Tag Archives: parlemen

INILAH DEMOKRASI (Apakah Anda Mau Meninggalkannya?)

Kepada mereka yang masih beranggapan bahwa perbedaan pendapat tentang demokrasi adalah perbedaan pendapat dalam ranah wasa’il dan furu’iyyah (cabang agama), tidak menyentuh ranah ushul (pokok agama) dan i’tiqad (keyakinan)….

Kepada para da’i tambal sulam, koleksi dan penggabungan (manhaj dan ideologi)….

Kepada mereka yang masih tidak mengetahui hakekat demokrasi….

Kepada mereka yang mencampuradukkan –secara dusta– demokrasi dengan syura dan Islam….

Kepada mereka yang memandang bahwa demokrasi adalah solusi terbaik untuk menjawab problematika Islam dan kaum muslimin…

Kepada mereka yang mempropagandakan dan menyerukan demokrasi, kemudian setelah itu mengaku dirinya seorang muslim…

Kepada mereka semua kami katakan, demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Maka tidak boleh ada kepemimpinan yang lebih tinggi dari kedudukan rakyat, dan tidak ada kehendak yang boleh mengatasinya lagi, meskipun itu kehendak Allah. Bahkan dalam pandangan demokrasi dan kaum demokrat, kehendak Allah dianggap sepi dan tidak ada nilainya sama sekali.

Demokrasi adalah suatu sistem yang menjadikan sumber perundang-undangan, penghalalan dan pengharaman sesuatu adalah rakyat, bukan Allah. Hal itu dilakukan dengan cara mengadakan pemilihan umum yang berfungsi untuk memilih wakil-wakil mereka di parleman (lembaga legislatif). Baca lebih lanjut

Iklan

Selamat ‘Bertempur” Wahai Calon “Pendekar-Pendekar” Parlemen

Beberapa kesalahan dan ketergelinciran tidak langsung setelah menjadi anggota parlemen dan melaksanakan tugas sebagai anggota lembaga penetap undang-undang

Ada beberapa kesalahan tidak langsung dari kegiatan parlemen demokrasi, yang paling penting adalah ;

Pertama. Mengkaburkan pemahaman dan makna syahadat tauhid laa ilaaha illa Allahu “ di benak dan kehidupan kaum muslimin.

Laa ilaaha illa Allah maknanya adalah tidak ada yang berhak diibadahi di alam raya ini selain Allah ta’ala, juga berarti kufur kepada thaghut dan penghacnuran terhadap segenap berhala dan paganisme —apapun bentuk dan jenisnya—yang diibadahi selain Allah Ta’ala. Keimanan seseorang tidak akan sah dan amalannya tidak akan diterima kecuali setelah ia merealisasikan syarat kufur kepada thaghut dan melaksanakan syahadat tauhid dengan pemahaman di atas, baik secara keyakinan, ucapan maupun perbuatan.

Namun, demokrasi justru menanamkan hal yang sebaliknya dalam benak dan realita kehidupan masyarakat. Demokrasi menetapkan uluhiyah (hak untuk diibadahi) untuk makhluk, peribadahan makhluk kepada makhluk, menetapkan banyak tuhan yang diibadahi selain Allah Ta’ala, dan juga menetapkan keabsahan dan kebebasan adanya banyak tuhan yang diibadahi selain Allah Ta’ala.

Bagaimana seseorang yang hidup di dalam realita kehidupan yang saling bertabrakan seperti ini, harus mengumpulkan antara kewajiban bertauhid dengan demokrasi yang memaksa dirinya untuk —minimal — mengakui keabsahan dan kebebasan adanya banyak tuhan-tuhan palsu yang diibadahi selain Allah Ta’ala ?[1]

Ini jelas pengkaburan terhadap hakekat agama ini, terlebih lagi ketika ide perjuangan lewat demokrasi tersebut dilontarkan oleh para syaikh dan da’i. Pada saat itu, anda tidak perlu bertanya lagi seberapa parahnya kerusakan yang akan menimpa agama dan akidah umat Islam !!!

Di antara bentuk pengkaburan keji yang disengaja ini adalah apa yang dilakukan oleh banyak pemerintahan keji dan hina yang melakukan usaha-usaha pengkaburan akidah rakyat secara sistematis, dengan menanamkan dan mewajibkan demokrasi kepada rakyat, bukan karena pemerintah komitmen dan mencintai demokrasi, melainkan demi menarik dukungan dan bantuan finansial dari negara-negara salibis Barat yang mensyaratkan kehidupan berdemokrasi bagi negara yang membutuhan bantuan !!!!

Para thaghut yang dzalim ini mengingatkan kita dengan para orang tua yang dzalim, yang menampakkan anaknya dalam keadaan compang camping demi mendapatkan sedekah dari masyarakat.

Walau bagaimanapun, mengkaburkan akidah dan pengetahuan umat Islam demi meraih bantuan finansial dari negara-negara salibis Barat, tentu jauh lebih keji dan berdosa dari menampakkan anak-anak dalam kondisi compang camping dengan tujuan mendapatkan belas kasihan dan sedekah dari masyarakat. Baca lebih lanjut