Tag Archives: zakat

Fiqh Zakat Fitri (Bagian 2)

Pemilik Harta Zakat Fithrah

Madzhab Hanbali mengatakan, “Zakat fithrah wajib atas orang yang mempunyai kelebihan makanan pokok dan untuk keluarganya pada hari Idul Fitri dan malamnya selain harta yang merupakan kebutuhannya, seperti tempat tinggal, pembantu, kendaraan, pakaian sederhananya, dan buku-buku pengetahuan.”[1]

Imam An-Nawawi menjelaskan: “Tentang kecukupan  (اليسار)adalah orang-orang yang mempunyaik kelebihan bahan makanan pokok pada malam hari dan siang hari Idul Fitri, baik untuk dirinya, keluarganya dan orang-orang yang harus ditanggungnya.[2]

Syarat-Syarat Mustahiq Zakat

1. Fakir kecuali Amil, Ibnu Sabil, Pejuang fi Sabilillah, meskipun mereka termasuk orang-orang yang kaya. Begitu juga zakat fithrah halal bagi thalibul ilmi asy-syar’iyyah, dikarenakan menuntut ilmu syar’i adalah fardhu kifayah, ditakutkan karena cenderung untuk bekerja akhirnya dia meninggalkan kewajiban menuntut ilmu tersebut. Tetapi jumhur ulama, lebih mengutamakan zakat fithrah dialokasikan kepada fakir dan miskin.

2. Muslim, tidak boleh memberikan zakat fithrah kepada orang kafir (tidak ada khilaf antar fuqaha’ dalam hal ini).

3. Bukan merupakan tanggungan nafkoh bagi muzakki (orang yang berzakat). Yaitu kaum kerabat, istri, seperti orang tua (ke atas), anak (ke bawah), hal ini di karenakan menafkahi mereka adalah wajib hukumnya. Boleh memberikan zakat kepada kerabatnya yang lain seperti saudara laki-laki maupun saudara perempuan, paman, bibi, dan lain sebagainya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

لحديث الطبراني عن سلمان بن عامر : الصّدقةُ على المسلمين صدقةٌ وهي لذي ا لرحْمِ اثنتان, صدقةٌ و صِلَّةٌ.(الطبراني). بل اِنَّ القرابةَ اَحقُّ بِزكاَةِ المُزَكِّي قال مالكُ, أَفضلُ مَنْ وضعتَ فيهِ زَكاتكَ قَرَابَتَكَ الَّذِي لاَ تَعولُ (الفقه الاسلامي 2\885,886)

“Sebuah shadakah atas muslim adalah shodaqoh dan jika ia diberikan kepada dhawi rohim dapat dua perkara yaitu shodaqoh dan menyambung tali persaudaraan.

Bahkan kerabat itu lebih berhak atas zakat. Imam malik berkata:”Lebih utama jika kamu memberikan zakatmu kepada kerabatmu yang bukan merupakan tanggunganmu.4

4. Tidak dari Bani Hasyim

5. Baligh, berakal, merdeka. 5

Jenis dan Ukuran Zakat Fithrah

Adapun jenis makanan yang boleh dipergunakan untuk membayar zakat fithri ialah makanan pokok, seperti kurma,, gandum, beras, kismis, keju kering atau lainnya yang termasuk makanan pokok manusia.

Ukuran zakat fitrah yang telah ditentukan oleh Rasululloh saw adalah satu sho’ atau sebanding dengan empat mud. Dan yang dikeluarkan adalah jenis makanan yang digunakan di negeri tersebut. Baik itu gandum, Kurma, beras, zabib, dan lain sebagainya. Malikiyah menambahkan lebih baik lagi kalau jenis  yang dikeluarkan berupa bahan makanan yang terbaik dinegeri tersebut.4

Sebagaimana perkataan Abu Said ra:

عن اَبي سعيد الخذري رضي الله عنه قَالَ كُنَّا نُخرجُ زكاةَ الفطرِ صاعًا مِن طعامٍ أَو صاعًا مِن شعيرٍ أو صاعًا مِن تمَرٍ أو صاعًا مِن أقطٍ أَوْ صاعًا مِنْ زَبيبٍ (متفق عليه)

” Kami (ketika bersama Rasululloh saw.) mengeluarkan zakat fitrah dari setiap individu baik anak kecil, Besar, hamba sahaya, merdeka, mengeluarkan satu sho’ dari makanan pokok atau satu sho’ dari susu yang kering,atau satu sho’ dari gandum, atau satu sho’ dari kurma atau satu sho’ dari zabib. 5

Ibnu Umar radhiyallah ‘anhu berkata, bahwa :

عن ابن عمر رضي الله عنه قال:فرض رسول الله صلّى الله عليه و سلّم زكاة الفطر صاعا من تمر أو صاعا من شعير على العبد و الحرّ و الذّكر و الأنثى و الصّغير و الكبير من المسلمين و أمر بها أن تؤدّى قبل خروج النّاس إلى الصّلاة   )رواه البخارى و مسلم (

Dari Ibnu Umar berkata “Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah mewajibkan zakat fithri bagi orang merdeka dan hamba sahaya, laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang dewasa dari kaum muslimin. Beliau memerintahkan agar ( zakat fithri tersebut ) ditunaikan sebelum orang-orang melakukan shalat ‘id ( hari Raya ).”

( Muttafaqun’alaih ).

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah mewajibkan zakat fithri di bulan Ramadhan satu sha’ kurma atau gandum, dan gandum dan itu semua disyaratkan dengan zakat berupa makanan pokok penduduk negeri, hal ini sebagaimana dikatakan Abu Sa’id Al Khudri radhiyallah ‘anhu : “Kami membayar zakat fithri saat hari raya pada masa Rasululah satu sha’ makanan, dan makanan pokok kami adalah gandum, kismis, keju kering dan kurma.”

( HR.Al-Bukhari ).

Ukuran Satu Sha’

Dari keterangan dalil-dalil tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa yang wajib dizakati hanya 1 sha’ baik berupa gandum atau selainnya(dari makanan yang mengenyangkan), hal ini merupakan Madzhab Imam Malik, Syafi’i, Ahmad, dan seluruh Jumhur Ulama’. Sedangkan pendapat Imam Abu Hanifah membolehkan dengan ½ sha’ gandum.

Satu sho sama dengan empat mud. Menurut hanafiyah, satu mud sama dengan 1,032 liter atau 815,39 gram. satu sho’ sama dengan 4,128 liter atau 3261,5 gram. 2 Adapun menurut Imam syafi’i, Ahmad, Malik, satu mud sama dengan 0,687 liter atau 543 gram. satu sho’ sama dengan 2,748  liter atau 2176 gram3

Kadar zakat fitrah itu 1 sha’ kurma kering, tepung gandum, kismis, keju dan makanan lainnya.

Diperbolehkan pula menunaikan zakat fitrah dengan sesuatu yang menjadi kemampuan suatu negeri, seperti:1 sha’ beras dan lain-lain. Adapun maksud sha’ di sini adalah sha’ menurut Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam yaitu 4 kali dua telapak tangan laki-laki dewasa yang betul-betul dianggap adil.

Hanyasanya yang paling utama untuk dizakati adalah makanan yang mengenyangkan, sebab makna yang dzahir(jelas) dari hadits Abu Sa’id al-Khudry Radliyallahuanhu adalah

عن أبى سعيد الخدريّ رضي الله عنه قال:كنّا نعطيها فى زمن النّبيّ صلّى الله عليه و سلّم صاعا من طعام أو صاعا من تمر أو صاعا من شعير أو صاعا من أفط أو صاعا من زبيب

فلمّا جآء معاوية و جآءت السمرآء قال:أرى مدّا من هذه يعدل مدّين

قال أبو سعيد:أمّا أنا فلا أزال أخرجه كما كنت أخرجه على عهد رسول الله صلّى الله عليه و سلّم (رواه البخارى(

Artinya,”Dari Abu Sa’id al-Khudry Radliyallahuanhu ia berkata:Kami menunaikan zakat fitrah pada zaman Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam dengan 1 sha’dari makanan, atau kurma kering, atau tepung gandum, atau susu kering(keju), atau anggur kering(kismis), maka ketika Mu’awiyah Radliyallahuanhu datang dengan membawa gandum(dari Syam). ia berkata,”saya berpendapat bahwa jika dengan  ini(gandum dari Syam) sebanyak 1 sha’ maka alangkah adil jika untuk yang selainnya adalah 2 sha”, maka Abu Sa’id Radliyallahuanhu berkata:”saya tidak akan menghapus cara pengeluarannya sebagaimana kami mengeluarkan(menunaikan)nya di zaman Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam”. (HR. al-Bukhary)

Karena itu tidak sah jika yang dibagikan adalah makanan hewan, karena Nabi mewajibkan zakat fithri itu sebagai pemberi makan untuk manusia bukan untuk hewan.


[1] ibid.

[2] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 6/88.

4 Al Fiqh Al Islamy, DR. Wahbah Zuhaily hal,  2/886

5 Al Fiqh Islamy DR.Wahbah Zuhaily hal, 2/878

4 Lihat Al Fiqh Islamy DR. Wahbah Az zuhaily hal,2/912

5 Muttafaq ‘alaih, Lu’lu’ wal marjan 1/237

2 Kamus kontemporer, Atabik Aliy Ahmad Zuhdi Muhdlor hal, 1161

3 Fiqh zakat Yusuf qordlowi hal, 2/946

Fiqh Zakat Fitri (Bagian 1)

Definisi Zakat Fitri

Zakat fithri yaitu shadaqah yang dikeluarkan pada akhir Ramadhan, pada malam hari Raya dan pagi harinya. Disebut  dengan zakat fithri karena ia disyariatkan ketika bulan (Ramadhan) telah sempurna dan pada saat umat Islam yang melaksanakan shaum sudah berbuka dari shaum Ramadhan.[1]

Al-’Allamah Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab menyebutkan, bahwa arti zakat secara bahasa adalah thaharah (kesucian), berkembang, berkah dan tumbuh.[2]

Adapun secara syara’, Abdurrahman Al-Jazary berkata: “Zakat adalah penetapan hak milik tertentu untuk orang yang berhak dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan.” [3]

Dan para ulama’ madzhab Hanbali menambahkan: “…dan dalam waktu tertentu pula.” [4]

Dinamakan zakat fithrah karena dengannya mewajibkan berbuka dari puasa Ramadhan (tidak berpuasa lagi). Adapun penamaan lain dari Zakat Fitrah adalah: Zakat Ramadhan, Zakat Shaum, Shadaqah Fithri, Shadaqah Shaum, Zakat Al-Badan, dan Shadaqah Ar-Ru’us (Shadaqah Individu).

Disyariatkannya Zakat Fitri

Zakat Fithri disyariatkan dan diwajibkan oleh Allah pada bulan Ramadhan, kewajiban ini turun kepada Rasulullah pada bulan Sya’ban tahun ke-2 Hijriah.

Ada juga yang berpendapat kewajiban itu turun pada bulan Ramadhan 2 hari sebelum dilaksanakannya shalat ‘Ied (hari raya ‘Iedul fitri) pada tahun ke-2 Hijriyah. Sebab zakat fithri disandarkan kepada Ramadhan dan berbuka dari shaum. Di samping itu, tidak pernah disebutkan bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para shahabat bershaum Ramadhan tanpa mengeluarkan zakat fithri.

Hukum Zakat Fitri

Hukum menunaikan zakat fithri adalah wajib bagi seluruh kaum muslimin yang mampu membayarnya pada saat itu, hal ini telah disepakati oleh Jumhur Ulama’ berdasarkan dalil-dalil yang shahih di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat (amil), para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekaan) budak, orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Biajaksana. (QS. At-Taubah: 60).

Dan juga sebuah hadits yang bersumber dari shahabat Abdullah bin Umar –radhiyallahu ‘anhu- ia berkata:

“Bahwa Rasulullah Sallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mewajibkan zakat fithrah setelah Ramadhan (senilai) satu Sha’ dari tamar (kurma kering) atau satu Sha’ dari gandum atas setiap kaum muslimin yang merdeka atau budak, laki-laki atau perempuan.” ( HR. An-Nasa’i, no. 2052 )

Dalam hadits lain disebutkan :

Dari Ibnu Umar –radliyallahu ‘anhuma- ia berkata: “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mewajibkan untuk menunaikan zakat fitrah dengan satu Sha’ kurma kering, atau satu Sha’ tepung gandum bagi setiap hamba sahaya, orang merdeka, kaum laki-laki, kaum perempuan, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslimin, dan beliau juga memerintahkan untuk menunaikannya sebelum orang-orang pergi mengerjakan shalat (‘Iedul Fitri).”( HR. Al-Bukhari, no.1503, dan Muslim, no. 2326).

Pendapat Para Ulama

Diwajibkan menunaikan zakat fithri bagi seluruh kaum muslimin baik anak kecil maupun orang dewasa, laki-laki maupun perempuan, orang yang merdeka maupun hamba sahaya yang mampu menunaikannya pada saat itu, dan ini merupakan kesepakatan Jumhur Ulama’.

Zakat ini wajib dibayarkan terhadap diri sendiri dan terhadap orang-orang yang menjadi tanggungannya. Seperti isteri dan keluarga, apabila mereka tidak mampu melaksanakannya sendiri. Akan tetapi apabila mereka mampu melaksanakannya sendiri, itu lebih baik, karena mereka sendirilah yang dimaksud dalam kewajiban tersebut.

Adapun anak kecil yang belum memiliki harta maka dibebankan pada bapaknya, sedangkan istri dibebankan pada suaminya, dan budak dibebankan pada tuan(majikan)nya, namun jika istri melakukan perbuatan nusyuz (durhaka kepada suaminya) sehingga menyebabkan suaminya tidak memberikan nafkah kepadanya maka tidak ada kewajiban suaminya untuk membayarkan zakat fitrahnya, karena zakat fitrah itu harus ditunaikan bagi seorang muslim untuk dirinya sendiri ataupun orang-orang yang ia nafkahi (seperti: istri, anak dan budak).

Sedangkan bayi yang berada di dalam kandungan Ibunya maka tidak diwajibkan untuk menunaikan zakat fitrah, namun kebanyakan Ahli Ilmu menghukuminya sunnah untuk ditunaikan, karena hal itu dilakukan oleh shahabat Utsman bin ‘Affan –radliyallahuanhu-.

Zakat fithri tidak diwajibkan kecuali terhadap orang yang mempunyai kelebihan dari keperluannya ketika malam hari raya dan pagi harinya. Jika ia tidak memiliki kelebihan harta kecuali kurang dari satu Sha’ maka hendaknya ia dengan kelebihan itu (yang jumlahnya kurang dari satu Sha’) membayar zakat fithrahnya. Hal itu berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” ( QS. At-Taghabun:16 ).

Wallahu A’lamu bish Shawab.


[1] Lihat: Al Mukhtar, Ahkam wa Adab lil Hadits fi Syahri Ramadhan, Fatawa Az-Zakah, Syaikh Al-Jibrin, Kifayatul Akhyar.

[2] Lisanul Arab: 14/358.

[3] Al-Fiqh ‘Ala Madzahibil Arba’ah: 1/536.

[4] Ibid.