Orang Miskin Dilarang Sekolah

Sekolah sarana untuk membanggakan kekayaan? Setidaknya itulah yang terdetik dalam diri saya, ketika saya memasuki pintu gerbang kampus di mana saya mengambil S2 di dalamnya. Dari mahasiswa yang jalan kaki, naik sepeda ontel, ngebis, sepeda motor (dari yang tahun 80-an sampai yang harganya puluhan juta), dan naik mobil pribadi yang harganya jutaan hinggan ratusan juta (seperti Innova, dan lainnya). Itulah pemandangan kampus setiap harinya, yang terlupakan oleh ribuan mahasiswa, dan ratusan dosen, dari S1 hingga Profesor.

Bukan hanya itu saja, Fakultas-fakultas tertentu juga menunjukkan ‘kebanggaan pada kekayaan’. Sebut saja, misalnya Fakultas Kedokteran, yang harus membayar sekian puluh juta untuk membayar uang pangkal jika ingin memasukinya. Mungkin bagi sebagian mahasiswa yang ingin memasukinya, tapi karena melihat begitu mahalnya uang yang harus mereka setorkan, niat tersebut pun di urungkan.

Seorang wali mahasiswa di sebuah PTS di kota sola pernah mengeluhkan kepada saya sikap anaknya yang ingin membanggakan kekayaan orang tuanya di hadapan teman-temannya. Padahal orang tuanya telah membelikan untuknya sepeda motor Ninja seharga Rp. 22.000.000,- untuk kebutuhan kuliahnya, tapi anaknya sering merengek-rengek kepadanya agar dirinya dibolehkan membawa mobilnya ke kampus.

Sepertinya penyakit ini, juga tidak menimpa para pelajar dan mahasiswa, tapi juga menimpa para pendidik, pengajar, dan dosen. Sepertinya kurang enak dipandang mata, jika seorang pegawai negeri yang telah lama menjadi abdi Negara dengan gaji yang besar, belum memiliki mobil, atau sepeda motor keluaran terbaru. Rasanya kurang Pede (ke-pede-an) jika berangkat mengajar naik bis, atau sepeda motor keluaran tahun lama. Juga para dosen, mungkin merasa risih jika kendaraan yang mereka tumpangi kalah dengan kendaraan-kendaraan mahasiswa mereka.

Inilah realita/penomena pendidikan kita di Indonesia. Akhirnya ketika kelak mereka menjadi pejabat, mereka tidak puas dengan gaji sedikit yang mereka terima, inginnya lebih banyak dan lebih banyak lagi. Jalan pintas pun di tekuni, suap, nopotisme, korupsi, dan yang lainnya menjadi budaya yang sulit untuk dihapuskan dan dihilangkan.

Sekali lagi saya katakan ini adalah musibah, yang akan menghancurkan kwalitas pendidikan Indonesia di masa yang akan datang.

Karenanya marilah kita belajar Tawadhu’ dan melihat ke bawah. Dengan budaya ini kita akan hidup bahagia dan tidak terbebani dengan kemewahan-kemewahan dunia yang tidak mungkin untuk kita capai dan kita raih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s