Tag Archives: kafe

Hukum Melafazhkan Niat

Pada saat sekarang ini banyak kaum muslimin yang selalu dihantui rasa was-was, namun hal ini tidak mereka sadari, sehingga setan dengan leluasa untuk menggodanya. Dan tidak jarang kita melihat orang yang akan melaksanakan sholat bertakbir, namun dia selalu mengulangi takbirnya itu, sehingga kadang seolah-olah dia terpaksa merelakan takbirnya ketika imam sudah ruku’. Artinya ketika takbir-takbir yang sebelumnya dia anggap tidak sah, dia menganggap niatnya telah batal padahal yang namanya niat sampai kapanpun tidak pernah batal.

Niat adalah kehendak dan tekad untuk melakukan sesuatu dan tempatnya adalah didalam hati, bahkan pada dasarnya tidak ada hubungannya dengan lisan. Dan untuk memperjelas masalah ini akan saya utarakan pendapat para Ulama’ baik madzhab Maliki, Hanafi, Syafi’I dan Hanbali. Baca lebih lanjut

Iklan

Pilih Ilmu, Harta, Wanita, Atau Tahta?

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: ‘Berlapang-lapanglah dalam majlis’, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah kamu’, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Tafsir Ayat

Imam Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa ayat ini turun pada hari Jum’at berkaitan dengan berlapang-lapang dalam majelis. Sehingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati Fulan, yang telah melapangkan tempat duduknya untuk saudaranya.” Subhanallah!

Imam Qatadah –rahimahullah- ketika menafsirkan ayat ini berkata: “Sesungguhnya ilmu akan memberikan kemuliaan kepada pemiliknya, dan ilmu memiliki hak atas pemiliknya, dan menempatkan ilmu pada haknya akan memberikan keutamaan kepada kalian wahai orang yang berilmu, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memerikan sesuatu itu keutamaannya.”

Imam Ath-Thabari –rahimahullah- ketika menafsirkan ayat ini berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Bahwa Dia akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian, karena ketaatan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu ketaatan mereka dalam berlapang-lapanglah dalam majelis maka merekapun melaksanakannya, dan apabila dikatakan kepada berdirilah, maka merekapun mengerjakannya. Dan Dia Subhanahu wa Ta’ala juga akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu dari kalangan orang-orang mukmin di atas orang-orang beriman yang bodoh, karena keutamaan ilmu mereka, dengan syarat mereka mengerjakan apa saja yang diperintahkan kepada mereka.” Baca lebih lanjut

Nasehat Syaikh Al-Madkhaly Untuk Siapa Saja Yang Menisbahkan Dirinya Kepada Salaf, As-Salafy, Al-Atsary, At-Turatsy, Al-Albany, Ibnu Taimiyyah, Ar-Rabi’i, Al-Yamani, As-Sa’udy, Dan Lain-lain

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وأتباعه بإحسان إلى يوم الدين.

أما بعد:

Allah ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amal-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (Q.S al-ahzab: 70-71)

Ayat ini yang selalu diulang-ulang oleh para khatib, mubalig, penceramah dan pemberi nasehat, orang yang tidak bisa membaca selalu mendengarnya dari mereka, terkandung didalamnya seruan dari Allah Jalla wa‘azza kepada hamba-Nya yang beriman, Ia menyeru mereka dengan sifat mereka yang agung lagi mulia yaitu sifat iman, Allah subhanahu berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً

Artinya:  Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah, dan katakanlah perkataan yang benar. (QS al-ahzab 70)

Ia menyeru mereka dengan memakai sifat yang mulia yaitu sifat iman, lalu Ia memerintahkan mereka akan suatu urusan yang berat lagi agung yaitu bertaqwa, sesungguhnya taqwa kepada Allah Jalla wa‘ala adalah puncak kebaikan, dan penentu segala urusan. Pintu-pintu kebajikan berbagai macam bentuknya, begitu juga jalan-jalan keburukan bermacam-macam, semua itu terkumpul dalam kata: (bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar), bertaqwa kepada Allah – sebagaimana yang telah diketahui oleh kebanyakan kalian dan tidak lagi tersembunyi bagi kita semua – ialah melaksanakan ketaatan kepada Allah berdasar cahaya(petunjuk) dari Allah dengan mengharapkan pahala dari-Nya, dan takut dari azab-Nya, dan juga meninggalkan maksiat yang dilarang oleh Allah mengarapkan pahala dengan meninggalkannya, dan takut akan azab bila melakukannya, melanggar dan mengerjakan apa-apa yang diharamkan oleh Allah. Baca lebih lanjut

Siapa Pemimpin Kaum Muslimin?

Prolog

Seorang pemimpin adalah pribadi yang sangat menentukan bagi suatu umat atau bangsa. Menentukan karena dengannya sebuah Negara bisa maju atau mundur. Bila seorang pemimpin tampil lebih memihak kepada kepentingan dirinya, tidak bisa tidak rakyat pasti terlantar. Sebaliknya bila seorang pemimpin lebih berpihak kepada rakyatnya, maka keadilan pasti ia tegakkan.

Keadilan adalah titik keseimbangan yang menentukan tegak tidaknya alam semesta ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegakkan langit dengan keseimbangan. Pun juga segala yang ada di bumi Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan dengan penuh keseimbangan. Padanan keseimbangan adalah keadilan, lawan katanya adalah kedzaliman.

Setiap kedzaliman pasti merusak. Bila manusia berbuat dzalim maka pasti ia akan merusak diri dan lingkungannya. Bayangkan bila yang berbuat dzalim adalah seorang pemimpin. Pasti yang akan hancur adalah bangsa secara keseluruhan.

Di dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menceritakan bahwa hancurnya umat-umat terdahulu adalah kerena kedzaliman pemimpinnya. Karena itu bila kita berusaha untuk memecahkan persoalan bangsa maka tidak ada jalan kecuali yang pertama kali kita perbaiki adalah pemimpinnya.

Pemimpin yang korup dan dzalim bukan saja akan membawa malapetaka terhadap rakyatnya tapi lebih jauh –dan ini yang sangat kita takuti – Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencabut keberkahan yang diberikan. Sungguh sangat sengsara sebuah kaum yang kehilangan keberkahan. Sebab dengan hilangnya keberkahan tidak saja fisik yang sengsara melainkan lebih dari itu, ruhani juga ikut meronta-ronta. Baca lebih lanjut

Waspadalah! Jangan Sampai Kita Nyemplung Ke Dalam Neraka Karena Pemimpin dan Penguasa

Oleh : Tengku Azhar, S.Sos.I

(Kajian Tafsir Tematik QS. Al-Ahzab : 66-68)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا * وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا * رَبَّنَا آَتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا *

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: ‘Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul’. Dan mereka berkata: ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). ‘Ya Rabb kami, timpakanlah kepada mereka adzab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar’.”

Tafsir Ayat :

Imam Ath-Thabari –rahimahullahu Ta’ala- berkata, “Orang-orang kafir ketika disiksa dalam neraka Jahannam pada hari kiamat akan berkata, ‘Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin kami dalam kesesatan dan kami juga telah mentaati pembesar-pembesar kami dalam kesyirikan, maka mereka menyesatkan kami dari jalan-Mu yang lurus. Yakni mereka telah menyimpangkan kami dari jalan hidayah, dan jalan keimanan kepada-Mu, yakni menyesatkan kami dari mengakui ke Esaan-Mu, dan mengikhlaskan diri kami dalam mentaati-Mu di dunia. Karena mereka telah menyesatkan kami, maka kami memohon kepada-Mu ya Allah, untuk memberikan adzab dua kali lipat kepada mereka, dan laknatlah mereka dengan sebesar-besar laknat.” (Tafsir Ath-Thabari : 5/427)

Imam Ibnu Katsir –rahimahullahu Ta’ala- berkata, “Ayat ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, ‘Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya (yakni menyesali perbuatannya), seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul’. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya Dia telah menyesatkan aku dari Al-Quran ketika Al-Quran itu telah datang kepadaku dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia’.” (QS. Al-Furqan : 27-29). Yang dimaksud dengan ‘si fulan’ dalam ayat ini adalah syaitan atau para pemimpin mereka yang telah menyesatkan mereka. Yakni mereka akan berkata, ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya kami lebih memilih untuk mentaati para pemimpin dan pembesar kami dalam kesesatan ketimbang memilih untuk mentaati para Rasul-Mu dalam jalan hidayah dan keselamatan’.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/427) Baca lebih lanjut

Rukhshah, Sebuah Anugerah Yang Terzhalimi

Prolog

Syariat Islam yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan syariat yang rahmatan lil’alamin. Ke-rahmatannya terkadang sering disalahgunakan oleh sebagian kaum muslimin untuk mengais keuntungan dunia dengan menjual ayat-ayat Allah atas nama rahmatan lil’alamin. Hal ini merupakan sebuah tindakan yang dapat menjerumuskan seorang muslim ke dalam kekufuran. Di antara rahmat syariat Islam yang diemban oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada umatnya adalah memberikan kemudahan dan menghilangkan kesukaran. Di antara bentuk kemudahan yang Allah berikan kepada kaum muslimin adalah pensyariatan rukhshah (keringanan) khusus dalam ibadah-ibadah tertentu bagi orang-orang tertentu pula. Dalam kajian bulletin YDSUI kali ini, kita akan mengupas apa itu rukhshah? Dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari bagi kaum muslimin?

Permudahlah dan jangan memberatkan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa syariat yang diturunkan oleh-Nya adalah memberikan kemudahan kepada umat manusia dan bukan memberatkan mereka.

Tetapi, tidak sedikit kaum muslimin yang memberat-beratkan diri mereka dan melemparkan diri mereka ke dalam kebinasaan. Karenanya, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendengar berita bahwa ada tiga orang shahabat beliau yang ingin shalat terus menerus tanpa beristirahat, ingin berpuasa terus menerus tanpa berbuka, dan ingin beribadah terus menerus tanpa menikah, maka beliau sagat marah, dan mengingatkan para shahabat tersebut bahwa beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling bertaqwa dan paling takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di muka bumi ini. Kemudian beliau bersabda, “Tetapi, aku shalat dan akupun beristirahat, aku berpuasa dan aku berbuka, dan menikah dengan wanita. Maka barangsiapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan golonganku.”

Perhatikanlah, bagaimana Rasulullah mendidik para shahabatnya bahwa prilaku memberat-beratkan diri sehingga menyampakkan seseorang ke dalam kebinasaan bukanlah dari sunnah dan tuntunan beliau.

Sangat ironis, ketika kita menyaksikan sekelompok kaum muslimin berdzikir dengan suara mekik-mekik, meraung-raung, membuatnya kepayahan, suaranya habis, tidak tidur malam, dianggap sebagai sunnah Rasulullah dan tuntunannya.

Sangat menggelikan, ketika kita menyaksikan seseorang melaksanakan shalat dengan seribu rakaat, membaca surat Al-Fatihah seribu kali, membaca surat Al-Ikhlash seribu kali, membaca ayat kursi seribu kali, dianggap ajaran Rasulullah dan sunnahnya.

Justru mereka telah menyelisihi sunnah Rasulullah yang menyukai kemudahan, pertengahan dan tidak berlebih-lebihan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

“Sesungguhnya dien ini (Islam), adalah dien yang memberikan kemudahan.” (HR. Al-Bukhari).

Beliau juga bersabda :

“Amalan Islam yang paling disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah amalan yang memberikan kemudahan dan toleransi.” (HR. Al-Bukhari).

Jadi jelaslah, bahwa salah satu karakteristik dien ini adalah memberikan kemudahan dan menghilangkan kesukaran dan keberatan. Karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Taghabun : 16) Baca lebih lanjut

Mengukur Kemenangan Islam : Kwantitas atau Kwalitas?

Sebuah kemenangan di hadapan Demokrasi diukur dengan kwantitas, siapapun yang minoritas sekalipun kwalitasnya baik tidak akan pernah menang menurut kacamata dan ideologi Demokrasi. Karenanya, siapapun yang berjuang dengan sistem demokrasi di negara manapun mereka berada tak terkecuali di Indonesia, mereka pasti berjuang mati-matian, menggunakan segala cara dan taktik untuk mendulang dan memenuhi kwantitas tersebut. Dengan kwantitas yang banyak, mereka menakut-nakuti kelompok yang minoritas dan kecil, karena mereka merasa kuat, tangguh, dan berada di atas segalanya.

Inilah taktik dan sistem orang-orang kafir dan munafikin yang dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an :

“Keadaan kamu Hai orang-orang munafik dan musyrikin) adalah seperti Keadaan orang-orang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta dan anak-anaknya dari kamu. Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kamu telah menikmati bagian kamu sebagaimana orang-orang yang sebelummu menikmati bagiannya, dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya. mereka itu amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat; dan mereka Itulah orang-orang yang merugi.” (QS. At-Taubah : 69) Baca lebih lanjut