudnya adalah khatim bararti yang terakhir dari segalanya dan penghentiannya setelah itu..

8. Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengenai Khataman-Nabiyyin mengatakan:

Ayat tentang Khataman-Nabiyyin adalah bukti yang sangat jelas bahwa tidak ada Nabi yang akan datang setelahnya… dan banyak sekali hadits-hadits mengenai masalah ini yang dirawikan dari para Sahabat Rasulullah.

Kesimpulan Arti Khataman-Nabiyyin menurut Kamus-kamus Bahasa Arab:

Nabi Muhammad adalah Khataman-Nabiyyin dalam artian bahwa beliau adalah Nabi terakhir dan Nabi paling yang akhir kemunculannya dan tidak akan ada lagi Nabi yang akan datang setelahnya.

Arti Khataman-Nabiyyin Menurut Hadits:

Rasulullah Shalallahu `alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya aku mempunyai banyak nama, aku adalah Muhammad, aku adalah Ahmad, aku adalah Al Mahi (penghapus) yang mana Allah Ta`ala menghapus kekufuran dengan diriku, aku adalah Al Hasyir (yang mengumpulkan) di mana manusia nanti akan dikumpulkan dihadapanku, dan aku adalah Al Aqib; Aqib adalah sesudahnya tidak ada nabi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Perhatikan kalimat terakhir, bahwa Rasulullah adalah Al-Aqib yakni “Orang yang datang paling akhir yang setelahnya tidak akan ada lagi nabi.”

Watak Yahudi

Tingkah laku yang disukai oleh Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyahnya ialah mengubah makna maupun tujuan dari ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits dengan selera serta kepentingan mereka. Seperti watak yang dimiliki kaum Yahudi, yaitu yuharriful al-kalimah an-mawadi’ih, maka begitulah sikap dan kelakuan kaum Ahmadiyah ini.

Dalam suatu penjelasan atas sebuah hadits yang menerangkan tentang kesudahan Nabi pada Nabi Muhammad, Ahmadiyah menyatakan pendiriannya yang menarik. Lebih dahulu kita ketahui isi hadits tersebut, yaitu:

Permisalan aku dengan Nabi-nabi yang sebelum aku seperti seorang laki-laki yang telah mendirikan sebuah gedung yang indah tetapi ketinggalan satu bata dan mereka bertanya mengapa tidak engkau pasang sebata yang ketinggalan itu. Akulah bata itu dan aku juga kesudahan Nabi-nabi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Apabila Hadits tersebut dipakai oleh ulama-ulama dengan mengkiaskan satu bata itu untuk menyatakan kenabian Muhammad sebagai Nabi terakhir, maka menurut Ahmadiyah, itu adalah satu penghinaan atas diri beliau. Adakah beliau hanya seperti batu bata saja bagi sebuah gedung yang indah bentuknya itu? Jika dimisalkan dengan tiang mungkin juga diterima, tapi jika Nabi Muhammad hanya sekedar batu bata saja, sangat keterlaluan, padahal Nabi Muhammad. lebih dari Nabi-nabi yang lain bahkan dari Malaikat-malaikat sekalipun.

Akhirnya karena itu satu penghinaan pada Nabi Muhammad, maka Ahmadiyah mengajukan satu pembelaan juga. Adapun yang dimaksud dengan satu bata itu, kata Ahmadiyah, ialah syari’at atau Agama. Syari’at yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi yang dahulu merupakan satu gedung yang masih kurang (satu bata, bukan? pen.) maka dengan kedatangan Nabi Muhammad sempurnalah gedung itu.

Yang menarik dari penjelasan Ahmadiyah di atas ialah bahwa satu bata itu jika dimisalkan Nabi Muhammad adalah satu penghinaan. Yang benar, kata Ahmadiyah, bahwa satu bata itu adalah syari’at atau Agama, yakni Agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad. Coba bayangkan bahwa gedung yang indah itu diibaratkan syari’at-syari’at Nabi-nabi yang sebelum Nabi Muhammad. Kemudian karena masih ketinggalan satu bata yaitu masih ada satu lobang bata pada gedung yang indah itu. Maka syari’at Nabi Muhammadlah pengisi lobang sebata itu. Apakah ini bukan penghinaan juga?!

Ataukah ada pengertian lain dari Ahmadiyah, bahwa setiap batu-bata pada bangunan yang indah itu adalah syariat atau agama nabi-nabi sebelum nabi Muhammad. Hal ini perlu kiranya minta bantuan Ahmadiyah untuk menaksir berapa jumlah batu bata yang terdapat pada gedung yang indah itu? Jelasnya berapa puluh ribu syariat atau agama sebelum syariat/agama Islam datang? Apa yang dikatakan Ahmadiyah itu adalah nonsense, omong-kosong. Itu tidak lain satu penghinaan atas diri Nabi Muhammad dan atas syariat yang dibawa beliau.

Selanjutnya Ahmadiyah mengatakan bahwa hadits tersebut adalah dha’if atau lemah dan para perawi dalam hadits itu tidak dapat dijadikan ukuran dan pegangan. Pada akhirnya Ahmadiyah mengatakan bahwa dalam hadits itu ada satu keganjilan yang perlu dipikirkan disini. Kalau hadits itu shahih dan Nabi Muhammad sudah menyempurnakan gedung indah itu sebagai penutup lobang yang tadinya terbuka dengan kedatangan beliau. Dalam gedung yang sudah demikian itu Nabi Isa akan menjadi sebagai apanya? Padahal berdasarkan Al Qur’an dan Al Hadits kita masih menunggu kedatangan Nabi, dalam hadits dikatakan nabi Isa akan datang. Terakhir Ahmadiyah bertanya:

“Kalau kita ibaratkan Nabi Isa sebagai batu-bata pula dalam rangka susunan nabi-nabi, maka dimana batu-bata ini akan ditempatkan dalam gedung yang sudah tak ada lobangnya itu?”

Sekali lagi ulasan Ahmadiyah di atas menarik untuk dibahas. Untuk menjawab pertanyaan: dimana batu-bata Nabi Isa akan ditempatkan dalam gedung yang sudah tak ada lobangnya itu? Ahmadiyah telah menjawab pertanyaan ini, akan tetapi dua jawaban, dari mereka satu sama lain sudah tidak sama. Yang pertama Ahmadiyah menjawab: “Hendaknya dikatakan, masih tinggal dua batu bata lagi yaitu batu-bata nabi Muhammad dan batu-bata nabi Isa yang akan turun di akhir zaman. Jawaban mereka yang pertama ini jelas mengandung satu penghinaan pada nabi Muhammad. Beliau diibaratkan satu bata saja dan beliau disejajarkan dengan satu bata lainnya yakni batanya nabi Isa akhir zaman yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Kemudian pada jawaban yang kedua, Ahmadiyah berkata: “Itulah sebabnya untuk menyempurnakan syariat-syariat para nabi terdahulu itu datanglah nabi Muhammad membawa syariat Al-Qur’an yang sempurna. Yang sempurna itu tak memerlukan lagi perubahan apapun dalam gedung indah itu. Tetapi untuk merawat, mengapur, membersihkan dan menjaga gedung itu diperlukan seorang petugas, dan untuk memelihara kebun dan halamannya diperlukan tukang kebun yang diberi tugas oleh Allah.”

Disini pada jawaban yang kedua, gedung indah itu sudah tidak ada lobangnya lagi sebab sudah terisi dengan Nabi Muhammad. Jadi yang ditanyakan oleh Ahmadiyah, dimana batu bata ini akan ditempatkan dalam gedung yang sudah tak ada lobangnya lagi? Telah dijawab sendiri oleh mereka, sedang Nabi Isa itu hanya tukang kapur, tukang sapu, tukang kebun dan tukang rawat atas gedung indah itu. Apa tidak kurang kalau hanya seorang tukang yang merangkap segala pekerjaan atas gedung yang indah itu? Salah-salah Tukang itu (Mirza Ghulam Ahmad) bisa kelabakan, letih dan sakit-sakitan, bukan begitu? Memang ternyata demikian keadaan si tukang Mirza Ghulam itu sebelum kematiannya. Ia sakit-sakitan saja dan kelak kita akan mengetahui betapa hebatnya sakitnya dan betapa pula effeknya terhadap tugasnya itu.

Dengan jawaban yang pertama yaitu bahwa seharusnya ada dua batu-bata pada gedung indah itu, dan pada jawaban yang kedua, bahwa sudah tidak ada lobang untuk pengisian satu bata iagi, sehingga Nabi Isa (Mirza Ghulam) bukan lagi satu batu-bata melainkan hanya tukang kebun dan lain-lain itu, di sinilah Ahmadiyah berbeda jawab satu dengan yang lainnya.

Lebih menarik lagi kalau kita terus memperhatikan ulasan Ahmadiyah atas hadits tersebut di atas. Sebagaimana tersebut Ahmadiyah menyatakan bahwa hadits itu adalah dha’if dan dengan sendirinya tidak dapat dijadikan hujjah dan pegangan. Kalau sudah dinyatakan dha’if buat apa dipakai dan diperpanjang uraiannya bertele-tele?! Dha’if ya sudah, tidak perlu lagi. Akan tetapi rupa-rupanya tidak demikian yang diniatkan oleh Ahmadiyah. Sebab hadits itu masih dipakainya dan kemungkinan untuk terlaksananya satu pengisian batu-bata pada lobangnya masih diharapkan dan dipastikan ada.

Untuk ini lebih tepat kalau kita mendengar langsung ucapan yang disampaikan oleh Mirza Ghulam Ahmad sendiri. Ia berkata tentang hadits di atas:

“Adalah golongan Nabi-nabi yang diibaratkan satu gedung itu kekurangan satu batu-bata, maka Allah akan cukupkan dan sempurnakan gedung itu dengan satu bata yang akhir. Maka akulah bata yang terakhir itu, hai orang yang melihat!” Sungguh tragis bukan?!. (Amadiyyah Telanjang Bulat di Panggung Sejarah, Abdullah Hasan Alhadar, PT. Alma’arif, Cetakan Pertama 1980).

Daftar Pustaka:

1. Majmu` Fatawa, Ibnu Taimiyyah

2. Al Adab Asy Syar`iyyah, Ibnu Muflih

3. Asyrathus Sa`ah, Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al Wabil

4. Syarh Aqidah Al Wasithiyyah, DR. Shalih Fauzan bin Abdullah Al Fauzan

5. Al Aqidah Al Islamiyyah, Syaikh Hasan Habanakah

6. Ahammiyatul Jihad, DR. Nufai` Al Ulyani

7. Al Mausu`ah Al Muyassarah, WAMY

8. Jaringan Konspirasi Menentang Islam, DR. Sa`duddin As Sayyid Shalih

9. Ahmadiyyah Telanjang Bulat di Panggung Sejarah, Abdullah Hasan Alhadar

10. Dirosatul Firaq, Tiem Ulin Nuha Ma`had Aly An Nuur-Surakarta

11. Ahmadiyyah, Kepercayaan-kepercayaan dan Pengalaman-pengalaman, DR. Hasan bin Mahmud Audah.

12. Majalah Sabili, no.2 Th. XIII, 11 Agustus 2005- Rajab 1426 H


[1] Diantara sifat-sifat Al Mahdi yang di terangkan oleh Rasulullah Shalallahu `alaihi wa Salam adalah:

1) Beliau akan membagi harta sama rata.

2) Beliau menegakkan agama Islam pada akhir zaman sebagaimana Rasulullah Shalallahu `alaihi wa Salam menegakkannya pada pertama kali.

3) Beliau akan menegakkan keadilan.

4) Beliau akan berperang melawan oramg-orang kafir berdasarkan sunnah Rasulullah Shalallahu `alaihi wa Salam.

5) Penduduk bumi dan langit ridla dengan kekhalifahannya. (Kitab Asyrathus Sa`ah, Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al Wabil, hal. 252-256). Wallahu A’lam bish Shawab.

3 responses to “Pendukung Ahmadiyah Lebih Berbahaya

  1. Usamah Abdul Latif

    Assalamu alaikum,..

    Saya seratus persen yakin..Anda menjabarkan Ahmadiyah hanya dari satu sumber yaitu PARA MUSUH AHMADIYAH. Anda tidak mencoba tahu Ahmadiyah dari Sumber Aslinya yakni PARA AHMADI DAN ORANG2 YANG JUJUR TENTANG KEBENARAN DAKWAH AHMADIYAH.

    Jazakumullah;
    Usamah.

  2. Ehmmm…ndak juga pak, saya sudah melaksanakan debat terbuka dengan Pimpinan Muballigh Ahmadiyah Propinsi Jawa Tengah di Karang Gede, Boyolali, hasilnya ya sebagaimana yang telah saya tulis di atas. Thank’s.

  3. ahmadiyah aja di denger..penggal aja kepalanya satu2… ahmadiyah itu bukan agama..tapi setan beragama setan. no compromise to you!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s