Siapa Pemimpin Kaum Muslimin?

Prolog

Seorang pemimpin adalah pribadi yang sangat menentukan bagi suatu umat atau bangsa. Menentukan karena dengannya sebuah Negara bisa maju atau mundur. Bila seorang pemimpin tampil lebih memihak kepada kepentingan dirinya, tidak bisa tidak rakyat pasti terlantar. Sebaliknya bila seorang pemimpin lebih berpihak kepada rakyatnya, maka keadilan pasti ia tegakkan.

Keadilan adalah titik keseimbangan yang menentukan tegak tidaknya alam semesta ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegakkan langit dengan keseimbangan. Pun juga segala yang ada di bumi Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan dengan penuh keseimbangan. Padanan keseimbangan adalah keadilan, lawan katanya adalah kedzaliman.

Setiap kedzaliman pasti merusak. Bila manusia berbuat dzalim maka pasti ia akan merusak diri dan lingkungannya. Bayangkan bila yang berbuat dzalim adalah seorang pemimpin. Pasti yang akan hancur adalah bangsa secara keseluruhan.

Di dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menceritakan bahwa hancurnya umat-umat terdahulu adalah kerena kedzaliman pemimpinnya. Karena itu bila kita berusaha untuk memecahkan persoalan bangsa maka tidak ada jalan kecuali yang pertama kali kita perbaiki adalah pemimpinnya.

Pemimpin yang korup dan dzalim bukan saja akan membawa malapetaka terhadap rakyatnya tapi lebih jauh –dan ini yang sangat kita takuti – Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencabut keberkahan yang diberikan. Sungguh sangat sengsara sebuah kaum yang kehilangan keberkahan. Sebab dengan hilangnya keberkahan tidak saja fisik yang sengsara melainkan lebih dari itu, ruhani juga ikut meronta-ronta.

Umat Islam Wajib Mengangkat Seorang Pemimpin

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dari shahabat Abu Hurairah :

Jika ada tiga orang berada dalam suatu perjalanan maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin. (HR. Abu Dawud)

Sedangkan Al-Hakim meriwayatkan :

Jika ada suatu kelompok sebanyak tiga orang hendaknya mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin atas mereka. Itulah amir yang diperintahkan oleh Rasulullah saw.

Dan Imam Ahmad meriwayatkan :

…Tidak halal bagi tiga orang yang berada di bumi yang lapang kecuali mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin atas mereka.

Imam Asy-Syaukani berkata :

“Asy-Syaukani menjelaskan bahwa dalam ungkapan hadis Abu Hurairah terdapat dalil bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mensyariatkan bagi setiap kumpulan tiga orang atau lebih hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai amir atas mereka. Sebab, pengangkatan amir itu bisa menyelamatkan mereka dari perbedaan yang mengantarkan pada pertikaian.  Tanpa adanya pengangkatan amir, masing-masing akan bersikukuh dengan pendapatnya dan berbuat sesuai keinginan (hawa nafsu) masing-masing.  Akhirnya, mereka akan celaka.  Pengangkatan seorang amir itu akan meminimalkan adanya perbedaan dan pendapat akan menyatu. Jika pengangkatan amir itu disyariatkan bagi tiga orang yang bepergian bersama di muka bumi, tentu bagi kelompok orang yang lebih banyak yang tinggal bersama di suatu wilayah—sementara mereka memerlukan adanya amir itu untuk mengangkat kezaliman dan menyelesaikan persengketaan—pensyariatan pengangkatan amir itu lebih utama dan lebih urgen.  Hal itu merupakan dalil bagi orang yang berkata, “Wajib atas kaum Muslim mengangkat seorang imam, para wali dan pemerintah (para penguasa).”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :

“Jika telah diwajibkan pada kelompok yang paling kecil dan perkumpulan yang paling terbatas agar mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin, maka itu merupakan penyerupaan atas wajibnya hal itu (mengangkat seorang amir/pemimpin) pada kelompok yang lebih banyak dari itu.”

Pemimpin Adalah Cermin Rakyatnya

Rakyat yang cerdas tidak mungkin memilih pemimpin yang bodoh. Rakyat yang bersih tidak mungkin memilih pemimpin yang korup. Tetapi sebaliknya bila rakyatnya korup maka pasti yang akan dipilih adalah pemimpin yang korup. Karena itu terpilihnya Fir’aun sebagi raja, adalah karena rakyatnya bodoh dan bejat. Sebab siapakah sebenarnya seorang pemimpin, jika ia tidak mendapatkan dukungan? Ia sebenarnya tidak berdaya apa-apa. Jika semua rakyatnya bersatu untuk menyerangnya ia pasti tidak bisa bertahan. Karenanya pemimpin yang korup akan selalu menciptakan lingkungan agar rakyat tetap bodoh. Sebab dengan kebodohannya ia akan lebih lama berkuasa, dan lebih nyaman menikmaati kedzalimannya.

Sayyid Qutb –rahimahullahu- ketika menafsirkan ayat tentang Fir’aun dalam surat An Naziat menjelaskan bahwa sebenarnya Fir’un tidak mempunyai kekuatan sejumlah rakyatnya. Maka jika rakyatnya cerdas, mereka tidak mungkin mengizinkan Fir’aun terus berkuasa. Mereka pasti akan segera memberontak atas kedzalimannya. Namun karena mereka bodoh, maka Fir’aun merasa semakin tinggi. Puncaknya Fir’aun menjadi lupa daratan sehingga ia mendeklarasikan dirinya sebagai tuhan. Dia berkata seperti yang Allah Subhanahu wa Ta’ala rekam dalam surat An nazi’at: ”ana rabbukumul a’laa”. Saya tuhan kalian yang tinggi.

Perhatikan betapa seorang pemimpin adalah cerminan rakyat itu sendiri. Jadi sekarang tergantung kita sebagai rakyat, mau memilih pemimpin yang korup atau yang jujur dan adil, atau yang muslim atau kafir?

Siapa Yang Layak Jadi Pemimpin Kita?

Di dalam Al-Qur’an Allah Subhnahu wa Ta’ala mengingatkan :

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).”

Dalam Kitab Imamatul Uzhma, yang ditulis oleh Syaikh Abdullah bin Umar bin Sulaiman Ad-Dumaiji menyatakan bahwa mereka yang berhak menjadi pemimpin dalam Islam adalah mereka yang memenuhi sebelas berikut ini :

  1. Dia harus seorang muslim
  2. Baligh
  3. Berakal
  4. Merdeka
  5. Harus Lelaki
  6. Berilmu
  7. Adil
  8. Memiliki Kemampuan
  9. Tidak cacat secara fisik

10.  Yang tidak berambisi menjadi pemimpin

11.  Berasal dari kalangan Quraisy (khusus bagi khalifah)

Inilah syarat-syarat bagi mereka yang ingin menjadi pemimpin kaum muslimin, dan inilah kriteria yang dipilih oleh seorang muslim jika memilih seorang pemimpin.

Wajib Taat Kepada Pemimpin Kaum Muslimin Dalam Masalah Ma’ruf

Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairy dalam kitabnya Minhajul Muslim menyebutkan :

Orang Muslim juga beriman kepada kewajiban taat kepada para pemimpin kaum Muslimin, hormat pada mereka, berjihad bersama mereka, shalat di belakang mereka, dan haram membelot dari mereka. Oleh karena itu, terhadap mereka, orang Mukmin memberlakukan etika khusus.

Terhadap pemimpin kaum Muslimin, maka seorang Muslim:

  1. Berpendapat bahwa hukumnya wajib patuh kepada mereka, berdasarkan dalil-dalil yang ada, misalnya:

Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian.” (An-Nisa’: 59).

Sabda Rasulullah saw., “Barangsiapa taat kepadaku, ia taat kepada Allah. Barangsiapa bermaksiat kepadaku, ia bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa taat kepada pemimpinku, ia taat kepadaku. Dan barangsiapa bermaksiat kepada pemimpinku, ia bermaksiat kepadaku.” (Muttafaq Alaih)

Namun ia tidak berpendapat wajib mentaati mereka dalam maksiat kepada Allah Ta’ala, karena taat kepada Allah Ta’ala wajib tetap didahulukan atas taat kepada mereka berdasarkan dalil-dalil yang ada, misalnya:

Firman Allah Ta’ala, “Dan mereka tidak bermaksiat kepadamu dalam kebaikan.” (Al-Mumtahinah: 12).

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya ketaatan itu pada kebaikan.” (Muttafaq Alaih).

“Tidak ada kewajiban taat pada makhluk dalam maksiat kepada Allah.” (Diriwayatkan Ahmad dan Al-Hakim menshahihkan hadits ini).

“Mendengar dan taat diwajibkan kepada orang Muslim dalam apa yang ia sukai dan benci, selagi ia tidak disuruh bermaksiat. Jika ia disuruh bermaksiat, ia tidak wajib mendengar dan taat.” (Muttafaq Alaih).

2        Berpendapat bahwa hukumnya haram membelot dari mereka, atau mengumumkan pembangkangan terhadap mereka. Karena, tindakan tersebut memecah tongkat ketaatan kepada pemimpin kaum Muslimin, berdasarkan sabda Rasulullah berikut:

“Barang siapa tidak menyukai sesuatu pada pemimpin, hendaklah ia bersabar, karena barangsiapa keluar dari pemimpin sejengkal saja, ia mati dalam keadaan mati jahiliyah.” (Muttafaq Alaih).

“Barangsiapa menghina pemimpin (Muslim), maka Allah menghinanya.” (HR. At-Tirmidzi dan ia menghasankan hadits ini).

  1. Mendoakan mereka mendapatkan kebaikan, petunjuk, bimbingan, terjaga dari keburukan, dan terjaga dari jatuh ke dalam kesalahan. Sebab, kebaikan umat ditentukan oleh kebaikan mereka. Ia harus menasihati mereka (pemimpin) tanpa bermaksud menghina, atau mencerca kehormatannya, karena sabda Rasulullah saw., “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Rasulullah saw. bersabda, “Untuk Allah, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan kaum Muslimin secara umum.” (HR Muslim).
  2. Berjihad bersama mereka dan shalat di belakang mereka, kendati mereka fasik atau mengerjakan hal-hal yang diharamkan yang bukan termasuk kekafiran, berdasarkan dalil-dalil seperti berikut:

Sabda Rasulullah saw. kepada orang yang bertanya beliau tentang hukum taat kepada peimimpin yang buruk, “Dengarkan dan taatlah, mereka berkewajiban terhadap apa yang dibebankan kepada mereka dan kalian berkewjiban terhadap apa yang dibebankan kepada kalian.” (HR. Muslim).

Ucapan Ubadah bin Ash-Shamit Radhiyallahu Anhu, “Kita berbaiat pada Rasulullah saw. untuk mendengar dan taat di saat kami giat, atau kami tidak giat, di saat kesulitan kita atau kemudahan kita, dan kita tidak memperebutkan sesuatu dengan pemiliknya.” Rasulullah saw. juga bersabda, “Kecuali jika kalian melihat kekafiran yang terang-terangan dan kalian di dalamnya mempunyai dalil dari Allah.” (HR. Muslim)

Wallahu A’lamu bish Shawab

Reference :

  1. Imamatul ‘Uzhma, Syaikh Abdullah bin Umar bin Sulaiman Ad-Dumaiji.
  2. Minhajul Muslim, Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairy
  3. Dan lain-lain.

One response to “Siapa Pemimpin Kaum Muslimin?

  1. Ketentuan di atas di miliki oleh kaum muslimin.Memang demeikianlah ketentuan kita dalam memilih Pemimpin. Tetapi di NKRI agaknya lain.
    Negara ini bukan hanya milik orang muslim. penentunnya adalah penduduk NKRI yang terdiri dari berbagai macam agama dan kepercayaan.Penduduk mayoritas beragama islam pun tidak menjamin bisa bersepakat disebabkan kadar iman keislamannya yang hanya berkwalitas indentitas KTP.
    Semoga saja kita semua berpegag teguh pada ketentuan cara memilih capres cawapres yang digariskan dalam agama nya.islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s