Fiqh Zakat Fitri (Bagian 1)

Definisi Zakat Fitri

Zakat fithri yaitu shadaqah yang dikeluarkan pada akhir Ramadhan, pada malam hari Raya dan pagi harinya. Disebut  dengan zakat fithri karena ia disyariatkan ketika bulan (Ramadhan) telah sempurna dan pada saat umat Islam yang melaksanakan shaum sudah berbuka dari shaum Ramadhan.[1]

Al-’Allamah Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab menyebutkan, bahwa arti zakat secara bahasa adalah thaharah (kesucian), berkembang, berkah dan tumbuh.[2]

Adapun secara syara’, Abdurrahman Al-Jazary berkata: “Zakat adalah penetapan hak milik tertentu untuk orang yang berhak dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan.” [3]

Dan para ulama’ madzhab Hanbali menambahkan: “…dan dalam waktu tertentu pula.” [4]

Dinamakan zakat fithrah karena dengannya mewajibkan berbuka dari puasa Ramadhan (tidak berpuasa lagi). Adapun penamaan lain dari Zakat Fitrah adalah: Zakat Ramadhan, Zakat Shaum, Shadaqah Fithri, Shadaqah Shaum, Zakat Al-Badan, dan Shadaqah Ar-Ru’us (Shadaqah Individu).

Disyariatkannya Zakat Fitri

Zakat Fithri disyariatkan dan diwajibkan oleh Allah pada bulan Ramadhan, kewajiban ini turun kepada Rasulullah pada bulan Sya’ban tahun ke-2 Hijriah.

Ada juga yang berpendapat kewajiban itu turun pada bulan Ramadhan 2 hari sebelum dilaksanakannya shalat ‘Ied (hari raya ‘Iedul fitri) pada tahun ke-2 Hijriyah. Sebab zakat fithri disandarkan kepada Ramadhan dan berbuka dari shaum. Di samping itu, tidak pernah disebutkan bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para shahabat bershaum Ramadhan tanpa mengeluarkan zakat fithri.

Hukum Zakat Fitri

Hukum menunaikan zakat fithri adalah wajib bagi seluruh kaum muslimin yang mampu membayarnya pada saat itu, hal ini telah disepakati oleh Jumhur Ulama’ berdasarkan dalil-dalil yang shahih di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat (amil), para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekaan) budak, orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Biajaksana. (QS. At-Taubah: 60).

Dan juga sebuah hadits yang bersumber dari shahabat Abdullah bin Umar –radhiyallahu ‘anhu- ia berkata:

“Bahwa Rasulullah Sallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mewajibkan zakat fithrah setelah Ramadhan (senilai) satu Sha’ dari tamar (kurma kering) atau satu Sha’ dari gandum atas setiap kaum muslimin yang merdeka atau budak, laki-laki atau perempuan.” ( HR. An-Nasa’i, no. 2052 )

Dalam hadits lain disebutkan :

Dari Ibnu Umar –radliyallahu ‘anhuma- ia berkata: “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mewajibkan untuk menunaikan zakat fitrah dengan satu Sha’ kurma kering, atau satu Sha’ tepung gandum bagi setiap hamba sahaya, orang merdeka, kaum laki-laki, kaum perempuan, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslimin, dan beliau juga memerintahkan untuk menunaikannya sebelum orang-orang pergi mengerjakan shalat (‘Iedul Fitri).”( HR. Al-Bukhari, no.1503, dan Muslim, no. 2326).

Pendapat Para Ulama

Diwajibkan menunaikan zakat fithri bagi seluruh kaum muslimin baik anak kecil maupun orang dewasa, laki-laki maupun perempuan, orang yang merdeka maupun hamba sahaya yang mampu menunaikannya pada saat itu, dan ini merupakan kesepakatan Jumhur Ulama’.

Zakat ini wajib dibayarkan terhadap diri sendiri dan terhadap orang-orang yang menjadi tanggungannya. Seperti isteri dan keluarga, apabila mereka tidak mampu melaksanakannya sendiri. Akan tetapi apabila mereka mampu melaksanakannya sendiri, itu lebih baik, karena mereka sendirilah yang dimaksud dalam kewajiban tersebut.

Adapun anak kecil yang belum memiliki harta maka dibebankan pada bapaknya, sedangkan istri dibebankan pada suaminya, dan budak dibebankan pada tuan(majikan)nya, namun jika istri melakukan perbuatan nusyuz (durhaka kepada suaminya) sehingga menyebabkan suaminya tidak memberikan nafkah kepadanya maka tidak ada kewajiban suaminya untuk membayarkan zakat fitrahnya, karena zakat fitrah itu harus ditunaikan bagi seorang muslim untuk dirinya sendiri ataupun orang-orang yang ia nafkahi (seperti: istri, anak dan budak).

Sedangkan bayi yang berada di dalam kandungan Ibunya maka tidak diwajibkan untuk menunaikan zakat fitrah, namun kebanyakan Ahli Ilmu menghukuminya sunnah untuk ditunaikan, karena hal itu dilakukan oleh shahabat Utsman bin ‘Affan –radliyallahuanhu-.

Zakat fithri tidak diwajibkan kecuali terhadap orang yang mempunyai kelebihan dari keperluannya ketika malam hari raya dan pagi harinya. Jika ia tidak memiliki kelebihan harta kecuali kurang dari satu Sha’ maka hendaknya ia dengan kelebihan itu (yang jumlahnya kurang dari satu Sha’) membayar zakat fithrahnya. Hal itu berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” ( QS. At-Taghabun:16 ).

Wallahu A’lamu bish Shawab.


[1] Lihat: Al Mukhtar, Ahkam wa Adab lil Hadits fi Syahri Ramadhan, Fatawa Az-Zakah, Syaikh Al-Jibrin, Kifayatul Akhyar.

[2] Lisanul Arab: 14/358.

[3] Al-Fiqh ‘Ala Madzahibil Arba’ah: 1/536.

[4] Ibid.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s