Rukhshah, Sebuah Anugerah Yang Terzhalimi

Prolog

Syariat Islam yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan syariat yang rahmatan lil’alamin. Ke-rahmatannya terkadang sering disalahgunakan oleh sebagian kaum muslimin untuk mengais keuntungan dunia dengan menjual ayat-ayat Allah atas nama rahmatan lil’alamin. Hal ini merupakan sebuah tindakan yang dapat menjerumuskan seorang muslim ke dalam kekufuran. Di antara rahmat syariat Islam yang diemban oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada umatnya adalah memberikan kemudahan dan menghilangkan kesukaran. Di antara bentuk kemudahan yang Allah berikan kepada kaum muslimin adalah pensyariatan rukhshah (keringanan) khusus dalam ibadah-ibadah tertentu bagi orang-orang tertentu pula. Dalam kajian bulletin YDSUI kali ini, kita akan mengupas apa itu rukhshah? Dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari bagi kaum muslimin?

Permudahlah dan jangan memberatkan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa syariat yang diturunkan oleh-Nya adalah memberikan kemudahan kepada umat manusia dan bukan memberatkan mereka.

Tetapi, tidak sedikit kaum muslimin yang memberat-beratkan diri mereka dan melemparkan diri mereka ke dalam kebinasaan. Karenanya, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendengar berita bahwa ada tiga orang shahabat beliau yang ingin shalat terus menerus tanpa beristirahat, ingin berpuasa terus menerus tanpa berbuka, dan ingin beribadah terus menerus tanpa menikah, maka beliau sagat marah, dan mengingatkan para shahabat tersebut bahwa beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling bertaqwa dan paling takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di muka bumi ini. Kemudian beliau bersabda, “Tetapi, aku shalat dan akupun beristirahat, aku berpuasa dan aku berbuka, dan menikah dengan wanita. Maka barangsiapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan golonganku.”

Perhatikanlah, bagaimana Rasulullah mendidik para shahabatnya bahwa prilaku memberat-beratkan diri sehingga menyampakkan seseorang ke dalam kebinasaan bukanlah dari sunnah dan tuntunan beliau.

Sangat ironis, ketika kita menyaksikan sekelompok kaum muslimin berdzikir dengan suara mekik-mekik, meraung-raung, membuatnya kepayahan, suaranya habis, tidak tidur malam, dianggap sebagai sunnah Rasulullah dan tuntunannya.

Sangat menggelikan, ketika kita menyaksikan seseorang melaksanakan shalat dengan seribu rakaat, membaca surat Al-Fatihah seribu kali, membaca surat Al-Ikhlash seribu kali, membaca ayat kursi seribu kali, dianggap ajaran Rasulullah dan sunnahnya.

Justru mereka telah menyelisihi sunnah Rasulullah yang menyukai kemudahan, pertengahan dan tidak berlebih-lebihan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

“Sesungguhnya dien ini (Islam), adalah dien yang memberikan kemudahan.” (HR. Al-Bukhari).

Beliau juga bersabda :

“Amalan Islam yang paling disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah amalan yang memberikan kemudahan dan toleransi.” (HR. Al-Bukhari).

Jadi jelaslah, bahwa salah satu karakteristik dien ini adalah memberikan kemudahan dan menghilangkan kesukaran dan keberatan. Karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Taghabun : 16)

Definisi Rukhshah

Rukhshah secara bahasa adalah keringanan atau kemudahan.

Secara istilah rukhshah adalah sebuah hukum tetap yang menyelisihi dalil syar’i dikarenakan ada sebab-sebab yang rajih.

Imam Ar-Razi mengatakan : rukhshah adalah sesuatu yang boleh dikerjakan atau dilaksanakan sekalipun pada hukum asalnya perbuatan itu dilarang.

Imam Al-Hindi mengatakan : rukhshah adalah meninggalkan atau mengerjakan sesuatu yang pada hukum asalnya dilarang dikarenakan ada sebab-sebab yang rajih.

Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an dan Rasulullah dalam sunnah-sunnahnya telah memberikan beberapa keringanan kepada kaum muslimin apabila terpenuhi syarat dan sebab-sebabnya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat suka apabila keringanan-keringanan yang telah Dia berikan dan tetapkan dijalankan dan dilaknakan oleh umat-Nya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala suka apabila keringanan-keringanan dari-Nya dilaksanakan sebagaimana Dia suka ‘azimah-Nya dilaksanakan.”

Sikap umat Islam terhadap rukhshah

Dalam masalah rukhshah kaum muslimin terbagi kepada tiga kelompok.

Pertama : Kelompok yang berlebih-lebihan dalam menyikapi rukhshah. Sehingga, mereka sering meninggalkan yang wajib atau bahkan mengerjakan yang haram karena alasan rukhshah, padahal sebab-sebab dan syarat-syaratnya belum terpenuhi dengan sempurna. Bahkan kelompok ini sering mencari-cari rukhshah, padahal dia bukanlah orang yang berhak untuk mengamalkan rukhshah tersebut. Lebih jelasnya pada akhir bab ini akan kita jelaskan tentang kelompok yang ketiga ini.

Kedua : Kelompok yang meremehkan rukhshah. Kelompok ini tidak peduli dengan keringanan-keringanan yang telah Allah berikan kepada mereka, sekalipun terpenuhi syarat dan sebab-sebabnya. Menurut mereka, mengambil keringanan adalah bentuk peremehan terhadap agama Allah dan mempermainkannya. Kelompok ini jelas berada dalam kekeliruan yang besar dan nyata.

Ketiga : Kelompok yang berada antara yang berlebih-lebihan dan yang meremehkan. Mereka mengambil keringanan yang telah Allah dan Rasul-Nya berikana sesuai dengan sebab dan syarat-syarat yang telah disepakati oleh para ulama.

Contoh-contoh Rukhshah dan Hukumnya

Para ulama menjelaskan, bahwa hukum rukhshah berbeda-beda. Terkadang rukhshah menjadi wajib hukumnya untuk diamalkan. Seperti memakan bangkai atau babi bagi orang yang dalam kondisi darurat tidak mendapatkan makanan. Jika dia tidak memakan bangkai atau daging babi itu dia akan binasa atau mati. Para ulama menjelaskan bahwa mengambil rukhshah ini hukumnya wajib. Contoh lain adalah bahwa menutup aurat hukumnya wajib dan menampakkannya kepada yang bukan mahram adalah haram hukumnya. Tetapi, ketika seseorang ini melakukan operasi (karena penyakit tertentu), dan tim dokter menyatakan bahwa untuk mengobati penyakitnya harus dilakukan tindakan operasi bedah, maka tidak masalah bagi orang tersebut membuka aurat dan memperlihatkannya kepada yang bukan mahramnya jika hal itu terpaksa harus dilaksanakan.

Terkadang rukhshah hukumnya adalah sunnah. Seperti mengqashar shalat (shalat empat rakaat diqashar menjadi dua rakaat) bagi orang yang musafir, atau meninggalkan shaum Ramadhan bagi seorang musafir dan menggantikannya pada hari-hari lain. Dan masih banyak contoh-contoh rukhshah lainnya yang telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.

Hukum mencari-cari Rukhshah

Sesungguhnya syaithan senantiasa berusaha menggelincirkan manusia dan menyesatkan mereka dari jalan kebenaran dengan wasilah yang beraneka ragam. Di antara pintu-pintu kejelekan yang telah dibuka oleh syaithan untuk menusia adalah :”Mencari rukhsah (pendapat paling ringan) dari para fuqaha’ dan mengikuti kesalahan-kesalahan mereka”. Dengan cara ini syaithan menipu banyak kaum muslimin yang bodoh. Sehingga hal-hal yang haram dilanggar, dan hal-hal yang wajib ditinggalkan karena bergantung kepada pendapat atau rukhsah yang palsu. Maka jadilah orang-orang bodoh tersebut menjadikan hawa nafsu mereka sebagai hakim dalam masah-masalah khilafiyah (perselisihan). Mereka memilih pendapat yang paling mudah dan yang paling enak menurut hawa nafsu mereka tanpa bersandar kepada dalil syar’i. Bahkan karena taqlid kepada kesalahan seorang alim, yang seandainya orang alim tersebut mengetahui kebenaran maka dia akan meninggalkan pendapatnya (yang salah tersebut) tanpa ragu-ragu.

Ketika tidak ada seorangpun yang mengingkari orang-orang bodoh tersebut maka mereka akan beralasan bahwa mereka tidaklah melakukan hal tersebut berdasarkan pendapat mereka semata, tetapi ada ulama yang memfatwakan bolehnya apa yang telah mereka lakukan. Dan bahwa mereka bukanlah yang dimintai pertanggung jawaban adalah pada ulama yang memfatwakannya, jika benar atau salah. Bahkan mereka mengambil rukhsah dari para fuqaha’ pada suatu permasalahan dan meninggalkan pendapat-pendapat para fuqaha itu pada permasalahan yang lain.         Mereka menyesuaikan antara madzhab-madzhab dan menggabungkan pendapat-pendapat (menurut hawa nafsu mereka -pent). Mereka menyangka telah melakukan amalan yang sebaik-baiknya (padahal malah sebaliknya, -pent)

Syaithan telah menyebarkan pada orang-orang bodoh tersebut perkataan :”Letakkanlah dia di leher orang alim, dan keluarlah darinya dalam keadaan selamat”. (Maksudnya yaitu serahkan tanggung jawab akibat perbuatan kalian kepada orang alim yang memfatwakan hal itu, maka kalian akan keluar dengan selamat tanpa beban -pent). Ketika timbul suatu masalah pada salah seorang di antara orang-orang bodoh tersebut, maka dia akan pergi kepada sebagian ulama yang tasahul (mudah memberikan jawaban yang ringan dan enak, -pent) dalam berfatwa, lalu mereka (sebagian ulama yang tasahul, -pent) mencarikan untuknya rukhsah yang telah difatwakan oleh seseorang, lalu mereka berfatwa dengan rukhsah tersebut padahal rukhsah itu menyelesihi dalil dan kebenaran yang telah mereka yakini..

Kebanyak orang-orang bodoh itu terdiri dari dua golongan, yaitu (pertama) orang awam yang pergi ke ulama yang tasahul dalam berfatwa. Dan (yang kedua) mufti yang mencari keridhaan manusia yang tidak berfatwa dengan dalil.

Apakah yang dimaksud dengan rukhsah di sini ?

Yang dimaksud dengan rukhsah di sini adalah pendapat para ulama dalam masalah khilafiyah yang paling ringan (paling enak, -pent) yang tidak bersandar kepada dalil yang shahih. Atau kesalahan seorang alim mujtahid yang kesalahannya tersebut diselisihi oleh para mujtahid yang lain. Dan inilah makna rukhsah menurut bahasa.

Adapun makna syar’i yaitu istilah terhadap sesuatu yang berubah dari perkara yang asal karena adanya halangan, atau untuk kemudahan dan keringanan. Seperti diqasharnya shalat ketika safar dan kesalahan-kesalahan padanya yang rukhsah-rukhsah syar’i yang lainnya.

Contoh-contoh rukhsah para ahli fiqih.

  1. Pendapat bolehnya mencukur jenggot
  1. Pendapat bolehnya membayar zakat fitrah dengan uang.
  1. Pendapat bolehnya meminum semua yang memabukkan kecuali yang dari anggur.
  1. Pendapat bahwasanya tidak ada shalat Jum’at kecuali pada tujuh wilayah.
  1. Pendapat tentang diakhirkannya shalat asar hingga (panjang) bayangan setiap benda adalah empat kalinya.
  1. Pendapat bolehnya lari pada saat bertemu dengan musuh (ketika jihad, -pent).
  1. Pendapat bolehnya mendengarkan nyanyian dan alat-alat musik.
  1. Pendapat bolehnya nikah mut’ah.
  1. Pendapat bolehnya menukar satu  dirham dengan dua dirham secara kontan/tunai.
  1. Pendapat bolehnya menjima’i istri dari duburnya.
  1. Pendapat sahnya nikah tanpa wali dan tanpa mahar.
  1. Pendapat tidak disyariatkannya dua saksi dalam nikah.

Mengikuti rukhsah para fuqaha’ menimbulkan mafsadah yang banyak. Di antaranya hilangnya kemulian agama (Islam), dan jadilah agama ini permainan ditangan manusia. Di antaranya juga meremehkan hal-hal yang haram dan meremehkan batasan-batasan syari’at.

Imam Asy-Syatibi telah menyebutkan sejumlah kerusakan-kerusakan ini, lalu menyebutkan kerusakan-kerusakan yang lain, dia berkata :”Seperti memisahkan diri dari (ajaran) agama dengan tidak mengikuti dalil beralih mengikuti khilaf (perselisihan), meremehkan agama, meninggalkan apa-apa yang telah diketahui (kebenarannya), rusaknya kaedah politik yang syar’i, yaitu dengan tidak adanya ketegasan amar ma’ruf (sehingga para hakimpun berbuat sewenang-wenang dalam keputusan-keputusan hukum mereka, maka seorang hakim berfatwa dengan rukhsah kepada orang yang dia senangi dan berfatwa yang menyulitkan kepada yang dia tidak sukai. Maka tersebarlah kekacauan dan kedzaliman-kedzaliman, dan seperti menjadi sarana menuju pendapat mengabung-gabungkan madzhab-madzhab dengan cara yang merusak ijma.”

Penutup

Dari apa yang telah kami jelaskan di atas, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya telah menetapkan beberapa rukhshah bagi umat-Nya. Karenanya, kita mengambil rukhshah-rukhshah yang telah jelas dalil-dalil syar’inya, sehingga kita tidak termasuk orang yang mencari-cari rukhshah, sehingga mengandalkan akal, hawa nafsu, dan perkataan segelintir ulama yang tidak berdasarkan kepada dalil. Wallahu Ta’ala A’lamu bish Shawab.

Reference :

  1. Ma’alim Ushul Fiqh, Syaikh Muhammad bin Husain Al-Jizani.
  2. Ahkam Tatabbu’ir Rukhash, Syaikh Abu Abdirrahmhman Ibrahim bin Abdillah Al-Mazru’i.
  3. Dan lain-lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s