Tag Archives: demokrasi

Waspadalah! Jangan Sampai Kita Nyemplung Ke Dalam Neraka Karena Pemimpin dan Penguasa

Oleh : Tengku Azhar, S.Sos.I

(Kajian Tafsir Tematik QS. Al-Ahzab : 66-68)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا * وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا * رَبَّنَا آَتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا *

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: ‘Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul’. Dan mereka berkata: ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). ‘Ya Rabb kami, timpakanlah kepada mereka adzab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar’.”

Tafsir Ayat :

Imam Ath-Thabari –rahimahullahu Ta’ala- berkata, “Orang-orang kafir ketika disiksa dalam neraka Jahannam pada hari kiamat akan berkata, ‘Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin kami dalam kesesatan dan kami juga telah mentaati pembesar-pembesar kami dalam kesyirikan, maka mereka menyesatkan kami dari jalan-Mu yang lurus. Yakni mereka telah menyimpangkan kami dari jalan hidayah, dan jalan keimanan kepada-Mu, yakni menyesatkan kami dari mengakui ke Esaan-Mu, dan mengikhlaskan diri kami dalam mentaati-Mu di dunia. Karena mereka telah menyesatkan kami, maka kami memohon kepada-Mu ya Allah, untuk memberikan adzab dua kali lipat kepada mereka, dan laknatlah mereka dengan sebesar-besar laknat.” (Tafsir Ath-Thabari : 5/427)

Imam Ibnu Katsir –rahimahullahu Ta’ala- berkata, “Ayat ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, ‘Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya (yakni menyesali perbuatannya), seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul’. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya Dia telah menyesatkan aku dari Al-Quran ketika Al-Quran itu telah datang kepadaku dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia’.” (QS. Al-Furqan : 27-29). Yang dimaksud dengan ‘si fulan’ dalam ayat ini adalah syaitan atau para pemimpin mereka yang telah menyesatkan mereka. Yakni mereka akan berkata, ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya kami lebih memilih untuk mentaati para pemimpin dan pembesar kami dalam kesesatan ketimbang memilih untuk mentaati para Rasul-Mu dalam jalan hidayah dan keselamatan’.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/427) Baca lebih lanjut

Iklan

Caleg-Caleg Yang Mulai Stress (Bag. 1)

PARA pemuda di lingkungan Falajawa II, Kelurahan Kayu Merah, Ternate Selatan, berang. Gara-garanya, Hartati Theis, seorang caleg Partai Golkar, menarik kembali televisi yang telah diberikan kepada mereka setelah perolehan suaranya jeblok.

Hartati adalah caleg DPRD Kota Ternate. Beberapa waktu lalu, dia memberikan televisi kepada organisasi pemuda setempat. Oleh para pemuda, televisi itu ditaruh di pos kampung yang juga menjadi pangkalan ojek. Namun, sehari setelah pemilihan dan suara Hartati jeblok, televisi tersebut diambil kembali.

Keruan, para pemuda kampung itu mengamuk. Kemarin, mereka merusak pos dan pangkalan ojek tersebut. Mereka beralasan, tindakan itu merupakan bentuk protes terhadap ulah Hartati. ”Memang televisi itu diberikan caleg tersebut. Tapi, sebelumnya kan tidak ada perjanjian dengan kami atau pemuda di sini untuk memenangkan caleg itu,” ujar Irfan Hanafi, salah seorang pemuda di lingkungan tersebut.  Baca lebih lanjut

Pembodohan Itu Bernama “Kampanye”?

Pluit Kampanye telah ditiup…

Suara klakson dan knalpot motor yang tak ‘beraturan’ meraung-raung….

Bertanda hari raya dan pesta agama demokrasi telah dimulai…

Kalau kita mau berfikir dengan akal yang jernih…

Berbicara dengan hati nurani yang dalam, kampanye adalah sebuah pembodohan ‘segelintir’ orang pintar terhadap rakyat. Dengan dalih kampanye, pada hakikatnya ‘segelintir’ orang pintar tersebut ingin membodohi rakyatnya.

Coba Anda bayangkan….

1. Apa untungnya membunyikan klakson motor sampe mekik..mekik..yang ada hanya mendapatkan cacian, umpatan, dan celaan orang-orang yang sedang beristirahat, dan tenang beribadah.

2. Panas-panas berjemuran di bawah trik matahari, karena hanya ingin membela partai dan agama demokrasi. Kalau dia seorang muslim, sanggupkah dia berjemuran dibawah triknya matahari untuk membela Allah dan Rasul-Nya?

3. Tidak sedikit dari mereka, dengan dalih kampanye meninggalkan shalat…akhlak yang baik, penampilan yang Islami, dan adab-adab bermasyarakat lainnya.

4. Dengan dalih kampanye, mereka mengganggu ketertiban lalu lintas, dan siapapun yang menghalangi mereka, akan mereka tabrak kalau tidak mau minggir.

5. Dengan dalih kampanye, wajah2 beringas, kesombongan, memancar dari wajah dan raut muka mereka.

6. Dengan dalih kampanye, seorang suami meninggalkan tugasnya sebagai ayah untuk mencari rezki keluarganya, seorang wanita meninggalkan tanggungjawabnya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga, seorang anak untuk membantu kedua orang tuanya.

7. Dengan dalih kampanye, mereka menghalalkan ikhtilat (campur baur) antara laki-laki dan wanita.

8. Dengan dalih kampanye, mereka mengumbar janji-janji manis, yang belum tentu mereka bisa memenuhi janji-janji tersebut. Tidakkah mereka takut, “Tanda-tanda orang munafik ada tiga, salah satunya, kalau berbica ia berdusta.”

9. Dengan dalih kampanye, mereka menghalalkan ‘pentabdziran’ uang dan harta dengan jumlah yang banyak. Padahal, di sana masih banyak orang2 miskin yang tidak makan, tidak punya rumah, tidak bisa berobat, tidak bisa tidur, dan tidak bisa sekolah.

10. Dengan dalih kampanye, mereka lebih bangga dengan partai dan kelompoknya daripada bangga dengan Islamnya. Bangga dengan atribut partainya daripada atribut Islam dan diennya.

Dan masih banyak lagi, ‘pembodohan’ yang dilakukan oleh segelintir orang pintar terhadap rakyatnya dengan nama ‘kampanye’ ini. Mudah2an Allah Subhanahu wa Ta’ala meneguhkan kita di atas jalan dan hadayah-Nya.

Terakhir marilah kita renungkan firman Allah berikut ini :

“Dan apabila hanya nama Allah saja disebut, menjadi kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.” (QS. Az-Zumar : 45)

Ya…begitulah, kalau kita katakan kepada mereka mari kita tegakkan Islam ini cukup dengan apa yang telah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya, tidak usah menggunakan demokrasi, liberalisme, sekeluresme, dan isme-isme kufur lainnya, maka hati orang2 yang tidak beriman kepada hari Akhirat akan menjadi kesal, tergoncang, marah, dan kacau balau.

Tapi, kalau dikatakan kepada mereka, mari kita tegakkan Islam dengan jalan-jalan batil tersebut, sekonyong-konyong hati mereka bergembira ria, dan tersenyum bahagia.

Wallahu Ta’ala A’lamu bish Shawab.

50 Dosa dan Kerusakan Demokrasi, Pemilu, dan Partai

LIMA PULUH DOSA DAN KERUSAKAN

Demokrasi, Pemilu, dan Partai

Oleh : Syaikh Abdul Majid bin Mahmud Ar-Raimy hafizhahullahu Ta’ala

Dengan memohon taufiq kepada Allah, kami berusaha memaparkan beberapa indikasi destruktif (kerusakan) demokrasi, pemilihan umum dan berpartai:

1. Demokrasi dan hal-hal yang berkaitan dengannya berupa partai-partai dan pemilihan umum merupakan manhaj jahiliyah yang bertentangan dengan Islam, maka tidak mungkin sistem ini dipadukan dengan Islam karena Islam adalah cahaya sedangkan demokrasi adalah kegelapan.

“Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat dan tidak (pula) kegelapan dengan cahaya.” (Surat Faathir:19-20)

Islam adalah hidayah dan petunjuk sedangkan demokrasi adalah penyimpangan dan kesesatan.

“Sungguh telas jelas petunjuk daripada kesesatan.” (Surat Al-Baqarah: 256)

Islam adalah manhaj rabbani yang bersumber dari langit sedangkan demokrasi adalah produk buatan manusia dari bumi. Sangat jauh perbedaan antara keduanya.

2. Terjun ke dalam kancah demokrasi mengandung unsur ketaatan kepada orang-orang kafir baik itu orang Yahudi, Nasrani atau yang lainnya, padahal kita telah dilarang untuk menaati mereka dan diperintahkan untuk menyelisihi mereka, sebagaimana hal ini telah diketahui secara lugas dan gamblang dalam dien.

Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman jika kalian menaati sekelompok orang-orang yang diberi Al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir setelah kamu beriman.” (Surat Ali ‘Imran: 100)

“Karena itu janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Quran dengan jihad yang besar.” (Surat Al-Furqaan: 52)

“Dan janganlah kamu menaati orang-orang yang kafir dan orang-orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah  sebagai pelindung(mu).” (Surat Al-Ahzaab: 48)

Dan ayat-ayat yang senada dengan ini sangat banyak dan telah menjadi maklum. Baca lebih lanjut

INILAH DEMOKRASI (Apakah Anda Mau Meninggalkannya?)

Kepada mereka yang masih beranggapan bahwa perbedaan pendapat tentang demokrasi adalah perbedaan pendapat dalam ranah wasa’il dan furu’iyyah (cabang agama), tidak menyentuh ranah ushul (pokok agama) dan i’tiqad (keyakinan)….

Kepada para da’i tambal sulam, koleksi dan penggabungan (manhaj dan ideologi)….

Kepada mereka yang masih tidak mengetahui hakekat demokrasi….

Kepada mereka yang mencampuradukkan –secara dusta– demokrasi dengan syura dan Islam….

Kepada mereka yang memandang bahwa demokrasi adalah solusi terbaik untuk menjawab problematika Islam dan kaum muslimin…

Kepada mereka yang mempropagandakan dan menyerukan demokrasi, kemudian setelah itu mengaku dirinya seorang muslim…

Kepada mereka semua kami katakan, demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Maka tidak boleh ada kepemimpinan yang lebih tinggi dari kedudukan rakyat, dan tidak ada kehendak yang boleh mengatasinya lagi, meskipun itu kehendak Allah. Bahkan dalam pandangan demokrasi dan kaum demokrat, kehendak Allah dianggap sepi dan tidak ada nilainya sama sekali.

Demokrasi adalah suatu sistem yang menjadikan sumber perundang-undangan, penghalalan dan pengharaman sesuatu adalah rakyat, bukan Allah. Hal itu dilakukan dengan cara mengadakan pemilihan umum yang berfungsi untuk memilih wakil-wakil mereka di parleman (lembaga legislatif). Baca lebih lanjut

Fatwa Haram Golput Untuk Siapa? (Sikap Bijaksana Terhadap Fatwa MUI)

mprselamat01

Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui sidang yang dilakukan di Padang Panjang telah memutuskan bahwa kaum muslimin yang tidak memilih pada Pemilu akan datang, padahal ada calon-calon legislatif (capres dan cawapres) yang memenuhi kriteria-kriteria yang telah ditetapkan oleh Islam maka hukumnya adalah haram.

Fatwa ini menjadi “HOT NEWS” dalam bulan ini, apalagi media massa dan cetak membuat judul berita mereka dengan “FATWA HARAM GOLPUT”, apa tujuannya? Sudah pasti, uang dan omzet miliyaran bahkan mungkin trilyunan rupiah. Ironisnya, tidak sedikit kaum muslimin yang ‘simpatisan atau anggota’ sebuah partai politik tertentu menjadikan ‘FATWA’ ini sebagai ‘DALIL QATH’I’ untuk menekan dan menyerang kaum muslimin yang selama ini tidak menggunakan hak pilihnya. Bahkan menuduh mereka dengan berbagai macam tuduhan dan fitnah. Dan menjadikan ‘FATWA’ ini senjata pamungkas akan kebolehan demokrasi dan masuk ke dalam majelis-majelis parlemen. Baca lebih lanjut