Tag Archives: macet

Hujan : Nikmat Atau Adzab?

banjir4Prolog

Musim hujan telah tiba, menurut sebagian orang jawa bulan nopember dan desember diyakini sebagai bulan hujan, karena diperkirakan pada bulan-bulan ini tingkat curah hujan sangat tinggi, bahkan saking lebatnya akan meluber ke mana-mana, kira-kira demikianlah pendapat sebagian orang muslim khususnya di kota Solo dan sekitarnya.

Hujan adalah salah satu dari sekian banyak nikmat Allah SWT yang diberikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, baik yang beriman maupun yang ingkar kepada-Nya.

Namun, hujan yang merupakan nikmat juga bisa berubah menjadi azab bila Allah SWT menghendakinya, tinggal lagi bagaimana kita mensikapi hujan apabila datang, apa yang harus kita perbuat, dan apa tuntunan Rasulullah SAW bagi umatnya bila hujan tiba?

Adab-adab Ketika Turun Hujan

1. Turunnya hujan, salah satu waktu terkabulkannya doa

Ibnu Qudamah dalam Al Mughni, 4/342 mengatakan, “Dianjurkan untuk berdo’a ketika turunnya hujan, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan: [1] Bertemunya dua pasukan, [2] Menjelang shalat dilaksanakan, dan [3] Saat turunnya hujan.” (Dikeluarkan oleh Imam Syafi’i dalam Al-Umm dan Al Baihaqi dalam Al Ma’rifah dari Makhul secara mursal. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani, lihat hadits no. 1026 pada Shahihul Jami’).

2. Mensyukuri nikmat turunnya hujan

Apabila Allah memberi nikmat dengan diturunkannya hujan, dianjurkan bagi seorang muslim untuk membaca do’a :

اللهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً

“Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat.”

Itulah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ucapkan ketika melihat hujan turun. Hal ini berdasarkan hadits dari Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala melihat hujan turun, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan ‘Allahumma shayyiban nafi’an’. (HR. Bukhari, Ahmad, dan An Nasai). Yang dimaksud shoyyiban adalah hujan. (Lihat Al Jami’ Liahkamish Sholah, 3/113, Maktabah Syamilah dan Zaadul Ma’ad, I/439, Maktabah Syamilah). Baca lebih lanjut

Oleh-oleh dari Jakarta : Ibu Tiri Tidak Sekejam Ibu Kota (benarkah?)

Ibu tiri tidak sekejam ibu kota….demikianlah ungkapan sebagian orang jika ditanya tentang ibu kota Indonesia, Jakarta.

macetKetika saya menginjakkan kaki saya di ibu kota Jakarta 3 hari yang lalu, ibu kota Jakarta langsung mempertontonkan kepada kita bagaimana ibu kota Jakarta itu memperlakukan orang-orang yang tinggal di wilayahnya. Inilah sebagian gambaran ibu kota Jakarta :

Kemacetan. (kalo ini sudah pasti, bahkan seorang dosen UI pernah bilang kepada saya bahwa jumlah kendaraan di Jakarta dengan jumlah ruas jalannya, lebih banyak jumlah kendaraannya). Bayangkan aja…..gimana tuch! Bahkan sepupu saya yang kerja di ANTV di jalan Rasuna Said pernah cerita, kalo dia terus kerja di Jakarta, bisa-bisa umur hidupnya, habis di jalan….wah kaciaan banget ya!

Kali dan Got yang tidak ada salurannya, dan baunya…..ndk ketahan dech. (Coba aja jalan-jalan ke kota Jakarta, hujan dikit langsung banjir, bau got yang sangat busuk bahkan tidak ke tahan dech kita menciumnya)

Polusi udara. (Kalo ini sudh tentu, pepohonan habis ditumbangi, sawah-sawah mulai tumbuh perumahan dan gedung-gedung bertingkat, membuat mereka yang hidup di Jakarta sulit untuk mendapatkan udara yang segar bahkan air yang segar)

Kejahatan. (Ini yang sangat berbahaya dan mengerikan. Mabes Polri menyatakan bahwa setiap 9 menit sekali, sebuah kejahatan terjadi di Jakarta, dari jenis kejahatan yang paling kecil sampai yang kelas kakap, itu lhoh…korupsi/kolusi/dan nepotisme)

Bunuh diri. (Mungkin sdh ndk kuat lagi hidup di ibu kota Jakarta, akhirnya ya lebih cepat mati lebih baik kalieeeee, bunuh diri pun dilakukan). Tapi Anda jangan coba-coba lho….

Kekumuhan. (Siapa yang nyangka, di balik gedung-gedung mewah pencakar langit terdapat rumah-rumah kumuh, tempat-tempat tinggal yang sebenarnya tidak layak untuk ditempati). Ya maklumlah….Presiden dan pejabatnya hanya liat gedung-gedung yang mewah aja, jadinya ya itu…Jakarta adalah kota mewah, kota metropolitan, tapi kalo kita liat di pinggir kali, pinggir-pinggir rel kereta api, kota Jakarta hanyalah kota kumuh.

Apalagi ya….capek dech menulisnya…suatu saat akan saya sambung lagi ceritanya….mungkin ada betulnya juga tuch pepatah “Ibu tiri tidak sekejam Ibu Kota.”