Tag Archives: Sejarah

Mengukur Kemenangan Islam : Kwantitas atau Kwalitas?

Sebuah kemenangan di hadapan Demokrasi diukur dengan kwantitas, siapapun yang minoritas sekalipun kwalitasnya baik tidak akan pernah menang menurut kacamata dan ideologi Demokrasi. Karenanya, siapapun yang berjuang dengan sistem demokrasi di negara manapun mereka berada tak terkecuali di Indonesia, mereka pasti berjuang mati-matian, menggunakan segala cara dan taktik untuk mendulang dan memenuhi kwantitas tersebut. Dengan kwantitas yang banyak, mereka menakut-nakuti kelompok yang minoritas dan kecil, karena mereka merasa kuat, tangguh, dan berada di atas segalanya.

Inilah taktik dan sistem orang-orang kafir dan munafikin yang dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an :

“Keadaan kamu Hai orang-orang munafik dan musyrikin) adalah seperti Keadaan orang-orang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta dan anak-anaknya dari kamu. Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kamu telah menikmati bagian kamu sebagaimana orang-orang yang sebelummu menikmati bagiannya, dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya. mereka itu amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat; dan mereka Itulah orang-orang yang merugi.” (QS. At-Taubah : 69) Baca lebih lanjut

Iklan

SURAT TERBUKA BUAT PDIP DAN PKS

Oleh : Alwan

(Alumnus Ma’had ‘Aly An-Nuur, Sukoharjo, JATENG)

Sebaik-Baik Bangsa Adalah Yang Paling Mengambil Pelajaran Dari Sejarahnya

Catatan Perjalanan Pemilu 2004

Sudah kesekian kalinya Indonesia mengadakan pesta Demokrasi Pemilu. Pada Pemilu 2004 ini sangat berbeda sekali dengan Pemilu dimasa Orde Baru. Kalau pada masa Orde Baru jumlah Partai Politik nya hanya tiga yaitu : PPP, Golkar dan PDI, kalau sekarang jumlah Partai Politiknya 24 Parpol, yang salah satunya yaitu PDIP, yang sekarang lebih dikenal dengan “Moncong Putih” nya. Dan salah satu hal yang tidak bisa dilepaskan dari acara ini adalah kampanye, karena kampanye merupakan salah satu sarana untuk menyampaikan atau mengenalkan baik misi, visi yang dimiliki oleh setiap partai politik atau hanya sekedar mengobral janji-janji kepada masyarakat agar mereka tertarik terhadap partai politik tersebut yang akhirnya diharapkan dengan suka rela dan penuh simpati mereka mau memilih parpol tersebut. Akan tetapi ada juga yang menganggap dengan adanya kampanye tersebut memberi keuntungan kepada pedagang-pedagang kecil. Diceritakan bahwa tukang jual air mineral di Jakarta “berpesta” selama masa kampanye. Omzet penjual air mineral naik sampai 100 persen saat kampanye. Dan penikmat keuntungan kampanye paling besar adalah siapa lagi kalau bukan tukang sablon dan para pembuat kaos dan spanduk plus para pengusaha kecil percetakan karena tidak sedikit atribut-atribut partai diorderkan kepada mereka. Akan tetapi ada juga yang justru sebaliknya, dengan adanya kampanye tersebut tidak sedikit dari masyarakat yang takut untuk keluar rumah. Selain itu justru dengan adanya kampanye tersebut banyak terjadi pelecehan, penghinaan, bentrokan, yang ujung-ujungnya yaitu penganiayaan dan pembunuhan. Baca lebih lanjut