Selamat ‘Bertempur” Wahai Calon “Pendekar-Pendekar” Parlemen

Beberapa kesalahan dan ketergelinciran tidak langsung setelah menjadi anggota parlemen dan melaksanakan tugas sebagai anggota lembaga penetap undang-undang

Ada beberapa kesalahan tidak langsung dari kegiatan parlemen demokrasi, yang paling penting adalah ;

Pertama. Mengkaburkan pemahaman dan makna syahadat tauhid laa ilaaha illa Allahu “ di benak dan kehidupan kaum muslimin.

Laa ilaaha illa Allah maknanya adalah tidak ada yang berhak diibadahi di alam raya ini selain Allah ta’ala, juga berarti kufur kepada thaghut dan penghacnuran terhadap segenap berhala dan paganisme —apapun bentuk dan jenisnya—yang diibadahi selain Allah Ta’ala. Keimanan seseorang tidak akan sah dan amalannya tidak akan diterima kecuali setelah ia merealisasikan syarat kufur kepada thaghut dan melaksanakan syahadat tauhid dengan pemahaman di atas, baik secara keyakinan, ucapan maupun perbuatan.

Namun, demokrasi justru menanamkan hal yang sebaliknya dalam benak dan realita kehidupan masyarakat. Demokrasi menetapkan uluhiyah (hak untuk diibadahi) untuk makhluk, peribadahan makhluk kepada makhluk, menetapkan banyak tuhan yang diibadahi selain Allah Ta’ala, dan juga menetapkan keabsahan dan kebebasan adanya banyak tuhan yang diibadahi selain Allah Ta’ala.

Bagaimana seseorang yang hidup di dalam realita kehidupan yang saling bertabrakan seperti ini, harus mengumpulkan antara kewajiban bertauhid dengan demokrasi yang memaksa dirinya untuk —minimal — mengakui keabsahan dan kebebasan adanya banyak tuhan-tuhan palsu yang diibadahi selain Allah Ta’ala ?[1]

Ini jelas pengkaburan terhadap hakekat agama ini, terlebih lagi ketika ide perjuangan lewat demokrasi tersebut dilontarkan oleh para syaikh dan da’i. Pada saat itu, anda tidak perlu bertanya lagi seberapa parahnya kerusakan yang akan menimpa agama dan akidah umat Islam !!!

Di antara bentuk pengkaburan keji yang disengaja ini adalah apa yang dilakukan oleh banyak pemerintahan keji dan hina yang melakukan usaha-usaha pengkaburan akidah rakyat secara sistematis, dengan menanamkan dan mewajibkan demokrasi kepada rakyat, bukan karena pemerintah komitmen dan mencintai demokrasi, melainkan demi menarik dukungan dan bantuan finansial dari negara-negara salibis Barat yang mensyaratkan kehidupan berdemokrasi bagi negara yang membutuhan bantuan !!!!

Para thaghut yang dzalim ini mengingatkan kita dengan para orang tua yang dzalim, yang menampakkan anaknya dalam keadaan compang camping demi mendapatkan sedekah dari masyarakat.

Walau bagaimanapun, mengkaburkan akidah dan pengetahuan umat Islam demi meraih bantuan finansial dari negara-negara salibis Barat, tentu jauh lebih keji dan berdosa dari menampakkan anak-anak dalam kondisi compang camping dengan tujuan mendapatkan belas kasihan dan sedekah dari masyarakat.

Kedua : Meniadakan prinsip amar ma’ruf nahi mungkar

Di antara bentuk kesalahan dalam dunia demokrasi —apalagi ketika ide berjuang lewat demokrasi dilontarkan oleh para ulama dan da’i— adalah peniadaan prinsip memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah perbuatan mungkar dari benak dan realita kehidupan maanusia. Penyebabnya, demokrasi —sebagaimana telah diterangkan —dibangun di atas kemungkaran, melindungi kemungkaran, dan mensucikan kebebasan berbuat mungkar. Setiap bentuk pengusikan terhadap kemungkaran, berarti juga mengusik demokrasi dengan segenap kaedah-kaedah bakunya !!!

Anda, wahai seorang muslim, bisa membayangkan dan memperkirakan seberapa besar kerusakan, kekacauan dan kehancuran yang akan mengenai masyarakat luas ketika mereka telah kehilangan prinsip menyuruh kepada kebajikan dan melarang dari perbuatan yang mungkar.

Ketika umat Islam telah meninggalkan kewajiban memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah perbuatan mungkar, secara otomatis umat Islam telah kehilangan sifat istimewa yang dikaruniakan Allah Ta’aa kepada mereka, yaitu sifat sebagai umat pilihan di antara seluruh umat manusia. Bahkan, umat Islam juga akan kehilangan tujuan dan alasan eksistensi mereka di atas dunia ini. Allah Ta’ala berfirman :

“ Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran :111).

Umat Islam dijadikan sebagai umat pilihan dan terbaik di antara seluruh umat manusia yang ada, dikarenakan umat Islam melaksanakan kewajiban memerintahkan kepada yang makruf dan mencegah dari perbuatan mungkar, karena umat Islam menjalankan perannya sebagai penjaga terpercaya yang menjaga masyarakat dari kerusakan dan kehancuran, serta karena umat Islam menggiring masyarakat menuju negeri keselamatan dan kebaikan. Ketika umat Islam telah kehilangan ciri khusus dan peran yang telah dikaruniakan kepada mereka ini, otomatis umat Islam telah kehilangan ciri khasnya sebagai bangsa terbaik dan pilihan, kehilangan peran kepemimpinannya atas seluruh bangsa dan masyarakat dunia, yang memang telah terlebih dahulu kehilangan prinsip agung ini sejak rentang waktu yang lama sehingga kehidupan mereka bagaikan kehidupan binatang yang tunduk dibawah arahan hawa nafsu, naluri dan dorongan syahwatnya tanpa bisa melepaskan diri darinya. Mereka kehilangan sifat sebagai bangsa pilihan dan pemimpin setelah mereka beribadah kepada makhluk, dan mereka rela menjadikan sebagian mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah Ta’ala !!!!

Ketiga : Meniadakan prinsip wala’ dan bara’

Di antara bentuk kerusakan yang ditimbulkan oleh aktivitas dewan legislatif adalah peniadaan prinsip wala’ dan bara’, serta hilangnya prinsip memisahkan diri dan menjauhi kebatilan dan para pembelanya, dikarenakan kedua belah pihak duduk sama rendah, hidup bersama dengan penuh damai karena semua pihak telah dipersatukan di atas akidah nasionalisme, atau persamaan daerah, suku, marga, bangsa, partai atau hal-hal jahiliyah lainnya.

Yang penting, — menurut mereka — adalah peniadaan konsep wala’ dan bara’ atas dasar iman kepada Allah, ketaqwaan dan amal sholih. Demikian juga peniadaan konsep pembedaan antara warga negara dengan dasar perbedaan antara orang beriman dan orang kafir, antara orang yang mendapat petunjuk dan orang yang tersesat. Bagi mereka, baik orang beriman maupun orang kafir, selama masih satu tanah air dan mencintai tanah air, semuanya bersaudara.[2]

Anda tentu akan heran dengan perkataan tokoh yang saya sebutkan di sini, di mana fitnah yang ditimbulkannya lebih merajalela melebihi kemasyhuran namanya. Dalam bukunya yang berjudul “Aulawiyyatu Al-Harakah Al-Islamiyyah” (Prioritas pergerakan Islam), ia menulis :

Saya masih ingat ketika beberapa tahun yang lalu saya diundang untuk ikut menjadi pembicara dalam sebuah seminar tentang kebangkitan Islam dan cita-cita nasionalisme arab, yang diadakan oleh Yayasan Pemikiran Arab di ibukota Yordania, Oman. Seminar ini dihadiri oleh umat Islam, orang-orang Nasrani, orang-orang komunis dan orang-orang nasionalis dari berbagai elemen masyarakat dan pemikiran yang majemuk. Di antara yang tidak bisa saya lupakan adalah apa yang dikatakan oleh sebagian saudara yang ikut serta dalam seminar tersebut, yaitu seorang Nasrani nasionalis yang mengatakan kepada saya saat kami sedang makan siang ; Setelah melewati perjalanan waktu yang agak lama, pikiran kami tetang anda telah berubah. Saya bertanya ; memang apa pikiran anda tentang saya sebelum ini ? Ia menjawab ; Anda seorang fanatik ekstrim. Saya bertanya : Dari mana anda mendapatkan kesimpulan itu tentang diri saya ? Ia menjawab ; Saya juga tidak tahu, namun terus terang itulah perasaan kami tentang anda. Saya bertanya ; Sekarang ? Ia menjawab ; Setelah secara langsung mendengar, melihat, berdialog dan bergaul rapat dengan anda, seluruh pikiran dzalim tentang anda yang selama ini kami pegang ternyata luntur. Ternyata anda seorang yang menghormati dialektika, menggunakan logika, mau mendengar sudut pandang pihak yang tidak sependapat, tidak apatis dan otoriter, bahkan anda lebih fleksibel dan toleran dibanding yang lain !!!![3]

Si ulama yang doktor ini lupa, bahwa ukhuwah (persaudaraan) yang i ajalin dengan si musyrik Nasrani nasionalis yang mempunyai kekafiran ganda dan berat itu, sebenarnya tidak boleh ia jalin kecuali dengan sesama umat Islam yang beriman dan bertauhid. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

“ Sesungguhnya saudara orang beriman hanyalah orang beriman.” (QS. Al Hujurat :10).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan Nasrani menjadi kawan dekat(mu); sebahagian mereka adalah kawan dekat bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. (QS. Al Maidah :51).

Ikatan apakah yang lebih kuat dan lebih erat, melebihi ikatan persaudaraan ?

Imam Muhammad bin Sirin berkata,” Abdullah bin Utbah berkata,” Takutlah, jangan sampai salah seorang di antara kalian menjadi orang Yahudi atau Nasrani tanpa ia sadari.” Imam Muhammad bin Sirin berkata,” Maksud beliau adalah ayat “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan Nasrani menjadi kawan dekat(mu); (QS. Al Maidah :51).[4]

Si ulama yang doktor ini juga lupa, bahwa pujian, kerelaan dan kekaguman si Nasrnai nasionalis kepada dirinya sebenarnya adalah sebuah celaan dan bukti bahwa dirinya sudah menyeleweng dari kebenaran dan tauhid, tanda bahwa ia telah mengikuti orang kafir dalam sebagian kebatilan mereka sehingga mereka meridhainya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah:”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. Al Baqarah 2:120)

Keridhaan orang yahudi, Nasrani dan orang-orang kafir lainnya terhadap seorang muslim —berdasar ayat di atas — merupakan bukti bahwa si muslim sudah menyimpang dari kebenaran dan tauhid, bukti ia telah mengikuti kebatilan mereka. Ini seharusnya menjadikan si muslim menuduh dan mengoreksi dirinya, di mana posisinya dari dien Allah Ta’ala ini, bukannya justru menggunakan pujian mereka kepadanya sebagai bukti (ia berada di atas kebenaran).!!!

Keempat : Meniadakan prinsip jihad fi sabilillah

Karena sebagai konskuensi kehidupan berdemokrasi dan dewan legislatif adalah menyepakati dan ridha dengan prinsip perubahan pemerintahan dan terjadinya perubahan kepemimpinan melalui kotak suara pemilihan umum. Ini berarti meniadakan dan menganggap keji prinsip jihad fi sabilillah yang telah diperintahkan oleh Allah Ta’ala dalam ratusan ayat-ayat Al Qur’an dan As Sunah.

Demokrasi dan aktivitas di dewan legislatif diajukan sebagai pengganti dari jalan jihad fi sabilillah. Karena itu, orang-orang yang mendukung demokrasi merupakan orang yang paling memusuhi jalan penggunaan kekuatan atau program jihad manapun. Mereka adalah orang yang pertama kali berada dalam barisan penentang aktivitas jihad apapun karena bertentangan dengan jalan demokrasi yang telah diridhai oleh umat Islam —menurut persangkaan mereka —-[5]

Sebuah umat yang meniadakan jalan jihad fi sabilillahdari aqidah, tsaqafah, tarbyah dan sarana tarbiyah, sudah sangat wajar bila akan berada dalam pojok-pojok panggung kehidupan dan sejarah, sangat pantas untuk hidup hina, terjajah dan lemah dengan segala akibatnya, sehingga menjadi santapan lezat nan mudah bagi musuh-musuh yang kuat. Kehinaan dan keterjajahan yang dialami oleh umat Islam saat ini dalam segala aspek kehidupan, tak lain dikarenakan telah lengket dengan kehidupan dunia dan meningggalkan jihad fi sabilillah.

Allah Ta’ala berfirman :

Katakanlah:”Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. 9:24)

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa salam bersabda :

Jika kalian telah berjual beli dengan ‘ienah (salah satu bentuk jual beli yang mengandung unsur riba), mengikuti ekor sapi, puas dengan pertanian da meninggalkan jihad, Allah Ta’ala akan menimpakan kehinaan kepada kalian yang tidak akan diangkat, sampai kalian kembali kepada dien kalian.”[6] Maksudnya, kembali kepada jihad fi sabilillah yang telah kalian tinggalkan.

Kelima : Memecah belah barisan umat Islam dan melemahkan kekuatan mereka[7]

Jika keikut sertaan dalam aktivitas demokrasi tidak membawa dampak negatif selain dampak terpecah belahnya kaum muslimin dalam berbagai partai yang saling bertolak belakang disebabkan adanya perbedaan pendapat di antara mereka tentang keabsahan ikut serta dalam demokrasi dan perhitungan keuntungan yang mungkin bisa diraih bila dibandingkan sekian banyak kerusakan yang tidak mungkin bisa dihindari, satu dampak buruk ini saja sudah cukup untuk mencegah umat Islam meneruskan perjuangan lewat jalan yang gelap dan dikelilingi oleh berbagai ketergelinciran dan perbuatan terlarang ini.

Jika orang yang tidak sependapat tetap menerima jalan demokrasi, maka keikut sertaan dalam dewan legislatif menurut mereka tidak lebih dari sebuah amalan mubah. Padahal, persatuan kaum muslimin dan berpegang teguhnya mereka dengan tali Allah Ta’ala adalah sebuah fardhu ‘ain yang ditegaskan oleh Al Qur’an dan As Sunah. Bagaimana sebuah amalan mubah yang bila tidak dilakukan tidak berdosa didahulukan atas sebuah fardhu ‘ain, yang telah pasti bila ditinggalkan akan berdosa dan diancam dengan siksa di hari akhirat nanti ????

Kesimpulan Hukum Islam Tentang Keikut Sertaan dalam Dewan Legislatif dan Anggota Dewan Legislatif

Inilah beberapa kesalahan baik langsung maupun tidak langsung yang timbul sebagai akibat dari keterlibatan dalam demokrasi dan kegiatan di dewan legislatif. Berdasar berbagai kesalahan inilah, kami akan menerangkan hukum Islam tentang keikut sertaan dalam dewan legisatif dan status si anggota dewan legislatif. Kami katakan ;

Sesungguhnya keikut sertaan dalam dewan legisatif —melihat kepada kesalahan-kesalahan aqidah dan syariah yang telah disebutkan di atas— adalah sebuah kekafiran yang nyata terhadap dien Allah Ta’ala. Tidak boleh terlibat di dalamnya dengan alasan apapun. Menyelisihi pendapat ini tidak akan dilakukan kecuali oleh orang yang tidak memahami dien Allah dan memahami realita sesungguhnya.

Adapun para anggota dewan legislatif —yang berasal dari arah perjuangan Islam — yang menempuh jalan yang kelam ini ; bila syubhat dan takwil (kerancuan dan ketidak mengertian mereka terhadap dien Islam dan realita demokrasi—pent) mereka, mengalahkan (lebih dominan dari) kesalahan dan ketergelinciran mereka, maka kami berpendapat tidak mengkafirkan si anggota dewan ini (takfir ‘aini) —dengan tetap mengatakan perbuatan dan jalan yang ditempuhnya adalah sebuah kekafiran—, sampai tegak hujah syariat kepadanya yang mengugurkan ketidak mengertiannya akan berbagai kesalahan dan ketergelinciran yang telah dilakukannya.

Adapun anggota dewan yang kesalahan-kesalahan dan ketergelincirannya lebih dominan dari syubhat, ta’wil dan dalil-dalilnya, dan ia sudah tidak mempunyai ta’wil yang masih dibenarkan oleh syariat karena begitu parahnya kesalahan dan ketergelincirannya, serta begitu jelasnya kekafirannya…maka ia bisa dikafirkan karena tiada mempunyai mawani’u takfir dan syarat-syarat takfir teelah terpenuhi. Statusnya sebagai seorang anggota dewan yang berarah perjuangan Islam atau dicalonkan oleh partai Islam, tidak bisa menyelamatkanya dari statusnya sebagai seorang yang telah kafir.[8]

Adapun kaum muslimin yang ikut memberikan suara dan memilih anggota dewan atau sebagian anggota dewan, maka hukum mereka sebagai berikut :

1- Perbuatan mereka. Perbuatan tersebut merupakan perbuatan kafir kepada dien Allah Ta’ala karena mengandung sikap ridha dan menyetujui uluhiyah (peribadahan / penuhanan) makhluk dan aktivitas dewan legislatif dengan segala kesalahan aqidah dan syariah yang telah dijelaskan di muka.

2- Adapun si pelaku, maka ada dua kondisi. Kondisi di mana si pelaku telah kafir, dan kondisi di mana si pelaku belum kafir karena masih ada udzur dan ta’wil.

Kondisi di mana pelakunya telah kafir ; Yaitu ketika kita mendapati ia —baik dengan ucapan maupun perbuatan— telah mengetahui tugas sesungguhnya dari seorang anggota dewan legislatif, mengetahui kesalahan-kesalahan, penyelewengannya dan penentangannya terhadap syariat Islam, lalu setelah itu ia seccara sukarela tanpa paksaan tetap memberikan suaranya kepada anggota dewan. Maksudnya, ia masih tetap saja memberikan suara (lewat pemilihan umum —pent) kepada anggota dewan sebagai seorang yang berhak menetapkan undang-undang selain Allah ta’ala. Pelaku seperti ini bisa dikafirkan.

Kondisi di mana si pelaku belum kafir, karena masih ada udzur dan ta’wil, sampai saat tegaknya hujah syariat kepadanya yang menghilangkan ketidak tahuannya. Mereka adalah mayoritas masyarakat awam yang ikut dalam pemilihan anggota dewan ini. Ini ketika kita mendapati mereka —lewat ucapan maupun perbuatan —tidak mengetahui hakekat tugas seorang anggota dewan legislatif, tidak mengetahui kesalahan-kesalahan yang diakibatkan oleh keterlibatan dalam dewan legislatif, dan bahkan yang mereka tahu adalah gambaran yang baik tentang demokrasi yang mereka dengar dari para juru kampanye dan ulama pendukung demokrasi. Mereka memberikan suaranya dalam pemilihan umum berdasar gambaran dari para ulama pendukung demokrasi ini. Orang seperti ini tidak bisa dikafirkan, bahkan yang harus dilakukan adalah mengajari dan menerangkan hal yang sebenarnya kepadanya sehingga tegak hujah kepadanya. Mengkafirkan kelompok masyarakat jenis kedua ini secara umum tanpa merinci kondisi mereka, termasuk dara kategori sikap ekstrim yang tercela, terlalu berani terhadap Allah Ta’ala dan dien-Nya tanpa landasan ilmu. Walhasil, akibatnya pun tidak akan terpuji.

Karena itu kami tidak sependapat dan tidak ridha dengan fatwa-fatwa yang cenderung tergesa-gesa dari sebagian ikhwah yang terlalu bersemangat, yang mengkafirkan secara umum orang-orang yang memberikan suara atau terlibat pemilihan umum, tanpa memperhatikan ulang maqashid (niat) masyarakat.!!![9]

Karena masalah takfir dalam kasus ini cukup njlimet —sebagaimana telah dijelaskan di atas—, membutuhkan ilmu, ketaqwaan, kesungguhan, penelitian, tarjih dan pengetahuan tentang realita sesungguhnya, saya berpendapat tidak boleh bagi seorang pemula dalam ilmu ini untuk mengeluarkan fatwa dan hukum takfir atas personal-personal masyarakat. Saya berpendapat, yang selamat bagi seseorang dan diennya adalah mencukupkan diri dengan mengkafirkan persoalan (demokrasi dan dewan legislatif) sebagai sebuah persoalan (perbuatan) dan megkafirkan keterlibatan dalam demokrasi dan dewan legislatif.

Jika terjadi kondisi darurat —dan hal itu pasti terjadi — yang menuntut untuk mengetahui hukum Islam tentang orang tertentu karena kerusakan dan bahaya yang ditimbulkannya (dalam kasus perjuangan lewat demokrasi, pemilihan umum dan dewan legislatif ini—pent), hendaklah ia bertanya kepada para ulama. Merekalah rujukan saat bertanya dan meminta fatwa, sebagaimana firman Allah Ta’ala ;

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, (QS. 16:43)

Hal ini bukan termasuk kategori tidak mengkafirkan orang kafir yang seharusnya diwajibkan, sedangkan “ siapa yang tidak mengkafirkan orang kafir atau ragu-ragu terhadap kekafiran mereka, berarti ia juga telah kafir”. Tidak, tidak demikian. Permasalahan ini termasuk dalam pembahasan menahan diri dari terlalu dalam berbicara tanpa landasan ilmu dalam hal-hal yang masih mutasyabih dan belum jelas. Dan, keselamatan menuntut untuk tidak menceburkan diri dalam perkara yang tidak bermanfaat baginya dan juga tidak menjadi bidang spesialisasinya. Sebab orang yang tidak mengetahui sesuatu itu bagaikan orang yang tidak memilikinya. Orang yang tidak memiliki, tidak mungkin bisa memberi, sedang keselamatan itu tiada bandingannya….

Alhamdu lillahi rabbil ‘alamien.


[1]– Di antara negara yang menjalankan sistem demokrasi parlementer adalah Malaysia. Sebagian besar gerakan Islam di negara itu juga menempuh sistem demokrasi ini. Saat ini, mayoritas warga negara Malaysia —dahulu mayoritas warga negara adalah kaum muslimin— adalah kaum paganis dan naturalis ; orang-orang Budha, Hindu dan lain-lain. Tempat-tempat peribadatan mereka menyebar secara merata di seluruh wilayah dan negara bagian. Tempat-tempat peribadatan mereka mendapat perhatian penuh, perlindungan dan penghormatan dari pihak penguasa thaghut yang berkuasa !!!!

Itu semua terjadi di bawah slogan komitmen dengan demokrasi yang memang menghormati dan melestarikan kemajemukan dengan segala bentuk dan alirannya. Adapun seorang warga negara muslim d negara tersebut, sungguh kasihan, ia harus menerima itu semua sebagai sebuah realita yang tak bisa ia gugat, bakan ia justru menghormati keberadaannya. Ia tidak lagi memandang ada kontradiksi antara syahadat tauhid yang setiap hari ia ucapkan puluhan kali, dengan adanya berhala dan paganisme yang merata di seluruh wilayah negaranya !!!! Bahkan kami mendapati sebgaian umat Islam justru menjual belikan berhala seperti itu, mengiklankannya lewat majalah dan pasar demi mendapatkan harga yang murah, tanpa melihatnya sebagai sebuah perbuatan dosa yang bertentangan dengan agama Islam yang mereka pelajari dalam suasan kehidupan berdemokrasi dan majemuk tersebut !!!!!

Karena begitu besarnya penghormatan pemerintah demokrasi —yang mereka sebut sebagai pemerintahan Islam, dan gerakan-gerakan Islam ikut terlibat di dalamnya —terhadap perasaan kaum paganis, tuhan-tuhan dan tempat-tempat peribadatan mereka, pemerintah mengeluarkan undang-undang yang melarang umat Islam untuk mendakwahi mereka agar masuk Islam dan beribadah kepada Allah Ta’ala semata !!!!

Ketika kami bertanya kepada para da’i dari jama’ah tabligh, mengapa mereka tidak mau mebdakwahi kaum paganis tersebut, mereka menjawab bahwa undang-undang kafir ketetapan pemerintah yang harus dihormati dan dilaksanakan. Mereka juga mengatakan, kewajiban mereka hanyalah menjaga modal semata, maksudnya hanya berdakwah kepada umat Islam saja.

Anda liha, bagaimana tauhid menjadi kabur dan ajaran-ajaran tauhid hilang begitu saja di bawah payung pemerintahan demokrasi yang selalu mereka perjuangkan dan mereka tangisi !!!!

Yang patut disebutkan juga, sekitar dua puluh tahunan yang lalu, jumlah kaum muslimin di Malaysia sekitar 80 % dari keseluruhan warga negara. Namun hari ini, jumlah mereka —berdasar data statistik —- tidak lebih dari 40 % dari keseluruhan warga negara. Ketika kami bertanya kepada kaum terpelajar mereka tentang sebab ini semua, mereka menjawab ; agar partai sekuler yang berkuasa (UMNO) menang dalam pemilu dengan suara mayoritas, mereka mempermudah kewarga negaraan banyak warga negara asing beragama Budha dari China dan warga negara asing beragama Hindu dari India, karena mereka mengetahui tak mungkin warga negara asing ini nantinya akan memberikan suaranya untuk partai-partai Islam. Partai sekuler ini lalai, suatu saat nanti bisa saja warga negara asing yang telah menjadi warrga negara Malaysia ini memanfaatkan jumlah besar mereka yang setiap saat meningkat pesat, untuk mengeluarkan Malaysia dari identitas keislamannya dan mereka anggap sebagai sebuah negara paganisme seperti Thailand dan Singapura —yang dahulunya adalah sebuah wilayah dan propinsi dari negara Malaysia —.

Namun ini semua menurut partai sekuler yang berkuasa memang tidak penting, lepasnya rakyat dan negara bagi mereka juga tidak penting. Bagi mereka, yang penting mereka tetap memegang tampuk pemerintahan dan mampu meraih suara mayoritas dalam pemilu agar tetap bisa berkuasa meski hanya untuk satu atau dua periode !!!!

Di antara yang menguatkan pendapat kami ini adalah apa yang ditulis oleh syaikh Muhammad Al Ghazali dalam bukunya “Hishadul Fikr” setelah beliau bertemu dan berdialog dengan dua tokoh kaum muslimin di Malaysia ; dahulu saya mengetahui jumlah kaum muslimin di Melayu sangat banyak, namun kini mereka adalah kelompok minoritas, hanya 45 % dari keseluruhan warga negara. Bagaimana ini semua bisa terjadi ? Persoalan ini kembali kepada dua sebab pokok :

a). Imigran China dalam jumlah sangat besar masuk dan mendapatkan kewaga negaraan Malaysia dengan sangat cepat dan mudah !

b). Angka kelahiran di kalangan warga negara dari China tersebut sangat pesat, tanpa ada penghalang sedikitpun !

Tetapi Syaikh Muhammad Al Ghazali belum bertanya kenapa orang-orang China bisa mendapatkan kewarga negaraan dengan sangat cepat, dan siapa sebenarnya aktor dibalik ini semua. Jawabannya adalah sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas !!!!

[2] – Di antara tuhan-tuhan yang di ibadahi selain Allah Ta’ala adalah tanah air dan nasionalisme, terlebih lagi setelah terputusnya Liga Islam yang berwujud khilafah Utsmaniyah. Para pengarang dan cendekiawan yang telah terpengaruh budaya Barat menggambarkan tanah air sebagai tuhan yang harus menjadi landasan wala’ dan bara’, kewajiban dan hak, dengan menjauhkan diri dari wala’ dan bara’ yang berlandaskan kepada dien dan aqidah. Di antara contohnya adalah apa yang dikatakan oleh penyair Ahmad Muhrim dari Mesir :

Jika mereka bertanya tentang kecintaan kepada Mesir

ketahuilah…itulah darah, jantung, sayap dan dadaku

tempatku menaruh rasa takut, harapan dan pusat perhatian

puncak segala asa, tanpa bisa diingkari lagi

dialah hidup dan mati anak cucu

kekayaan, kemiskinan, keamanan dan kepanikan mereka

dialah takdir yang berjalan, (landasan) kebencian dan ridha

ialah agama dan dunia, manusia dan masa

kepadanya kami beriman, duhai orang yang mencela kami

kami beriman kepada hawa nafsu,namun kau mengkufurinya

Contoh lain dari sikap ekstrim dan kekafiran seperti ini adalah perkataan penyair Ahmad Syauqi ;

Duhai ibu pertiwi, ku temukan dirimu setelah putus asa

Seakan ku temukan masa mudaku

Setiap musafir, suatu saat pasti kan kembali

Jika ia dikaruniai keselamatan

Jika aku diajak menjadikanmu sebagai agamaku

Sudah pasti aku kan memenuhi

Kaulah kiblat, tempatku menghadapkan wajah

Kepadamulah, aku bersaksi dan bertaubat

[3] – Dinukil dari buku “Aulawiyyatu Al Harakah Al Islamiyah fi Al-Marhalah Al-Qadimah halaman 168, buku ini merupakan buku terburuk yang dikarang oleh tokoh ini (seorang ulama bertitel doktor). Buku ini telah menghapus tulisan-tulisannya semasa masih muda dan giat berdakwah. Dalam buku ini, di bawah judul “ Pergerakan dan problematika kebebasan politik –demokrasi”, ia menulis ; kewajiban pergerakan Islam pada masa mendatang adalah senantiasa berada di barisan kebebasan politik yang berupa demokrasi sejati, bukan demokrasi palsu !!! Karena itu saya tidak bisa membayangkan posisi pergerakan Islam, kecuali bersama kebebasan dan demokrasi berpolitik. Berbagai sarana dan jaminan yang dimiliki oleh demokrasi, merupakan jalan paling dekat untuk merealisasikan prnsip-prinsip dan pokok-pokok ajaran politik yang diajarkan oleh Islam untuk mengekang ambisi-ambisi penguasa !!!…Dari sini, nampaklah kekuatan dewan legislatif yang mampu menarik kepercayaan (mosi tidak percaya) dari setiap pemerintahan yang menyelisihi undang-undang dasar. Demikian juga akan nampak kekuatan pers yang bebas, mimbar yang bebas, kekuatan oposisi dan suara mayoritas ..!!!!

Saya katakan ; perhatikan ! Ia tidak mempuyai pendapat tentang sikap pergerakan Islam selain harus bergabung dengan kebebasan untuk kufur, atheis, cabul dan demokrasi berpolitik yang jelas-jelas syirik dan menuhankan makhluk, sebagaimana telah dijelaskan di muka.

Lalu perhatikan juga ! Bagaimana ia menegaskan kewajiban berpegang teguh dan menjaga undang-undang dasar, tanpa membatasinya jika undang-undang Islam. Karena tidak ada negara Islam yang undang-undang dasarnya hanya bersumber kepada Al Qur’an dan As Sunah, anda bisa mengetahui bahwa undang-undang dasar yang ia maksud adalah undang-undang dasar kafir yang berkuasa di negara-negara kaum muslimin saat ini !!!!

Kami juga tidak lupa akan mengingatkan para pembaca tentang perbedaan antara pers yang bebas yang dimaksudkan oleh syaikh doktor —sebagaimana istilah yang ia sebutkan tadi— yang mencakup seluruh pers yang kafir maupun tidak kafir, termasuk pers bejat yang menyebar luaskan kalimat kekafiran, kekejian dan lain-lain…dengan pers Islam yang komitmen dan senantiasa terikat dengan syariat dan adab-adab berbicara yang baik. Buktinya, maksud dari syaikh doktor adalah pers jenis pertama, bukan jenis kedua.

Demikian juga dengan dengan mimbar yang bebas, kekuatan oposisi dan suara mayoritas …ungkapan-ungkapan lepas tanpa batasan ini mengandung banyak kemungkinan, seperti istilah pers yang bebas di atas. Namun, istilah-istilah lepas ini lebih dekat kepada makna yang batil daripada kepada makna yang haq.

[4] – Tafsir Ibnu Katsir 2/71.

[5] – Kami mendengar langsung, para syaikh dalam kampanye pemiihan umumnya mengatakan : jalan demokrasi adalah jalan paling mudah dan utama, tidak menuntut kita selain sekedar meletakkan kartu dalam kotak-kotak suara, setelah itu akan keluarlah negara Islam yang kita inginkan. Sementara jalan jihad adalah jalan yang berat, payah dan dikelilingi oleh bahaya dan ancaman, terbunuh dan perang !!!

Mana yang lebih baik ???? Negara Islam yang tegak —dengan tenang dan damai — melalui kotak-kotak suara, dan anda bisa duduk di permadani di rumah bersama anak dan istri, ataukah negara yang tegak melalui retaknya tulang belulang, tertumpahnya darah, pembunuhan dan perang ???!!!!

Begitulah, dengan amat sederhana dan mremehkan akal masyarakat, mereka melontarkan persoalan ini di hadpan masyarakat, agar masyarakat membenarkan dan mengikuti kebatilan mereka. Perkataan mereka ini batil dari dua sisi :

a). Dari sisi syariat. Perkataan ini batil dan berbahaya karena mengutamakan jalan-jalan sesat yang ditetapkan oleh thaghut untuk mengadakan perubahan, atas jalan syariat yang telah diperintahkan oleh Al Qur’an dan As Sunah yang berupa jihad fi sabilillah. Perkataan mereka di atas berarti bahwa jalan thaghut lebih baik dan utama dari jalan syariat yamh diperintahkan Allah ta’ala kepada hamba-Nya. Ucapan seperti ini, maupun perbuatan seperti ini, jelas-jelas sebuah kekafiran yang nyata.

b). Perkataan di atas juga batil karena tidak realistis dan mustahil direalisasikan. Ungkapan di atas lebih dekat kepada khayalan daripada kepada realita yang bisa diindrai. BBukti paling nyata atas hal ini adalah realita yang bisa dilihat langsung yang menunjukkan mustahilnya umat Islam sampai kepada negara Islam lewat jalan ini. Bahkan, mustahil umat Islam merealisasikan sebuah program Islami yang penting yang membawa kebaikan bagi Islam dan kaum muslimin, ke alam nyata !!!!

Begitu jahat dan dengkinya mereka kepada Islam dan kaum muslimin, sehingga tidak malu-malu menggunakan kekuatan, menurunkan tentara dan tank-tank ke jalan-jalan —sebagaimana terjadi di Aljazair, Tunisia dan negara-negara lain — untuk mencegah kemajuan apapun yang bisa diraih oleh umat Islam.

Bahkan di Turki, mereka telah mencabut kewarga negaraan seorang anggota parlemen, Marwa Kavacki, hanya lantaran ia seorang muslimah yang berjilbab. Ia pun diusir keluar dari parlemen.!!! Mereka tidak kuat, meski hanya untuk melihat seorang perempuan berjilbab, hanya karena berjilbab !!!! Bagaimana anda bisa melihat mereka kuat untuk melihat Islam memerintah bangsa dan negara ????

Demokrasi lain yang ada di negara-negara terbelakang maupun maju juga sama saja, sama sekali tidak lebih mengayomi dan lebih baik kondisinya bagi Islam dan kaum muslimin, dari kondisi demokrasi yang ada di Turki. Hal ini akan kita ulas kembali pada halaman-halaman selanjutnya. Insya Allah Ta’ala.

[6] – HR. Abu Daud dan lainnya. Silsilah Ahadits Shahihah no. 11.

[7] – Barang siapa yang memperhatikan sebab perpecahan dan perselisihan yang terjadi di antara berbagai pergerakan Islam kontemporer, banyaknya jumlah pergerakan Islam yang berlainan dan setiap hari bertambah, akan bisa mendapati bahwa jalan demorasi sebagai faktor di belakang sebagian besar bencana dan perpecahan. Jama’ah A berpendapat akan ikut serta dalam jalan demokrasi dan dewan legislatif, sementara jama’ah B tidak sependapat. Jama’ah C berpendapat akan ikut terlibat dalam berbaga institusi negara dan pemerintahan, sementara jama’ah D tidak sependapat. Jama’ah E berpendapat akan mengadakan dialog dan hidup berdampingan secara damai dengan pemerintah yang berkuasa, sementara jama’ah F tidak sependapat. Jama’ah G berpendpaat akan memakai dakwah dan aktivitasnya secara terang-terangan, smeentara jama’ah H tidak sependapat. Jama’ah I berpendapat akan mengadakan koalisi dengan partai sekuler, sementara jama’ah J tidak sependapat. Begitulah seterusnya. Ini semua, sebagaimana dikatakan oleh Al Qur’an Al Karim, disebabkan karena melupakan sebagian ajaran dien dan tauhid. Allah Ta’ala berfirman ;

Dan diantara orang-orang yang mengatakan:”Sesungguhnya kami orang-orang Nasrani”, ada yang telah kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebahagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan diantara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. Al Maidah 5:14)

[8] Bagaimana bisa seorang anggota dewan legislatif kafir sementara anggota dewan legislatif lainnya tidak kafir, padahal keduanya melakukan dosa yang sama dalam leikut sertaan keduanya dalam dewan legislatif ? Semuanya kembali kepada ada tidaknya mawani’u takfir (= faktor-faktor yang menghalangi jatuhnya vonis kafir atas diri seorang muslim yang meyakini, mengucapkan atau melakukan sebuah kekafiran, meliputi ; al jahlu (ketidak tahuan), at ta’wil (salah interpretasi), al khatha’ (ketidak sengajaan), al ikrahu (dipaksa) dan at taqlid (ikut-ikutan dengan tokoh dll = pent) pada diri si anggota dewan. Karena itu, kita melihat imam Ahmad tidak mengkafirkan orang yang mengatakan Al Qur’an itu makhluk, namun pada saat yang lain beliau juga mengkafirkan personal-personal tertentu yang mengatakan Al Qur’an itu makhluk. Padahal keduanya sama-sama melakukan sebuah ucapan kufur, yaitu mengatakan Al Qur’an itu makhluk, bukan kalam Allah Ta’ala.

[9]– Sebuah kekafiran yang tegas (jelas-jelas) memang untuk mengkafirkan pelakunya tidak perlu meneliti dan memperhatikan niat (tujuan) pelakunya atas perbuatan kufur yang dilakukannya. Ini jelas berbeda dengan sebuah kekafiran yang masih belum pasti (masih ada beberapa kemungkinan ; antara kafir dan tidak), di mana tetap disyaratkan harus memperhatikan niat si pelaku dan mengetahui faktor pendorong yang mendorongnya melakukan perbuatan kufur yang masih belum pasti tersebut. Persoalan ini adalah persoalan penting yang akan dijelaskan di tempat lain. (Tambahan pent : pengarang buku ini membahas masalah ini dalam buku lain berjudul “Qawaidu Fi At Takfir” dan “Al ‘Udzru Bil Jahli wa Qiyami Al Hujjah, cetakan Al Maktab Ad Dauli, London).

6 responses to “Selamat ‘Bertempur” Wahai Calon “Pendekar-Pendekar” Parlemen

  1. Allahu Akbar …!!
    Mari kita tegakkan dien ini sesuai sunnah.

  2. @Abdul malik
    mari…..
    tapi saya tegakan islam dengan demokrasi …
    bukan dengan cara diam dan cuma ngomong doang….

  3. @aroel… sebenarnya yg ngomong doang itu siapa? ahsan kita sama2 belajar yah. jgan saling menyalahkan. jujur ana katakan, seseorg ketika dibuka tentang suatu kebenaran mereka kebanyakan tidk menerima. aroel… ketika yg anda katakan itu sesuai dengan alqur’an dan sunnah Insya Allah itu akan diterima…. beragumentlah sesuai dengan Alqur’an dan sunnah bukan sekedar hawa nafsu belaka… sekali lagi afwan….:):)

  4. yang duluan menyalahkan siapa?
    kalau emang demokrasi itu dilarang…
    napa anda masih gidup di negara demokrasi?
    napa anda gak rubah sistem demokrasinya?
    barang siapa yang mengikuti suatu kaum maka dia termasuk kedalamnya.

    berarti anda telah masuk ke demokrasi…

  5. mas @roel, klo anda di dunia ini ndk mau tunduk kepada hukum Allah, silahkan tinggalkan dan keluarlah dari bumi Allah ini, cari bumi lain selain bumi Allah, yang hukumnya bukan hukum Allah, tapi hukum demokrasi. Tidak ada hak Anda menyuruh seseorang keluar dari bumi Allah, nich bumi bukan milik U, bukan milik Presiden, tp milik Allah, silahkan U keluar dari bumi Allah ini, dalam waktu 1×24 jam.

  6. hehe i agree ma mas zaenal lah..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s