Bid’ah, Lebih Disukai Syaitan Dari Maksiat

Muqaddimah

Allah berfirman:

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Hasyr : 7)

Amma ba`du

Seorang mukmin akan senantiasa berusaha untuk mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam rangka mencari keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan dia juga senantiasa berusaha untuk mengikuti atsar para salafussholih. Adapun seorang mubtadi` (pelaku bid`ah) dia senantiasa berjalan di atas kesesatan yaitu antara hawa nafsu dan bayang-bayang ketidakpastian dalam seluruh amal perbuatannya. Dan kita saksikan dia berada di antara sunnah dan bid`ah seperti orang yang kebingungan. Maka setiap ibadah yang ditambahkan dengan perbuatan bid`ah oleh seorang mubtadi` maka perbuatan bid`ah ini akan menduduki posisi sunnah. Karenanya sebagian ulama salaf pernah berkata :

Tidaklah suatu kaum melakukan satu perbuatan bid`ah melainkan mereka menghilangkan satu perbuataan sunnah yang semisal dengannya.

Perbuatan bid`ah menyebabkan seseorang keluar dari ittiba` (ikut) kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Meniadakan konsekuensi syahadat Rasul yaitu bahwasanya Muhammad adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bahkan perbuatan bid`ah pada hakekatnya merupakan fitnah terhadap Islam dengan sifat yang umum. Seorang pelaku bid`ah dengan perbuatan bid`ahnya meyakini bahwa Islam belum sempurna. Dan akan sempurna dengan perbuatan bid`ah yang dilakukan olehnya.

Sungguh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mendidik para shahabatnya yang mulia untuk senantiasa meneladani beliau dalam segala hal. Dalam sebuah riwayat disebutkan dari Barra` bin `Azib –radhiyallahu `anhu- ia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda :

“Bila engkau ingin beranjak menuju tempat tidurmu maka berwudhu`lah sebagaimana engkau berwudhu` untuk shalat. Kemudian tidurlah di atas lambungmu yang sebelah kanan dan kemudian bacalah, “Ya Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu, aku hadapkan wajahku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu dengan rasa harap dan takut, tidak ada tempat perlindungan dan keselamatan dari siksa-Mu kecuali kembali kepada-Mu. Aku beriman dengan kitab yang Engkau turunkan dan dengan Nabi-Mu yang Engkau utus.” Lalu beliau bersabda, “Bila engkau meninggal dunia pada malam itu, maka engkau meninggal dunia di atas Islam. Dan jadikan zikir tersebut kalimat terakhir yang engkau ucapkan.(HR. Bukhari, 11/13 dan Muslim, 4/2081).

Barra` bin `Azib melanjutkan, “Kemudian aku melafalkan kembali zikir tersebut di hadapan Rosulullah saw. Ketika sampai pada kalimat, ‘Aku beriman dengan kitab yang Engkau turunkan, maka aku baca dan dengan Rasul-Mu.’ Lantas beliau bersabda, ‘Tidak, dan dengan nabi-Mu yang Engkau utus.”

Perhatikanlah tatkala sahabat Barra` mengubah kalimat ‘dan dengan Nabi-Mu’ dengan kalimat ‘dan dengan Rasul-Mu’, maka Rosulullah saw menyuruhnya untuk membaca ‘dan dengan Nabi-Mu’. Ini sebagai bukti kesempurnaan peneladanan terhadap diri beliau saw. Kewajiban seorang muslim adalah berusaha untuk senantiasa meneladani Rosulullah saw dan menjauhi seluruh perbuatan bid`ah yang dilakukan oleh para pelaku bid`ah. Ketahuilah menetapi satu sunnah adalah lebih baik daripada menyeselisihinya sekalipun dengan sejuta perbuatan bid`ah.

Saudaraku yang tercinta, inilah sebagian amalan-amalan bid`ah yang sering dilakukan oleh para mubtadi` dalam agama Allah yang hanif ini, agar engkau dapat mengetahuinya dan kemudian mewaspadainya. Sahabat Hudzaifah bin Yaman –radhiyallahu `anhu- pernah berkata, “Orang-orang bertanya kepada Rosulullah saw tentang kebaikan, namun aku bertanya kepadanya tentang kejahatan, karena aku takut terjerumus ke dalamnya.”

Seorang ahli sya`ir pernah melantunkan :

Aku kenali kejahatan bukan untuk melakukannya

Tetapi agar dapat menjauhinya

Siapa yang tidak bisa membedakan kebaikan dari kejahatan

Maka dia akan terjerumus ke dalamnya

Definisi Bid’ah

Dari segi bahasa, kata bid’ah berasal dari kata bada’a – yabda’u – bid’an yang artinya memulai. Lebih lanjut disebutkan albad’us say’u alladzi yakunu awalan ; suatu hal baru yang terjadi pertama kali.[1] Sebagaimana firman Alloh Ta’ala :

“Katakanlah, aku bukanlah Rasul yang pertama di antara Rasul-Rasul.”[2]

Adapun definisi bid’ah dari segi istilah, telah banyak didefinisikan oleh para ‘ulama, diantaranya:

Bid’ah adalah sesuatu yang menyelisihi As-Sunah, dinamakan bid’ah karena pelakunya membuat hal baru yang tidak dilakukan seorang imam (panutan), ia adalah suatu hal baru yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat dan tabi’in, serta tidak ada tuntunan dalil syar’inya.[3]

Imam Asy-Syatibi –rahimahullah- mendefinisikan bid’ah dengan mengatakan: “Bid’ah adalah suatu jalan dalam mengamalkan dien, di mana ia adalah suatu hal baru yang menyerupai syari’at, yang diniatkan dalam rangka beribadah kepada Allah Ta’ala”.[4]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkata: “Bid’ah dalam urusan dien adalah suatu hal yang tidak disyari’atkan oleh Allah dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu sesuatu yang tidak dianjurkan dalam bentuk perintah, baik wajib ataupun hanya sebuah anjuran”.[5] Para ulama mendefinisikan bid’ah berkisar pada makna di atas.

Dampak Negatif Bid’ah Terhadap Umat

  1. Bid’ah menimbulkan perpecahan dan perselisihan umat

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Kaum Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, kaum Nasroni terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Imam At-Tirmidzi mengatakan bahwa derajat hadist ini hasan shohih, beliau menambah kalimat: “Semuanya masuk neraka kecuali satu milah.” Para shahabat bertanya: “Siapa yang masuk dalam millah itu wahai Rasulullah!” Rasulullah menjawab dan bersabda: “Mereka yang berada di atas manhajku dan manhaj para shahabatku.”

  1. Bid’ah akan menyesatkan umat dari jalan yang hak

Bid’ah dan kesesatan adalah suatu hal yang tidak bisa dipisahkan, di mana terdapat bid’ah disana ada kesesatan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153).

Imam Ath-Thabari berkata dengan sanadnya dari mujahid, beliau mengatakan maksud dari, “janganlah kamu mengikuti jalan jalan” adalah bid’ah dan syubhat.”

Dari Qotadah ia berkata tentang firman Allah, “di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan” yaitu para penyeru bid’ah yang menyeru kebid’ahan. Kesesatan ini banyak terjadi karena mengikuti hawa nafsu, mereka mendahulukan akal dan hawa nafsu mereka, kebaikan hanya diukur dengan akal mereka tidak dengan nash syar’i, pada akhirnya mereka meyakini perbuatan itu dan menjadikannya sebagai sandaran, kemudian mereka mengait-ngaitkan nash untuk menguatkan keyakinannya, merekalah orang orang yang dikabarkan Allah dalam firman-Nya yang berbunyi:

“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya. (QS. Ali Imran: 7)

Bahaya kesesatan mereka terhadap umat sangat besar, karena merekalah yang disifatkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Para penyeru kepada pintu-pintu jahanam, siapa yang menerima ajakan mereka, ia akan masuk ke dalamnya.”

  1. Bid’ah memadamkan cahaya As-Sunnah dan melenyapkannya

Ini adalah dampak yang berbahaya terhadap aqidah umat, tiada suatu bid’ah yang muncul melainkan ia akan memadamkan As-Sunnah, dan As-Sunnah tidak akan nampak kecuali dengan lenyapnya bid’ah.

Dari Ikrimah dari Ibnu Abas –radhiyallahu ‘anhu- ia berkata: “Akan datang suatu masa, orang akan berbuat amalan bid’ah dan meninggalkan As-Sunnah, sampai bid’ah itu menjadi suatu bagian dari kehidupan mereka, dan As-Sunnah mereka tinggalkan.[6]

Imam Asy-Syatibi menyebutkan dari Hudzaifah bin Yaman –radhiyallahu ‘anhu- di mana beliau pernah mengambil dua buah batu dan meletakan salah satu batu di atas yang lainnya, dan berkata kepada para shahabatnya: “Lihatkah oleh kalian cahaya di antara dua batu ini?” Mereka berkata: “Wahai Abu Abdilah! Kami tidak melihat cahaya di antara keduanya kecuali sedikit.” Beliau berkata demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, pasti akan muncul bid’ah, sehingga alhaq tak terlihat kecuali hanya seperti cahaya di antara dua batu ini. Demi Allah Bid’ah pasti akan tersebar, hingga apabila salah satu bid’ah itu ditinggalkan, mereka akan mengatakan: “Kami telah meninggalkan As-Sunnah.”[7]

Fudhail bin ‘Iyadh berkata: “Saya telah menjumpai manusia pilihan, mereka adalah pengikut As-Sunnah, yang menentang pengikut bid’ah.”[8]

  1. Bid’ah memporak-porandakan bangunan Islam

Bid’ah adalah jalan untuk menghancurkan Islam, karena menyelisihinya baik dalam persoalan pokok Islam, atau dalam persolan cabang dari ajaran Islam, sehingga tak tersisa lagi alhaq. Perhatikanlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut ini:

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Ahli Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.” (QS. Ali Imran: 100)

Telah diketahui bahwa ahlul kitab telah membuat kebid’ahan yang hina, seperti bid’ah trinitas dan bid’ah hanya mengimani sebagian kitab dan mengkufuri sebagian yang lain serta bid’ah kependetaan, sebagaimana kaum yahudi membuat bid’ah baru pada sifat Allah, mereka menetapkan bagi Allah sifat faqir dan lemah –maha tinggi Allah terhadap sangkaan mereka dan semoga Allah melaknat mereka sampai hari kiamat– setiap orang yang mengada-ngada, membuat bid’ah tentang kekurangan pada sifat Allah, maka ia menyerupai ahlul kitab, ia serupa dengan orang orang terdahulu dalam menghancurkan dien, maka perhatikanlah perkataan Ibrahim bin Muyassarah, beliau mengatakan:

“Barang siapa yang menghormati pembuat bid’ah, ia telah membantu untuk menghancurkan Islam.”[9]

Dari Maimun bin Mihran, ia berkata: “Ibnu Abbas berkata kepadaku: camkan dariku tiga hal; hindarilah oleh kalian dari mempelajari perbintangan (ilmu nujum), karena akan menjerumuskan kapada perdukunan, hindarilah oleh kalian berlebihan dalam masalah qadar, karena akan menjerumuskan pada kezindikan, dan hindarilah oleh kalian mencela para shahabat Nabi, karena Allah akan menjerumuskan kalian kecdalam neraka.[10] Inti permasalahan dalam perkataan di atas pada kalimat; “hindarilah oleh kalian berlebihan dalam masalah qadar, karena akan menjerumuskan kepada kezindikan” maksud berlebihan dalam masalah qadar di atas adalah memahami qadar seperti kaum Qadariyah dan Jabariyah, dari sini menunjukan bahwa mengamalkan bid’ah adalah jalan yang menjerumuskan kepada kemunafikan dan upaya menhancurkan Islam. Wallahu A’lamu bish Shawab.

Reference:

  1. Al-Bid’ah wa Ats-Tsaruhi As-Sayyaiah fil Ummah.
  2. Al-Bida’ Al-Yaumiyyah, wal Usbu’iyyah, wasy Syahriyyah, was Sanawiyyah.
  3. Dan lain-lain.

[1] Lisanul ‘arob, ibnu Mandzur, 8/9

[2] surat alahqof : 9

[3] At ta’rifat, Aljirjani,1/62

[4] Al’itishom, Assyatiby, 1/28

[5] Majmu’ fatawa, Ibnu Taimiyah, 4/67

[6] ‘itiqod Ahlu sunah, allalika’i,1/92

[7] Al’itishom, Satibi,61, imam satibi berkata bahwa ibnu wadoh mengeluarkan atsar ini dari sahabat hudaifah.

[8] Al Itiqod ahlu sunah, allalika’i, 1/138

[9] I’tiqod Ahlu sunah,Allalika’i 1/39, alhafidz addzahabi menyebutkannya dalam mijanul’itidal dari ibnu abas , dalam isnadnya ada sedikit pembicaraan.

[10] idem,4/633

4 responses to “Bid’ah, Lebih Disukai Syaitan Dari Maksiat

  1. pak ustadz, sebetulnya ada ndak sih bid’ah hasanah tu?
    makasih

  2. Kalau tanyanya dengan merujuk pendapat Ibnu Taimiyah, Ibnu Qoyim, Al Baz, Cs. ya katanya semua bid’ah sesat. Tapi kalau melihat dalil Imam Syafi’i RA, dan Insya Allah yang benar bidah hasanah itu ada

  3. makasih atas infonya,semoga kita semua tidak termasuk kedalam orang-orang yang ingin menghancurkan islam

  4. Ternyata Ini Dia Gan Pentingnya Display Cooler Bagi Kesuksesan Kafemu🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s