Hukum Melafazhkan Niat

Pada saat sekarang ini banyak kaum muslimin yang selalu dihantui rasa was-was, namun hal ini tidak mereka sadari, sehingga setan dengan leluasa untuk menggodanya. Dan tidak jarang kita melihat orang yang akan melaksanakan sholat bertakbir, namun dia selalu mengulangi takbirnya itu, sehingga kadang seolah-olah dia terpaksa merelakan takbirnya ketika imam sudah ruku’. Artinya ketika takbir-takbir yang sebelumnya dia anggap tidak sah, dia menganggap niatnya telah batal padahal yang namanya niat sampai kapanpun tidak pernah batal.

Niat adalah kehendak dan tekad untuk melakukan sesuatu dan tempatnya adalah didalam hati, bahkan pada dasarnya tidak ada hubungannya dengan lisan. Dan untuk memperjelas masalah ini akan saya utarakan pendapat para Ulama’ baik madzhab Maliki, Hanafi, Syafi’I dan Hanbali.

  1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rohimahullah berkata : “Melafadzkan niat menunjukkan kekurangan dalam berfikir dan beragama. Jika dilihat dari kaca mata agama, maka melafadzkan niat termasuk perkara bid’ah, sedangkan jika dilihat dari kaca mata akal, maka orang yang melafadzkan niat sama seperti orang yang hendak menyantap makanan sambil berkata: “ Aku berniat meletakkan tanganku di piring ini, aku ingin mengambil sesuap darinya, lalu memasukkannya ke mulut, mengunyahnya dan menelannya agar aku kenyang”. Tentu hal ini menunjukkan ketidak beresan dalam akalnya.[1]
  2. Ibnul Qoyyim Rahimahullah berkata : “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mengucapkan “Nawaitu Ro’al Hadats” (aku berniat menghilangkan hadats). Beliau sama sekali tidak pernah berbuat seperti itu, tidak pula seorang pun dari para Shahabat. Sekalipun lafadz niat itu hanya satu huruf, tidak pula ditegaskan riwayat yang shohih maupun dho’if.[2]
  3. Al-Imam Asy-Syafi’I berkata : “Was-was dalam niat shalat dan thaharah termasuk kebodohan terhadap syari’at atau membingungkan akal.[3]

4 .  Abu Abdillah Az-Zubairi yang masih termasuk Ulama’ madzhab Asy-Syafi’I, telah keliru ketika menyangka bahwa Al-Imam Asy-Syafi’I telah mewajibkan untuk melafadzkan niat ketika seseorang sholat. Sebab kekeliruannya itu adalah kurang terbiasa menangkap dan memahami perkataan Asy-Syafi’I dengan benar. Adapun ucapan Imam Asy-Syafi’I adalah : “Jika seseorang berniat menunaikan ibadah haji atau umrah dianggap cukup, sekalipun tidak dilafadzkan, tidak seperti shalat, tidak dianggap sah kecuali dengan An-Nuthq (yang diartikan oleh Az-Zubairi dengan melafadzkan, padahal yang dimaksud dengan An-Nuthq oleh Imam Asy-Syafi’I disini adalah Takbir)[4].

  1. Imam An-Nawawi berkata : “Beberapa rekan kami berkata : “Orang yang mengatakan itu, telah keliru, karena bukan itu yang dikehendaki oleh Imam Asy-Syafi’I dengan kata An-Nuthq didalam sholat. Akan tetapi yang dimaksud adalah Takbir”.[5]
  2. Ibnu Abil Izz Al-Hanafi berkata : “Tidak ada sorang Ulama’ pun dari empat Imam Madzhab, tidak Asy-Syafi’I maupun lainnya yang mensyri’atkan melafadzkan niat. Menurut kesepakatan mereka niat itu tempatnya dihati.[6]
  3. Abu Abdillah Muhammad bin Al-Qosim At-Tunisi Al-Maliki berkata : “Niat itu termasuk perbuatan hati. Mengeraskan lafadz niat termasuk bid’ah, selain itu juga bisa mengganggu konsentrasi orang lain.[7]
  4. Syaikh bin Abdul Aziz bin Bazz berkata : “Melafadzkan niat adalah bid’ah, sebab tidak pernah ada riwayat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan seorang Shahabatpun. Maka meninggalkannya adalah wajib, sebab tempat niat ada didalam hati dan sama sekali tidak diperlukan lafadz niat.[8]

Demikianlah peryataan dari para Ulama’Madzhab Arba’ah, lalu madzhab siapakah yang akan kita ikuti kalau dari kempat Imam Madzhab tersebut sepakat tentang tidak disyari’atkannya melafadzkan niat. Wallahu A’lamu Bishshowab.

Daftar Pustaka :

1.Ighotsatul Lahfan, Ibnul Qoyyim.

2.101 Kekeliruan Dalam Thaharah, Sulaiman bin Abdurrohman Al-Isa.

3.Fatwa-Fatwa Shalat, Syaikh Abdul Aziz bin Bazz.

4.Bahaya Sikap Was-was, Ibnul Qoyyim.

5.Bid’ah Dalam Masjid, Muhammad Jamal Al-Qosimy.

6.Membedah Akar Bid’ah, Ali Hasan Al-Halaby Al-Atsary.

7.Koreksi Total Ritual Sholat, Syaikh Masyhur bin Hasan Salman.


[1] Al-Fatawa Al-Kubro : I/ 214

[2] Zaadul Ma’ad : I/ 196

[3] Al-Amru bil Ittiba’ Wan Nahyu Anil Ibtida’ : Lauhah .28

[4] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab : II/ 243

[5] At-Ta’lim : 100

[6] Al-Ittiba’ : 62

[7] Al-Fatawa Al-Kubro : I/ 254

[8] Al-Fatawa bin Bazz : II/ 51

Komentar ditutup.