Mengukur Kemenangan Islam : Kwantitas atau Kwalitas?

Sebuah kemenangan di hadapan Demokrasi diukur dengan kwantitas, siapapun yang minoritas sekalipun kwalitasnya baik tidak akan pernah menang menurut kacamata dan ideologi Demokrasi. Karenanya, siapapun yang berjuang dengan sistem demokrasi di negara manapun mereka berada tak terkecuali di Indonesia, mereka pasti berjuang mati-matian, menggunakan segala cara dan taktik untuk mendulang dan memenuhi kwantitas tersebut. Dengan kwantitas yang banyak, mereka menakut-nakuti kelompok yang minoritas dan kecil, karena mereka merasa kuat, tangguh, dan berada di atas segalanya.

Inilah taktik dan sistem orang-orang kafir dan munafikin yang dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an :

“Keadaan kamu Hai orang-orang munafik dan musyrikin) adalah seperti Keadaan orang-orang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta dan anak-anaknya dari kamu. Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kamu telah menikmati bagian kamu sebagaimana orang-orang yang sebelummu menikmati bagiannya, dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya. mereka itu amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat; dan mereka Itulah orang-orang yang merugi.” (QS. At-Taubah : 69)

Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu mengingatkan kita :

“Maka Apakah mereka tiada Mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. adalah orang-orang yang sebelum mereka itu lebih hebat kekuatannya dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi, maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka.” (QS. Al-Mukmin : 82)

Kedua ayat di atas mengingatkan kepada kita bahwa kemenangan Islam bukan diukur dengan kwantitas tetapi kwalitas. Kalau kita memperjuangkan kwantitas, sungguh orang-orang sebelum kita kwantitasnya lebih banyak dan lebih kuat, tetapi Allah menghancurkan mereka dan menjadikan itu pelajaran bagi kita semua.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

“Akan senantiasa ada sekelompok kecil (thaifah) dari umatku yang tegak di atas al-haq hingga datang keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita :

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”

Demikianlah Allah dan Rasul-Nya mengingatkan kita :

1. Kebenaran di akhir zaman akan bersama jumlah yang sedikit, sebagaimana yang dijelaskan oleh beliau lagi :

“Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali menjadi asing, maka beruntunglah mereka yang asing (ghuraba).”

2. Mengikuti jumlah/kwantitas akan menyesatkan kita dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Karenanya dalam perjalanan dakwah dan perjuangan Islam, Rasulullah menasihatkan dan memberikan contoh kepada kita agar tidak tertipu dengan kwantitas tapi kwalitasnya bobrok. Dalam beberapa peperangan yang diikuti oleh Rasulullah, jumlah pasukan dan kekuatan beliau tidak pernah menyamai apalagi melebihi jumlah dan kekuatan musuh.

Kalau diukur dengan teori demokrasi, peperangan Rasulullah tidak akan menang sampai hari kiamat kelak, dan dakwah Rasulullah tidak akan pernah sampai ke penjuru dunia.

Tetapi, buktinya Rasulullah meraih kemenangan demi kemenangan, dan musuh mengalami kekalahan demi kekalahan. Apa sebabnya, karena Rasulullah tidak memakai sistem demokrasi, tetapi Rasulullah mengikuti manhaj yang telah digariskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Di akhir, kami ingin menyebutkan wasiat shahabat Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu kepada pasukannya ketika hendak di kirim ke medan lagi Qadisiyah :

“Wahai pasukankua..ku wasiatkan kepada kalian, bahwa kemaksiatan-kemaksiatan yang kalian lakukan lebih aku takuti dari jumlah kekuatan musuh-musuh kalian. Kita diberi pertolongan dan kemenangan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dikarenakan musuh-musuh kita berdosa dan bermaksiat. Jika kalian melakukan dosa dan maksiat sebagaimana yang mereka lakukan, maka siapa yang jumlah pasukan dan kekuatannya lebih banyak dan besar itulah yang menang.”

Mari kita renungi bersama..masihkah kita menyandarkan kemenagan Islam kepada kwantitas dengan kwalitas yang bobrok, ataukah kita menyandarkan kemenangan Islam kepada kwalitas yang baik sekalipun kwantitasnya sedikit? Atau kita akan mengubah sejarah dengan kwalitas yang baik dengan kwantitas yang banyak juga? Wallahu Ta’ala A’lamu bish Shawab.

2 responses to “Mengukur Kemenangan Islam : Kwantitas atau Kwalitas?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s