Apa Yang Kita Harapkan Setelah Ramadhan? (Meretas Istiqamah Bakda Ramadhan InsyaAllah)

Apa Itu Istiqamah?

Istiqamah didahului oleh Iman, artinya: Imanlah yang kita perjuangkan.

Abu Amrah Sufyan bin Abdullah berkata’ “Ya Rasulullah, katakanlah bagi saya satu perkataan dalam Islam ini, yang setelah ini saya tidak perlu memintanya kepada orang lain. “Maka beliau menjawab, “Katakanlah saya beriman kepada Allah. Lalu Istiqamahlah kamu.” (HR. Muslim No. 38)

Shahabat Ali –radiyallahu ‘anhu- mengartikan “lalu istiqamahlah” adalah kerjakanlah apa-apa yang diperintahkan.

Imam Ibnu Zaid dan Qatadah mengatakan, “Beristiqamahlah dalam ketaatan kepada Allah”.

Imam Hasan Al-Bashri mengatakan, “Istiqamah atas perintah Allah dengan melaksanakan ketaatan dan menjauhi maksiat”.

Imam Mujahid dan Ikrimah menyatakan, “Istiqamah dengan syahadatnya hingga ia mati”.

Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Beramal sesuai dengan ucapannya”.

Apa yang diungkapkan oleh para ulama shahabat dan tabi’in di atas saling menguatkan. Kesimpulannya, sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Al-Qurthubi, “Selalu ta’at kepada Allah Ta’ala baik lewat keyakinan, perkataan maupun perbuatan”. (Tafsir Al Qurtubi: XV/358)

Jadi segala gerak-gerik hati, ucapan lisan, dan perbuatan anggota badan harus senantiasa dalam keta’atan kepada Allah Ta’ala, inilah pekerjaan yang disebut dengan Istiqamah. Pekerjaan yang selalu menimbang pahala dan dosa, akhirat dan dunia. Istiqamah berarti selalu beramal sholih dimanapun dan kapanpun kita berada. Istiqamah berarti rajin dan tidak lemah semangat. Berat memang, karena ukurannya adalah sampai kita menghadap kepada Allah Rabbul Izzati.

Allah berfirman:

“Janganlah kalian mati melainkan kalian dalam keadaan Islam”. (QS. Ali Imran: 102)

Derajat Istiqamah

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah menyebutkan bahwa Istiqamah mempunyai tiga tingkatan, yaitu:

  1. Beramal dengan rajin tanpa berlebih-lebihan, sesuai dengan kemampuan dengan memelihara keikhlasan dan Ittiba’.
  2. Senantiasa membedakan antara hal yang dicintai Allah dan yang dibenci-Nya, perintah dan larangan, pahala dan dosa. Dengan demikian, bisa menyadari betul mana yang harus dikerjakan dan mana yang harus ditinggalkan.
  3. Selalu sadar dan mejauhi kelalaian. Lalai sesaat berarti kerugian tersendiri, karena pada hakekatnya waktu itu adalah diri kita sendiri. Bila ia berkurang, maka bagian dari diri kita juga ikut berkurang. (Tahdzib Madarijus Salikin, hal: 529).

Tiga Kabar Gembira

Dalam Surat Al Fushshilat ayat 30 dan 31 Allah menyebutkan beberapa fasilitas akhirat yang telah disediakan bagi orang-orang mukmin yang beristiqamah, yaitu turunnya malaikat kepada mereka. Menurut Imam Waki’ dan Ibnu Zaid, tiga kabar gembira itu adalah saat mati, dialam kubur dan ketika dibangkitkan.

Alangkah bahagianya bila kita bisa merasakan kenikmatan ini, ditiga kesempatan yang maha genting ini kita diberi kabar gembira oleh malaikat. Kabar gembira apakah itu???

  • “Janganlah kalian takut”. Imam Atha’ bin Abi Rabah menyatakan, “Jangan takut amalmu ditolak, karena Allah telah menerimanya”. Imam Ikrimah menyatakan, “Jangan takut masa depanmu diakhirat”.
  • “Jangan sedih”. Imam Mujahid menyatakan, “Jangan sedih memikirkan anak cucumu (yang engkau tinggalkan) karena cucumu Allahlah yang menanggung mereka”. Imam Atha’ dan Ikrimah menyatakan, “Jangan sedih memikirkan dosamu, Allah telah mengampuninya”.
  • “Bergembiralah dengan jannah yang telah dijanjikan”. Jannah, itulah janji Allah. Janji Allah yang tidak pernah diingkari-Nya. (Tafsir Al Qurtubi, XV:358-359). Wallahu A’lam. Baca lebih lanjut
Iklan

Teks Khutbah Idul Fithri 1430 H

Musibah Yang Menimpa Kaum Muslimin

Oleh: Tengku Azhar, Lc.

InsyaAllah Disampaikan Pada Khutbah Idul Fithri 1430 H Masjid UD. Al-Hakam, Ngemplak, Solo, Jawa Tengah

السلام عليكم ورحمة الله وبراكاته
الحمد لله رب العالمين وبه نستعينه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهد الله فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلا الله و أشهد أن محمدا رسول الله.
اللهم صل على محمد و على آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد
فيا أيها المسلمون اتقوا الله فقد فازالمؤمنون المتقون
قال تعالى :ياأيها الذين ءامنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون.
الله أكبر الله أكبر …لاإله إلا الله الله أكبر… الله أكبر ولله الحمد…..

Hadirin jamaah sholat Ied yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wata`ala.
Marilah pertama-tama kita selalu dan senantiasa berucap syukur kehadiran Allah Subhanahu Wata`ala di dalam setiap kesempatan, baik kita dalam keadaan senang atau pun dalam keadaan susah. Terlebih lagi pada hari yang cerah ini Allah masih memberikan limpahan rahmat kepada kita semua, sehingga kita masih bisa berkumpul di tempat ini tidak kurang suatu apa pun.
Sholawat dan salam semoga terus terlimpahkan kepada junjungan Nabi besar kita Muhammad Shollaallahu alaihi Wassalam , keluarga, sanak famili, sahabat dan orang-orang yang selalu dan senantiasa mengikut jalannya dengan baik sampai hari kiamat.

Hadirin jamaah sholat Ied yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wata`ala .
Sebulan penuh lamanya kita berpuasa, menahan rasa lapar dan haus, menahan rasa marah, menahan rasa iri, dengki, hasad dan hasud. Kita amalkan amalan-amalan sholih, kita jalin hubungan silaturahmi dan kebersamaan. kita sangat berharap semoga istiqomah dan sabar dalam mengamalkan perintah-perintah Allah dan Rasulya Shalallahu ‘Alai Wasalam hingga malaikat maut menjemput kita. Amin..
Meskipun pada hari ini kita sangat bahagia, telah berhasil menjalankan puasa sebulan penuh tanpa adanya hambatan yang berarti, namun perlu kami sampaikan kepada hadirin sekalian bahwasannya kita umat Islam secara umum, hari ini, pada hakikatnya sedang menghadapi rasa duka yang sangat memprihatinkan. Para ulama mengungkapkan bahwa minimal ada 6 ( enam ) masalah besar yang sedang dihadapi oleh umat islam pada hari ini :

Pertama: Sistem politik umat islam secara umum pada hari ini telah dikuasai oleh orang-orang kafir.

الله أكبر الله أكبر …لاإله إلا الله الله أكبر… الله أكبر ولله الحمد…..
Hadirin sekalian …….……………………
Telah menjadi kenyataan yang harus kita hadapi, bahwa semenjak runtuhnya pemerintahan umat islam diturki tahun 1924 yang silam, umat islam mulai hidup bercerai berai, ibarat anak ayam yang kehilangan induknya. Hari ini umat islam telah kehilangan tulang punggungnya, umat islam telah dianiaya oleh musuh-musuhnya, terutama orang-orang kafir yang diketuai oleh Amerika, nyali umat islam telah terjual dan tergadaikan,tak ada kemampuan dan daya upaya untuk bangun. Perpolitikan umat islam telah mereka kuasai, umat islam pada hari ini hanyalah sekedar robot yang dimainkan oleh anak kecil, lemah dan sangat lemah.

Hadirin sekalian …….……………………
Mengapa hal ini bisa terjadi..mengapa hal ini bisa menimpa kita …? Perlu untuk kita pahami bersama bahwa ini adalah hukuman yang Allah berikan kepada kita, Allah menimpakan musibah ini lantaran kita telah jauh dari ajaran-Nya, kita telah melupakan sholat, kita tidak mau melaksanakan shaum, kita tidak mau menunaikan zakat dan sedekah, kita tidak mau menolong sesama kaum muslimin, tapi justru kita senang dan bangga bila bisa bersahabat dan bergandeng tangan dengan orang-orang kafir yang telah Allah murkai. Padahal Allah telah berfirman dalam ayatnya :

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ .( المائدة : 5 )
“ Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk ( kepada Allah ) “. ( Qs. Al Maidah : 55 )

Kedua : Adanya intervensi budaya – budaya asing.

الله أكبر الله أكبر …لاإله إلا الله الله أكبر… الله أكبر ولله الحمد…..
Hadirin yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wata`ala .
Tidak bisa kita pungkiri bahwa penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan oleh masyarakat kita pada hari ini tidak lain dan tidak bukan adalah hasil didikan dari turis-turis kafir yang datang ke indonesia. Mereka telah mengajari anak-anak kita bagaimana berzina, mereka telah mengajari anak-anak kita bagaimana telanjang, berciuman dipinggir jalan, minum-minuman keras, berjudi dan lain-lain. Padahal orang-orang Indonesia adalah terkenal dengan adat ketimurannya, kita telah terdidik dengan adat ketimuran yang penuh dengan sopan dan santun. Kita tidak mengenal apa itu zina, bagaimana bertelanjang, bagaimana berciuman dan lain-lain. Namun sangat disanyangkan, semua itu telah hilang dan berubah, nasi telah menjadi bubur, dan susu telah terkena kotoran tikus.
Hadirin sekalian ………………………
Justru yang menambah kesedihan kita adalah sifat masa bodohnya orang-orang atasan, orang-orang yang hari ini memegang jabatan penting, mereka telah membuka pintu masuk Indonesia dengan sangat lebar, sehingga turis-turis kafir itu bebas masuk dan bergentayangan. Hanya alasan uang, hanya alasan menambah devisa negara, itulah yang menjadikan mereka buta dengan nasib bangsa kita.
Sebenarnya kita ini adalah negara yang sangat kaya raya. Kita miskin karena harta negara telah dimakan oleh orang – orang yang tidak bertanggung jawab, maka jadilah kita seperti yang sekarang ini. Tidakkah kita ingan dengan hadit Rasulullah Shollaallahu alaihi Wassalam :

وَ أَيُّمَا عَبْدٍ نبََتَ لَحْمُهُ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَْولَى يِهِ
“ Siapa pun seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari sesuatu yang haram, maka neraka lah tempat yang paling pantas baginya”.

Dan dalam hadits yang lain disebutkan :
لَا يَقْبَلُ الله ُصَلَاةَ اْمرِئٍ فِي جَوْفِهِ حَراَمٌ
“ Allah tidak akan menerima sholatnya seorang hamba yang masuk kedalam kerongkongannya barang haram.”

Ketiga : Akhlak umat Islam telah hancur

الله أكبر الله أكبر …لاإله إلا الله الله أكبر… الله أكبر ولله الحمد…..
Hadirin sekalian …………………………
Hasil dari intervensi-intervensi budaya asing itu telah menjadikan akhlak umat islam hancur sehancur-hancurnya. Hari ini kita sudah tak heran lagi bila mendengar seorang ayah dengan tega merenggut kegadisan anak kandungnya sendiri, kita tidak heran lagi bila kita hari ini mendengar seorang kakek tega memperkosa cucunya, seorang anak tega menggauli ibu kandungnya sendiri. Inna Lillah Wa Inna Ilaihi Rojiun……………….dosa apa lagi yang akan kita saksikan ……..? Akankah hal semacam ini akan terus berkelanjutan ?, hanya Allah yang tahu. Maka kita sebagai umat islam haruslah menyadari akan semua musibah yang telah menimpa kita hari ini, dan seharusnya kitalah yang pertama-tama memperkasai untuk dibakarnya tempat-tempat mesum, vcd-vcd porno dan lain sebagainya.
Hadirin sekalian ……………………….
Kita tidak bisa untuk berharap lebih banyak kepada orang lain, dan kita juga tidak bisa mengharapkan apa pun dari peran serta pemerintah, sebab pada hakikatnya mereka sendirilah yang menciptakan semua kondisi semacam ini. Mereka telah melindungi pelacuran, mereka juga telah melindungi bandar-bandar togel, dan mereka pula-lah yang telah menikmati hasilnya.

Keempat : Ekonomi umat islam telah ditekan dan dikuras oleh musuh-musuh islam

الله أكبر الله أكبر …لاإله إلا الله الله أكبر… الله أكبر ولله الحمد…..
Hadirin sekalian ……………………..
Ini adalah program orang-orang kafir, sebab bila kita sebagai umat islam telah miskin dan melarat, maka kita akan butuh makan, kita akan butuh bantuan, dan bila kita telah butuh, mereka orang-orang kafir akan dengan senang hati memberi bantuan kepada kita tanpa ada perhitungan. Sebab dengan begitu kita akan merasa punya hutang budi kepada mereka dan kita akan menjadi budak mereka, dan pada akhirnya kita akan dengan mudah sekali untuk menukarkan agama kita hanya dengan satu kadus Idomie Naudzu billah Minzalik.
Maka untuk itu saya mengajak kepada hadirin sekalian untuk giat- giat dalam bekerja dan membangun perekonomian kita. Nabi Shollaallahu alaihi Wassalam bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْ كُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَأَنَّ نَبِيَ الله ِدَاوُدَ كاَنَ يَأ كُلَ مِنْ عَمَلِ َيدِهِ
“ Tidaklah sekali-kali seorang memakan makanan yang lebih baik dari pada makan dengan hasil kerja tangannya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Allah Dawud makan dari hasil tangannya sendiri “. ( Hr. Bukhori )
Hadirin sekalian……………………………..
Sungguh amat sangat aib bila kita umat islam terus- menerus merengek- rengek minta bantuan dan belas kasihan orang lain. Kita harus bisa mandiri dan merdeka, agar kita juga bisa merdeka dari perbudakan.
Kelima : Tertinggalnya umat islam dalam ilmu pengetahuan

الله أكبر الله أكبر …لاإله إلا الله الله أكبر… الله أكبر ولله الحمد…..
Jamaah sholat Ied yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wata`ala
Mungkin inilah sebab yang paling besar yang dialami oleh umat islam pada hari ini. Kita terhina, dilecehkan, diambil hak-haknya, diperbudak dan didholimi lantaran kita ini bodoh. Sehingga kita menurut saja bila diperbudak oleh orang lain, seperti kerbau yang ditusuk hidungnya, kemana pun tuannya pergi maka ia akan menurut dan patuh.
Hadirin yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wata`ala .
Hendaknya kita belajar dari pengalaman, bukankah Nabi kita Muhammad Shollaallahu alaihi Wassalam pernah bersabda :
طَلَبُ اْلعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلىَ كُلِّ مُسْلِم
ٍ“ Menunut ilmu itu wajib bagi seorang muslim”
Bila kita pandai, kita pintar dan bisa melihat segala permasalahan dengan baik, kita tidak akan dibohongi terus-menerus. Sesungguhnya pendahulu-pendahulu kita bisa jaya karena mereka mempunyai harga diri dan kewibawaan, sedangkan harga diri dan kewibawaan hanya akan kita dapatkan bila kita mempunyai ilmu dan pengetahuan. Namun sangat disayangkan, ternyata pemerintah telah membuat rancangan program pembodohan umat jangka panjang. Dengan biaya pendidikan yang mahal inilah umat akan putus sekolah, bila umat telah putus sekolah maka kebodohan akan ada dimana-mana, dan kita sebagai warga negara indonesia sekaligus sebagai komunitas muslim akan hidup dalam kebodohan dan terbelakang.

Keenam : Dan yang terakhir adalah terpecahnya umat islam kedalam kelompok-kelompok.

الله أكبر الله أكبر …لاإله إلا الله الله أكبر… الله أكبر ولله الحمد…..
Hadirin jamaah sholat Ied yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wata`ala .
Ini adalah hasil puncak dari semua musibah diatas. Karena telah hancurnya perpolitikan kita, hancurnya akhlak dan norma-norma masyarakat, hilangnya perekonomian serta terbelakangnya pendidikan, telah menjadikan kita terpecah-pecah, saling tuding dan saling menyalahkan antara yang satu dengan yang lainnya. Dan inilah yang diinginkan oleh musuh-musuh islam, padahal Allah Subhanahu Wata`ala telah berfirman dalam ayat-Nya :
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ. ( ال عمران : 103 )
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” ( Qs. Ali Imron : 103 )

Juga firman Allah :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُون
“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.َ”
( Qs. Al Hujurot : 10 )
Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga dapat menggugah hati kita, dan menyadarkan kita untuk selalu memperjuangkan islam dan membelanya agar tidak mudah dimakan oleh musuh-musuh islam. Dan semoga juga kita masih diberi kesempatan dan kemudahan oleh Allah Subhanahu Wata`ala untuk melaksanakan ibadah shiyam pada tahun yang akan datang dan semoga pula ramadhan yang akan datang kita bisa lebih baik daripada ramadhan yang barusan kita lewati. Sungguh sangat rugi orang yang hari besok lebih buruk daripada hari sekarang………mari kita akhiri dengan do’a :

Doa` Penutup
اللهم اغفر للمسلمين و المسلمات والمسلمين والمؤمنات الأحياء منهم و الأموات إنك قريب مجيب الدعوات.
ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفرلنا وترحمنا لنكوننّ من الخاسرين
ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا ربنا ولا تحمل علينا إصرا كما حملته على الذين من قبلنا ربنا ولا تحملنا ما لا طاقة لنا به واعف عنا واغفر لنا وارحمنا أنت مولانا فانصرنا على القوم الكافرين
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم
والحمد لله رب العالمين.
و السلام عليكم ورحمة الله وبراكاته

Fiqh Zakat Fitri (Bagian 2)

Pemilik Harta Zakat Fithrah

Madzhab Hanbali mengatakan, “Zakat fithrah wajib atas orang yang mempunyai kelebihan makanan pokok dan untuk keluarganya pada hari Idul Fitri dan malamnya selain harta yang merupakan kebutuhannya, seperti tempat tinggal, pembantu, kendaraan, pakaian sederhananya, dan buku-buku pengetahuan.”[1]

Imam An-Nawawi menjelaskan: “Tentang kecukupan  (اليسار)adalah orang-orang yang mempunyaik kelebihan bahan makanan pokok pada malam hari dan siang hari Idul Fitri, baik untuk dirinya, keluarganya dan orang-orang yang harus ditanggungnya.[2]

Syarat-Syarat Mustahiq Zakat

1. Fakir kecuali Amil, Ibnu Sabil, Pejuang fi Sabilillah, meskipun mereka termasuk orang-orang yang kaya. Begitu juga zakat fithrah halal bagi thalibul ilmi asy-syar’iyyah, dikarenakan menuntut ilmu syar’i adalah fardhu kifayah, ditakutkan karena cenderung untuk bekerja akhirnya dia meninggalkan kewajiban menuntut ilmu tersebut. Tetapi jumhur ulama, lebih mengutamakan zakat fithrah dialokasikan kepada fakir dan miskin.

2. Muslim, tidak boleh memberikan zakat fithrah kepada orang kafir (tidak ada khilaf antar fuqaha’ dalam hal ini).

3. Bukan merupakan tanggungan nafkoh bagi muzakki (orang yang berzakat). Yaitu kaum kerabat, istri, seperti orang tua (ke atas), anak (ke bawah), hal ini di karenakan menafkahi mereka adalah wajib hukumnya. Boleh memberikan zakat kepada kerabatnya yang lain seperti saudara laki-laki maupun saudara perempuan, paman, bibi, dan lain sebagainya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

لحديث الطبراني عن سلمان بن عامر : الصّدقةُ على المسلمين صدقةٌ وهي لذي ا لرحْمِ اثنتان, صدقةٌ و صِلَّةٌ.(الطبراني). بل اِنَّ القرابةَ اَحقُّ بِزكاَةِ المُزَكِّي قال مالكُ, أَفضلُ مَنْ وضعتَ فيهِ زَكاتكَ قَرَابَتَكَ الَّذِي لاَ تَعولُ (الفقه الاسلامي 2\885,886)

“Sebuah shadakah atas muslim adalah shodaqoh dan jika ia diberikan kepada dhawi rohim dapat dua perkara yaitu shodaqoh dan menyambung tali persaudaraan.

Bahkan kerabat itu lebih berhak atas zakat. Imam malik berkata:”Lebih utama jika kamu memberikan zakatmu kepada kerabatmu yang bukan merupakan tanggunganmu.4

4. Tidak dari Bani Hasyim

5. Baligh, berakal, merdeka. 5

Jenis dan Ukuran Zakat Fithrah

Adapun jenis makanan yang boleh dipergunakan untuk membayar zakat fithri ialah makanan pokok, seperti kurma,, gandum, beras, kismis, keju kering atau lainnya yang termasuk makanan pokok manusia.

Ukuran zakat fitrah yang telah ditentukan oleh Rasululloh saw adalah satu sho’ atau sebanding dengan empat mud. Dan yang dikeluarkan adalah jenis makanan yang digunakan di negeri tersebut. Baik itu gandum, Kurma, beras, zabib, dan lain sebagainya. Malikiyah menambahkan lebih baik lagi kalau jenis  yang dikeluarkan berupa bahan makanan yang terbaik dinegeri tersebut.4

Sebagaimana perkataan Abu Said ra:

عن اَبي سعيد الخذري رضي الله عنه قَالَ كُنَّا نُخرجُ زكاةَ الفطرِ صاعًا مِن طعامٍ أَو صاعًا مِن شعيرٍ أو صاعًا مِن تمَرٍ أو صاعًا مِن أقطٍ أَوْ صاعًا مِنْ زَبيبٍ (متفق عليه)

” Kami (ketika bersama Rasululloh saw.) mengeluarkan zakat fitrah dari setiap individu baik anak kecil, Besar, hamba sahaya, merdeka, mengeluarkan satu sho’ dari makanan pokok atau satu sho’ dari susu yang kering,atau satu sho’ dari gandum, atau satu sho’ dari kurma atau satu sho’ dari zabib. 5

Ibnu Umar radhiyallah ‘anhu berkata, bahwa :

عن ابن عمر رضي الله عنه قال:فرض رسول الله صلّى الله عليه و سلّم زكاة الفطر صاعا من تمر أو صاعا من شعير على العبد و الحرّ و الذّكر و الأنثى و الصّغير و الكبير من المسلمين و أمر بها أن تؤدّى قبل خروج النّاس إلى الصّلاة   )رواه البخارى و مسلم (

Dari Ibnu Umar berkata “Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah mewajibkan zakat fithri bagi orang merdeka dan hamba sahaya, laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang dewasa dari kaum muslimin. Beliau memerintahkan agar ( zakat fithri tersebut ) ditunaikan sebelum orang-orang melakukan shalat ‘id ( hari Raya ).”

( Muttafaqun’alaih ).

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah mewajibkan zakat fithri di bulan Ramadhan satu sha’ kurma atau gandum, dan gandum dan itu semua disyaratkan dengan zakat berupa makanan pokok penduduk negeri, hal ini sebagaimana dikatakan Abu Sa’id Al Khudri radhiyallah ‘anhu : “Kami membayar zakat fithri saat hari raya pada masa Rasululah satu sha’ makanan, dan makanan pokok kami adalah gandum, kismis, keju kering dan kurma.”

( HR.Al-Bukhari ).

Ukuran Satu Sha’

Dari keterangan dalil-dalil tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa yang wajib dizakati hanya 1 sha’ baik berupa gandum atau selainnya(dari makanan yang mengenyangkan), hal ini merupakan Madzhab Imam Malik, Syafi’i, Ahmad, dan seluruh Jumhur Ulama’. Sedangkan pendapat Imam Abu Hanifah membolehkan dengan ½ sha’ gandum.

Satu sho sama dengan empat mud. Menurut hanafiyah, satu mud sama dengan 1,032 liter atau 815,39 gram. satu sho’ sama dengan 4,128 liter atau 3261,5 gram. 2 Adapun menurut Imam syafi’i, Ahmad, Malik, satu mud sama dengan 0,687 liter atau 543 gram. satu sho’ sama dengan 2,748  liter atau 2176 gram3

Kadar zakat fitrah itu 1 sha’ kurma kering, tepung gandum, kismis, keju dan makanan lainnya.

Diperbolehkan pula menunaikan zakat fitrah dengan sesuatu yang menjadi kemampuan suatu negeri, seperti:1 sha’ beras dan lain-lain. Adapun maksud sha’ di sini adalah sha’ menurut Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam yaitu 4 kali dua telapak tangan laki-laki dewasa yang betul-betul dianggap adil.

Hanyasanya yang paling utama untuk dizakati adalah makanan yang mengenyangkan, sebab makna yang dzahir(jelas) dari hadits Abu Sa’id al-Khudry Radliyallahuanhu adalah

عن أبى سعيد الخدريّ رضي الله عنه قال:كنّا نعطيها فى زمن النّبيّ صلّى الله عليه و سلّم صاعا من طعام أو صاعا من تمر أو صاعا من شعير أو صاعا من أفط أو صاعا من زبيب

فلمّا جآء معاوية و جآءت السمرآء قال:أرى مدّا من هذه يعدل مدّين

قال أبو سعيد:أمّا أنا فلا أزال أخرجه كما كنت أخرجه على عهد رسول الله صلّى الله عليه و سلّم (رواه البخارى(

Artinya,”Dari Abu Sa’id al-Khudry Radliyallahuanhu ia berkata:Kami menunaikan zakat fitrah pada zaman Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam dengan 1 sha’dari makanan, atau kurma kering, atau tepung gandum, atau susu kering(keju), atau anggur kering(kismis), maka ketika Mu’awiyah Radliyallahuanhu datang dengan membawa gandum(dari Syam). ia berkata,”saya berpendapat bahwa jika dengan  ini(gandum dari Syam) sebanyak 1 sha’ maka alangkah adil jika untuk yang selainnya adalah 2 sha”, maka Abu Sa’id Radliyallahuanhu berkata:”saya tidak akan menghapus cara pengeluarannya sebagaimana kami mengeluarkan(menunaikan)nya di zaman Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam”. (HR. al-Bukhary)

Karena itu tidak sah jika yang dibagikan adalah makanan hewan, karena Nabi mewajibkan zakat fithri itu sebagai pemberi makan untuk manusia bukan untuk hewan.


[1] ibid.

[2] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 6/88.

4 Al Fiqh Al Islamy, DR. Wahbah Zuhaily hal,  2/886

5 Al Fiqh Islamy DR.Wahbah Zuhaily hal, 2/878

4 Lihat Al Fiqh Islamy DR. Wahbah Az zuhaily hal,2/912

5 Muttafaq ‘alaih, Lu’lu’ wal marjan 1/237

2 Kamus kontemporer, Atabik Aliy Ahmad Zuhdi Muhdlor hal, 1161

3 Fiqh zakat Yusuf qordlowi hal, 2/946

Fiqh Zakat Fitri (Bagian 1)

Definisi Zakat Fitri

Zakat fithri yaitu shadaqah yang dikeluarkan pada akhir Ramadhan, pada malam hari Raya dan pagi harinya. Disebut  dengan zakat fithri karena ia disyariatkan ketika bulan (Ramadhan) telah sempurna dan pada saat umat Islam yang melaksanakan shaum sudah berbuka dari shaum Ramadhan.[1]

Al-’Allamah Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab menyebutkan, bahwa arti zakat secara bahasa adalah thaharah (kesucian), berkembang, berkah dan tumbuh.[2]

Adapun secara syara’, Abdurrahman Al-Jazary berkata: “Zakat adalah penetapan hak milik tertentu untuk orang yang berhak dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan.” [3]

Dan para ulama’ madzhab Hanbali menambahkan: “…dan dalam waktu tertentu pula.” [4]

Dinamakan zakat fithrah karena dengannya mewajibkan berbuka dari puasa Ramadhan (tidak berpuasa lagi). Adapun penamaan lain dari Zakat Fitrah adalah: Zakat Ramadhan, Zakat Shaum, Shadaqah Fithri, Shadaqah Shaum, Zakat Al-Badan, dan Shadaqah Ar-Ru’us (Shadaqah Individu).

Disyariatkannya Zakat Fitri

Zakat Fithri disyariatkan dan diwajibkan oleh Allah pada bulan Ramadhan, kewajiban ini turun kepada Rasulullah pada bulan Sya’ban tahun ke-2 Hijriah.

Ada juga yang berpendapat kewajiban itu turun pada bulan Ramadhan 2 hari sebelum dilaksanakannya shalat ‘Ied (hari raya ‘Iedul fitri) pada tahun ke-2 Hijriyah. Sebab zakat fithri disandarkan kepada Ramadhan dan berbuka dari shaum. Di samping itu, tidak pernah disebutkan bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para shahabat bershaum Ramadhan tanpa mengeluarkan zakat fithri.

Hukum Zakat Fitri

Hukum menunaikan zakat fithri adalah wajib bagi seluruh kaum muslimin yang mampu membayarnya pada saat itu, hal ini telah disepakati oleh Jumhur Ulama’ berdasarkan dalil-dalil yang shahih di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat (amil), para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekaan) budak, orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Biajaksana. (QS. At-Taubah: 60).

Dan juga sebuah hadits yang bersumber dari shahabat Abdullah bin Umar –radhiyallahu ‘anhu- ia berkata:

“Bahwa Rasulullah Sallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mewajibkan zakat fithrah setelah Ramadhan (senilai) satu Sha’ dari tamar (kurma kering) atau satu Sha’ dari gandum atas setiap kaum muslimin yang merdeka atau budak, laki-laki atau perempuan.” ( HR. An-Nasa’i, no. 2052 )

Dalam hadits lain disebutkan :

Dari Ibnu Umar –radliyallahu ‘anhuma- ia berkata: “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mewajibkan untuk menunaikan zakat fitrah dengan satu Sha’ kurma kering, atau satu Sha’ tepung gandum bagi setiap hamba sahaya, orang merdeka, kaum laki-laki, kaum perempuan, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslimin, dan beliau juga memerintahkan untuk menunaikannya sebelum orang-orang pergi mengerjakan shalat (‘Iedul Fitri).”( HR. Al-Bukhari, no.1503, dan Muslim, no. 2326).

Pendapat Para Ulama

Diwajibkan menunaikan zakat fithri bagi seluruh kaum muslimin baik anak kecil maupun orang dewasa, laki-laki maupun perempuan, orang yang merdeka maupun hamba sahaya yang mampu menunaikannya pada saat itu, dan ini merupakan kesepakatan Jumhur Ulama’.

Zakat ini wajib dibayarkan terhadap diri sendiri dan terhadap orang-orang yang menjadi tanggungannya. Seperti isteri dan keluarga, apabila mereka tidak mampu melaksanakannya sendiri. Akan tetapi apabila mereka mampu melaksanakannya sendiri, itu lebih baik, karena mereka sendirilah yang dimaksud dalam kewajiban tersebut.

Adapun anak kecil yang belum memiliki harta maka dibebankan pada bapaknya, sedangkan istri dibebankan pada suaminya, dan budak dibebankan pada tuan(majikan)nya, namun jika istri melakukan perbuatan nusyuz (durhaka kepada suaminya) sehingga menyebabkan suaminya tidak memberikan nafkah kepadanya maka tidak ada kewajiban suaminya untuk membayarkan zakat fitrahnya, karena zakat fitrah itu harus ditunaikan bagi seorang muslim untuk dirinya sendiri ataupun orang-orang yang ia nafkahi (seperti: istri, anak dan budak).

Sedangkan bayi yang berada di dalam kandungan Ibunya maka tidak diwajibkan untuk menunaikan zakat fitrah, namun kebanyakan Ahli Ilmu menghukuminya sunnah untuk ditunaikan, karena hal itu dilakukan oleh shahabat Utsman bin ‘Affan –radliyallahuanhu-.

Zakat fithri tidak diwajibkan kecuali terhadap orang yang mempunyai kelebihan dari keperluannya ketika malam hari raya dan pagi harinya. Jika ia tidak memiliki kelebihan harta kecuali kurang dari satu Sha’ maka hendaknya ia dengan kelebihan itu (yang jumlahnya kurang dari satu Sha’) membayar zakat fithrahnya. Hal itu berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” ( QS. At-Taghabun:16 ).

Wallahu A’lamu bish Shawab.


[1] Lihat: Al Mukhtar, Ahkam wa Adab lil Hadits fi Syahri Ramadhan, Fatawa Az-Zakah, Syaikh Al-Jibrin, Kifayatul Akhyar.

[2] Lisanul Arab: 14/358.

[3] Al-Fiqh ‘Ala Madzahibil Arba’ah: 1/536.

[4] Ibid.

LIBERALISME, Kotoran Yang Dibungkus Emas

Prolog

Islam adalah dien al-haq yang diwahyukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Rasul-Nya yang terakhir Muhammad, “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” [QS. Al-Fath: 28]; Sebagai rahmat bagi semesta alam, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” [QS. Al-Anbiya: 107]; Dan sebagai satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” [QS. Ali-Imran: 19].

Islam adalah agama yang utuh yang mempunyai akar, dimensi, sumber dan pokok-pokok ajarannya sendiri. Siapa yang konsisten dengannya maka ja termasuk Al-Jama’ah atau Firqah Najiyah (kelompok yang selamat) dan yang keluar atau menyimpang darinya maka ja termasuk firqaih-firqah yang halikah (kelompok yang akan binasa). Diantara firqah halikah adalah firqah Liberaliyah. Liberaliyah adalah sebuah paham yang berkembang di Barat dan memiliki asumsi, teori dan pandangan hidup yang berbeda.

Dalam tesisnya yang berjudul “Pemikiran Politik Barat” Ahmad Suhelani, MA, menjelaskan prinsip-prinsip pemikiran ini. Pertama, prinsip kebebasan individual. Kedua, prinsip kontrak sosial. Ketiga, prinsip masyarakat pasar bebas. Keempat, meyakini eksistansi Pluralitas Sosio-Kultural dan Politik Masyarakat. [Gado-Gado Islam Liberal; Sabili no 15 Thn IX/81]

Islam dan Liberal adalah dua istilah yang antagonis, saling berhadap-hadapan tidak mungkin bisa bertemu. Namun demikian ada sekelompok orang di Indonesia yang rela menamakan dirinya dengan Jaringan Islam Liberal (JIL). Suatu penamaan yang “pas” dengan orang-orangnya atau pikiran-pikiran dan agendanya. Islam adalah pengakuan bahwa apa yang mereka suarakan adalah haq tetapi pada hakikatnya suara mereka itu adalah bathil karena liberal tidak sesuai dengan Islam yang diwahyukan dan yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, akan tetapi yang mereka suarakan adalah bid’ah yang ditawarkan oleh orang-orang yang ingkar kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Maka, dalam makalah ini akan kita uraikan sanad (asal usul) firqah liberal (kelompok Islam Liberal atau Kelompok kajian utan kayu), visi, misi agenda dan bahaya mereka. Baca lebih lanjut

Shalat Wahai Para Pemimpin

Muqadimah

Masalah kepemimpinan, merupakan sebuah tema yang tidak pernah sepi dari perbincangan khususnya di Indonesia. Islam sebagai satu-satunya ad-dien yang haq telah memiliki konsep-konsep kepemimpinan yang mulia. Dan masalah kepemimpinan merupakan perkara penting yang sangat diperhatikan oleh Islam. Karenanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan pada banyak ayat di dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan masalah kepemimpinan, bahkan ada satu surat khusus yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang dasar-dasar dan konsep kepemimpinan yaitu Surat Asy-Syura. Begitu pula Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, telah menyebutkan banyak hadits yang berkaitan dengan masalah kepemimpinan. Dan buku-buku para ulama’ baik yang dulu (tursats) maupun sekarang (mu’ashir) tidak pernah lepas dari tema-tema kepemimpinan, bahkan para fuqaha’ dan ahli hadits menulis satu bab tersendiri dalam kitab-kitab mereka dengan judul “Kitabul Imamah”. Ini menunjukkan pentingnya masalah kepemimpinan, dan besarnya kedudukannya di dalam Islam. Di antara karya-karya besar para ulama’ Islam berkaitan dengan masalah kepemimpinan, yang terus dikaji oleh para penuntut ilmu baik di Timur maupun di Barat adalah :

a)      Al-Muqaddimah yang ditulis oleh Imam Ibnu Khaldun –rahimahullahu Ta’ala-.

b)      Al-Ahkam As-Sulthaniyyah yang ditulis Imam Abu Ya’la Al-Hanbali –rahimahullahu Ta’ala-.

c)      Kitab Al-Ahkam As-Sulthaniyyah wal Wilayat Ad-Diniyyah yang ditulis oleh Imam Al-Mawardi –rahimahullahu Ta’ala-.

d)     As-Siyasah Asy-Syar’iyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullahu Ta’ala-

Dan masih banyak sederet kitab-kitab lainnya yang tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu dalam tulisan ini.

Kemudian, di antara perkara penting yang sangat diperhatikan oleh Islam berkaitan dengan masalah kepemimpinan adalah perkara shalat. Hari ini banyak kaum muslimin yang jahil terhadap perkara ini. Mereka mengangkat para pemimpin-pemimpin yang banyak harta dan kekayaannya padahal mereka adalah orang-orang yang tidak shalat, bahkan tidak sedikit kaum muslimin yang telah diberi amanah oleh Allah untuk menjadi pemimpin mereka meninggalkan shalat, meremehkan waktunya, dan tidak perhatian terhadapnya. Dan tidak jarang, ada di antara mereka yang melarang anak-anak, para pemuda dan masyarakat mereka untuk menjauhi masjid, meninggalkan masjid, dan tidak berinteraksi dengan kegiatan-kegiatan masjid yang salah satunya adalah shalat jama’ah, karena issu terorisme dan fundamentalisme. Maka tidak sedikit para intel (jasus) yang harus mengubah penampilan mereka, dengan berjenggot, berjubah, bercelana tidak itsbal, kemana-mana membawa Al-Qur’an, dalam rangka memata-matai kaum muslimin dan kegiatan-kegiatan mereka. Bahkan buku-buku yang dibaca dan dipelajari oleh kaum muslimin, serta kitab-kitab pegangan taklim pun tidak lepas dari intaian mata-mata (beracun) mereka. Sebagai penggantinya mereka membangun pusat-pusat perbelanjaan, pusat-pusat hiburan, pusat-pusat olah raga, dan pusat-pusat pertemuan lainnya, untuk menjauhkan kaum muslimin dari masjid-masjid mereka dan mendekatkan mereka kepada kemaksiatan dan kehinaan, wal’iyadzu billah. Baca lebih lanjut

Mengapa Masih Banyak Wanita Muslimah Yang Belum Berjilbab?

Seorang muslimah, diperintahkan untuk menutup auratnya ketika keluar rumah, yaitu dengan mengenakan pakaian syar’i yang dikenal dengan jilbab atau hijab. Namun dalam kenyataan masih banyak di antara para muslimah yang belum mau memakainya. Ada yang dilarang oleh orang tuanya, ada yang beralasan belum waktunya atau nanti setelah pergi haji dan segudang alasan yang lain. Nah apa jawaban untuk mereka?

1. Saya Belum Bisa Menerima Hijab

Untuk ukhti yang belum bisa menerima hijab maka perlu kita tanyakan, “Bukankah ukhti sungguh-sungguh dan yakin dalam memeluk Islam, dan bukankah ukhti telah mengucapkan la ilaha illallah Muhammad rasulullah dengan yakin? Yang berarti menerima apa saja yang diperintahkan Allah Subhannahu wa Ta’ala dan Rasulullah? Jika ya maka sesungguhnya hijab adalah salah satu syari’at Islam yang harus dilaksanakan oleh para muslimah. Allah Subhannahu wa Ta’ala telah memerintah kan para mukminah untuk memakai hijab dan demikian pula Rassulullah Shalallaahu alaihi wasalam memerintahkan itu. Jika anda beriman kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, maka anda tentu akan dengan senang hati memakai hijab itu.

2. Saya Menerima Hijab, Namun Orang Tua Melarang.

Kalau saya tidak taat kepada orang tua, saya bisa masuk neraka. Kepada saudariku kita beritahukan bahwa memang benar orang tua memiliki kedudukan yang tinggi dan mulia, dan kita diperintahkan untuk berbakti kepada mereka. Namun taat kepada orang tua dibolehkan dalam hal yang tidak mengandung maksiat kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala , sebagaimana dalam firman-Nya, artinya,

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya,” (QS. Luqman:15).

Meskipun demikian kita tetap harus berbuat baik kepada kedua orang tua kita selama di dunia ini.

Inti permasalahannya adalah, bagaimana saudari taat kepada orang tua namun bermaksiat kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, padahal Allah Subhannahu wa Ta’ala adalah yang menciptakan anda, memberi nikmat, rizki, menghidupkan dan juga yang menciptakan kedua orang tua saudari? Baca lebih lanjut