Jihad Antara Ilmu dan Semangat

Prolog

Suatu ketika, saat penulis selesai mengisi sebuah kajian, ada seseorang yang mengajukan sebuah pertanyaan kepada penulis. Pertanyaan itu adalah apakah penulis telah membaca buku yang ditulis oleh Syaikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz berkenaan dengan jihad? Dari buku itu, sepertinya penanya berkesimpulan bahwa hukum jihad hari ini adalah fardhu ‘ain dan menuntut ilmu sudah tidak wajib lagi. Sehingga yang wajib bagi kaum muslimin pada hari ini adalah berjihad di jalan Allah dan bukan thalabul ilmi, sehingga terkesan ‘menuduh’ para ustadz dan santri yang berada di pondok-pondok pesantren, dan kaum muslimin yang memenuhi tempat-tempat majelis ilmu sebagai qo’idun (orang-orang yang meninggalkan jihad).

Fenomena ini, tentunya sangat ‘berbahaya’ bagi keberlangsungan jihad pada hari ini dan akan datang. Karena dikhawatirkan, jihad sebagai amal shalih yang memiliki kedudukan dan tempat yang agung di dalam Islam, akan dilaksanakan secara serampangan dan tidak berdasarkan pada ilmu syar’i yang shahih. Sehingga menjadi celah bagi orang-orang kuffar dan munafiqin untuk menuduh ‘jihad’ sebagai tindakan anarkis dan teroris.

Tulisan ini –dengan izin Allah-, akan mencoba untuk mengungkapkan bahwa pelaksanaan jihad hingga hari kiamat tidak pernah lepas dari ilmu dan semangat. Rasulullah, para shahabat, dan para ulama salaf telah memberikan contoh yang terbaik dalam masalah ini. Sehingga menjadi hikmah dan pelajaran terbaik bagi kaum muslimin.

Ilmu dan Semangat, Dua Pilar di antara Pilar-pilar Jihad

Jihad memiliki banyak pilar, yang mengantarkannya sebagai amal shalih berkedudukan tinggi dan mulia di dalam Islam. Di antara pilar-pilar itu adalah ilmu dan semangat.

Pertama : Pilar Ilmu

Ilmu merupakan pilar tertinggi dalam jihad, bahkan dalam amal-amal Islam lainnya. Karena amal tanpa ilmu menyebabkannya tertolak di sisi Allah, dan menjadikan pelakunya bedosa. Karenanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyesatkan orang-orang Nashrani, dikarenakan mereka beramal tanpa ilmu, dan memurkai orang-orang Yahudi, dikarenakan mereka berilmu namun tidak mengamalkan ilmunya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

“Barangsiapa melaksanakan sebuah amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Al-Bukhari, no. 7349)

Karena urgentnya ilmu dalam masalah jihad, para ulama telah menulis ratusan bahwan ribuan kitab yang berkaitan dengan masalah jihad ini, bahkan menjadikannya sebuah disiplin ilmu tersendiri yang terus dikaji hingga hari kiamat kelak. Nama disiplin ilmu itu adalah Ilmu Jihad.

Yang dimaksud dengan ilmu jihad sebagaimana didefinisikan oleh Al-‘Allamah Shiddiq Hasan Khan adalah, “Ilmu yang dengannya diketahui bentuk-bentuk perang, tatacara mengatur dalam hal kemiliteran (keprajuritan), penggunaan senjata (hingga yang mutakhir), dan yang lain-lainnya.” Termasuk di dalamnya : keutamaan dan adab-adab jihad, serta hukum-hukum syar’i yang berkaitan dengan jihad ataupun seorang mujahid baik sebelum jihad maupun sesudah jihad.

Bahkan, para fuqaha’ telah menulis bab khusus dalam kibat-kitab mereka berkaitan dengan jihad ini, sekalipun mereka tidak menulisnya dengan judul ilmu jihad, tetapi masih erat kaitannya dengan masalah jihad, seperti judul Kitab Al-Maghazi, Kitab Al-Jihad was Siyar, dan yang lainnya. Di antara disiplin ilmu terpenting dalam masalah ilmu jihad ini, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Al-‘Izz bin Abdussalam adalah :

1. Ilmu Peralatan Perang

Yaitu sebuah disiplin ilmu yang dengannya, dapat diketahui cara-cara penggunaan alat-alat perang, seperti manjaniq (pelontar peluru) dan yang lainnya. Termasuk juga di dalamnya, ilmu tentang komponen dan perakitan senjata, serta penggunaanya.

Ilmu ini merupakan bentuk pengamalan dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Anfal : 60)

2. Ilmu Keprajuritan

Ilmu keprajuritan adalah ilmu yang mempelajari tentang tatacara memimpin pasukan dan mengaturnya, dan mengangkat para komandan yang bertugas untuk menjaga harta-harta mereka dan menyediakan kebutuhan-kebutuhan mereka, memisahkan yang berani dari yang pengecut, dan yang kuat dari yang lemah. Ilmu ini disebut juga dengan ‘mobilisasi perang‘. Yaitu ilmu yang mempelajari bagaimana mengatur barisan (shaf) di medan perang, bentuk-bentuk spesifik dari mobilisasi, sikap-sikap dan tatacara baris-berbaris bagi prajurit, baik berpasang-pasangan maupun sendiri-sendiri, berapa jumlah barisan, dan berapa jumlah orang dalam setiap barisnya. Juga bentuk-bentuk barisan, apakah melingkar, berbaris tiga-tiga, empat-empat dan berbagai formasi baris-berbaris lainnya, baik dalal format lingkaran, segitiga, persegi, atau format lainnya sesuai dengan tuntutan kondisi.

Para ulama juga telah menjelaskan; bahwa memperhatikan sikap baris-berbarisa dalam masalah jihad (sebagaimana yang telah penulis sebutkan di atas) merupakan sarana terpenting untuk meraih sebuah tujuan, dan kemenangan atas musuh yang kejam lagi bengis. Hanya saja, sebagian kaum muslimin yang ingin berjihad di jalan Allah meremehkan ilmu ini, dan sebagian pakar yang spesialis dalam masalah ini, kikir dan menyembunyikan ilmu ini dari kaum muslimin.

Literatur Islam Terhadap Ilmu Jihad

Sebagaimana yang telah penulis sebutkan di muka, bahwa para ulama telah memberikan perhatian khusus terhadap masalah jihad ini, dan itu terbukti dari banyaknya literatur-literatur yang ditulis oleh para ulama berkenaan dengan masalah jihad. Pentahqiq Kitab Masyari’ul Asywaq –karya Ibnu Nahhas- dalam muqaddimahhnya telah menyebutkan lebih kurang 68 judul kitab yang berkaitan khusus dengan permasalahan jihad. Profesor Kurkis ‘Awad dalam bukunya yang berjudul ‘Sumber-sumber Peninggalan Kemiliteran dalam Bangsa Arab‘ telah menyebutkan lebih kurang 6.733 judul kitab berbahasa Arab, dan 837 judul kitab berbahasa asing, yang berkaitan dengan topik perang secara umum dan jihad, dan masih banyak lagi literatur-literatur lainnya, terutama yang ditulis oleh para ulama-ulama sekarang berkaitan dengan jihad dan permasalahan-permasalahan kontemporer tentangnya.

Jihad Fardhu ‘Ain, Menghapus Kewajiban Thalabul Ilmi?

Sebagian kaum muslimin, ada yang menyangka bahwa jika para ulama telah memfatwakan bahwa hukum jihad hari ini adalah fardhu ‘ain, maka kewajiban thalabul ilmi menjadi gugur, dan seluruh kaum muslimin wajib mempersiapkan dirinya untuk berjihad, menginfakkan seluruh hartanya untuk keperluan jihad, dan bagi para ustadz, da’i, muballigh, dan para khatib wajib mendengungkan jihad dan membahas materi-materi yang berkaitan dengan permasalahan jihad dalam majelis-majelis ilmu mereka, jika tidak, ‘berbagai macam tuduhan’ murahan dilemparkan kepada mereka, seperti; qa’idun (orang-orang yang meninggalkan jihad dan meremehkan permasalahannya) dan tuduhan-tuduhan lainnya. Penulis tegaskan bahwa sangkaan ini –wallahu a’lamu- adalah sangkaan yang tidak benar dan tidak berpijak pada nash-nash syar’i. Imam Ahmad –rahimahullahu Ta’ala- pernah ditanya oleh muridnya, “Wahai Abu Abdillah, sampai kapan kewajiban untuk menuntut ilmu itu dibebankan kepada kita?” Beliau menjawab, “Sampai kematian menjemput kita.” Begitulah jawaban seorang alim, faqih, dan mujahid. Menjawab berdasarkan ilmu, dan pemahaman yang benar terhadap Islam. Artinya, tidak ada yang menggugurkan kewajiban thalabul ilmi, selagi seseorang masih mampu untuk menuntut ilmu. Karenanya, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menyebutkan bahwa ada dua nikmat besar yang Allah berikan kepada seorang mukmin setelah dua nikmat yang paling besar: iman dan Islam, yaitu nikmat;

1. Husnul Iradah, yakni keinginan-keinginan yang baik.

2. Al-Fahmush Shahih, yakni pemahaman yang benar terhadap nash-nash syar’i.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang), mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah : 122)

Imam Khatib Al-Baghdadi –rahimahullahu Ta’ala- ketika menafsirkan ayat ini mengatakan, “Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan kaum muslimin dua kelompok besar, yang satu kelompok diwajibkan untuk berjihad di jalan-Nya, dan satu kelompok lagi diwajibkan untuk bertafaqquh (mendalami) ilmu dien. Hal ini, agar kaum muslimin tidak seluruhnya pergi ke medan jihad, sehingga menjadi lenyaplah ilmu-ilmu syar’i yang akan mengatur kehidupan mereka. Dan juga, tidak sepatutnya bagi kaum muslimin seluruhnya pergi menuntut ilmu, sehingga jihad terlupakan dan musuh-musuh dengan leluasa merongrong, menjajah, dan menghinakan Islam. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan melindungi wilayah-wilayah dan negeri-negeri kaum muslimin dengan keberadaan para mujahidin, dan akan menjaga syari’at iman (ilmu-ilmu syar’i) dengan keberadaan orang-orang yang menuntut ilmu, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada kaum muslimin untuk bertanya dan kembali kepada para thalabul ilmi itu, apabila mereka dihadapkan pada permasalahan-permasalahan pelik berkaitan dengan dien dan dunia mereka.”

Demikianlah, bahwa kewajiban jihad tidak akan menggugurkan kewajiban thalabul ilmi, dan kewajiban thalabul ilmi tidak menggugurkan kewajiban jihad. Kedua-duanya seiring dan sejalan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan sekelompok kaum muslimin untuk berjihad di jalan-Nya, dan telah menjadikan kelompok yang lain untuk thalabul ilmi di jalan-Nya juga. Sehingga, negeri kaum muslimin dan ilmu mereka, terjaga dan terlindungi dengan keberadaan kedua kelompok ini, yakni : mujahidin dan muta’allimin.

DR. Nawwaf Takruri, seorang ulama dan pimpinan Rabithah Ulama Filistina, HAMAS, dalam bukunya yang berjudul “Al-Jihad bil Maal fie Sabilillah” dan juga dalam Daurah Syar’iyyah dan Bedah Buku di Indonesia, mengungkapkan bahwa beliau telah membangun –dengan izin Allah- sebuah perpustakaan Islam terbesar di kota Palestina, dan perpustakaan itu setiap harinya dikunjungi oleh ribuan para pemuda dan pelajar Islam Palestina. Kalaulah kaum muslimin Palestina, yang setiap harinya dihadapkan pada hujan peluru, rudal, dan bom, masih antusias menuntut ilmu, dan ‘keberadaan bumi Palestina sebagai bumi jihad’ tidak menghalangi mereka untuk mendalami ilmu dan pengetahuan Islam mereka, maka pantaskah kita yang berada di Indonesia ini dan bumi lainnya, yang belum ‘dihadapkan’ sebagaimana yang dihadapi oleh kaum muslimin Palestina, mengatakan bahwa kewajiban thalabul ilmi telah gugur dengan keberadaan jihad sebagai fardhu ‘ain?

Kedua : Pilar Semangat dan Motivasi

Pilar kedua, yang tidak pernah lepas dari ruhul jihad adalah pilar semangat dan motivasi. Karenanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk senantiasa memberikan motivasi dalam rangka membangkitkan semangat jihad kaum muslimin.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.”

Imam Ibnu Katsir –rahimahullahu Ta’ala- dalam menafisirkan ayat ini berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk mengobarkan semangat kaum muslimin untuk berjihad. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melakukannya. Dalam Perang Badr, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengobarkan semangat jihad para shahabatnya seraya berkata, “Berangkatlah kalian menuju jannah yang luasnya seluas langit dan bumi.” Seorang shahabat yang bernama ‘Umair bin Al-Humam bertanya, “Seluas langit dan bumi, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Ya.” Lelaki itu mengatakan, “Bakh..bakh (ungkapan taajub).” Rasulullah bertanya, “Apa yang membuatmu mengatakan demikian (bakh..bakh..)?” Lelaki itu menjawab, “Karena berharap ingin menjadi penduduk dan penghuninya.” Rasulullah berkata, “Kamu termasuk penduduk dan penghuninya.” (HR. Muslim, no. 1901)

Penutup

Sebagai penutup, penulis ingin menegaskan bahwa jihad di jalan Allah, tidak pernah lepas dari ilmu dan semangat. Kedua-duanya ibarat dua mata pedang yang tidak bisa dipisahkan. Semoga Allah menjadikan kita semua para mujahidin yang berilmu dan senantiasa memiliki semangat jihad hingga kematian menjemput kita. Wallahu Ta’ala A’lamu bish Shawab.

Reference :

1. Ahkamul Jihad wa Fadhailuhu, Imam Al-‘Izz bin Abdussalam.

2. Al-Faqih wal Mutafaqqih, Imam Khatib Al-Baghadadi.

3. Tafsir Ibnu Katsir, Imam Ibnu Katsir.

4. Ma’alim fie Thariqi Thalabil Ilmi, Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad bin Abdillah As-Sadhan.

5. Al-Jihad bil Maal fie Sabilillah, DR. Nawwaf Takruri.

4 responses to “Jihad Antara Ilmu dan Semangat

  1. Pada saat seperti ini, bagaimanakah status orang-orang nashrani, hindu dan budha di Indonesia yang tidak memerangi umat islam scr fisik? Apakah termasuk kafir harbi (darah, harta dan kehormatanya halal) ?
    Apakah pembagian kafir dalam hal ini mutlak cuma tiga (harbi, dzimmi dan muahad) ?

    Mohon penjelasanya sehingga tidak ada lagi syubhat bagi kami
    syukron

  2. tadz… apa layak pemilik penerbit buku buku yang nota bennya terjemahan dan ulama ulama yang sudah tidak di ragukan lagi kemampuannya si pemilik berperilaku seorang yang tidak punya ilmu dalam hal memberikan hak dan kewajiban karyawannya, padahal buku yang di terbitkannya buku buku yang bermutu😀

  3. Cobalah umat islam kembali ke makna jihad yg sesungguhnya, aku rasa nabi muhammad tdk mengajarkan melakukan bom bunuh diri, akhirnya citra islam jd buruk dg segelintir orang yg melakukan bom bunuh diri. Yang kena dampaknya adlh pondok pesantren salafiyah yg nota bene mereka berdandan cukup ekstrem, yg cewek bercadar ria, yg cowok berjenggot ria dan bercelana diatas mata kaki, dan suka datang ke majlis2 ilmu, makanya orang2 yg ekstrem spt ini sering disebut fundamentalis alias islam garis keras/fanatik, pdhl ga semua. Padahal nabi muhammad sewaktu di madinah yg saat itu bernama yatsrib, bergaul dg orang2 yahudi dan berdampingan dgn damai, bahkan dalam suatu hadits ketika ada jenazah org yahudi lewat didepan beliau, beliau berdiri memberi penghormatan. Cobalah umat islam meneladani perilaku nabi saw.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s