Indonesia Mengundang Azab Allah

JAKARTA Terdakwa kasus insiden Monas 1 Juni lalu Habib Rizieq dan Munarman, melalui kuasa hukumnya, melaporkan ke Komnas HAM perihal dilarangnya keluarga dan kerabat mengunjungi keduanya di tahanan Polda Metro Jaya.

“Padahal dalam KUHP dan peraturan penjara pun memperbolehkan tahanan bertemu dengan keluarga atau kerabat,” ujar kata kuasa hukum Habib Rizieq dan Munarman, Syamsul Bahri Radjam di Komnas HAM, Jalan Latuharhari, Jakarta, Senin (27/10/2008).

Syamsul menceritakan, 23 September kemarin, keluarga Habib Rizieq serta anggota FPI datang ke penjara untuk menjenguk Habib Rizieq dan Munarman, tapi mereka tidak diperbolehkan bertemu langsung.

“Istri dan anak Habib Rizieq sampai harus berjemur seharian untuk menunggu izin bertemu. Tapi sampai sore, izin tersebut tidak keluar. Bahkan kerabat Rizieq, ustad Abu, yang datang dari Solo juga tidak diperbolahkan bertemu,” ujarnya lagi.

Lebih lanjut Syamsul pun mencium adanya intervensi dari pihak tertentu untuk tidak memperbolehkan Habib Rizieq dan Munarman menerima kunjungan dan berinteraksi dengan dunia luar. “Larangan ini mencerminkan bahwa pihak kepolisian tidak profesional,” tegasnya.

Selain hak untuk bertemu dilarang polisi, kabarnya Habib Rizieq dan Munarman juga dilarang untuk melakukan salat. Salah satu murid Rizieq, ustad Tubagus, mengatakan bahwa sejak malam takbiran ada indikasi pelarangan ibadah karena Rizieq dan Munarman dilarang untuk melakukan takbiran di penjara.

“Saya mendengar bahwa ada penarikan sarung bagi tahanan lain yang mengikuti pengajian Habib Rizieq dan Munarman di tahanan. Masak beribadah saja juga dilarang,” keluhnya.

Sedangkan komnas HAM melalui wakil ketuanya, M.Ridha Saleh, mengatakan bahwa pihaknya akan segera meminta klarifikasi dan mengirimkan surat ke Polda atas kejanggalan yang terjadi.

“Hari ini kami langsung membuat dan mengirim surat keterangan ke Polda,” ujarnya.

2 responses to “Indonesia Mengundang Azab Allah

  1. Sekitar 16% Mahasiswa di Surabaya Pernah ‘intercouse’ – Brawijaya Forum – (1)
    Brawijaya Forum / Serba Serbi / Sekitar 16% Mahasiswa di Surabaya Pernah ‘intercouse’
    . 1 . 2 . 3 . >>
    Pencetus Tulisan
    bajul lanang
    # Postingan: 22 Apr 2007 03:49

    Perbedaan orangtua dan anak bukan terletak pada usia saja. Pergaulan di masa remaja mereka pun berbeda. Tiga puluh tahun lalu, masih jarang terlihat anak laki-laki menggandeng tangan kekasihnya di depan umum. Begitu pula anak perempuan yang dipeluk kekasihnya di taman hiburan.

    Gaya bergaul konvensional tersebut juga dipengaruhi nilai-nilai sosial dan budaya yang masih kuat dipegang di masa itu. Ragam media dan keterbukaan informasi masih terbatas. Tidak ada internet atau majalah terjemahan. Tak heran, bila perilaku remaja juga terkesan sangat konvensional dibandingkan saat ini.
    Namun, jangan berharap kondisi ini masih dirasakan di zaman milenium. Pengaruh nilai sosial dan budaya dalam kehidupan remaja saat ini sudah mulai bergeser. Tak ayal, pergaulan remaja juga berubah. Yang dulunya terkekang, sekarang sangat bebas. Termasuk di dalamnya, kehidupan seksual.

    Bagaimana dengan remaja di Surabaya? Kelompok Studi Kesehatan Reproduksi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (KSKR FK Unair) setahun lalu melakukan penelitian mengenai hal ini. Pada praktiknya, tim peneliti merupakan gabungan dosen dari beberapa bidang ilmu yaitu Bagian Biomedik, Obstetri Ginekologi, Andrologi, Mikrobiologi, Ilmu Kesehatan Masyarakat Unair, Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Pusat Penelitian Kesehatan Reproduksi, Antropologi Kesehatan FISIP Unair, dan MIPA Unipa.

    Mengambil sampel 1.098 remaja usia 18-21 tahun di lima perguruan tinggi di Surabaya, penelitian deskriptif ini dilakukan pada pertengahan tahun 2005-2006. Untuk hasil yang lebih akurat, penelitian ini dibedakan antara mahasiswa (533 orang) dan mahasiswi (565 orang). Bertindak sebagai Ketua Penelitian Mahasiswa, dr Aucky Hinting PhD dan Ketua Penelitian Mahasiswi, Prof dr Jusuf Barakbah SpKK (K).

    Sedangkan, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi kesehatan reproduksi pada kelompok risiko rendah (selain pekerja seks komersial), termasuk perilaku seksual pra nikah.
    “Kami menghubungi para pimpinan lima universitas itu untuk memberi daftar nama mahasiswa yang akan kami teliti atau responden,” ujar dr Sri Musta’ina MKes, dosen Bagian Biomedik FK Unair yang bertindak selaku peneliti juga, Kamis (19/4).

    Kemudian, mereka diberi penjelasan tentang prosedur dan teknik penelitian. Seminar yang materinya terkait dengan penelitian juga digelar bagi calon responden. Siapa yang mau untuk ikut serta dalam penelitian harus membubuhkan tanda tangan terlebih dulu. “Seminar tersebut kami maksud untuk membuka dan menambah wawasan mereka tentang bahaya penyakit seksual menular. Sebab pengetahuan mereka mengenai hal tersebut masih rendah,” imbuh Sri Musta’ina yang lebih akrab dipanggil Ina ini.

    Berikutnya, definisi hubungan seksual yang mereka teliti adalah hubungan yang menimbulkan penetrasi antara dua pihak yang melakukannya. Selain aktivitas seksual lainnya seperti ciuman di pipi, bibir, atau dada, berpelukan dan petting (menggesekkan alat kelamin), oral seks, dan anal seks.

    Hasilnya, sangat mengejutkan. Dari seluruh responden laki-laki, 16,3 persen (87 orang dari 533) sudah pernah melakukan hubungan seks atau intercourse. Mahasiswa yang melakukan oral seks 76 orang (14,3 persen), anal seks 27 orang (5,1 persen). Sedangkan yang memilih petting untuk memuaskan nafsu seksual mereka sebanyak 117 orang (22 persen). Sementara, 37 dari 565 perempuan (6,5 persen) sudah pernah melakukan hubungan seks. Oral seks 31 orang (5,5 persen) dan anal seks 14 orang (2,5 persen). Petting juga diminati, sebanyak 55 orang (9,7 persen) melakukannya.

    Separo dari mereka juga sering melakukan ciuman di bibir yang memicu terjadinya hubungan seksual, laki-laki 263 orang (49,3 persen) dan perempuan 243 orang (43 persen).

    Cara melakukan pun bervariasi, terutama pada mahasiswa. “Seluruh mahasiswi melakukan hubungan atau aktivitas seksualnya bersama lawan jenis yang tercatat sebagai kekasihnya sendiri,” terang dr Dyan Pramesti, dosen Bagian Biomedik FK Unair yang bertindak selaku peneliti yang ditemui di Ruang Dosen Biomedik FK Unair. Tetapi, kalau mahasiswa, ada yang melakukan dengan sesama jenis (enam orang) atau biseksual (enam orang) yaitu bersama lawan jenis dan sekaligus sesama jenis.

    Ada 11 orang yang berhubungan seksual dengan PSK, serta dengan sesama jenis (male homosexual) tujuh orang.

    Penelitian ini juga mengungkapkan mulai usia berapa mereka melakukan hubungan seksual. Ternyata, pada mahasiswa, 35,6 persen atau 31 dari 87 orang melakukannya ketika masih duduk di bangku SMP yaitu usia 13-15 tahun. Lebih sedikit di atasnya, 47,1 persen (41 orang) di usia 16-18 tahun.

    “Mereka ini rentan terkena infeksi penyakit kelamin. Sayangnya, masih ada saja mahasiswa yang tidak peduli peran penting penggunaan kondom ketika berhubungan seksual,” tegas Dyan. Melalui kuisioner yang disebarkan, ada saja mahasiswa yang tidak tahu mengenai hal ini, yaitu 81 orang (15,4 persen).

    Kalau mereka sudah tahu terkena penyakit infeksi kelamin pun masih jarang yang memeriksakan diri ke dokter atau menjalani konseling. Hanya separo dari masing-masing jumlah responden (laki-laki atau perempuan) yang minum obat antibiotik atau sekitar 250 orang.
    http://www.surya.co.id/web/index.php?option=com_co ntent&task=view&id=7261&Itemid=73

  2. KAYAKX INDONESIA KURANG DI PERHATIKAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s